Dishub

Dishub Aceh dan BMKG Perkuat Koordinasi Informasi Cuaca untuk Keselamatan Transportasi

Banda Aceh – Dinas Perhubungan Aceh dan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda memperkuat koordinasi dalam penyampaian informasi cuaca kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan membantu masyarakat mengetahui kondisi cuaca sebelum bepergian dan mengantisipasi risiko perjalanan. Kadishub Aceh, T. Faisal, berharap koordinasi itu tidak hanya memperkuat hubungan antara Dishub Aceh dan BMKG, tetapi juga memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai hujan, potensi cuaca ekstrem, dan kualitas udara. “Dengan informasi yang lebih mudah dijangkau, masyarakat dapat mempersiapkan perjalanan dan meningkatkan kewaspadaan ketika kondisi alam berpotensi mengganggu keselamatan,” kata Faisal saat menerima silaturahmi pimpinan BMKG di kantornya, Senin 19/10. Faisal mengatakan, informasi cuaca sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan transportasi. Kondisi cuaca yang buruk dapat memengaruhi perjalanan. Menurutnya, informasi terkait cuaca dari BMKG sangat penting menjadi bahan pertimbangan bagi pihak yang mengelola layanan transportasi maupun masyarakat yang akan melakukan perjalanan. “Perhubungan dan BMKG tidak dapat dipisahkan. Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk perjalanan, informasi tersebut harus menjadi perhatian bersama,” ujar Faisal. Faisal juga menyatakan Dishub Aceh siap mendukung penyebarluasan informasi cuaca melalui media sosial instansi dishub. Dengan cara itu, masyarakat diharapkan lebih mudah memperoleh informasi sebelum melakukan perjalanan. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Cucu Kusmayancu, menyambut baik rencana kolaborasi tersebut. Ia menyebut informasi yang disebarkan dapat mencakup prakiraan cuaca harian, kondisi kualitas udara, serta wilayah yang berpotensi mengalami bencana. Menurut Cucu, media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat. Pemanfaatan videotron milik pemerintah juga dapat dipertimbangkan agar informasi cuaca menjangkau lebih banyak orang. Selain itu, Cucu juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai peningkatan hujan, terutama di daerah yang terdampak bencana seperti di Aceh Tamiang. Material sisa bencana yang belum dibersihkan dapat kembali terbawa aliran air hujan dan mengganggu aktivitas masyarakat maupun akses transportasi. Menurutnya, puncak musim hujan di Aceh diperkirakan terjadi pada November. Wilayah barat Aceh perlu mewaspadai potensi hujan ekstrem, sedangkan hujan di wilayah tengah juga perlu diperhatikan karena aliran air dapat bergerak menuju kawasan pesisir mulai dari Kabupaten Pidie hingga ke Aceh Tamiang. “Kondisi ini penting menjadi perhatian, terutama di daerah yang masih melakukan pembersihan material pascabencana,” kata Cucu. Hujan lebat dapat meningkatkan risiko gangguan perjalanan apabila material kembali menutupi jalan. Selain hujan, Cucu juga menjelaskan perkembangan kabut asap yang sempat memasuki wilayah Aceh pada 14 Oktober. Pada 15 Oktober, kualitas udara tercatat sangat tidak baik, tetapi kondisi tersebut membaik dalam beberapa hari berikutnya. Ia menjelaskan, pergerakan asap dipengaruhi oleh keberadaan sumber kebakaran dan arah angin. Karena itu, meskipun kualitas udara saat ini membaik, kemungkinan asap kembali masuk ke Aceh tetap ada apabila api sumber kebakaran masih berlangsung dan arah angin kembali membawa asap ke wilayah ini. “Kita tentu berharap sumber kebakaran dapat berkurang sehingga kualitas udara terus membaik dan masyarakat tidak kembali terdampak asap,” kata Cucu. Ia juga mengingatkan bahwa asap dan kabut sama-sama dapat mengurangi jarak pandang, tetapi memiliki ciri berbeda. Asap umumnya berbau dan dapat membuat mata terasa perih, sedangkan kabut tidak berbau. Bagi pengguna jalan, jarak pandang yang menurun perlu diantisipasi dengan mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman antarkendaraan. Sementara itu, pengguna transportasi laut dan udara perlu memperhatikan informasi serta arahan dari petugas terkait. []  

Tinjau Simpang Cot Irie Bersama Ngoh Wan, Kadishub Aceh Paparkan Solusi Jangka Pendek Atasi Kemacetan

