Dishub

Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Ditutup Sementara untuk Uji Laik Fungsi dan Operasi

Banda Aceh – Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 ruas Padang Tiji-Seulimeum akan ditutup sementara mulai 9 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga 11 September 2026 pukul 07.00 WIB. Penutupan sementara pengoperasian fungsional tersebut dilakukan dalam rangka pelaksanaan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO), guna mendukung proses pengujian terhadap ruas tol tersebut. Penutupan sementara tersebut berdasarkan persetujuan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum yang disampaikan kepada PT Hutama Karya (Persero) melalui surat tertanggal 7 September 2026. Dalam surat tersebut, Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati meminta PT Hutama Karya melakukan penutupan sementara pengoperasian fungsional ruas Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 selama pelaksanaan ULFO. “Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji-Seulimeum) pada tanggal 9-10 September 2026, PT Hutama Karya (Persero) agar melakukan penutupan sementara pengoperasian fungsional guna mendukung kelancaran pelaksanaan ULFO tersebut,” demikian bunyi surat Kepala BPJT. BPJT juga meminta PT Hutama Karya melakukan sosialisasi dan berkoordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perhubungan, kepolisian serta instansi terkait lainnya selama masa penutupan. Setelah pelaksanaan ULFO berakhir, pengoperasian fungsional ruas tersebut dapat dilanjutkan kembali dengan mengedepankan prinsip keselamatan pengguna jalan serta pengawasan dari pihak kepolisian setempat. ULFO sendiri dijadwalkan berlangsung melalui peninjauan lapangan pada 9 September 2026 dan dilanjutkan pada 10 September 2026 apabila masih diperlukan. Agenda tersebut juga mencakup penyusunan draf berita acara. Sebelumnya, PT Hutama Karya menyampaikan bahwa ruas Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Padang Tiji-Seulimeum telah beroperasi secara fungsional sejak 24 Desember 2025. Pengoperasian tersebut berlangsung bersamaan dengan sejumlah pekerjaan konstruksi yang masih berjalan. Penutupan sementara ini menjadi bagian dari tahapan ULFO sebelum pengoperasian fungsional ruas tol tersebut dilanjutkan kembali dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan pengguna jalan. []  

Pemerintah Aceh Percepat Pelayaran Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang, PT PEMA Disiapkan Jadi Operator

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mempercepat realisasi pembukaan jalur pelayaran kapal Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) Krueng Geukuh, Aceh Utara–Penang, Malaysia, yang menjadi salah satu program prioritas Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Fadhlullah (Dek Fadh). Upaya percepatan tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Kantor Gubernur Aceh, Jumat (28/8/2026). Rapat dipimpin Plt Sekda Aceh Taufik dan diikuti Asisten Sekda Aceh Bidang Perekonomian dan Pembangunan T Robby Irza, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Adi Darma, Kepala Biro Hukum Amrizal J Prang serta sejumlah pihak terkait. Dalam rapat itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal memaparkan perkembangan persiapan pembukaan rute Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang, termasuk langkah yang harus segera dituntaskan pemerintah daerah. “Salah satu agenda utama adalah mempercepat proses penyusunan rancangan peraturan gubernur (Ranpergub) terkait penugasan PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai pelaksana layanan Ro-Ro tersebut,” kata Faisal. Faisal menilai, penugasan kepada PT PEMA dinilai dapat membuat pelaksanaan program lebih fleksibel karena BUMD dapat bekerja sama dengan pengusaha maupun investor menggunakan skema bisnis business to business. Di sisi lain, Pemerintah Aceh tetap memegang kendali terhadap sejumlah aspek strategis, seperti tarif, jadwal pelayaran dan prioritas muatan. “Dishub akan menyediakan pendanaan berupa hibah maupun penyertaan modal untuk mendukung penugasan PT PEMA,” kata Faisal. Faisal mengatakan, saat ini pihaknya menunggu PT PEMA untuk menyampaikan proposal kepada Pemerintah Aceh terkait pengadaan kapal, baik melalui skema sewa maupun pembelian. Proposal tersebut ditargetkan masuk paling lambat 31 Agustus 2026. Selanjutnya, pada 2-3 September 2026 direncanakan konsultasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Dalam Negeri melalui unit terkait keuangan daerah, khususnya mengenai penugasan PT PEMA. “Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan RI juga kami lakukan untuk mendorong dimulainya perundingan bilateral Indonesia-Malaysia terkait konektivitas Ro-Ro Aceh-Penang,” ujar Faisal. Sementara itu, Plt. Sekda Aceh Taufik menegaskan bahwa program tersebut merupakan program prioritas gubernur sehingga proses penyusunan regulasi dan persiapannya harus dikawal secara langsung. “Bangun komunikasi segera dengan Kementerian Perhubungan dan pihak terkait di Kementerian Dalam Negeri mengenai mekanisme hibah, subsidi atau penyertaan modal serta lakukan konsultasi untuk memperoleh rekomendasi penetapan pergub,” kata Taufik. Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Aceh menargetkan seluruh aspek regulasi, kapal, pelabuhan, layanan kepabeanan-imigrasi-karantina hingga kesiapan muatan dapat berjalan beriringan sehingga jalur Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang dapat segera direalisasikan. []

CATATAN DARI SINGAPURA: PELAJARAN TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK ACEH

Di awal Agustus 2026 ini, saya berkesempatan mengikuti diklat Urban Planning and Sustainability – Singapore Cooperation Programme (UPS-SCP). Sebagai seorang ASN di dinas yang mengurus urusan transportasi di Aceh, pikiran saya tak bisa lepas dari satu pertanyaan mendasar: Kenapa naik transportasi umum di Singapura terasa begitu mudah dan menyenangkan? Ini memang bukan kunjungan pertama saya ke Negeri Singa. Tapi kali ini, kacamata yang saya pakai berbeda. Saya sengaja mengamati langsung urat nadi transportasi publik kota ini—yang sering disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sebagai wajah dari sebuah negara maju, transportasi di Singapura itu cepat, rapi, dan yang terpenting: saling terhubung. Di sini, kereta Mass Rapid Transit (MRT) dan bus bukan rival yang berebut penumpang, melainkan sahabat karib dalam satu ekosistem terpadu, melayani kota. Bayangkan, begitu Anda turun dari stasiun MRT, halte bus sering kali hanya berjarak beberapa langkah saja, lengkap dengan fasilitas parkir sepeda. Land Transport Authority (LTA)—otoritas transportasi darat Singapura—menyebut konsep ini sebagai seamless transport (perpindahan tanpa hambatan). Baik itu pindah antar-jalur MRT maupun lanjut menyambung perjalanan dengan bus, semuanya terasa mulus. Mari kita bedah satu per satu, dimulai dari sang primadona: MRT. Mulai beroperasi sejak 1987, jaringan rel Singapura terus menggurita. Data terbaru menunjukkan bahwa jalurnya kini membentang sepanjang 242,5 km khusus untuk MRT, dan sanggup memindahkan sekitar 3,49 juta orang setiap harinya. Kenyamanan MRT ini bukan sekadar karena gerbongnya yang adem dan kinclong, tapi berkat frekuensinya yang rapat. Saat jam sibuk (peak hours), kereta datang setiap 2–3 menit sekali. Sementara di luar jam sibuk, Anda hanya perlu menunggu sekitar 5 menit. Saya buktikan sendiri: selama wara-wiri naik MRT di sini, saya nyaris tidak pernah berdiri lebih dari tiga menit di peron. Sistem navigasinya pun sangat memanjakan. Penunjuk arah di stasiun dan informasi di dalam kereta dirancang sedemikian jelas. Jangankan warga lokal, wisatawan yang baru pertama kali mendarat di Singapura pun dijamin tak akan tersasar. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah stiker-stiker kecil berisi pesan kesadaran sosial di dalam kereta. Alih-alih kaku, pesannya terasa humanis, seperti “Tawarkan kursi Anda bagi yang lebih membutuhkan” atau “Bersikaplah ramah kepada petugas yang terus memastikan perjalanan kita lancar.” Tapi, jangan salah sangka, di balik pesan lembut itu, aturan mainnya sangat tegas. Merokok di stasiun atau kereta? Siap-siap didenda 1.000 Dolar Singapura (SGD). Ketahuan makan atau minum (bahkan sekadar minum air putih)? Melayang SGD 500. Apalagi kalau nekat membawa barang mudah terbakar, dendanya mencapai SGD 5.000!. Kalau dirupiahkan (anggap saja kurs Rp14.000), Anda bisa kehilangan belasan hingga puluhan juta rupiah. Aturan ini ditegakkan tanpa pandang bulu lewat petugas dan pantauan CCTV di setiap sudut. Tak heran jika MRT mereka selalu bersih dan bebas bau. Selanjutnya, kita beralih ke layanan bus. Bagian ini sangat relevan karena Aceh juga sedang mengembangkan layanan Trans Kutaraja. Niatnya tentu bukan untuk membandingkan apple-to-apple, melainkan memetik praktik baik dari mereka. Sama halnya dengan MRT, naik bus di Singapura itu super gampang. Di setiap halte, rute dan jadwal bus terpampang nyata. Waktu tunggu busnya memang sedikit lebih lama dibanding MRT—sekitar 7–10 menit saat jam sibuk dan 9–13 menit di luarnya. Menariknya, berbeda dengan Trans Jakarta yang punya jalur eksklusif (dedicated lanes), bus di Singapura kebanyakan berbagi jalan dengan kendaraan lain. LTA hanya memberikan penanda marka garis kuning di lajur paling kiri jalan arteri sebagai jalur prioritas. Pendekatan ini sangat cerdas karena menghemat penggunaan lahan jalan raya yang terbatas, namun pergerakan bus tetap lancar. Lucunya, banyak pendatang lebih memilih berdesakan di MRT ketimbang naik bus. Padahal, bus di sini sangat nyaman dan justru lebih dekat ke tempat-tempat strategis. Halte-halte bus sering kali langsung menurunkan penumpang tepat di depan Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Merlion Park atau Marina Barrage. Artinya, kita tak perlu membuang energi berjalan terlalu jauh dari stasiun. Cara naiknya juga unik. Saat bus tujuan Anda mendekat, Anda wajib melambaikan tangan sebagai isyarat. Kalau diam saja, bus bisa bablas karena sopir mengira tak ada penumpang yang mau naik. Setelah bus berhenti, masuklah dari pintu depan dan lakukan tap-in kartu. Saat turun, gunakan pintu belakang dan jangan lupa tap-out dengan kartu yang sama. Kalau sampai lupa, siap-siap saldo Anda dipotong sebesar tarif rute terjauh (tarif maksimal) untuk trayek tersebut. Sistem pembayarannya sangat modern. Tarif dihitung berdasarkan jarak, dan selain memakai kartu angkutan umum (EZ-Link, NETS FlashPay), Anda bisa langsung menempelkan kartu kredit/debit berlogo Mastercard dan Visa dari bank mana pun! Untuk bernavigasi dengan bus pun sangat mudah karena suasananya tenang, ada layar indikator halte di bagian depan, dan jadwalnya terintegrasi real-time di aplikasi resmi seperti MyTransport.SG atau Citymapper. Namun, armada yang bagus saja tak cukup. Pemerintah Singapura paham betul cara “merayu” warganya agar mau berjalan kaki menuju transportasi umum. Pembangunan berorientasi pada manusia (people-centric) di sini bukan sekadar janji manis. Salah satu yang sukses membuat saya iri: fasilitas pejalan kakinya sangat memanjakan! Lewat program resmi LTA bernama Walk2Ride, Pemerintah gencar membangun jaringan jalur pejalan kaki beratap (kanopi) agar pejalan kaki terlindung dari cuaca. Targetnya tidak main-main: memayungi trotoar dalam radius 400 meter dari stasiun MRT, dan 200 meter dari terminal bus atau stasiun LRT. Sejak diluncurkan pada 2013, kini sudah lebih dari 200 km jalur pejalan kaki beratap yang terbangun. Tak hanya itu, trotoarnya pun sangat inklusif. Permukaannya landai dan minim tangga. Jika ada perbedaan elevasi, selalu disiapkan ramp (bidang miring) atau lift. Bagi lansia atau pengguna kursi roda, desain yang terkesan sepele ini adalah sebuah “kemerdekaan” mobilitas. Meski wujud fisiknya memukau, “dapur” perencanaannya-lah yang paling membuat saya termenung. Dalam sesi diklat bersama Dr. Orlando Woods (Singapore Management University Urban Institute), saya belajar tentang pilar utama tata kota mereka: Integrated Planning (perencanaan terintegrasi), yang memandang kota sebagai satu organisme hidup yang saling terkait. Mau membangun kawasan perumahan baru? Rencana tata jalan, rute bus, dan stasiun keretanya sudah dirancang bersamaan dengan desain perumahan tersebut. Jadi, tidak ada cerita izin perumahan keluar duluan, perumahan dihuni, warga mengeluh macet, baru pemerintah kelabakan memikirkan rute angkutan. Pelajaran soal kesabaran merawat visi juga saya dapatkan dari Dr. Amy Khor, mantan Senior Minister of State untuk Transportasi Singapura. Kebijakan yang berdampak besar itu butuh waktu. Ia mencontohkan Marina Barrage—idenya sudah dicetuskan

