Dishub

Lintas Sektor Koordinasi di Dishub Aceh Bahas Kesiapan Transportasi Jelang Nataru 2022

BANDA ACEH – Guna menghadapi liburan panjang akhir tahun 2022 sebagai acuan antisipasi mobilitas masyarakat, lintas sektor pemangku kebijakan di Aceh bertemu dalam rapat koordinasi kesiapan pengendalian transportasi selama periode Nataru 2022/2023 di Aula Multimoda, Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, Rabu, 14/12/2022. Rakor ini membahas tentang kesiapan angkutan Nataru tahun ini dapat berlangsung dengan lancar dan tertib. Dalam arahannya, Kadishub Aceh, Teuku Faisal mengatakan saat ini pemerintah belum menetapkan pandemi Covid-19 sudah selesai. “Namun, hingga saat ini tidak ada larangan untuk melakukan perjalanan baik mudik maupun wisata sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya,” sebut Faisal. Teuku Faisal juga menyebutkan masyarakat perlu memperhatikan kondisi cuaca saat akan bepergian. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh BMKG Aceh, puncak hujan terjadi pada Desember 2022 dan Januari 2023. Sehingga kondisi ini perlu diwaspadai. Ditambahkannya, Dishub Aceh sudah melakukan survei pergerakan pemetaan pengguna jasa angkutan sejak 15 November hingga 13 Desember 2022. Selain itu, kesiapan setiap armada baik moda transportasi darat, laut, dan udara sudah menyatakan kesiapannya menyambut libur akhir tahun. Termasuk kesiapan terminal, pelabuhan, dan bandara-bandara yang beroperasi di Aceh. Sementara itu, Dirlantas Polda Aceh diwakili Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Aceh menyampaikan bahwa titik-titik rawan kemacetan menjadi perhatian pihaknya selama banyaknya pergerakan orang pada masa Nataru ke depan. “Polda Aceh melalui Ditlantas juga akan mendirikan Posko Lilin Nataru 2022 di sejumlah titik di Kabupaten/Kota Se-Aceh demi menciptakan kelancaran mobilitas, aman, sehat, dan ketertiban lalu lintas,” sebutnya. Pertemuan ini juga turut membahas kesiapan setiap instansi terkait liburan Nataru 2022. Salah satunya kesiapan kemacetan yang terjadi di pintu masuk Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Banda Aceh. Isu lainnya yang ikut dibahas yaitu hambatan lalu lintas, prioritas angkutan sembako, tiket kapal, pelayanan Pelabuhan Ulee Lheue, informasi real time pada pengguna jasa, dan kesiapan terhadap kondisi darurat. Lintas sektor yang hadir dalam rapat koordinasi ini yaitu, Kepala BMKG Aceh, Kepala Basarnas Aceh, Kabag Analis Intelkam Polda Aceh, Kabag Ops Polresta Banda Aceh, Koramil Meuraxa Banda Aceh, Kadishub Kota Banda Aceh, Kadishub Kota Sabang, BPJN Wilayah Aceh, Jasa Raharja Aceh, Dinas ESDM Aceh, Organda Aceh, BPTD Wilayah 1 Aceh, KSOP, ASDP Banda Aceh, GM Angkasa Pura Bandara SIM serta Pejabat Struktural Dishub Aceh.(MR)

Dishub Aceh Raih Peringkat Terbaik Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2022

