Dishub

Tinjau Simpang Cot Irie Bersama Ngoh Wan, Kadishub Aceh Paparkan Solusi Jangka Pendek Atasi Kemacetan

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, bersama Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh, Ricky Suhadi, serta Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Munawar, meninjau kondisi lalu lintas di persimpangan Jembatan Cot Irie yang kerap mengalami kemacetan parah, Jumat (16/10/2026). Peninjauan tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dalam Rapat Koordinasi Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Provinsi Aceh yang digelar di Dinas Perhubungan Aceh beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan tersebut, Teuku Faisal mengatakan bahwa kemacetan di Simpang Jembatan Cot Irie menjadi perhatian Dishub Aceh dan saat ini tengah diupayakan penanganannya melalui sejumlah langkah konkret. Pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan survei volume kendaraan yang melintas sekaligus merumuskan solusi jangka pendek yang dapat segera diterapkan. “Kita sudah menurunkan tim survei untuk menghitung volume kendaraan yang melintas serta merumuskan berbagai solusi jangka pendek yang bisa dilakukan,” ujarnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengaturan lalu lintas oleh petugas untuk mengurangi konflik antarkendaraan. Pengaturan ini dilakukan dengan memberikan giliran kepada kendaraan dari masing-masing arah untuk melintas atau berbelok sesuai arahan petugas. Saat ini, pengaturan lalu lintas tersebut didukung oleh personel Dishub Aceh Besar dan Polsek Krueng Barona Jaya. Selain pengaturan lalu lintas, penataan dan penertiban Ruang Milik Jalan (Rumija) di sekitar Simpang Jembatan Cot Irie juga diperlukan agar fungsi jalan dapat berjalan optimal. Penataan tersebut mencakup penertiban bangunan yang mengganggu ruang jalan, penataan area parkir yang menggunakan bahu jalan, serta penanganan tiang listrik di sekitar persimpangan yang berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas. “Dishub Aceh juga akan memasang rambu pembatasan kendaraan, khususnya kendaraan barang, sesuai dengan ketentuan kelas jalan dengan batas yang diizinkan sebesar 8 ton,” ungkap Teuku Faisal. Dari sisi infrastruktur, Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR akan melakukan rekayasa fisik berupa pelebaran bagian jalan pada lengan persimpangan untuk meningkatkan kapasitas tampung kendaraan. Selain itu, pelebaran bagian jalan menuju persimpangan juga direncanakan guna memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kendaraan saat berbelok. “Kita berupaya agar solusi jangka pendek ini dapat segera dilaksanakan bersama para pemangku kepentingan terkait. Kemacetan dapat mengganggu mobilitas masyarakat, memperlambat aktivitas ekonomi, dan mengurangi kelancaran kegiatan usaha,” ujar Teuku Faisal di sela-sela peninjauan. Lebih lanjut, Kadishub Aceh menilai bahwa kemacetan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, mulai dari pemborosan waktu perjalanan hingga peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut turut membebani masyarakat dan menghambat kelancaran aktivitas sehari-hari. Mengenai solusi jangka panjang, Kadishub Aceh menyebutkan bahwa pihaknya bersama pemangku kebijakan yang tergabung dalam Forum LLAJ Aceh sedang melakukan kajian agar lalu lintas kendaraan di persimpangan Cot Irie bisa berjalan lancar. Melalui peninjauan bersama anggota Komisi IV DPRA tersebut, diharapkan sinergi antarinstansi semakin kuat dalam mempercepat penanganan kemacetan, baik melalui langkah jangka pendek maupun perumusan solusi jangka panjang. Dengan demikian, kelancaran mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar dapat semakin ditingkatkan    

Kadishub Aceh Minta Pelaku Transportasi Waspadai Dampak Kabut Asap

Banda Aceh – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, ST. MT., meminta operator dan pemangku kepentingan sektor transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai memasuki wilayah Aceh dalam dua hari terakhir. Langkah antisipasi diperlukan untuk menjaga keselamatan perjalanan dan mengantisipasi potensi gangguan layanan transportasi. Faisal menegaskan bahwa keselamatan pengguna transportasi harus menjadi perhatian utama, terutama ketika kondisi kabut asap berpotensi mengurangi jarak pandang. “Kami mengimbau seluruh pelaku transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas dalam setiap operasional transportasi,” ujar Faisal di Banda Aceh, Jumat 16/10. Faisal juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan perjalanan dan mengikuti informasi resmi dari petugas maupun operator transportasi apabila terjadi perubahan layanan. Di sektor penerbangan, dampak kabut asap telah menyebabkan pembatalan penerbangan perintis rute Kualanamu-Rembele Bener Meriah dan sebaliknya, pada Kamis, 15/10 kemarin. Berdasarkan surat PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) tertanggal 15 Oktober 2026, penerbangan bernomor SI 7307 dan SI 7308 dibatalkan karena terdampak kabut asap. Sementara itu, operasional Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) pada Jumat, 16/10, dilaporkan masih terpantau normal, aman, dan lancar. Berdasarkan laporan General Manager Bandara SIM, Rahmat Adil Indrawan, jarak pandang pada pukul 05.00 UTC tercatat 3.500 meter berdasarkan data BMKG melalui QAM dan METAR. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum terdapat dampak kabut asap terhadap operasional penerbangan di bandara tersebut. Pihak Bandara SIM juga telah melakukan briefing kesiapan operasional serta melanjutkan pemantauan cuaca dan koordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, dan pemangku kepentingan terkait untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan jarak pandang. Selain penerbangan, pengguna transportasi darat juga perlu meningkatkan kewaspadaan. “Pengemudi kita harapkan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menggunakan lampu kendaraan sesuai kondisi, serta tidak memaksakan perjalanan apabila jarak pandang terbatas,” kata Faisal. Pada transportasi laut, operator dan petugas terkait diharapkan tetap memperhatikan informasi cuaca serta mengikuti prosedur keselamatan pelayaran apabila kondisi jarak pandang mengalami penurunan. Faisal menambahkan, koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan informasi kondisi cuaca dan potensi gangguan transportasi dapat disampaikan secara cepat kepada masyarakat. “Kami berharap masyarakat selalu mengikuti informasi resmi sebelum bepergian. Jika kondisi tidak memungkinkan, keselamatan harus diutamakan dan perjalanan tidak perlu dipaksakan,” ujar Faisal. []  

