Mukeurawati dan Trans Kutaraja, Teman Setia Mencari Nafkah
Setiap pagi, Mukeurawati berjalan kaki sejauh beberapa kilometer dari rumahnya menuju halte terdekat. Dengan membawa hasil kebun dan sayuran dagangan, ia kemudian menaiki Bus Trans Kutaraja untuk menuju Pasar Peunayong, tempat ia mencari nafkah sehari-hari. Hampir setiap hari, Trans Kutaraja menjadi transportasi utama yang mengantarkannya ke pasar. Beragam jenis sayuran pernah ia jual, mulai dari daun kangkung, daun ubi, hingga daun genjer seperti yang dibawanya hari ini. Mukeurawati bercerita, daun genjer yang dijualnya kali ini diperoleh secara cuma-cuma dari salah seorang pemilik sawah di desanya. Dengan senyum penuh harap, ia berharap dagangannya kembali laris seperti hari sebelumnya. “Uro nyoe lon mee on genjer, baroe alhamdulillah on kangkong lon diborong le pak-pak polisi, semoga uroenyo lagot mandum beuh,” ujarnya. Yang berarti, “Hari ini saya membawa daun genjer. Kemarin alhamdulillah daun kangkung saya diborong bapak-bapak polisi. Semoga hari ini laku semua.” Bagi para awak Trans Kutaraja, sosok Mukeurawati sudah sangat familiar. Hampir setiap hari ia menjadi penumpang setia. Selama perjalanan, ia kerap berbagi cerita tentang kehidupannya maupun tentang orang-orang baik yang pernah membantunya. Trans Kutaraja bukan sekadar sarana transportasi bagi Mukeurawati. Bus ini telah menjadi bagian penting dari perjuangannya mencari nafkah. Bahkan, ketika layanan bus tidak beroperasi, ia memilih membatalkan perjalanannya ke pasar karena tidak memiliki alternatif transportasi lain yang terjangkau. Di balik kesederhanaannya, Mukeurawati adalah potret semangat dan ketekunan masyarakat yang terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik, dengan Trans Kutaraja yang setia menemani setiap langkah perjalanannya.