BANDA ACEH – Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh berhasil meraih peringkat terbaik pada Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2022 kategori Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dengan kualifikasi informatif. Prestasi yang serupa ini juga diterima Dishub Aceh pada tahun sebelumnya. Penjabat Gubernur Aceh, Achmad Marzuki diwaliki Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh, Sumberdaya Manusia, dan Hubungan Kerja Sama, Iskandar Syukri menyerahkan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Komisi Informasi Aceh Tahun 2022 kepada Kadishub Aceh, Teuku Faisal di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Rabu (30/11/2022). Turut mendampingi Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat, Arya Sandhi Yudha dan Ketua Komisi Informasi Aceh (KIA) Arman Fauzi. Arman dalam amanatnya menyampaikan, pada tahun ini terdapat sebanyak 19 badan publik yang meraih kualifikasi informatif. Selain itu kualifikasi menuju informatif dan cukup informatif diberikan kepada SKPA,kabupaten/kota, instansi vertikal, lembaga non struktural, perguruan tinggi negerj, BUMN/BUMD, dan partai politik nasional/lokal. “Pada tahun ini ada tren positif keterbukaan informasi publik melalui PPID badan publik,” sebutnya. Arman juga menambahkan, keterbukaan informasi publik menjadi penting bagi Aceh karena menjadi spirit daerah informatif yang akan berdampak pada pembangunan, upaya penurunan kemiskinan, serta memperkokoh perdamaian. Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat, Arya Sandi Yudha yang hadir dalam kesempatan ini juga menyebut bahwa prestasi keterbukaan informasi publik oleh badan publik di Aceh patut diapresiasi. Bahkan Aceh termasuk lima besar sebagai badan publik yang informatif. Sementara itu, dalam arahannya, Staf Ahli Gubernur Aceh, Iskandar Syukri menambahkan bahwa transparansi informasi menjadi bagian dari reformasi birokrasi masa kini. Ia mengajak setiap lembaga dapat menerapkan spirit yang sama. “Keterbukaan informasi yang baik pasti akan berdampak pada pelayanan publik, sehingga semakin berkualitas memberikan atensi positif bagi masyarakat,” katanya. Peringkat terbaik diperoleh Dishub Aceh setelah melewati proses evaluasi pelaksanaan keterbukaan informasi publik tahun 2022 oleh KIA dengan perolehan nilai dari 90-100. Evaluasi ini dilakukan pada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Dishub Aceh beberapa waktu yang lalu. (MR)

Dishub Aceh Raih Predikat Terbaik 1 Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik

BANDA ACEH – Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Kemdikbudristek RI menetapkan Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh sebagai Lembaga Pemerintah Terbaik 1 dalam Program Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik kategori Lembaga Pemerintah Provinsi Aceh, Selasa, 29 November 2022. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Sekretaris Daerah Aceh yang diwakili oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Abrar Zym dalam acara Apresiasi Wajah Bahasa bagi Lembaga Pemerintah dan Lembaga Pendidikan di Provinsi Aceh yang bertempat di Aula BKKBN Aceh. Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Karyono dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan pembinaan bahasa ini mendasari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Di samping itu, Karyono juga merujuk pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019 tentang penggunaan bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik pada instansi pemerintahan maupun pendidikan,” ungkapnya. Karyono juga menjelaskan bahwa Balai Bahasa Provinsi Aceh pada tahun ini telah membina pengutamaan bahasa Indonesia pada sejumlah lembaga pemerintah di Provinsi Aceh dan lembaga pendidikan di Banda Aceh dan Aceh Besar. “Program pembinaan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2024, di mana kita akan tetap melakukan pembinaan kepada lembaga pemerintahan dan lembaga pendidikan di Aceh,” kata Karyono. Sementara itu, Abrar Zym dalam sambutannya, menyampaikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi negara, di ruang publik menjadi barometer komitmen warga negara dalam menjaga martabat bahasa Indonesia, seperti penggunaan bahasa untuk nama gedung, jalan, rambu petunjuk, dan lain-lainnya. Pemantauan pembinaan dan penilaian penggunaan bahasa di lembaga pemerintah, pendidikan, swasta, dan media massa, kata Abrar, merupakan wujud dari situasi tertib bahasa. “Tertib bahasa demi kehidupan bernegara yang lebih baik,” sebutnya. Sebagai warga dunia yang hidup di era globalisasi seperti saat ini, lanjut Abrar, juga mengharuskan kita untuk memahami bahasa dunia (asing) agar bisa bersaing di tingkat global. Akan tetapi, tidak pula melupakan bahasa daerah. “Oleh karena itu, mari kita gemakan semboyan, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,” ajak Abrar. Di ujung sambutannya, Abrar juga menyampaikan selamat kepada lembaga-lembaga yang memperoleh apresiasi dari Balai Bahasa Provinsi Aceh hari ini. “Semoga prestasi yang telah dicapai dapat terus dipertahankan, kami juga berharap agar lembaga pemerintah, swasta, dan media massa turut mewujudkan cita-cita kita untuk membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa negara yang bermanfaat dan bermartabat,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh, T Rizki Fadhil menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada Dishub Aceh. “Ini menjadi komitmen kita di Dishub Aceh untuk mendukung program pembinaan lembaga dalam pengutamaan bahasa negara di ruang publik yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa tahun ini,” ujar Teuku Rizki. DishubAceh, kata Teuku Rizki, selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan mudah dipahami dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. “Penyusunan bahan informasi di Dishub Aceh, seperti penggunaan bahasa dalam tulisan, harus melewati beberapa tahapan agar nantinya mudah diterima oleh masyarakat. Baik publikasi melalui media daring maupun media cetak,” ungkapnya. “Terima kasih atas penghargaan ini, insyaallah Dishub Aceh terus berusaha untuk menjadi lebih baik dalam pengutamaan bahasa Indonesia dalam publikasi maupun di ruang publik,” ucap Teuku Rizki.(AM)