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, bersama Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh, Ricky Suhadi, serta Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Munawar, meninjau kondisi lalu lintas di persimpangan Jembatan Cot Irie yang kerap mengalami kemacetan parah, Jumat (16/10/2026). Peninjauan tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dalam Rapat Koordinasi Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Provinsi Aceh yang digelar di Dinas Perhubungan Aceh beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan tersebut, Teuku Faisal mengatakan bahwa kemacetan di Simpang Jembatan Cot Irie menjadi perhatian Dishub Aceh dan saat ini tengah diupayakan penanganannya melalui sejumlah langkah konkret. Pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan survei volume kendaraan yang melintas sekaligus merumuskan solusi jangka pendek yang dapat segera diterapkan. “Kita sudah menurunkan tim survei untuk menghitung volume kendaraan yang melintas serta merumuskan berbagai solusi jangka pendek yang bisa dilakukan,” ujarnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengaturan lalu lintas oleh petugas untuk mengurangi konflik antarkendaraan. Pengaturan ini dilakukan dengan memberikan giliran kepada kendaraan dari masing-masing arah untuk melintas atau berbelok sesuai arahan petugas. Saat ini, pengaturan lalu lintas tersebut didukung oleh personel Dishub Aceh Besar dan Polsek Krueng Barona Jaya. Selain pengaturan lalu lintas, penataan dan penertiban Ruang Milik Jalan (Rumija) di sekitar Simpang Jembatan Cot Irie juga diperlukan agar fungsi jalan dapat berjalan optimal. Penataan tersebut mencakup penertiban bangunan yang mengganggu ruang jalan, penataan area parkir yang menggunakan bahu jalan, serta penanganan tiang listrik di sekitar persimpangan yang berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas. “Dishub Aceh juga akan memasang rambu pembatasan kendaraan, khususnya kendaraan barang, sesuai dengan ketentuan kelas jalan dengan batas yang diizinkan sebesar 8 ton,” ungkap Teuku Faisal. Dari sisi infrastruktur, Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR akan melakukan rekayasa fisik berupa pelebaran bagian jalan pada lengan persimpangan untuk meningkatkan kapasitas tampung kendaraan. Selain itu, pelebaran bagian jalan menuju persimpangan juga direncanakan guna memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kendaraan saat berbelok. “Kita berupaya agar solusi jangka pendek ini dapat segera dilaksanakan bersama para pemangku kepentingan terkait. Kemacetan dapat mengganggu mobilitas masyarakat, memperlambat aktivitas ekonomi, dan mengurangi kelancaran kegiatan usaha,” ujar Teuku Faisal di sela-sela peninjauan. Lebih lanjut, Kadishub Aceh menilai bahwa kemacetan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, mulai dari pemborosan waktu perjalanan hingga peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut turut membebani masyarakat dan menghambat kelancaran aktivitas sehari-hari. Mengenai solusi jangka panjang, Kadishub Aceh menyebutkan bahwa pihaknya bersama pemangku kebijakan yang tergabung dalam Forum LLAJ Aceh sedang melakukan kajian agar lalu lintas kendaraan di persimpangan Cot Irie bisa berjalan lancar. Melalui peninjauan bersama anggota Komisi IV DPRA tersebut, diharapkan sinergi antarinstansi semakin kuat dalam mempercepat penanganan kemacetan, baik melalui langkah jangka pendek maupun perumusan solusi jangka panjang. Dengan demikian, kelancaran mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar dapat semakin ditingkatkan    

Kadishub Aceh Minta Pelaku Transportasi Waspadai Dampak Kabut Asap

Banda Aceh – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, ST. MT., meminta operator dan pemangku kepentingan sektor transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai memasuki wilayah Aceh dalam dua hari terakhir. Langkah antisipasi diperlukan untuk menjaga keselamatan perjalanan dan mengantisipasi potensi gangguan layanan transportasi. Faisal menegaskan bahwa keselamatan pengguna transportasi harus menjadi perhatian utama, terutama ketika kondisi kabut asap berpotensi mengurangi jarak pandang. “Kami mengimbau seluruh pelaku transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas dalam setiap operasional transportasi,” ujar Faisal di Banda Aceh, Jumat 16/10. Faisal juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan perjalanan dan mengikuti informasi resmi dari petugas maupun operator transportasi apabila terjadi perubahan layanan. Di sektor penerbangan, dampak kabut asap telah menyebabkan pembatalan penerbangan perintis rute Kualanamu-Rembele Bener Meriah dan sebaliknya, pada Kamis, 15/10 kemarin. Berdasarkan surat PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) tertanggal 15 Oktober 2026, penerbangan bernomor SI 7307 dan SI 7308 dibatalkan karena terdampak kabut asap. Sementara itu, operasional Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) pada Jumat, 16/10, dilaporkan masih terpantau normal, aman, dan lancar. Berdasarkan laporan General Manager Bandara SIM, Rahmat Adil Indrawan, jarak pandang pada pukul 05.00 UTC tercatat 3.500 meter berdasarkan data BMKG melalui QAM dan METAR. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum terdapat dampak kabut asap terhadap operasional penerbangan di bandara tersebut. Pihak Bandara SIM juga telah melakukan briefing kesiapan operasional serta melanjutkan pemantauan cuaca dan koordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, dan pemangku kepentingan terkait untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan jarak pandang. Selain penerbangan, pengguna transportasi darat juga perlu meningkatkan kewaspadaan. “Pengemudi kita harapkan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menggunakan lampu kendaraan sesuai kondisi, serta tidak memaksakan perjalanan apabila jarak pandang terbatas,” kata Faisal. Pada transportasi laut, operator dan petugas terkait diharapkan tetap memperhatikan informasi cuaca serta mengikuti prosedur keselamatan pelayaran apabila kondisi jarak pandang mengalami penurunan. Faisal menambahkan, koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan informasi kondisi cuaca dan potensi gangguan transportasi dapat disampaikan secara cepat kepada masyarakat. “Kami berharap masyarakat selalu mengikuti informasi resmi sebelum bepergian. Jika kondisi tidak memungkinkan, keselamatan harus diutamakan dan perjalanan tidak perlu dipaksakan,” ujar Faisal. []  