Pj Sekda Aceh Minta Percepatan Rehabilitasi Terminal Aceh Tamiang, Fasilitas Pelayanan Ditingkatkan

Aceh Tamiang – Pemerintah Aceh mendorong percepatan penyelesaian rehabilitasi Terminal Tipe B Aceh Tamiang agar fasilitas transportasi yang rusak akibat banjir pada akhir tahun lalu tersebut segera kembali beroperasi secara normal. Selain memulihkan kerusakan, rehabilitasi pada tahun anggaran 2026 ini juga mencakup peningkatan fasilitas untuk mendukung pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. Hal itu disampaikan Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Aceh, Taufik, saat meninjau progres rehabilitasi terminal, Selasa (13/10). Dalam kunjungan tersebut, Taufik didampingi Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, Plh. Inspektur Aceh, T. Aznal Zahri, serta sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA). Taufik mengatakan, Terminal Tipe B Aceh Tamiang memiliki peran strategis bagi masyarakat karena menjadi salah satu simpul transportasi antarkota dalam provinsi sekaligus pintu masuk Aceh dari Sumatera Utara. “Terminal ini sangat vital bagi masyarakat. Kami mengharapkan percepatan penyelesaian pembangunan agar pemanfaatannya dapat segera pulih,” ujar Taufik. Ia menilai progres rehabilitasi menunjukkan peningkatan. Ia pun berharap pihak rekanan dapat mengoptimalkan pelaksanaan pekerjaan agar penyelesaian sesuai target dan terminal tidak terlalu lama menunggu untuk kembali melayani masyarakat. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, mengatakan rehabilitasi Terminal Tipe B Aceh Tamiang merupakan bagian dari upaya pemerintah memulihkan fasilitas transportasi yang terdampak bencana sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik. Menurut Faisal, rehabilitasi pada tahun anggaran 2026 ini tidak hanya berfokus pada pemulihan kerusakan, tetapi juga mencakup peningkatan sejumlah fasilitas untuk menunjang kenyamanan dan memenuhi kebutuhan pengguna jasa angkutan. “Sejumlah fasilitas ditingkatkan, di antaranya jumlah loket dari 8 menjadi 12 unit dan luas ruang tunggu dari 40 menjadi 168 meter persegi. Fasilitas kantin juga bertambah dari 2 menjadi 4 unit, sedangkan fasilitas toilet pria dan wanita meningkat dari 2 menjadi 6 unit,” ujar Faisal. Selain itu, rehabilitasi mencakup penataan kantor petugas agar lebih terintegrasi, penyediaan akses bagi penyandang disabilitas, ruang laktasi, serta fasilitas ATM. Pembenahan juga dilakukan pada musala dan pagar terminal, disertai pembaruan tampilan bangunan agar lebih modern. Faisal berharap peningkatan fasilitas tersebut tidak hanya mendukung kelancaran operasional terminal, tetapi juga memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses bagi masyarakat. “Kami berharap rehabilitasi ini dapat diselesaikan sesuai target sehingga terminal segera kembali melayani masyarakat dengan fasilitas yang lebih baik, aman, dan nyaman,” ujar T. Faisal. Dengan percepatan penyelesaian rehabilitasi dan peningkatan fasilitas tersebut, Terminal Tipe B Aceh Tamiang diharapkan kembali berfungsi optimal sebagai simpul transportasi yang mendukung mobilitas masyarakat serta memperkuat konektivitas antara Aceh dan Sumatera Utara.    