Dishub Aceh Raih Penghargaan SKPA Sangat Inovatif 2022

BANDA ACEH – Penjabat (Pj) Gubenur Aceh, Achmad Marzuki, diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Bustami menyerahkan Anugerah Inovasi Aceh Tahun 2022 kepada 20 Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), salah satunya yaitu Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh yang diterima langsung Kadishub Aceh, Teuku Faisal, Kamis, 17/11/2022. Acara tahunan yang dihelat di Anjong Mon Mata, Banda Aceh ini mengangkat tema ‘Melalui Kolaborasi Inovasi, Kita Wujudkan Aceh Berdaya Saing Menuju Masyarakat Mandiri.’ Pada perhalatan ini, Kepala Bappeda Aceh, Teuku Ahmad Dadek menyerahkan penghargaan kepada 38 agen SKPA dengan inovasi terbaik dari 250 inovasi yang masuk ke panitia, jumlah inovasi tahun ini jauh lebih banyak dibanding dengan tahun sebelumnya. Dalam arahannya, Sekda Aceh Bustami memberikan apresiasi dan selamat kepada penerima penghargaan. “Mari kita terus berinovasi, demi Aceh yang kita cintainya,” harapnya.(MR)

17 Stand Meriahkan Bazar UMKM DWP Dishub Aceh

BANDA ACEH – Guna mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh menggelar Bazar di halaman Gedung CTRC Dishub Aceh, Kamis, 17 November 2022. Bazar yang diikuti sebanyak 17 pelaku UMKM DWP Dishub Aceh ini menghadirkan stand yang beragam. Mulai dari makanan basah dan kering, aneka minuman, serta stand aksesoris dan busana muslim. Misqul Syakirah, pelaku usaha yang ikut memeriahkan Bazar DWP Dishub Aceh ini menyebut, penyelenggaraan bazar ini sangat bermanfaat sehingga bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat “Alhamdulillah, berkat dukungan DWP Dishub Aceh, hari ini kita bisa ikut berpartisipasi dalam acara bazar ini, dan tentu sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM seperti kami,” ungkap alumni Sarjana Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala ini. Sementara itu, Billy Kurniawan Siddiq, salah satu pengunjung Bazar DWP Dishub Aceh, merasa sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Harapannya, bazar ini dapat dilaksanakan secara rutin sehingga membantu ekonomi masyarakat.(MR)