Traffic Lite Z, Bahasa Keselamatan yang Dipahami Semua Anak

Di hadapan sekitar 20 siswa berkebutuhan khusus SLB YPAC Banda Aceh sebuah gambar muncul di layar telepon genggam. Bukan tulisan panjang, melainkan simbol sederhana yang harus mereka tebak. Beberapa siswa memperhatikan layar gadget dengan serius. Ada yang saling melirik ke arah temannya, ada pula yang langsung mengangkat tangan. Tak lama kemudian, jawaban disampaikan. Begitu dinyatakan benar, seluruh ruangan dipenuhi tepuk tangan dan tawa. Wajah-wajah yang semula tampak serius berubah ceria. Suasana seperti itu terus berulang sepanjang kegiatan. Tidak ada kesan bahwa mereka sedang mengikuti sosialisasi. Yang terlihat justru anak-anak yang menikmati sebuah permainan, padahal tanpa disadari mereka sedang belajar mengenal keselamatan berlalu lintas. Hari itu, Rabu di penghujung Juli 2026, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) menggelar sosialisasi Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 di SLB YPAC Banda Aceh. Kegiatan dipandu oleh Kepala Seksi Keselamatan LLAJ Bidang LLAJ Dinas Perhubungan Aceh, Renny Anggeraeni Robin, bersama jajaran staf Bidang LLAJ. Mereka tidak datang membawa buku tebal atau memutar video panjang tentang kecelakaan lalu lintas. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan Traffic Lite Z Gema Lantas, sebuah gim edukatif yang dikembangkan Izzati Hilma, Siswi SMA Modal Bangsa Aceh Besar, Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 yang akan mewakili Aceh pada ajang tingkat nasional di Jakarta. Di hadapan para siswa, Izzati menjelaskan tentang Traffic Lite Z Gema Lantas. Sebuah prototipe berbasis web yang menggabungkan materi edukasi keselamatan berlalu lintas, kuis interaktif, dan mini gim. Platform tersebut dirancang agar pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah dipahami, sekaligus dapat diakses oleh seluruh kalangan pelajar. Traffic Lite Z menyediakan tiga mode penggunaan. Mode umum berisi materi pembelajaran, kuis, serta sepuluh mini gim edukatif yang dapat dimainkan seluruh siswa. Mode tunarungu menghadirkan materi yang sama, namun dilengkapi subtitle dan teks instruksi sehingga mudah diikuti peserta didik dengan hambatan pendengaran. Sementara mode tunadaksa menyediakan lima mini gim yang disesuaikan dengan konsep aksesibilitas sekaligus menumbuhkan empati terhadap pengguna jalan yang memiliki keterbatasan fisik. Seluruh fitur dapat diakses melalui tautan maupun pemindaian kode QR sehingga peserta langsung dapat mencoba pengalaman belajar yang lebih modern, menyenangkan, dan inklusif. Melalui telepon genggam, para siswa memindai kode QR sebelum masuk ke dalam gim. Mereka diajak mengenali rambu-rambu lalu lintas, memahami penyebab pelanggaran, hingga memilih perilaku yang benar ketika berada di jalan. Semua materi dikemas dalam bentuk permainan sehingga lebih mudah dipahami. Menurut Izzati, inovasi tersebut dikembangkan agar pelajar tidak sekadar menghafal rambu-rambu, tetapi memahami maknanya melalui pengalaman bermain. “Saya ingin teman-teman belajar keselamatan berlalu lintas dengan cara yang lebih menyenangkan. Melalui gim ini mereka bisa belajar sambil bermain sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat. Saya juga berharap media ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak sekolah, termasuk sekolah luar biasa, agar semakin banyak pelajar yang memiliki kesadaran untuk tertib dan selamat di jalan,” ujar Izzati. Menurut Renny Anggeraeni Robin, pendekatan seperti ini dipilih agar edukasi keselamatan lalu lintas tidak terasa membosankan. “Izzati akan mewakili Aceh pada ajang Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tingkat nasional di Jakarta. Kami berharap inovasi ini dapat memberikan hasil terbaik sekaligus menjadi media edukasi yang bisa dimanfaatkan lebih luas,” ujar Renny. Belajar Melalui Simbol Di SLB YPAC Banda Aceh, permainan sederhana itu mampu menghidupkan suasana kelas. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah ketika Izzati mengajak para siswa menebak rute Bus Trans Koetaradja melalui simbol-simbol yang ditampilkan di layar. Hampir seluruh peserta menjawab secara bersamaan. Setiap jawaban yang benar selalu disambut tepuk tangan dan sorak kegembiraan. Guru Konseling sekaligus salah seorang wali kelas SLB YPAC Banda Aceh, Nurul Rahmi, mengatakan pendekatan seperti itu jauh lebih mudah diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus. “Anak-anak berkebutuhan khusus ini berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Saat kita mengarahkan mereka, belum tentu mereka langsung merespons sesuai yang kita harapkan. Karena itu kami harus lebih sabar mendampingi mereka. Ada yang sudah duduk di bangku SMA, tetapi perkembangan emosinya masih seperti anak usia dini,” kata Nurul Rahmi. Melalui permainan, lanjut Nurul, anak-anak tidak merasa sedang belajar. Mereka menikmati setiap tantangan yang muncul di layar, padahal pada saat yang sama mereka sedang mengenal rambu-rambu lalu lintas dan memahami pentingnya keselamatan di jalan. Perjalanan sosialisasi berlanjut ke SLB-B YPAC Kampung Keramat Banda Aceh, sekolah tempat anak-anak tunarungu menempuh pendidikan. Setiap penjelasan yang disampaikan Izzati diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat oleh Muspita, guru Biologi yang mendampingi kegiatan. Pada sesi ice breaking, simbol-simbol rute Bus Trans Koetaradja ditampilkan di layar. Ketika simbol bergambar mata dan air muncul, para siswa langsung menjawab melalui bahasa isyarat. Muspita tersenyum sambil membenarkan jawaban mereka, disambut tepuk tangan yang kembali memenuhi ruangan. Bagi anak-anak tunarungu itu, simbol-simbol menjadi bahasa yang paling mudah dipahami. Mereka tampak cepat mengenali berbagai rambu lalu lintas yang muncul dalam permainan. Meski tanpa suara lantang, senyum di wajah mereka memperlihatkan rasa bangga setiap kali berhasil menjawab tantangan. Inovasi yang Ramah untuk Semua Rangkaian sosialisasi berlanjut ke SLB Bukesra Banda Aceh, Kamis (30/7/2026). Antusiasme siswa juga tidak kalah tinggi. Begitu gambar-gambar rambu lalu lintas ditampilkan melalui layar proyektor, mereka serentak mengangkat tangan dan berlomba menjadi yang pertama menjawab. Kepala SLB Bukesra Banda Aceh, Taufik Sulaiman, mengapresiasi langkah Dishub Aceh yang menghadirkan media pembelajaran berbasis teknologi yang ramah disabilitas. “Terima kasih telah membawa misi tentang pentingnya berlalu lintas yang baik sehingga anak-anak kami memiliki pemahaman tentang keselamatan di jalan raya. Kami mengapresiasi Dinas Perhubungan Aceh dan Duta Pelajar Pelopor yang telah berkenan berbagi edukasi kepada siswa kami,” ujarnya. Menurut Taufik, hampir semua anak tidak pernah lepas dari aktivitas di jalan raya sehingga pendidikan keselamatan perlu dikenalkan sejak dini melalui media yang sesuai dengan kebutuhan mereka. “Ini merupakan inovasi yang luar biasa. Media berbasis teknologi seperti ini dapat diakses oleh anak-anak kami, baik tunarungu, tunadaksa maupun penyandang disabilitas lainnya. Gim ini menjadi pembelajaran berlalu lintas yang aman dan nyaman. Kami mendoakan semoga Izzati memperoleh hasil terbaik pada ajang nasional nanti. Apa yang kami peroleh hari ini akan kami terapkan di sekolah,” kata Taufik. Belajar Sambil Bermain Sehari sebelumnya, Selasa (28/7/2026), Traffic Lite Z Gema Lantas lebih dulu diperkenalkan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA Metodis Banda Aceh. Di hadapan para

Terminal Aceh Tamiang Dibangun Kembali, Pelayanan Dipastikan Tak Terhenti

Terminal Tipe B Aceh Tamiang yang rusak akibat banjir bandang akhir tahun lalu akan segera dibangun kembali dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Yang terpenting, selama pembangunan berlangsung, seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Sekadar mengingatkan, banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu sempat melumpuhkan terminal secara total. Derasnya arus air menjebol tembok keliling terminal sehingga air bercampur lumpur masuk tak terkendali dan merendam seluruh area, dengan ketinggian air hampir mencapai plafon bangunan. Setelah air surut, endapan lumpur tebal menutupi kantor, loket, dan fasilitas pendukung lainnya, sementara aliran listrik dan air bersih terputus selama berhari-hari. Kini, pemulihan terminal memasuki babak baru. Pembangunan kembali Terminal Tipe B Aceh Tamiang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh. Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai rencana, Satgas Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melakukan kunjungan kerja ke lokasi terminal bersama Dinas Perhubungan Aceh dalam rangka monitoring, sekaligus meninjau langsung kondisi terminal dan tahapan pembangunan yang akan dilaksanakan. Ketua Satgas DPRA, Muhammad Rizky, SE, hadir bersama para anggota Satgas, yakni Nora Idah Nita, Muhammad Yusuf Pang Ucok, dan Muhammad Zakiruddin. Ia menegaskan pihaknya akan mengawal proyek ini hingga tuntas. “Kami akan terus berkoordinasi dan mengawasi secara intensif bersama Dinas Perhubungan Aceh agar pembangunan Terminal Aceh Tamiang selesai sesuai target. Harapannya, masyarakat segera menikmati terminal yang lebih representatif dan nyaman,” ujarnya. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menjelaskan bahwa Terminal Aceh Tamiang termasuk terminal dengan aktivitas tertinggi di Aceh. Perannya bukan hanya melayani perjalanan warga sehari-hari, tetapi juga menjadi tumpuan saat keadaan darurat. “Saat bencana hidrometeorologi yang lalu, terminal ini menjadi posko terpadu sekaligus titik kumpul masyarakat. Karena itu, pembangunan kembali terminal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kesiapsiagaan ke depan,” kata Teuku Faisal. Ia menegaskan, Dishub Aceh akan melakukan percepatan pembangunan yang ditargetkan rampung pada Desember 2026, agar terminal segera dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Teuku Faisal juga mengajak masyarakat untuk turut serta memantau dan mengawal jalannya pembangunan, sebagai wujud kebersamaan dalam menghadirkan terminal yang lebih baik bagi semua. Selama pembangunan berlangsung, pelayanan kepada masyarakat dipastikan tidak akan terhenti. Seluruh loket akan direlokasi sementara ke bagian depan terminal agar operasional tetap lancar. “Loket-loket pelayanan kami pindahkan sementara ke bagian depan terminal. Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal dan tidak terganggu,” tutupnya. Setelah rampung, terminal baru diharapkan hadir lebih modern, aman, dan nyaman, sehingga semakin meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi masyarakat Aceh Tamiang dan sekitarnya.

Momen Hari Pertama Sekolah: Harmoni Keluarga dan Denyut Mobilitas di Kota Banda Aceh

BANDA ACEH – Suasana pagi di Kota Banda Aceh pada Senin (13/7) terasa lebih hidup dan sibuk dari hari biasanya. Ruas-ruas jalan utama dipadati oleh arus kendaraan, menandai antusiasme para orang tua yang mengantar buah hati mereka menuju sekolah untuk memulai tahun ajaran baru. Di tengah peningkatan kepadatan lalu lintas tersebut, moda transportasi massal Bus Trans Koetaradja tetap setia melayani mobilitas masyarakat. Layanan ini menjadi pilihan utama bagi warga yang ingin menempuh perjalanan dengan nyaman di tengah dinamika lalu lintas pagi hari. Momen hari pertama sekolah ini menciptakan pemandangan yang hangat di sepanjang jalan-jalan kota: orang tua dan anak yang berbagi waktu dalam perjalanan menuju sekolah, berpadu dengan denyut aktivitas warga yang tetap berjalan seperti biasa. Momen ini sekaligus menjadi cerminan bagaimana aspek keluarga dan mobilitas kota dapat berjalan beriringan dengan tertib. Dukungan Fleksibilitas bagi ASN Pemerintah Aceh, melalui arahan Gubernur Aceh yang tertuang dalam Surat Sekretaris Daerah Aceh, sebelumnya telah menetapkan kebijakan mengenai fleksibilitas waktu kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Kebijakan ini diperuntukkan bagi orang tua yang memiliki anak di jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan ketahanan keluarga. Dengan adanya kelonggaran waktu kerja, para orang tua diharapkan dapat mendampingi putra-putrinya di hari-hari penting pendidikan mereka tanpa harus mengesampingkan produktivitas kerja. Dinas Perhubungan bersama unsur terkait terus berkomitmen untuk memastikan arus lalu lintas di kawasan sekolah maupun pusat keramaian tetap kondusif, sehingga masyarakat dapat menjalankan rutinitas hari pertama sekolah dengan aman, nyaman, dan penuh kesan.

Bukan Sekadar Trofi: Kisah Perjuangan Sunyi di Balik Inovasi Sang Pelajar Pelopor Keselamatan Berkendara

Banda Aceh – Di balik penghargaan bergengsi yang diraih di atas panggung, sering kali tersimpan kisah perjuangan yang tak banyak diketahui orang. Predikat sebagai Pelajar Pelopor tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari proses panjang yang penuh pengorbanan—termasuk waktu istirahat, tenaga, bahkan air mata yang jarang terlihat oleh siapa pun. Adif Fata Amrullah adalah satu dari sekian pelajar yang membuktikan hal itu. Di balik inovasinya yang kini diakui sebagai karya unggulan dalam ajang Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tersimpan cerita tentang perjuangan panjang yang dihabiskan sendirian, jauh dari sorotan kamera dan tepuk tangan. Waktu persiapan yang dimilikinya sangat terbatas. Ia harus membagi fokus antara menyelesaikan ujian sekolah dan merampungkan proyek inovasi yang akan dilombakan. Tidak jarang ia baru pulang larut malam, sebab jam pulang sekolah yang biasa tidak cukup untuk menuntaskan setiap tahap pengerjaan alatnya. Bahkan, sebagian besar proses perakitan justru baru benar-benar ia kebut setelah pelaksanaan ujian sekolah selesai. Waktu yang tersisa kian sempit, belum lagi program yang sering mengalami gangguan (error). Namun, ia memilih terus melanjutkan perjuangan meski rasa lelah kerap membuatnya nyaris menyerah. “Waktu itu jujur berat kali, soalnya ada ujian sekolah dan harus persiapan lomba. Pulangnya sering malam karena harus lanjut ngerjain alat. Tapi saya pikir, kalau bukan sekarang, kapan lagi,” ujar Adif Fata Amrullah saat ditemui setelah terpilih menjadi juara satu dalam Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Tahun 2026. Semangat itu tidak muncul begitu saja. Titik balik datang ketika ia melihat tayangan FYP TikTok tentang dosen FMIPA UI yang menjelaskan bahayanya gas karbon monoksida di dalam kendaraan roda empat, yang dapat terhirup melalui sistem pendingin udara (AC) mobil. Penjelasan tersebut membuka matanya bahwa ancaman di balik hal yang tampak sepele itu nyata dan bisa berakibat fatal. Motivasinya semakin kuat setelah mengetahui adanya kasus nyata seseorang yang meninggal dunia akibat keracunan gas dari AC mobil. Fakta itu menjadi dorongan besar baginya untuk menciptakan sebuah inovasi yang mampu mendeteksi potensi bahaya tersebut lebih awal, demi mencegah kejadian serupa terulang. Dari sanalah lahir inovasi “kabin buat”, hasil dari malam-malam panjang tanpa kenal lelah. Proyek ini bukan sekadar untuk mengejar nilai atau penghargaan, melainkan wujud kepedulian nyata terhadap keselamatan orang lain. Perjuangan Adif Fata Amrullah tidak berdiri sendiri. Di ajang yang sama, ada Izzaty Hilma, Muhammad Farras Hilmi, Syifa Althafunnisa, Muhammad Fadhlan, dan Cut Alisa Zahira. Mereka adalah pelajar-pelajar lain yang turut berjuang menghadirkan inovasi demi menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman dan tertib. Mereka sama-sama menempuh proses panjang, dengan tantangan dan pengorbanannya masing-masing, sebelum akhirnya diakui sebagai bagian dari generasi pelopor keselamatan berkendara. Gelar pelopor pada akhirnya bukan hanya soal seberapa canggih alat yang diciptakan, melainkan tentang keteguhan hati untuk terus melangkah meski waktu sempit dan tenaga menipis. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan—dan di dalam kendaraan sekalipun—adalah tanggung jawab bersama yang layak terus diperjuangkan.

Siswa Sabang Raih Juara I Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Aceh 2026

Banda Aceh – Adif Fata Amrullah, siswa SMA Negeri 1 Kota Sabang, berhasil meraih Juara pertama Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2026. Atas prestasi tersebut, Adif bersama pemenang kedua dari kegiatan tersebut akan mewakili Aceh pada ajang serupa tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Pemenang diumumkan dalam acara penutupan Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Tingkat Provinsi Aceh yang digelar Dinas Perhubungan Aceh di Banda Aceh, Kamis (9/7), setelah para peserta mengikuti rangkaian seleksi dan pembekalan selama empat hari. Kegiatan yang mengusung tema “Inovasi, Teknologi, dan Etika Transportasi sebagai Manifestasi Keselamatan Jalan di Era Digital” tersebut menjadi wadah untuk melahirkan generasi muda yang peduli, inovatif, dan berkomitmen membangun budaya keselamatan berlalu lintas di Aceh. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, ST., MT., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan kemampuan terbaik melalui berbagai inovasi dan gagasan di bidang keselamatan transportasi. “Adik-adik kita membuktikan bahwa di era digital, generasi muda bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan menghadirkan solusi bagi keselamatan di jalan raya. Inovasi, teknologi, dan komitmen yang mereka miliki akan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Teuku Faisal. Teuku Faisal juga mengapresiasi dukungan Dinas Perhubungan kabupaten/kota yang telah mengirimkan delegasi terbaiknya pada kompetisi tersebut. Tahun ini, sebanyak 21 pelajar dari 17 kabupaten/kota mengikuti seleksi tingkat provinsi. Ia berharap pada tahun mendatang seluruh kabupaten/kota di Aceh dapat mengirimkan duta terbaiknya sehingga semakin banyak generasi muda yang memperoleh manfaat dari kegiatan itu. Menurut Teuku Faisal, pemilihan pelajar pelopor bukan sekadar kompetisi untuk menentukan juara, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi putra-putri terbaik Aceh yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan berlalu lintas. “Mulai hari ini kalian bukan hanya peserta, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar Dinas Perhubungan Aceh. Banyak alumni Pelajar Pelopor yang terus berkontribusi di tengah masyarakat. Karena itu, tularkan ilmu, pengalaman, dan semangat keselamatan kepada teman-teman di sekolah maupun lingkungan sekitar,” ujar Faisal. Faisal berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang terus mengampanyekan budaya keselamatan berlalu lintas, baik di lingkungan sekolah maupun melalui media sosial, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Zero Accident di Aceh. Sementara itu, Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Aceh, Diana Devi, mengatakan proses penilaian dilakukan secara komprehensif oleh dewan juri terhadap seluruh peserta, meliputi karya tulis ilmiah, kemampuan presentasi, kepemimpinan, serta inovasi di bidang keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Selama empat hari di Banda Aceh, para peserta memperoleh pembekalan dari berbagai narasumber, meliputi materi psikologi, kepemimpinan, keselamatan berlalu lintas, etika transportasi, kunjungan lapangan, pengalaman menggunakan layanan transportasi publik Trans Koetaradja, serta penguatan kemampuan komunikasi dan presentasi. “Mereka merupakan pelajar terbaik dari daerah masing-masing. Seluruh peserta telah menunjukkan kemampuan yang sangat baik. Juara I akan mewakili Aceh pada Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang,” ujar Devi. Dewan juri yang terdiri dari unsur Dinas Perhubungan Aceh, Ditlantas Polda Aceh, dan PT Jasa Raharja melakukan penilaian berdasarkan karya tulis ilmiah yang diajukan peserta, kemampuan presentasi, serta inovasi teknologi yang ditawarkan. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, ditetapkan tiga pemenang utama, yakni Adif Fata Amrullah dari SMA Negeri 1 Kota Sabang sebagai Juara I, Izzaty Hilma dari SMA Negeri Modal Bangsa Aceh sebagai Juara II, serta M. Farras Hilmi dari SMA Negeri 1 Kabupaten Bireuen sebagai Juara III. Selain kategori utama, panitia juga menetapkan sejumlah penghargaan khusus, yaitu: – Pembina Terbaik: Dinas Perhubungan Kabupaten Aceh Barat dan Dinas Perhubungan Kabupaten Aceh Singkil. – Best Content Video: Cut Alisa Zahara, SMA Negeri 1 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. – Kategori Sosial Budaya Terbaik: Syifaa Althafunnisa, MAN Insan Cendekia Kabupaten Aceh Timur. – Kategori Teknologi Terbaik: Muhammad Fadhlan, SMA Negeri 1 Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil. Seluruh pemenang menerima sertifikat penghargaan dan beasiswa sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih. Acara penutupan turut dihadiri Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, Kepala PT Jasa Raharja Wilayah Aceh, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Aceh, para Kepala Dinas Perhubungan kabupaten/kota, mitra kerja Dinas Perhubungan Aceh, serta pejabat struktural di lingkungan Dinas Perhubungan Aceh. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari PT Jasa Raharja, PT Capella Dinamik Nusantara, PT Aceh Global Transport, dan PT Pembangunan Aceh (PEMA)

Satu Dekade Transkoetaradja Dirayakan di Car Free Day Banda Aceh

Banda Aceh – Suasana kawasan Car Free Day Banda Aceh, Minggu (17/5), tampak lebih semarak dari biasanya. Perayaan satu dekade Transkoetaradja dipadati masyarakat yang mengikuti berbagai kegiatan interaktif, hiburan, hingga berbagi pengalaman sebagai pengguna setia transportasi publik tersebut. Kegiatan yang dipusatkan di area Car Free Day itu turut dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Aceh T. Faisal beserta jajaran pejabat Dinas Perhubungan Aceh. Kehadiran mereka menyatu dengan masyarakat dalam perayaan 10 tahun perjalanan Transkoetaradja yang selama ini menjadi bagian dari mobilitas warga. Beragam agenda turut memeriahkan kegiatan, mulai dari hiburan, interaksi bersama masyarakat, hingga penyerahan hadiah bagi para pemenang kegiatan yang telah digelar sebelumnya. Rangkaian kegiatan dimulai sejak Sabtu melalui agenda Creative Trip to Amanah. Kegiatan diawali dengan keberangkatan peserta dan panitia menuju lokasi Amanah, dilanjutkan pengarahan singkat serta tur edukatif yang memperkenalkan berbagai booth ekonomi kreatif, UMKM, inovasi, dan pengembangan keterampilan. Peserta tidak hanya mengikuti tur, tetapi juga berkesempatan berinteraksi langsung, mengikuti sesi berbagi pengalaman, menikmati makan siang bersama, hingga sesi foto sebelum kembali ke Banda Aceh. Puncak perayaan berlangsung pada Minggu di kawasan Car Free Day Banda Aceh. Beragam kegiatan interaktif dan hiburan digelar sebagai bagian dari perayaan satu dekade perjalanan Transkoetaradja sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat dan para pengguna layanan. Salah satu momen menarik datang dari Alyskha Umairah Thahirah, pemenang Stamp Rally Transkoetaradja. Ia berbagi pengalamannya saat mengajak temannya asal Medan berkeliling Banda Aceh menggunakan Transkoetaradja selama satu hari penuh. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri karena perjalanan terasa menyenangkan dan penuh energi. Dalam kesempatan itu, hadiah kepada para pemenang diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal. Cerita pengalaman pengguna juga disampaikan Putri Ramazani yang mengaku telah menggunakan Transkoetaradja sejak 2016. “Kalau bisa gratis terus. Ke mana-mana dijangkau Transkoetaradja,” ujarnya. Sementara itu, Lisa Hamzah, salah satu influencer sekaligus pengguna Transkoetaradja, menilai kehadiran layanan transportasi tersebut memiliki kontribusi besar dalam mendukung sektor pariwisata di Aceh. Ia mencontohkan salah satu rute seperti Trans Mediwana yang melintasi sejumlah titik dan landmark di Banda Aceh. “Saya senang hadir bukan hanya sebagai transportasi umum, tetapi juga mendukung sektor pariwisata di Aceh,” kata Lisa. Ia berharap ke depan jumlah armada dapat ditambah, terminal diperbanyak, serta tersedia halte yang mendukung fasilitas parkir kendaraan maupun sepeda. “Kalau fasilitas semakin lengkap, tentu akan semakin banyak masyarakat yang menggunakan Transkoetaradja.” Hal serupa disampaikan Kiki Nadia yang mulai menggunakan Transkoetaradja sejak 2018 saat menempuh pendidikan di Banda Aceh. Menurutnya, layanan tersebut menjadi solusi mobilitas masyarakat dan tetap menjadi pilihan hingga kini, bahkan setelah dirinya mulai bekerja. “Masih setia sampai sekarang karena sangat membantu. Harapannya ke depan jangkauan Transkoetaradja bisa sampai ke pelosok,” kata Kiki. Baca Berita Lainnya: Gubernur Mualem Minta Dukungan Presiden Izinkan Maskapai Arab Saudi Angkut Jamaah Langsung dari Aceh Satu Dekade Trans Koetaradja, Pemerintah Aceh Tegaskan Komitmen Pertahankan Layanan Gratis Kadishub Aceh Usul Kaji Ulang Masterplan Kereta Api Aceh Pasca Bencana Hidrometerologi

Menko AHY Kebut Kereta Trans-Sumatra, Momentum Aceh Pacu Konektivitas Logistik

JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pemerintah terus mempercepat pengembangan jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa yakni Trans Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi (SKS) sebagai langkah strategis memperkuat konektivitas nasional, menekan biaya logistik, dan mendorong pemerataan pembangunan. Menurutnya, percepatan tersebut membutuhkan sinergi lintas kementerian serta dukungan skema pembiayaan kreatif. “Baru saja kami menggelar rapat koordinasi untuk membahas pengembangan jaringan kereta api secara nasional. Ini merupakan salah satu program prioritas yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pilar infrastruktur dan pembangunan kewilayahan,” ujar Menko AHY usai rapat di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Selasa (22/4/2026). Menurutnya, pengembangan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi salah satu fokus utama yang saat ini sedang dirumuskan secara komprehensif lintas kementerian dan lembaga. “Kereta api kita harapkan bisa berperan lebih besar, bukan hanya untuk penumpang, melainkan juga untuk angkutan barang. Dengan begitu, biaya logistik bisa ditekan dan produktivitas daerah meningkat,” jelasnya. Menko AHY juga menekankan pengembangan kereta api memiliki dampak positif terhadap lingkungan. “Kontribusi emisi dari kereta api sangat kecil, kurang dari 1 persen, dibandingkan transportasi darat berbasis jalan yang mencapai sekitar 89 persen. Artinya, pengembangan kereta juga sejalan dengan upaya kita mengurangi emisi karbon,” ungkapnya. Namun demikian, ia mengakui selama ini pengembangan perkeretaapian masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan investasi. “Terjadi underinvestment jika dibandingkan dengan pembangunan jalan. Ini bukan berarti jalan tidak penting, tetapi kita perlu menyeimbangkan kembali agar pengembangan kereta juga bisa lebih optimal,” katanya. Saat ini, lanjut Menko AHY, jaringan rel kereta api masih didominasi di Pulau Jawa, sementara wilayah lain masih memerlukan pengembangan signifikan. “Sumatra sudah memiliki jaringan, tetapi belum sepenuhnya terhubung. Sulawesi masih terbatas, dan Kalimantan bahkan belum memiliki jaringan kereta. Ini menjadi perhatian utama kita ke depan,” ujarnya. Untuk itu, pemerintah tengah menghitung kebutuhan pengembangan dan reaktivasi jaringan kereta api secara bertahap dalam jangka menengah hingga panjang. “Kita perkirakan kebutuhan pengembangan mencapai sekitar 14.000 kilometer. Ini tentu tidak bisa dilakukan sekaligus. Perlu tahapan yang jelas, termasuk menentukan prioritas atau quick wins,” jelasnya. Menko AHY menambahkan, skema pembiayaan juga menjadi aspek penting yang sedang dibahas secara serius. “Pendanaannya tidak hanya dari APBN, tetapi juga melibatkan APBD, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta peluang investasi dari berbagai pihak, termasuk luar negeri,” katanya. Salah satu proyek yang tengah dikaji sebagai langkah awal adalah pengembangan jalur di Sumatra bagian utara. “Kita melihat ada potensi untuk ruas Banda Aceh hingga Besitang sebagai salah satu prioritas awal, tentu masih dalam tahap perhitungan lebih lanjut,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah kelembagaan untuk memperkuat perencanaan dan implementasi. “Kita berencana membentuk semacam komite lintas kementerian untuk menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, agar pengembangannya lebih terarah dan terintegrasi,” pungkas Menko AHY. Rapat koordinasi tersebut dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, B.S., M.Sc., Wakil Kepala BP BUMN Amminudin Ma’ruf, dan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin. Menko AHY didampingi Staf Khusus Menteri Agust Jovan Latuconsina, Sigit Raditya, Herzaky Mahendra Putra, Merry Riana, serta Tenaga Ahli Menteri Ahmad Khoirul Umam dan Rio Neswan. Berita ini telah diterbitkan sebelumnya di kemenkoinfra.go.id dengan judul “Percepat Pengembangan Kereta Trans Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, Menko AHY Tekankan Sinergi dan Pembiayaan Kreatif” Anda dapat membaca artikel asli melalui tautan ini.