Bukan Soal Skill, Tapi Etika Berkendara : Mahasiswa USK Belajar Safety Riding

Dinas Perhubungan Aceh berkolaborasi dengan PT Capella Dinamik Nusantara, Ditlantas Polda Aceh, dan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Sosialisasi Safety Riding bagi mahasiswa di Balee Keurukon, FT USK Banda Aceh, Kamis (24/9/2026). Mengusung tema unik “Secangkir Kopi Sejuta Mimpi”, kegiatan edukatif ini digelar sebagai langkah konkret membangun budaya dan kesadaran keselamatan berlalu lintas di kalangan generasi muda – kelompok usia produktif yang menjadi penentu masa depan bangsa. Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Aceh, Diana Devi, menegaskan bahwa keselamatan berkendara merupakan fondasi utama bagi para mahasiswa dalam menjaga diri serta menggapai cita-cita mereka. “Tema ‘Secangkir Kopi Sejuta Mimpi’ membawa pesan mendalam bahwa setiap mahasiswa memiliki impian besar yang harus diperjuangkan hingga tuntas. Perjalanan menuju cita-cita tersebut jangan sampai terhenti di jalan raya hanya akibat kelalaian saat berkendara,” ujar Diana. Diana menjelaskan, pemahaman safety riding tidak sebatas pada keterampilan teknis mengendalikan kendaraan, melainkan pembentukan sikap, etika, dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan. “Keselamatan berlalu lintas bukan hanya tentang mematuhi aturan, tetapi juga bagaimana kita menjaga diri sendiri dan menghargai keselamatan orang lain. Berkendaralah dengan bijak, patuhi aturan, gunakan perlengkapan keselamatan, dan jadilah pelopor keselamatan lalu lintas. Karena mimpi yang besar membutuhkan perjalanan panjang yang aman,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut, Diana turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Dekan FT USK, Ditlantas Polda Aceh, PT Capella Dinamik Nusantara, serta seluruh pihak yang telah bersinergi mendukung acara ini. Ia berharap mahasiswa FT USK dapat menjadi agen perubahan (agent of change) sekaligus pelopor keselamatan lalu lintas di kampus maupun masyarakat. Kegiatan yang diikuti secara antusias oleh puluhan mahasiswa ini menghadirkan edukasi berkendara aman, simulasi teknik berkendara, hingga diskusi etika berlalu lintas. Sejumlah narasumber kompeten hadir membekali para peserta, di antaranya Kasi Cegah Tindak Subditkamsel Ditlantas Polda Aceh Kompol Elputri, S.E., Safety Riding Instructor PT Capella Dinamik Nusantara Reza Novendri, serta Ketua DPD Aski Aceh & Barista Kopikar Zulfikar.  

Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Ditutup Sementara untuk Uji Laik Fungsi dan Operasi

Banda Aceh – Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 ruas Padang Tiji-Seulimeum akan ditutup sementara mulai 9 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga 11 September 2026 pukul 07.00 WIB. Penutupan sementara pengoperasian fungsional tersebut dilakukan dalam rangka pelaksanaan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO), guna mendukung proses pengujian terhadap ruas tol tersebut. Penutupan sementara tersebut berdasarkan persetujuan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum yang disampaikan kepada PT Hutama Karya (Persero) melalui surat tertanggal 7 September 2026. Dalam surat tersebut, Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati meminta PT Hutama Karya melakukan penutupan sementara pengoperasian fungsional ruas Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 selama pelaksanaan ULFO. “Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji-Seulimeum) pada tanggal 9-10 September 2026, PT Hutama Karya (Persero) agar melakukan penutupan sementara pengoperasian fungsional guna mendukung kelancaran pelaksanaan ULFO tersebut,” demikian bunyi surat Kepala BPJT. BPJT juga meminta PT Hutama Karya melakukan sosialisasi dan berkoordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perhubungan, kepolisian serta instansi terkait lainnya selama masa penutupan. Setelah pelaksanaan ULFO berakhir, pengoperasian fungsional ruas tersebut dapat dilanjutkan kembali dengan mengedepankan prinsip keselamatan pengguna jalan serta pengawasan dari pihak kepolisian setempat. ULFO sendiri dijadwalkan berlangsung melalui peninjauan lapangan pada 9 September 2026 dan dilanjutkan pada 10 September 2026 apabila masih diperlukan. Agenda tersebut juga mencakup penyusunan draf berita acara. Sebelumnya, PT Hutama Karya menyampaikan bahwa ruas Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Padang Tiji-Seulimeum telah beroperasi secara fungsional sejak 24 Desember 2025. Pengoperasian tersebut berlangsung bersamaan dengan sejumlah pekerjaan konstruksi yang masih berjalan. Penutupan sementara ini menjadi bagian dari tahapan ULFO sebelum pengoperasian fungsional ruas tol tersebut dilanjutkan kembali dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan pengguna jalan. []  