Tekan Inflasi, Pemerintah Gelontorkan Subsidi Angkutan di Aceh

BANDA ACEH – Peran sektor perhubungan untuk mendukung pengendalian inflasi melalui kelancaran distribusi barang dan orang menjadi sangat krusial. Apalagi Aceh yang memiliki luas daratan 57.956 km2 dan garis pantai sepanjang 1.865 km serta terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan. Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah untuk memperkuat pengendalian inflasi di Aceh adalah dengan memastikan kelancaran pergerakan logistrik bahan pangan termasuk ke daerah 3TP (Tertinggal, Terluar, Terdepan, dan Perbatasan) melalui subsidi angkutan darat, angkutan udara, dan penyelenggaran angkutan laut. Pada tahun 2022, sebanyak 117,09 miliar telah dianggarkan Pemerintah untuk memberikan subsidi transportasi kepada masyarakat, baik melalui sumber dana APBN (98,14 miliar), APBA (14,96 miliar), dan APBK (3,99 miliar). Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Aceh, Teuku Faisal mengungkapkan bahwa di Aceh, subsidi sektor transportasi darat tersebar pada angkutan penumpang dan barang melalui Kementerian Perhubungan RI sebanyak 11 lintasan antar Kab/Kota. Sementara, layanan Kereta Api Penumpang Cut Meutia yang setiap harinya melayani Krueng Geukuh – Bungkaih – Krueng Mane juga disubsidi oleh Kemenhub. Di sektor pelayaran, subsidi diberikan kepada angkutan penyeberangan sebanyak lima lintasan dan angkutan laut sebanyak dua lintasan yaitu Rute R1 (Sinabang – Meulaboh – Tapaktuan – Pulau Banyak – Singkil) dan R2 (Calang – Sinabang – Singkil – Pulau Banyak – Tapaktuan). Berikutnya, untuk meningkatkan konektivitas logistik, Pemerintah juga mensubsidi program tol laut untuk trayek T-1 (Tanjung Perak – Tanjung Priok – Belawan – Lhokseumawe – Malahayati) dan trayek T-2 (Teluk Bayur – Gunung Sitoli – Sinabang – Mentawai – Pulau Baai). Pada sektor penerbangan, subsidi ABPN diberikan pada empat rute perintis di dalam provinsi Aceh yaitu Banda Aceh – Takengon, Banda Aceh – Blang Kejeren, Banda Aceh – Kutacane, dan rute Banda Aceh – Sinabang melalui maskapai penerbangan Susi Air. Sejak tahun 2016, Pemerintah Aceh melalui Angkutan Massal Perkotaan Trans Koetaradja telah melayani masyarakat di ibukota provinsi tanpa mengutip bayaran, pada enam koridor utama dan empat rute feeder. Sedangkan, subsidi yang didanai dari APBK lebih fokus pada bus sekolah. “Kami menilai bahwa subsidi yang telah diberikan oleh pemerintah besarannya cukup signifikan namun belum termanfaatkan secara optimal. Padahal dengan adanya subsidi angkutan darat, laut, dan udara ini dapat mendukung pergerakan/distribusi barang dan orang dengan biaya yang terjangkau sehingga inflasi dapat lebih terkendali,” kata Faisal. Menurutnya, diperlukan dukungan semua pemangku kepentingan untuk ikut andil dalam menyahuti arahan dari Pj. Gubernur Aceh untuk memperkuat pengendalian inflasi di Aceh.(*)

Tiga Kali Penerbangan, Bandara SIM Berangkatkan 1.247 Jemaah Umrah

ACEH BESAR – Semenjak berhasil berangkat dua penerbangan umrah langsung dari Banda Aceh – Madinah pada 4-5 November membawa 821 jemaah, hari ini Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar kembali dipadati jemaah umrah kali ketiga sebanyak 426 orang, Selasa sore, 08/11/2022. Antusias jemaah dan warga yang mengantar menambah suasana haru dan bahagia warga Aceh yang akan menuju tanah suci. Miswar, salah satu jemaah dari Panton Labu, Aceh Utara mengungkapkan bahagia dapat berangkat umrah langsung dari Banda Aceh. Ia menilai bandara ini sudah layak untuk melakukan aktivitas penerbangan internasional. “Selama ini, kami harus menempuh jalur darat dan terbang ke tanah suci via Bandara Kualanamu Medan. Saya berharap, ke depan warga Aceh dapat langsung berangkat umrah dari sini,” sebutnya. Hal senada juga diungkapkan jemaah umrah asal Aceh Barat, Arjuna. Ia mengungkapkan kendala jika harus berangkat melalui bandara dari luar Aceh. “Kami kurang nyaman, sebab sudah menuju Medan. Namun, terkendala karena Banjir sehingga dialihkan penerbangan ke Banda Aceh. Harapannya, dapat terbang langsung dari Banda Aceh,” katanya. Arjuna melanjutkan, sebab beberapa jemaah yang sudah usia lanjut juga melakukan perjalanan suci ini. Maka sudah sepantasnya, warga Aceh dapat terbang langsung dari tanah kelahirannya. Keberangkatan kali ketiga ini menggunakan pesawat Lion Air Airbus 330-343 membawa jemaah dari sembilan travel berasal dari Aceh dan satu travel berasal dari Sumatera Utara. Pesawat dengan nomor penerbangan JT84 lepas landas tepat pukul 16.43 WIB. Secara akumulatif selama tiga kali penerbangan, Bandara SIM telah berhasil memberangkatkan sebanyak 1.247 jemaah menuju Madinah, Arab Saudi. Ini menjadi bukti bahwa bandara ini tetap siap melayani penerbangan internasional. General Sales Agent Lion Air Group Wilayah Aceh-Sumut, Ricky Alfanda mengatakan pada Juli 2022, Aceh memiliki slot yang diberikan Pemerintah Arab Saudi untuk jemaah umrah dari Aceh. Namun, saat itu terkendala karena belum dibukanya penerbangan internasional dari Bandara SIM. Alfanda menyebut saat ini sudah ada upaya dari pihaknya dengan Pemerintah Arab Saudi agar tahun ini masyarakat Aceh dapat terbang langsung dari Banda Aceh dengan tujuan Madinah. “Jika tidak ada halangan, akhir Desember mendatang akan ada penerbangan langsung ke sana,”pungkasnya.