Bukan Soal Skill, Tapi Etika Berkendara : Mahasiswa USK Belajar Safety Riding

Dinas Perhubungan Aceh berkolaborasi dengan PT Capella Dinamik Nusantara, Ditlantas Polda Aceh, dan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Sosialisasi Safety Riding bagi mahasiswa di Balee Keurukon, FT USK Banda Aceh, Kamis (24/9/2026). Mengusung tema unik “Secangkir Kopi Sejuta Mimpi”, kegiatan edukatif ini digelar sebagai langkah konkret membangun budaya dan kesadaran keselamatan berlalu lintas di kalangan generasi muda – kelompok usia produktif yang menjadi penentu masa depan bangsa. Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Aceh, Diana Devi, menegaskan bahwa keselamatan berkendara merupakan fondasi utama bagi para mahasiswa dalam menjaga diri serta menggapai cita-cita mereka. “Tema ‘Secangkir Kopi Sejuta Mimpi’ membawa pesan mendalam bahwa setiap mahasiswa memiliki impian besar yang harus diperjuangkan hingga tuntas. Perjalanan menuju cita-cita tersebut jangan sampai terhenti di jalan raya hanya akibat kelalaian saat berkendara,” ujar Diana. Diana menjelaskan, pemahaman safety riding tidak sebatas pada keterampilan teknis mengendalikan kendaraan, melainkan pembentukan sikap, etika, dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan. “Keselamatan berlalu lintas bukan hanya tentang mematuhi aturan, tetapi juga bagaimana kita menjaga diri sendiri dan menghargai keselamatan orang lain. Berkendaralah dengan bijak, patuhi aturan, gunakan perlengkapan keselamatan, dan jadilah pelopor keselamatan lalu lintas. Karena mimpi yang besar membutuhkan perjalanan panjang yang aman,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut, Diana turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Dekan FT USK, Ditlantas Polda Aceh, PT Capella Dinamik Nusantara, serta seluruh pihak yang telah bersinergi mendukung acara ini. Ia berharap mahasiswa FT USK dapat menjadi agen perubahan (agent of change) sekaligus pelopor keselamatan lalu lintas di kampus maupun masyarakat. Kegiatan yang diikuti secara antusias oleh puluhan mahasiswa ini menghadirkan edukasi berkendara aman, simulasi teknik berkendara, hingga diskusi etika berlalu lintas. Sejumlah narasumber kompeten hadir membekali para peserta, di antaranya Kasi Cegah Tindak Subditkamsel Ditlantas Polda Aceh Kompol Elputri, S.E., Safety Riding Instructor PT Capella Dinamik Nusantara Reza Novendri, serta Ketua DPD Aski Aceh & Barista Kopikar Zulfikar.  

Tingkatkan Keselamatan Penumpang, Dishub Aceh Tegaskan Sanksi Cabut Izin bagi Angkutan AKDP Tak Patuh Aturan

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal menegaskan pentingnya kepatuhan perusahaan angkutan umum Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) terhadap regulasi perizinan dan operasional. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Sosialisasi dan Koordinasi Perusahaan Angkutan AKDP di Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh, Kamis, 20 Agustus 2026. Teuku Faisal mengingatkan bahwa kepatuhan regulasi bukanlah sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan pilar utama dalam menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat pengguna jasa transportasi. “Melalui kegiatan ini, kita ingin menyamakan pemahaman dan memperkuat komitmen antara Pemerintah, perusahaan angkutan, dan seluruh pihak terkait. Kita berharap setiap perusahaan AKDP bisa semakin tertib secara administrasi dan mematuhi ketentuan yang berlaku,” ungkapnya. Guna menjamin keselamatan penumpang angkutan AKDP, Dishub Aceh bersama pemangku kepentingan seperti Ditlantas Polda Aceh, BPTD Kelas II Aceh, DPMPTSP Aceh, DPD Organda Aceh, dan PT Jasa Raharja Aceh secara konsisten terus melakukan inspeksi angkutan umum. Inspeksi ini mencakup pelaksanaan ramp check atau pemeriksaan kelaikan jalan, baik secara teknis maupun administrasi, guna memastikan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan menekan potensi kecelakaan. Menyikapi rendahnya angka perusahaan yang tertib secara administrasi, Teuku Faisal mengingatkan perusahaan yang tidak patuh bisa dikenakan sanksi administrasi hingga dipertimbangkan untuk pencabutan izin penyelenggaraan yang mengacu pada Peraturan Gubernur Aceh Nomor 52 Tahun 2022 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum AKDP Aceh. Di akhir sambutannya, Teuku Faisal berharap forum koordinasi ini tidak sekadar menjadi ajang diskusi, tetapi memicu tindak lanjut nyata di lapangan dari seluruh pihak. “Mari kita bersama-sama membangun budaya keselamatan dan memastikan setiap perjalanan masyarakat berlangsung dengan aman. Dengan kerja sama yang baik, kita dapat meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum di Aceh,” tutupnya. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh DPMPTSP Aceh, Ditlantas Polda Aceh, dan Ketua Ikatan Penguji Kendaraan Bermotor Indonesia Provinsi Aceh.

CATATAN DARI SINGAPURA: PELAJARAN TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK ACEH

Di awal Agustus 2026 ini, saya berkesempatan mengikuti diklat Urban Planning and Sustainability – Singapore Cooperation Programme (UPS-SCP). Sebagai seorang ASN di dinas yang mengurus urusan transportasi di Aceh, pikiran saya tak bisa lepas dari satu pertanyaan mendasar: Kenapa naik transportasi umum di Singapura terasa begitu mudah dan menyenangkan? Ini memang bukan kunjungan pertama saya ke Negeri Singa. Tapi kali ini, kacamata yang saya pakai berbeda. Saya sengaja mengamati langsung urat nadi transportasi publik kota ini—yang sering disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sebagai wajah dari sebuah negara maju, transportasi di Singapura itu cepat, rapi, dan yang terpenting: saling terhubung. Di sini, kereta Mass Rapid Transit (MRT) dan bus bukan rival yang berebut penumpang, melainkan sahabat karib dalam satu ekosistem terpadu, melayani kota. Bayangkan, begitu Anda turun dari stasiun MRT, halte bus sering kali hanya berjarak beberapa langkah saja, lengkap dengan fasilitas parkir sepeda. Land Transport Authority (LTA)—otoritas transportasi darat Singapura—menyebut konsep ini sebagai seamless transport (perpindahan tanpa hambatan). Baik itu pindah antar-jalur MRT maupun lanjut menyambung perjalanan dengan bus, semuanya terasa mulus. Mari kita bedah satu per satu, dimulai dari sang primadona: MRT. Mulai beroperasi sejak 1987, jaringan rel Singapura terus menggurita. Data terbaru menunjukkan bahwa jalurnya kini membentang sepanjang 242,5 km khusus untuk MRT, dan sanggup memindahkan sekitar 3,49 juta orang setiap harinya. Kenyamanan MRT ini bukan sekadar karena gerbongnya yang adem dan kinclong, tapi berkat frekuensinya yang rapat. Saat jam sibuk (peak hours), kereta datang setiap 2–3 menit sekali. Sementara di luar jam sibuk, Anda hanya perlu menunggu sekitar 5 menit. Saya buktikan sendiri: selama wara-wiri naik MRT di sini, saya nyaris tidak pernah berdiri lebih dari tiga menit di peron. Sistem navigasinya pun sangat memanjakan. Penunjuk arah di stasiun dan informasi di dalam kereta dirancang sedemikian jelas. Jangankan warga lokal, wisatawan yang baru pertama kali mendarat di Singapura pun dijamin tak akan tersasar. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah stiker-stiker kecil berisi pesan kesadaran sosial di dalam kereta. Alih-alih kaku, pesannya terasa humanis, seperti “Tawarkan kursi Anda bagi yang lebih membutuhkan” atau “Bersikaplah ramah kepada petugas yang terus memastikan perjalanan kita lancar.” Tapi, jangan salah sangka, di balik pesan lembut itu, aturan mainnya sangat tegas. Merokok di stasiun atau kereta? Siap-siap didenda 1.000 Dolar Singapura (SGD). Ketahuan makan atau minum (bahkan sekadar minum air putih)? Melayang SGD 500. Apalagi kalau nekat membawa barang mudah terbakar, dendanya mencapai SGD 5.000!. Kalau dirupiahkan (anggap saja kurs Rp14.000), Anda bisa kehilangan belasan hingga puluhan juta rupiah. Aturan ini ditegakkan tanpa pandang bulu lewat petugas dan pantauan CCTV di setiap sudut. Tak heran jika MRT mereka selalu bersih dan bebas bau. Selanjutnya, kita beralih ke layanan bus. Bagian ini sangat relevan karena Aceh juga sedang mengembangkan layanan Trans Kutaraja. Niatnya tentu bukan untuk membandingkan apple-to-apple, melainkan memetik praktik baik dari mereka. Sama halnya dengan MRT, naik bus di Singapura itu super gampang. Di setiap halte, rute dan jadwal bus terpampang nyata. Waktu tunggu busnya memang sedikit lebih lama dibanding MRT—sekitar 7–10 menit saat jam sibuk dan 9–13 menit di luarnya. Menariknya, berbeda dengan Trans Jakarta yang punya jalur eksklusif (dedicated lanes), bus di Singapura kebanyakan berbagi jalan dengan kendaraan lain. LTA hanya memberikan penanda marka garis kuning di lajur paling kiri jalan arteri sebagai jalur prioritas. Pendekatan ini sangat cerdas karena menghemat penggunaan lahan jalan raya yang terbatas, namun pergerakan bus tetap lancar. Lucunya, banyak pendatang lebih memilih berdesakan di MRT ketimbang naik bus. Padahal, bus di sini sangat nyaman dan justru lebih dekat ke tempat-tempat strategis. Halte-halte bus sering kali langsung menurunkan penumpang tepat di depan Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Merlion Park atau Marina Barrage. Artinya, kita tak perlu membuang energi berjalan terlalu jauh dari stasiun. Cara naiknya juga unik. Saat bus tujuan Anda mendekat, Anda wajib melambaikan tangan sebagai isyarat. Kalau diam saja, bus bisa bablas karena sopir mengira tak ada penumpang yang mau naik. Setelah bus berhenti, masuklah dari pintu depan dan lakukan tap-in kartu. Saat turun, gunakan pintu belakang dan jangan lupa tap-out dengan kartu yang sama. Kalau sampai lupa, siap-siap saldo Anda dipotong sebesar tarif rute terjauh (tarif maksimal) untuk trayek tersebut. Sistem pembayarannya sangat modern. Tarif dihitung berdasarkan jarak, dan selain memakai kartu angkutan umum (EZ-Link, NETS FlashPay), Anda bisa langsung menempelkan kartu kredit/debit berlogo Mastercard dan Visa dari bank mana pun! Untuk bernavigasi dengan bus pun sangat mudah karena suasananya tenang, ada layar indikator halte di bagian depan, dan jadwalnya terintegrasi real-time di aplikasi resmi seperti MyTransport.SG atau Citymapper. Namun, armada yang bagus saja tak cukup. Pemerintah Singapura paham betul cara “merayu” warganya agar mau berjalan kaki menuju transportasi umum. Pembangunan berorientasi pada manusia (people-centric) di sini bukan sekadar janji manis. Salah satu yang sukses membuat saya iri: fasilitas pejalan kakinya sangat memanjakan! Lewat program resmi LTA bernama Walk2Ride, Pemerintah gencar membangun jaringan jalur pejalan kaki beratap (kanopi) agar pejalan kaki terlindung dari cuaca. Targetnya tidak main-main: memayungi trotoar dalam radius 400 meter dari stasiun MRT, dan 200 meter dari terminal bus atau stasiun LRT. Sejak diluncurkan pada 2013, kini sudah lebih dari 200 km jalur pejalan kaki beratap yang terbangun. Tak hanya itu, trotoarnya pun sangat inklusif. Permukaannya landai dan minim tangga. Jika ada perbedaan elevasi, selalu disiapkan ramp (bidang miring) atau lift. Bagi lansia atau pengguna kursi roda, desain yang terkesan sepele ini adalah sebuah “kemerdekaan” mobilitas. Meski wujud fisiknya memukau, “dapur” perencanaannya-lah yang paling membuat saya termenung. Dalam sesi diklat bersama Dr. Orlando Woods (Singapore Management University Urban Institute), saya belajar tentang pilar utama tata kota mereka: Integrated Planning (perencanaan terintegrasi), yang memandang kota sebagai satu organisme hidup yang saling terkait. Mau membangun kawasan perumahan baru? Rencana tata jalan, rute bus, dan stasiun keretanya sudah dirancang bersamaan dengan desain perumahan tersebut. Jadi, tidak ada cerita izin perumahan keluar duluan, perumahan dihuni, warga mengeluh macet, baru pemerintah kelabakan memikirkan rute angkutan. Pelajaran soal kesabaran merawat visi juga saya dapatkan dari Dr. Amy Khor, mantan Senior Minister of State untuk Transportasi Singapura. Kebijakan yang berdampak besar itu butuh waktu. Ia mencontohkan Marina Barrage—idenya sudah dicetuskan

Jadi Role Model Nasional Layanan Transportasi Publik Gratis, Mualem Raih Transportasi Indonesia Award 2026

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, resmi meraih penghargaan Transportasi Indonesia Award 2026 atas komitmennya menghadirkan transportasi publik yang inklusif dan mudah diakses oleh masyarakat. Penghargaan yang diinisiasi oleh Transportasi Media Indonesia ini diserahkan di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis, 30 Juli 2026. Penghargaan ini dianugerahkan kepada Mualem, sapaan akrab Gubernur Aceh Muzakir Manaf, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan langkah nyata Pemerintah Aceh dalam memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat menggunakan layanan transportasi publik dengan mudah, aman, dan mandiri. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal yang mewakili Gubernur Aceh menyampaikan rasa terima kasih kepada Transportasi Media Indonesia atas penghargaan yang diberikan. Menurutnya, penghargaan ini merupakan cerminan dari kerja keras bersama Pemerintah Aceh, di bawah nahkoda Gubernur Aceh, dalam menghadirkan layanan transportasi yang inklusif dan bisa dinikmati secara gratis oleh masyarakat. “Penghargaan ini dedikasikan untuk seluruh masyarakat Aceh. Pembangunan transportasi publik yang mudah diakses adalah fokus utama Pemerintah Aceh demi mewujudkan layanan yang layak, aman, dan nyaman,” ujar Teuku Faisal usai menerima penghargaan tersebut. Pemerintah Aceh sesuai arahan Gubernur terus memprioritaskan penyediaan layanan gratis angkutan massal Trans Kutaraja guna mendukung mobilitas harian masyarakat perkotaan. Keberadaan transportasi publik ini merupakan langkah nyata dalam mendorong efisiensi dan mengurangi beban ekonomi masyarakat Aceh. Di samping layanan Trans Kutaraja, program mudik gratis Pemerintah Aceh juga menjadi tanda komitmen Gubernur Aceh terhadap kemudahan transportasi bagi masyarakat khususnya di musim mudik lebaran. Program mudik gratis telah berjalan selama 2 tahun berturut-turut dan berdampak signifikan bagi kemudahan masyarakat melakukan perjalanan pulang kampung menjelang hari raya. Transportasi Indonesia Award 2026 diselenggarakan oleh Transportasi Media Indonesia sebagai bentuk apresiasi kepada regulator, pelaku industri, perusahaan, hingga tokoh yang dinilai memberikan dedikasi, inovasi, dan kontribusi nyata dalam mendorong kemajuan sektor transportasi, infrastruktur, serta rantai pasok nasional. Transportasi Media Indonesia menilai bahwa komitmen Pemerintah Aceh menjadi percontohan nasional dalam hal penyediaan layanan transportasi publik yang inklusif dan aksesibilitas universal, di mana layanan transportasi dirancang agar tidak mendiskriminasi pengguna berdasarkan keterbatasan fisik, usia, maupun kondisi ekonomi dan sosial. Dewan Pakar Transportasi Media Indonesia, Djoko Setijawarno, menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara independen, objektif, dan melalui kajian yang komprehensif oleh tim redaksi Transportasi Media Indonesia. “Pemilihan para penerima penghargaan didasarkan pada prestasi, rekam jejak, dan karya yang telah ditorehkan. Seluruhnya diteliti serta dianalisis oleh tim Transportasi Media sehingga penghargaan ini benar-benar diberikan kepada tokoh maupun perusahaan yang layak mendapat apresiasi,” ujar Djoko. Menurutnya, penghargaan ini tidak sekadar menjadi bentuk pengakuan atas berbagai pencapaian, tetapi juga diharapkan mampu mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat daya saing sektor transportasi Indonesia. “Provinsi Aceh menjadi role model dalam memberikan layanan angkutan massal gratis bagi masyarakat. Hal ini tentu sangat membantu perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat bawah, karena bisa menghemat biaya perjalanan harian mereka,” ungkap Djoko. Selain itu, dirinya berharap penghargaan ini bisa menjadi motivasi bagi seluruh stakeholder maupun ekosistem transportasi untuk terus menghadirkan terobosan serta pelayanan terbaik bagi masyarakat. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus dorongan agar sektor transportasi nasional semakin maju, modern, aman, dan berkelanjutan.

Traffic Lite Z, Bahasa Keselamatan yang Dipahami Semua Anak

Di hadapan sekitar 20 siswa berkebutuhan khusus SLB YPAC Banda Aceh sebuah gambar muncul di layar telepon genggam. Bukan tulisan panjang, melainkan simbol sederhana yang harus mereka tebak. Beberapa siswa memperhatikan layar gadget dengan serius. Ada yang saling melirik ke arah temannya, ada pula yang langsung mengangkat tangan. Tak lama kemudian, jawaban disampaikan. Begitu dinyatakan benar, seluruh ruangan dipenuhi tepuk tangan dan tawa. Wajah-wajah yang semula tampak serius berubah ceria. Suasana seperti itu terus berulang sepanjang kegiatan. Tidak ada kesan bahwa mereka sedang mengikuti sosialisasi. Yang terlihat justru anak-anak yang menikmati sebuah permainan, padahal tanpa disadari mereka sedang belajar mengenal keselamatan berlalu lintas. Hari itu, Rabu di penghujung Juli 2026, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) menggelar sosialisasi Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 di SLB YPAC Banda Aceh. Kegiatan dipandu oleh Kepala Seksi Keselamatan LLAJ Bidang LLAJ Dinas Perhubungan Aceh, Renny Anggeraeni Robin, bersama jajaran staf Bidang LLAJ. Mereka tidak datang membawa buku tebal atau memutar video panjang tentang kecelakaan lalu lintas. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan Traffic Lite Z Gema Lantas, sebuah gim edukatif yang dikembangkan Izzati Hilma, Siswi SMA Modal Bangsa Aceh Besar, Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tahun 2026 yang akan mewakili Aceh pada ajang tingkat nasional di Jakarta. Di hadapan para siswa, Izzati menjelaskan tentang Traffic Lite Z Gema Lantas. Sebuah prototipe berbasis web yang menggabungkan materi edukasi keselamatan berlalu lintas, kuis interaktif, dan mini gim. Platform tersebut dirancang agar pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah dipahami, sekaligus dapat diakses oleh seluruh kalangan pelajar. Traffic Lite Z menyediakan tiga mode penggunaan. Mode umum berisi materi pembelajaran, kuis, serta sepuluh mini gim edukatif yang dapat dimainkan seluruh siswa. Mode tunarungu menghadirkan materi yang sama, namun dilengkapi subtitle dan teks instruksi sehingga mudah diikuti peserta didik dengan hambatan pendengaran. Sementara mode tunadaksa menyediakan lima mini gim yang disesuaikan dengan konsep aksesibilitas sekaligus menumbuhkan empati terhadap pengguna jalan yang memiliki keterbatasan fisik. Seluruh fitur dapat diakses melalui tautan maupun pemindaian kode QR sehingga peserta langsung dapat mencoba pengalaman belajar yang lebih modern, menyenangkan, dan inklusif. Melalui telepon genggam, para siswa memindai kode QR sebelum masuk ke dalam gim. Mereka diajak mengenali rambu-rambu lalu lintas, memahami penyebab pelanggaran, hingga memilih perilaku yang benar ketika berada di jalan. Semua materi dikemas dalam bentuk permainan sehingga lebih mudah dipahami. Menurut Izzati, inovasi tersebut dikembangkan agar pelajar tidak sekadar menghafal rambu-rambu, tetapi memahami maknanya melalui pengalaman bermain. “Saya ingin teman-teman belajar keselamatan berlalu lintas dengan cara yang lebih menyenangkan. Melalui gim ini mereka bisa belajar sambil bermain sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat. Saya juga berharap media ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak sekolah, termasuk sekolah luar biasa, agar semakin banyak pelajar yang memiliki kesadaran untuk tertib dan selamat di jalan,” ujar Izzati. Menurut Renny Anggeraeni Robin, pendekatan seperti ini dipilih agar edukasi keselamatan lalu lintas tidak terasa membosankan. “Izzati akan mewakili Aceh pada ajang Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tingkat nasional di Jakarta. Kami berharap inovasi ini dapat memberikan hasil terbaik sekaligus menjadi media edukasi yang bisa dimanfaatkan lebih luas,” ujar Renny. Belajar Melalui Simbol Di SLB YPAC Banda Aceh, permainan sederhana itu mampu menghidupkan suasana kelas. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah ketika Izzati mengajak para siswa menebak rute Bus Trans Koetaradja melalui simbol-simbol yang ditampilkan di layar. Hampir seluruh peserta menjawab secara bersamaan. Setiap jawaban yang benar selalu disambut tepuk tangan dan sorak kegembiraan. Guru Konseling sekaligus salah seorang wali kelas SLB YPAC Banda Aceh, Nurul Rahmi, mengatakan pendekatan seperti itu jauh lebih mudah diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus. “Anak-anak berkebutuhan khusus ini berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Saat kita mengarahkan mereka, belum tentu mereka langsung merespons sesuai yang kita harapkan. Karena itu kami harus lebih sabar mendampingi mereka. Ada yang sudah duduk di bangku SMA, tetapi perkembangan emosinya masih seperti anak usia dini,” kata Nurul Rahmi. Melalui permainan, lanjut Nurul, anak-anak tidak merasa sedang belajar. Mereka menikmati setiap tantangan yang muncul di layar, padahal pada saat yang sama mereka sedang mengenal rambu-rambu lalu lintas dan memahami pentingnya keselamatan di jalan. Perjalanan sosialisasi berlanjut ke SLB-B YPAC Kampung Keramat Banda Aceh, sekolah tempat anak-anak tunarungu menempuh pendidikan. Setiap penjelasan yang disampaikan Izzati diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat oleh Muspita, guru Biologi yang mendampingi kegiatan. Pada sesi ice breaking, simbol-simbol rute Bus Trans Koetaradja ditampilkan di layar. Ketika simbol bergambar mata dan air muncul, para siswa langsung menjawab melalui bahasa isyarat. Muspita tersenyum sambil membenarkan jawaban mereka, disambut tepuk tangan yang kembali memenuhi ruangan. Bagi anak-anak tunarungu itu, simbol-simbol menjadi bahasa yang paling mudah dipahami. Mereka tampak cepat mengenali berbagai rambu lalu lintas yang muncul dalam permainan. Meski tanpa suara lantang, senyum di wajah mereka memperlihatkan rasa bangga setiap kali berhasil menjawab tantangan. Inovasi yang Ramah untuk Semua Rangkaian sosialisasi berlanjut ke SLB Bukesra Banda Aceh, Kamis (30/7/2026). Antusiasme siswa juga tidak kalah tinggi. Begitu gambar-gambar rambu lalu lintas ditampilkan melalui layar proyektor, mereka serentak mengangkat tangan dan berlomba menjadi yang pertama menjawab. Kepala SLB Bukesra Banda Aceh, Taufik Sulaiman, mengapresiasi langkah Dishub Aceh yang menghadirkan media pembelajaran berbasis teknologi yang ramah disabilitas. “Terima kasih telah membawa misi tentang pentingnya berlalu lintas yang baik sehingga anak-anak kami memiliki pemahaman tentang keselamatan di jalan raya. Kami mengapresiasi Dinas Perhubungan Aceh dan Duta Pelajar Pelopor yang telah berkenan berbagi edukasi kepada siswa kami,” ujarnya. Menurut Taufik, hampir semua anak tidak pernah lepas dari aktivitas di jalan raya sehingga pendidikan keselamatan perlu dikenalkan sejak dini melalui media yang sesuai dengan kebutuhan mereka. “Ini merupakan inovasi yang luar biasa. Media berbasis teknologi seperti ini dapat diakses oleh anak-anak kami, baik tunarungu, tunadaksa maupun penyandang disabilitas lainnya. Gim ini menjadi pembelajaran berlalu lintas yang aman dan nyaman. Kami mendoakan semoga Izzati memperoleh hasil terbaik pada ajang nasional nanti. Apa yang kami peroleh hari ini akan kami terapkan di sekolah,” kata Taufik. Belajar Sambil Bermain Sehari sebelumnya, Selasa (28/7/2026), Traffic Lite Z Gema Lantas lebih dulu diperkenalkan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA Metodis Banda Aceh. Di hadapan para

Terminal Aceh Tamiang Dibangun Kembali, Pelayanan Dipastikan Tak Terhenti

Terminal Tipe B Aceh Tamiang yang rusak akibat banjir bandang akhir tahun lalu akan segera dibangun kembali dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Yang terpenting, selama pembangunan berlangsung, seluruh pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Sekadar mengingatkan, banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu sempat melumpuhkan terminal secara total. Derasnya arus air menjebol tembok keliling terminal sehingga air bercampur lumpur masuk tak terkendali dan merendam seluruh area, dengan ketinggian air hampir mencapai plafon bangunan. Setelah air surut, endapan lumpur tebal menutupi kantor, loket, dan fasilitas pendukung lainnya, sementara aliran listrik dan air bersih terputus selama berhari-hari. Kini, pemulihan terminal memasuki babak baru. Pembangunan kembali Terminal Tipe B Aceh Tamiang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh. Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai rencana, Satgas Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melakukan kunjungan kerja ke lokasi terminal bersama Dinas Perhubungan Aceh dalam rangka monitoring, sekaligus meninjau langsung kondisi terminal dan tahapan pembangunan yang akan dilaksanakan. Ketua Satgas DPRA, Muhammad Rizky, SE, hadir bersama para anggota Satgas, yakni Nora Idah Nita, Muhammad Yusuf Pang Ucok, dan Muhammad Zakiruddin. Ia menegaskan pihaknya akan mengawal proyek ini hingga tuntas. “Kami akan terus berkoordinasi dan mengawasi secara intensif bersama Dinas Perhubungan Aceh agar pembangunan Terminal Aceh Tamiang selesai sesuai target. Harapannya, masyarakat segera menikmati terminal yang lebih representatif dan nyaman,” ujarnya. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menjelaskan bahwa Terminal Aceh Tamiang termasuk terminal dengan aktivitas tertinggi di Aceh. Perannya bukan hanya melayani perjalanan warga sehari-hari, tetapi juga menjadi tumpuan saat keadaan darurat. “Saat bencana hidrometeorologi yang lalu, terminal ini menjadi posko terpadu sekaligus titik kumpul masyarakat. Karena itu, pembangunan kembali terminal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kesiapsiagaan ke depan,” kata Teuku Faisal. Ia menegaskan, Dishub Aceh akan melakukan percepatan pembangunan yang ditargetkan rampung pada Desember 2026, agar terminal segera dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Teuku Faisal juga mengajak masyarakat untuk turut serta memantau dan mengawal jalannya pembangunan, sebagai wujud kebersamaan dalam menghadirkan terminal yang lebih baik bagi semua. Selama pembangunan berlangsung, pelayanan kepada masyarakat dipastikan tidak akan terhenti. Seluruh loket akan direlokasi sementara ke bagian depan terminal agar operasional tetap lancar. “Loket-loket pelayanan kami pindahkan sementara ke bagian depan terminal. Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal dan tidak terganggu,” tutupnya. Setelah rampung, terminal baru diharapkan hadir lebih modern, aman, dan nyaman, sehingga semakin meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi masyarakat Aceh Tamiang dan sekitarnya.

Jembatan Enang-Enang Bener Meriah Kembali Beroperasi dengan Sistem Buka-Tutup, Angkutan Barang Dilarang Melintas

Banda Aceh – Akses transportasi vital yang menghubungkan kawasan tengah Aceh kini mulai kembali normal. Jembatan Enang-Enang yang berlokasi di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, resmi difungsikan kembali dengan menerapkan sistem buka-tutup per Minggu (18/7/2026). Jembatan ini sempat lumpuh total selama hampir tujuh bulan setelah rusak parah akibat diterjang banjir pada akhir Desember 2025 lalu. Demi menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas, untuk sementara waktu jembatan ini hanya diizinkan untuk dilintasi oleh kendaraan pribadi dan angkutan umum. Sementara itu, kendaraan angkutan barang masih dilarang keras untuk melintas demi mengantisipasi beban berlebih. Sejumlah alat berat juga disiagakan secara penuh di sekitar lokasi sebagai langkah antisipasi cepat jika terjadi kendala teknis atau gangguan cuaca. Kembalinya operasional jembatan ini tidak lepas dari aksi nyata dan semangat gotong royong masyarakat setempat. Warga saling bergandengan tangan memperbaiki jembatan secara swadaya agar konektivitas antarwilayah dapat segera pulih. Kehadiran kembali jembatan ini berhasil memangkas jarak dan waktu tempuh masyarakat secara signifikan, setelah selama beberapa bulan terakhir terpaksa harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh. Kabar baiknya, pemerintah dipastikan akan segera membangun kembali Jembatan Enang-Enang secara permanen. Kepastian tersebut mengemuka setelah Menteri Dalam Negeri bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meninjau langsung kondisi jembatan di lapangan beberapa waktu lalu. Ke depan, jembatan ini diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi infrastruktur penghubung antardaerah, melainkan juga akan dikembangkan menjadi salah satu ikon wisata baru yang ikonik di kawasan tengah Aceh. Dinas Perhubungan Aceh mengimbau kepada seluruh pengguna jalan yang akan melintas untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, berhati-hati, serta wajib mematuhi sistem buka-tutup dan arahan dari para petugas di lapangan demi keselamatan bersama. Masyarakat juga dapat terus memantau perkembangan informasi publik dan layanan transportasi resmi melalui laman Informasi Publik – Dishub – Dinas Perhubungan Aceh.