Perbaikan Dermaga Selesai, KMP Aceh Hebat 1 Dijadwalkan Kembali Beroperasi Mulai 14 September 2026

Dinas Perhubungan Aceh mengonfirmasi bahwa kapal KMP Aceh Hebat 1 dijadwalkan kembali beroperasi melayani lintasan Sinabang–Calang (PP) mulai Senin, 14 September 2026. Informasi tersebut sesuai dengan Surat Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Calang pada 21 Agustus 2026 yang menyebutkan bahwa dermaga pelengsengan untuk kapal Ro-Ro (Roll on – Roll off) dapat digunakan kembali untuk aktivitas sandar kapal Aceh Hebat 1 mulai 14 September 2026. Sebelumnya, armada kebanggaan masyarakat Aceh itu berhenti beroperasi selama satu bulan lebih. Penghentian sementara tersebut dilakukan akibat adanya pengerjaan perbaikan lantai dermaga Ro-Ro di Pelabuhan Laut Calang yang dikelola oleh Kantor UPP Kelas III Calang di bawah Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. “Selama proses pengerjaan berlangsung otomatis kapal Aceh Hebat 1 tidak dapat bersandar karena ada aktivitas pekerjaan. Untuk memastikan pekerjaan perbaikan bisa selesai tepat waktu, kami selalu berkoordinasi dengan pihak otoritas pelabuhan,” ungkap Teuku Faisal, Kepala Dinas Perhubungan Aceh pada Senin, 7 September 2026. Selama masa perbaikan dermaga berlangsung, Teuku Faisal menyebutkan bahwa pergerakan masyarakat maupun barang dari Pulau Simeulue menuju daratan Aceh dan sebaliknya dilakukan melalui sejumlah lintasan penyeberangan lainnya, seperti Kuala Bubon, Labuhan Haji, dan Singkil. Teuku Faisal menambahkan, angkutan penyeberangan menjadi moda transportasi utama yang menjamin konektivitas bagi masyarakat Simeulue. Di samping memudahkan perjalanan, kelancaran transportasi ini juga untuk memastikan distribusi kebutuhan pokok berjalan tanpa hambatan guna mencegah lonjakan harga akibat kelangkaan barang. “Oleh sebab itu, kita terus mendorong PT ASDP Cabang Singkil selaku operator penyeberangan agar dapat mengoptimalkan lintasan lainnya sampai kapal Aceh Hebat 1 kembali beroperasi melayani lintasan Sinabang – Calang,” ungkap Teuku Faisal. Pada kesempatan terpisah, GM PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Singkil, Arlan Ramadhan menyampaikan bahwa KMP Aceh Hebat 1 siap beroperasi melayani lintasan Sinabang – Calang pada 14 September 2026. “Insya Allah KMP Aceh Hebat 1 siap beroperasi kembali melayani lintasan Sinabang – Calang, begitu perbaikan dermaga rampung,” sebut Arlan. Kepastian mengenai kesiapan dermaga Pelabuhan Calang dikonfirmasi oleh Azwana Amru Harahap, selaku Investigator Keselamatan Pelayaran Kantor UPP Kelas III Calang, kepada Dishub Aceh pada Selasa (8/9). “Pekerjaan perbaikan dermaga saat ini sudah selesai, tinggal menunggu proses pengerasan semen sesuai standar konstruksi. Tanggal 14 September sudah bisa digunakan,” ujarnya. Dengan selesainya perbaikan dermaga, aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Calang diharapkan kembali lancar guna mendukung mobilitas masyarakat dan kendaraan, serta distribusi barang ke Pulau Simeulue.  

Pemerintah Aceh Percepat Pelayaran Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang, PT PEMA Disiapkan Jadi Operator

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mempercepat realisasi pembukaan jalur pelayaran kapal Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) Krueng Geukuh, Aceh Utara–Penang, Malaysia, yang menjadi salah satu program prioritas Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Fadhlullah (Dek Fadh). Upaya percepatan tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Kantor Gubernur Aceh, Jumat (28/8/2026). Rapat dipimpin Plt Sekda Aceh Taufik dan diikuti Asisten Sekda Aceh Bidang Perekonomian dan Pembangunan T Robby Irza, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Adi Darma, Kepala Biro Hukum Amrizal J Prang serta sejumlah pihak terkait. Dalam rapat itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal memaparkan perkembangan persiapan pembukaan rute Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang, termasuk langkah yang harus segera dituntaskan pemerintah daerah. “Salah satu agenda utama adalah mempercepat proses penyusunan rancangan peraturan gubernur (Ranpergub) terkait penugasan PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai pelaksana layanan Ro-Ro tersebut,” kata Faisal. Faisal menilai, penugasan kepada PT PEMA dinilai dapat membuat pelaksanaan program lebih fleksibel karena BUMD dapat bekerja sama dengan pengusaha maupun investor menggunakan skema bisnis business to business. Di sisi lain, Pemerintah Aceh tetap memegang kendali terhadap sejumlah aspek strategis, seperti tarif, jadwal pelayaran dan prioritas muatan. “Dishub akan menyediakan pendanaan berupa hibah maupun penyertaan modal untuk mendukung penugasan PT PEMA,” kata Faisal. Faisal mengatakan, saat ini pihaknya menunggu PT PEMA untuk menyampaikan proposal kepada Pemerintah Aceh terkait pengadaan kapal, baik melalui skema sewa maupun pembelian. Proposal tersebut ditargetkan masuk paling lambat 31 Agustus 2026. Selanjutnya, pada 2-3 September 2026 direncanakan konsultasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Dalam Negeri melalui unit terkait keuangan daerah, khususnya mengenai penugasan PT PEMA. “Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan RI juga kami lakukan untuk mendorong dimulainya perundingan bilateral Indonesia-Malaysia terkait konektivitas Ro-Ro Aceh-Penang,” ujar Faisal. Sementara itu, Plt. Sekda Aceh Taufik menegaskan bahwa program tersebut merupakan program prioritas gubernur sehingga proses penyusunan regulasi dan persiapannya harus dikawal secara langsung. “Bangun komunikasi segera dengan Kementerian Perhubungan dan pihak terkait di Kementerian Dalam Negeri mengenai mekanisme hibah, subsidi atau penyertaan modal serta lakukan konsultasi untuk memperoleh rekomendasi penetapan pergub,” kata Taufik. Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Aceh menargetkan seluruh aspek regulasi, kapal, pelabuhan, layanan kepabeanan-imigrasi-karantina hingga kesiapan muatan dapat berjalan beriringan sehingga jalur Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang dapat segera direalisasikan. []

Kadishub Aceh Minta Pengawasan Keselamatan Angkutan Penyeberangan Diperketat

Banda Aceh – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, ST, MT meminta pengawasan keselamatan angkutan penyeberangan di wilayah Aceh diperketat sebagai langkah pencegahan dini, menyusul sejumlah insiden kecelakaan kapal yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat Nomor 500.11/984 tanggal 24 Agustus 2026 tentang Imbauan Keselamatan Pelayaran pada Angkutan Penyeberangan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Aceh menjaga keselamatan pelayanan penyeberangan yang selama ini melayani masyarakat pada lintasan Ulee Lheue–Balohan, Ulee Lheue – Pulo Aceh, Calang – Sinabang, Meulaboh–Sinabang, Labuhan Haji–Sinabang, Singkil – Sinabang serta Singkil–Pulau Banyak dan sekitarnya. Hingga saat ini seluruh lintasan tersebut beroperasi normal dan dalam kondisi terkendali. Dalam surat tersebut, T. Faisal meminta seluruh pihak terkait mengambil langkah-langkah antisipatif sesuai tugas dan fungsi masing-masing agar peristiwa kecelakaan serupa tidak terulang, khususnya dalam pelayanan angkutan penyeberangan di wilayah Aceh. “Kita perlu mengambil langkah-langkah antisipatif agar peristiwa serupa tidak terulang, khususnya di wilayah Aceh,” kata T. Faisal seperti dikutip dari surat imbauan tersebut. Salah satu poin yang ditekankan adalah memastikan seluruh kapal penyeberangan yang beroperasi dalam kondisi laik laut. Pemeriksaan berkala terhadap seluruh komponen kapal juga diminta dilakukan untuk memastikan kondisi kapal tetap memenuhi aspek keselamatan. Untuk penumpang, Dishub Aceh meminta agar tiket yang digunakan sesuai dengan dokumen identitas resmi, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau paspor bagi warga negara asing. Seluruh penumpang juga harus tercatat dalam manifest dan jumlahnya tidak boleh melebihi kapasitas muatan kapal yang telah ditetapkan. Kesesuaian data tiket dan identitas ini penting agar setiap penumpang dapat teridentifikasi dengan cepat apabila terjadi keadaan darurat. Aspek muatan juga menjadi perhatian. Kapal penyeberangan diminta tidak memuat kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) dan/atau membawa barang-barang berbahaya tanpa izin serta tanpa memenuhi prosedur keselamatan yang sesuai. Untuk mengantisipasi kejadian man overboard atau penumpang terjatuh ke laut, kapal harus dipastikan memiliki pagar pengaman dalam kondisi kokoh. Edukasi keselamatan kepada seluruh penumpang juga perlu dilakukan, disertai perhatian terhadap penerangan saat pelayaran malam hari dan pengawasan ketat oleh awak kapal. Kondisi cuaca sebelum keberangkatan juga harus menjadi perhatian. Dishub Aceh meminta pihak terkait memperhatikan laporan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Jika terdapat peringatan cuaca buruk, gelombang tinggi, angin kencang, atau kondisi laut yang membahayakan keselamatan penumpang dan kapal, keberangkatan diminta ditunda atau dibatalkan. T. Faisal menegaskan bahwa penundaan keberangkatan akibat cuaca bukanlah bentuk pengurangan pelayanan, melainkan keputusan yang diambil semata-mata demi keselamatan. “Kami mohon pengertian masyarakat apabila sewaktu-waktu jadwal ditunda karena cuaca. Lebih baik menunggu beberapa jam daripada mengambil risiko yang tidak perlu,” ujarnya. Selain itu, Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan diminta diterapkan secara ketat pada seluruh tahapan operasional, baik di atas kapal maupun di lingkungan pelabuhan. Dishub Aceh juga mengajak masyarakat turut berperan menjaga keselamatan pelayaran, antara lain dengan membeli tiket secara mandiri melalui kanal resmi, mencantumkan data diri yang benar, mengikuti arahan petugas dan awak kapal, serta tidak memaksakan diri naik apabila kapal telah mencapai kapasitas. Masyarakat juga diimbau menyampaikan laporan kepada petugas pelabuhan apabila menemukan hal-hal yang berpotensi membahayakan keselamatan. Imbauan keselamatan tersebut ditujukan kepada sejumlah pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan angkutan penyeberangan di Aceh, yakni KSOP Kelas IV Malahayati, KSOP Kelas IV Sabang, UPP Kelas III Calang, UPP Kelas III Tapaktuan, UPP Kelas III Singkil, UPP Kelas III Sinabang, BPTD Kelas II Aceh, UPTD PPP Wilayah I dan Wilayah II Dishub Aceh, BPKS Sabang, serta General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh dan Cabang Singkil. T. Faisal menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi dan operator yang selama ini menjaga kelancaran pelayanan penyeberangan di Aceh, dan berharap koordinasi lintas instansi terus diperkuat. “Keselamatan adalah pelayanan yang paling mendasar. Setiap penumpang yang naik ke kapal kita adalah keluarga bagi seseorang, dan tugas kita bersama adalah memastikan mereka tiba dengan selamat,” pungkasnya.

CATATAN DARI SINGAPURA: PELAJARAN TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK ACEH

Di awal Agustus 2026 ini, saya berkesempatan mengikuti diklat Urban Planning and Sustainability – Singapore Cooperation Programme (UPS-SCP). Sebagai seorang ASN di dinas yang mengurus urusan transportasi di Aceh, pikiran saya tak bisa lepas dari satu pertanyaan mendasar: Kenapa naik transportasi umum di Singapura terasa begitu mudah dan menyenangkan? Ini memang bukan kunjungan pertama saya ke Negeri Singa. Tapi kali ini, kacamata yang saya pakai berbeda. Saya sengaja mengamati langsung urat nadi transportasi publik kota ini—yang sering disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sebagai wajah dari sebuah negara maju, transportasi di Singapura itu cepat, rapi, dan yang terpenting: saling terhubung. Di sini, kereta Mass Rapid Transit (MRT) dan bus bukan rival yang berebut penumpang, melainkan sahabat karib dalam satu ekosistem terpadu, melayani kota. Bayangkan, begitu Anda turun dari stasiun MRT, halte bus sering kali hanya berjarak beberapa langkah saja, lengkap dengan fasilitas parkir sepeda. Land Transport Authority (LTA)—otoritas transportasi darat Singapura—menyebut konsep ini sebagai seamless transport (perpindahan tanpa hambatan). Baik itu pindah antar-jalur MRT maupun lanjut menyambung perjalanan dengan bus, semuanya terasa mulus. Mari kita bedah satu per satu, dimulai dari sang primadona: MRT. Mulai beroperasi sejak 1987, jaringan rel Singapura terus menggurita. Data terbaru menunjukkan bahwa jalurnya kini membentang sepanjang 242,5 km khusus untuk MRT, dan sanggup memindahkan sekitar 3,49 juta orang setiap harinya. Kenyamanan MRT ini bukan sekadar karena gerbongnya yang adem dan kinclong, tapi berkat frekuensinya yang rapat. Saat jam sibuk (peak hours), kereta datang setiap 2–3 menit sekali. Sementara di luar jam sibuk, Anda hanya perlu menunggu sekitar 5 menit. Saya buktikan sendiri: selama wara-wiri naik MRT di sini, saya nyaris tidak pernah berdiri lebih dari tiga menit di peron. Sistem navigasinya pun sangat memanjakan. Penunjuk arah di stasiun dan informasi di dalam kereta dirancang sedemikian jelas. Jangankan warga lokal, wisatawan yang baru pertama kali mendarat di Singapura pun dijamin tak akan tersasar. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah stiker-stiker kecil berisi pesan kesadaran sosial di dalam kereta. Alih-alih kaku, pesannya terasa humanis, seperti “Tawarkan kursi Anda bagi yang lebih membutuhkan” atau “Bersikaplah ramah kepada petugas yang terus memastikan perjalanan kita lancar.” Tapi, jangan salah sangka, di balik pesan lembut itu, aturan mainnya sangat tegas. Merokok di stasiun atau kereta? Siap-siap didenda 1.000 Dolar Singapura (SGD). Ketahuan makan atau minum (bahkan sekadar minum air putih)? Melayang SGD 500. Apalagi kalau nekat membawa barang mudah terbakar, dendanya mencapai SGD 5.000!. Kalau dirupiahkan (anggap saja kurs Rp14.000), Anda bisa kehilangan belasan hingga puluhan juta rupiah. Aturan ini ditegakkan tanpa pandang bulu lewat petugas dan pantauan CCTV di setiap sudut. Tak heran jika MRT mereka selalu bersih dan bebas bau. Selanjutnya, kita beralih ke layanan bus. Bagian ini sangat relevan karena Aceh juga sedang mengembangkan layanan Trans Kutaraja. Niatnya tentu bukan untuk membandingkan apple-to-apple, melainkan memetik praktik baik dari mereka. Sama halnya dengan MRT, naik bus di Singapura itu super gampang. Di setiap halte, rute dan jadwal bus terpampang nyata. Waktu tunggu busnya memang sedikit lebih lama dibanding MRT—sekitar 7–10 menit saat jam sibuk dan 9–13 menit di luarnya. Menariknya, berbeda dengan Trans Jakarta yang punya jalur eksklusif (dedicated lanes), bus di Singapura kebanyakan berbagi jalan dengan kendaraan lain. LTA hanya memberikan penanda marka garis kuning di lajur paling kiri jalan arteri sebagai jalur prioritas. Pendekatan ini sangat cerdas karena menghemat penggunaan lahan jalan raya yang terbatas, namun pergerakan bus tetap lancar. Lucunya, banyak pendatang lebih memilih berdesakan di MRT ketimbang naik bus. Padahal, bus di sini sangat nyaman dan justru lebih dekat ke tempat-tempat strategis. Halte-halte bus sering kali langsung menurunkan penumpang tepat di depan Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Merlion Park atau Marina Barrage. Artinya, kita tak perlu membuang energi berjalan terlalu jauh dari stasiun. Cara naiknya juga unik. Saat bus tujuan Anda mendekat, Anda wajib melambaikan tangan sebagai isyarat. Kalau diam saja, bus bisa bablas karena sopir mengira tak ada penumpang yang mau naik. Setelah bus berhenti, masuklah dari pintu depan dan lakukan tap-in kartu. Saat turun, gunakan pintu belakang dan jangan lupa tap-out dengan kartu yang sama. Kalau sampai lupa, siap-siap saldo Anda dipotong sebesar tarif rute terjauh (tarif maksimal) untuk trayek tersebut. Sistem pembayarannya sangat modern. Tarif dihitung berdasarkan jarak, dan selain memakai kartu angkutan umum (EZ-Link, NETS FlashPay), Anda bisa langsung menempelkan kartu kredit/debit berlogo Mastercard dan Visa dari bank mana pun! Untuk bernavigasi dengan bus pun sangat mudah karena suasananya tenang, ada layar indikator halte di bagian depan, dan jadwalnya terintegrasi real-time di aplikasi resmi seperti MyTransport.SG atau Citymapper. Namun, armada yang bagus saja tak cukup. Pemerintah Singapura paham betul cara “merayu” warganya agar mau berjalan kaki menuju transportasi umum. Pembangunan berorientasi pada manusia (people-centric) di sini bukan sekadar janji manis. Salah satu yang sukses membuat saya iri: fasilitas pejalan kakinya sangat memanjakan! Lewat program resmi LTA bernama Walk2Ride, Pemerintah gencar membangun jaringan jalur pejalan kaki beratap (kanopi) agar pejalan kaki terlindung dari cuaca. Targetnya tidak main-main: memayungi trotoar dalam radius 400 meter dari stasiun MRT, dan 200 meter dari terminal bus atau stasiun LRT. Sejak diluncurkan pada 2013, kini sudah lebih dari 200 km jalur pejalan kaki beratap yang terbangun. Tak hanya itu, trotoarnya pun sangat inklusif. Permukaannya landai dan minim tangga. Jika ada perbedaan elevasi, selalu disiapkan ramp (bidang miring) atau lift. Bagi lansia atau pengguna kursi roda, desain yang terkesan sepele ini adalah sebuah “kemerdekaan” mobilitas. Meski wujud fisiknya memukau, “dapur” perencanaannya-lah yang paling membuat saya termenung. Dalam sesi diklat bersama Dr. Orlando Woods (Singapore Management University Urban Institute), saya belajar tentang pilar utama tata kota mereka: Integrated Planning (perencanaan terintegrasi), yang memandang kota sebagai satu organisme hidup yang saling terkait. Mau membangun kawasan perumahan baru? Rencana tata jalan, rute bus, dan stasiun keretanya sudah dirancang bersamaan dengan desain perumahan tersebut. Jadi, tidak ada cerita izin perumahan keluar duluan, perumahan dihuni, warga mengeluh macet, baru pemerintah kelabakan memikirkan rute angkutan. Pelajaran soal kesabaran merawat visi juga saya dapatkan dari Dr. Amy Khor, mantan Senior Minister of State untuk Transportasi Singapura. Kebijakan yang berdampak besar itu butuh waktu. Ia mencontohkan Marina Barrage—idenya sudah dicetuskan

Jadi Role Model Nasional Layanan Transportasi Publik Gratis, Mualem Raih Transportasi Indonesia Award 2026

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, resmi meraih penghargaan Transportasi Indonesia Award 2026 atas komitmennya menghadirkan transportasi publik yang inklusif dan mudah diakses oleh masyarakat. Penghargaan yang diinisiasi oleh Transportasi Media Indonesia ini diserahkan di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis, 30 Juli 2026. Penghargaan ini dianugerahkan kepada Mualem, sapaan akrab Gubernur Aceh Muzakir Manaf, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan langkah nyata Pemerintah Aceh dalam memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat menggunakan layanan transportasi publik dengan mudah, aman, dan mandiri. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal yang mewakili Gubernur Aceh menyampaikan rasa terima kasih kepada Transportasi Media Indonesia atas penghargaan yang diberikan. Menurutnya, penghargaan ini merupakan cerminan dari kerja keras bersama Pemerintah Aceh, di bawah nahkoda Gubernur Aceh, dalam menghadirkan layanan transportasi yang inklusif dan bisa dinikmati secara gratis oleh masyarakat. “Penghargaan ini dedikasikan untuk seluruh masyarakat Aceh. Pembangunan transportasi publik yang mudah diakses adalah fokus utama Pemerintah Aceh demi mewujudkan layanan yang layak, aman, dan nyaman,” ujar Teuku Faisal usai menerima penghargaan tersebut. Pemerintah Aceh sesuai arahan Gubernur terus memprioritaskan penyediaan layanan gratis angkutan massal Trans Kutaraja guna mendukung mobilitas harian masyarakat perkotaan. Keberadaan transportasi publik ini merupakan langkah nyata dalam mendorong efisiensi dan mengurangi beban ekonomi masyarakat Aceh. Di samping layanan Trans Kutaraja, program mudik gratis Pemerintah Aceh juga menjadi tanda komitmen Gubernur Aceh terhadap kemudahan transportasi bagi masyarakat khususnya di musim mudik lebaran. Program mudik gratis telah berjalan selama 2 tahun berturut-turut dan berdampak signifikan bagi kemudahan masyarakat melakukan perjalanan pulang kampung menjelang hari raya. Transportasi Indonesia Award 2026 diselenggarakan oleh Transportasi Media Indonesia sebagai bentuk apresiasi kepada regulator, pelaku industri, perusahaan, hingga tokoh yang dinilai memberikan dedikasi, inovasi, dan kontribusi nyata dalam mendorong kemajuan sektor transportasi, infrastruktur, serta rantai pasok nasional. Transportasi Media Indonesia menilai bahwa komitmen Pemerintah Aceh menjadi percontohan nasional dalam hal penyediaan layanan transportasi publik yang inklusif dan aksesibilitas universal, di mana layanan transportasi dirancang agar tidak mendiskriminasi pengguna berdasarkan keterbatasan fisik, usia, maupun kondisi ekonomi dan sosial. Dewan Pakar Transportasi Media Indonesia, Djoko Setijawarno, menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara independen, objektif, dan melalui kajian yang komprehensif oleh tim redaksi Transportasi Media Indonesia. “Pemilihan para penerima penghargaan didasarkan pada prestasi, rekam jejak, dan karya yang telah ditorehkan. Seluruhnya diteliti serta dianalisis oleh tim Transportasi Media sehingga penghargaan ini benar-benar diberikan kepada tokoh maupun perusahaan yang layak mendapat apresiasi,” ujar Djoko. Menurutnya, penghargaan ini tidak sekadar menjadi bentuk pengakuan atas berbagai pencapaian, tetapi juga diharapkan mampu mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat daya saing sektor transportasi Indonesia. “Provinsi Aceh menjadi role model dalam memberikan layanan angkutan massal gratis bagi masyarakat. Hal ini tentu sangat membantu perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat bawah, karena bisa menghemat biaya perjalanan harian mereka,” ungkap Djoko. Selain itu, dirinya berharap penghargaan ini bisa menjadi motivasi bagi seluruh stakeholder maupun ekosistem transportasi untuk terus menghadirkan terobosan serta pelayanan terbaik bagi masyarakat. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus dorongan agar sektor transportasi nasional semakin maju, modern, aman, dan berkelanjutan.