FireFly Luncurkan Kembali Penerbangan Langsung Banda Aceh – Penang

ACEH BESAR – Sebuah rute penerbangan yang dinanti-nantikan masyarakat Aceh dari Banda Aceh dengan tujuan Penang, dapat dinikmati kembali setelah sempat berhenti beroperasi dikarenakan pandemi Covid-19. Mulai hari ini, Senin, 7 November 2022, pesawat FireFly dengan jenis Boieng 737-800 Jets tiba pukul 11.10 WIB di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar membawa sebanyak 40 penumpang. Pesawat dengan nomor penerbangan FY3510 turut serta membawa Global Head of Sales Malaysia Airlines Group, Roslan Bin Ismail dan rombongan disambut Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Aceh, Iskandar didampingi, Pj. Bupati Aceh Besar, Iswanto, Kadishub Aceh, T. Faisal, dan Kadisbudbpar Aceh, Almuniza Kamal, GM. Angkasa Pura II Bandara SIM, dan GM AirNav Banda Aceh di ruang VIP Bandara SIM. Dijadwalkan, FireFly akan beroperasi dua kali seminggu setiap Senin dan Jumat menggunakan nomor pesawat FY3510 dan FY3511. Direncanakan pula, layanan ini secara bertahap akan meningkat empat kali seminggu pada Desember mendatang. Dalam rilis resminya, Chief Executive Officer FireFly, Philip See mengatakan dibukanya penerbangan ini memberi kemudahan bagi warga Malaysia dan Indonesia (Aceh). Baik yang ingin melakukan penerbangan wisata, medis, maupun melanjutkan pendidikan. “Kami berusaha untuk membawa kemudahan bagi masyarakat Banda Aceh ke Penang, dan sebaliknya, karena akan lebih mudah bagi mereka untuk melakukan aktivitas kunjungan,” sebutnya. Tepat pukul 12.00 WIB pesawat FireFly kembali terbang mengudara menuju Penang membawa 185 penumpang. Seperti diketahui, pesawat ini memiliki kapasitas 189 penumpang. (MR)

388 Jemaah Umrah Aceh Berangkat Ke Tanah Suci via Bandara SIM

Sebanyak 388 jemaah umrah asal Aceh akhirnya berhasil terbang ke Madinah dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) pada Jumat siang, 4 November 2022. Penerbangan ke tanah suci ini menggunakan pesawat udara Airbus A330 milik maskapai Batik Air. Sebelumnya, para jemaah umrah asal Aceh ini dijadwalkan terbang ke Madinah melalui Bandara Kualanamu Sumatera Utara. Namun, saat melakukan perjalanan via darat menggunakan bus, rombongan terjebak banjir di Aceh Tamiang sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Bandara Kualanamu. Seperti diketahui, wilayah perbatasan Aceh tepatnya di Kabupaten Aceh Tamiang sedang dilanda banjir yang menyebabkan akses jalan nasional di wilayah itu terputus sejak Kamis kemarin (3/11). Berdasar informasi yang diperoleh, akhirnya pihak maskapai Batik Air selaku operator penerbangan jemaah umrah ini akhirnya mengalihkan penerbangan transit ke Bandara SIM, Aceh Besar. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal hadir langsung di Bandara SIM guna meninjau pelayanan keberangkatan bagi para tamu Allah. Teuku Faisal ingin memastikan pelayanan bisa berjalan sesuai prosedur sehingga perjalanan para jemaah tidak mengalami kendala apapun. “Alhamdulillah, para jemaah umrah asal Aceh bisa terlayani dengan baik meskipun sifatnya mendadak. Ini membuktikan bahwa Bandara SIM sudah sangat siap untuk pelayanan penerbangan internasional maupun umrah,” kata Teuku Faisal. Teuku Faisal menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh stakeholder Bandara SIM atas kerjasama dan kolaborasi yang baik sehingga pelayanan bagi jemaah umrah berjalanan dengan baik. Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Serambi Madinah Travel, Tgk Syeh Zakir, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh dan seluruh stakeholder Bandara SIM atas pelayanan yang diberikan kepada jemaah. “Alhamdulillah, jemaah umrah Aceh bisa berangkat dari bandara kebanggaan masyarakat Aceh. Pelayanan dan fasilitas yang ada di Bandara SIM juga sangat memuaskan, dan membuat jemaah kami bergembira sekali,” ujar Syeh Zakir. Syeh Zakir juga mengharapkan supaya penerbangan umrah bisa dilakukan langsung dari Aceh ke Madinah di masa yang akan datang. “Ini harapan saya sebagai salah satu penyelenggara travel umrah di Aceh, barangkali travel-travel lainnya di Aceh juga mengharapkan hal yang sama,” tuturnya. (AM)

Mulai Hari ini, Bandara SIM Kembali Layani Penerbangan Interasional

ACEH BESAR – Alhamdulillah, hari ini kita bergembira sekali penerbangan dari dan ke luar negeri di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) beroperasi kembali setelah hampir 2 tahun terhenti akibat pandemi Covid19. Hal itu disampaikan oleh Asisten 3 Sekretaris Daerah Aceh, Iskandar yang mewakili Penjabat Gubernur Aceh saat menyambut kedatangan Direksi Kapital A AirAsia, Dato’ Abdul Aziz bin Abu Bakar beserta rombongan dalam penerbangan internasional perdana ke Banda Aceh, Aceh Besar, Senin, 03 Oktober 2022. Iskandar menyampaikan apresiasi kepada AirAsia yang telah menjawab permintaan masyarakat Aceh untuk dibuka penerbangan ke Kuala Lumpur. “Terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam kepada seluruh keluarga besar AirAsia, kita berharap frekuensi penerbangan ke Malaysia dapat bertambah tidak hanya 2 kali dalam seminggu,” ujarnya. Di samping itu, Iskandar menjelaskan bahwa kembali beroperasinya penerbangan internasional di Bandara SIM tidak luput dari atensi penuh Gubernur Aceh untuk membangkitkan perekonomian Aceh. Pergerakan masyarakat Aceh maupun Malaysia, tambahnya, dapat kembali lancar sehingga aktivitas bisnis, pariwisata, berobat, dan segala keperluan persaudaraan (Aceh – Malaysia) bisa terhubung kembali. “Dan semua ini dimudahkan dengan ada flight langsung dari Aceh ke Malaysia maupun sebaliknya,” ungkap Iskandar. Pemerintah Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Perhubungan atas dukungan yang diberikan selama ini, sehingga penerbangan internasional di Bandara SIM telah beroperasi kembali. Sementara itu, Dato’ Abdul Aziz menyebutkan bahwa Aceh merupakan salah satu destinasi favorit AirAsia karena tingginya animo masyarakat Aceh menggunakan layanan maskapai ini. “Dan hari ini adalah hari bersejarah untuk kami karena kami dapat terbang kembali ke Aceh,” ungkapnya. AirAsia saat ini, ungkapnya, memiliki 10 rute penerbangan ke Indonesia dengan 66 frekuensi penerbangan lebih kurang, termasuk Aceh dengan 2 kali penerbangan dalam seminggu. Dato’ Abdul Aziz meyakini bahwa frekuensi penerbangan ke Banda Aceh bisa ditingkatkan melalui kerjasama antara kedua belah pihak. “Bila dimudahkan, bisa kita tambahkan 13 kali dalam seminggu, dan tentu perlu adanya kerjasama antara Aceh (Pemerintah Aceh) dengan AirAsia melalui two-way collaboration dan partnership,” tuturnya. Pada kesempatan itu, ia menambahkan bahwa AirAsia selalu menargetkan komunitas maupun destinasi yang kurang terlayani (underserved) oleh maskapai lainnya dengan harga yang murah. “Memang kita coba menargetkan harga yang termurah supaya lebih ramai orang bisa terbang untuk jumpa familiy, bisnis, medical, tourism, karena itu adalah komoditi yang kita hendak berkhidmat (layani),” ungkap Dato’ Abdul Aziz. Penerbangan perdana dari Malaysia kali ini menggunakan pesawat berjenis Airbus A320-216 dengan nomor penerbangan AK 421. Pesawat tiba di Bandara SIM (BTJ) pada pukul 10.50 WIB dengan membawa 76 penumpang dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL). Sedangkan penerbangan internasional perdana dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur, pesawat bernomor penerbangan AK 420 itu membawa 133 penumpang. (AM) Simak Videonya: