Dishub

Tim Pansus DPRA dan Dishub Aceh Audiensi ke Kemenhub RI Terkait Ekspor Impor

JAKARTA – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal dampingi Panitia Khusus (Pansus) Tata Niaga Komoditas Aceh (TNKA) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh saat melakukan audiensi dan konsultasi ke Kementerian Perhubungan RI di Jakarta, Selasa, 5 Juli 2022. Faisal bersama Pansus TNKA DPR Aceh melakukan audiensi dengan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan RI, Dr. Capt. Mugen S. Sartoto, M.Sc., guna membahas peran pelabuhan di Aceh untuk mendukung kegiatan ekspor impor komoditas Aceh sebagai bahan masukan untuk Rancangan Qanun TNKA. Dalam pertemuan tersebut, ungkap Teuku Faisal Pansus DPR Aceh bersama Capt. Mugen berdiskusi terkait peran wakil rakyat bersama mitra kerja dalam rangka membantu pengusaha melakukan kegiatan perniagaan komoditas Aceh. Selain itu, Pemerintah menyediakan fasilitas berbasis online sehingga mempermudah pengusaha melakukan perizinan. Di samping itu, tambah Faisal, Tim Pansus meminta dukungan Kemenhub RI utk memastikan sarana, prarana dan regulasi yang mendukung kegiatan bongkar muat bagi pelaku usaha di Aceh. Dengan begitu, kegiatan ekspor impor komoditas lokal bisa dilakukan langsung dari pelabuhan-pelabuhan di Aceh. Rancangan Qanun Tata Niaga Komoditas Aceh yang saat ini sedang disusun oleh Pemerintah Aceh bersama DPR Aceh bertujuan untuk memberi perlindungan hukum, dan meningkatkan kesejahteraan hidup terhadap hak dan kepentingan produsen tata niaga komoditas Aceh. (AM)

Online Single Submission-Risk Based Approach Permudah Perizinan Usaha Transportasi

Pada era Industri 4.0 seperti saat ini, teknologi berbasis digital telah merajai hampir seluruh lini kehidupan masyarakat, tak terkecuali pada sektor pemerintahan. Pemerintah berupaya untuk terus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat melalui teknologi berbasis digital, salah satunya dengan meluncurkan sistem layanan perizinan berusaha yang terintegrasi secara elektronik berbasis risiko atau disebut juga dengan OSS-RBA (Online Single Submission-Risk Based Approach). Perbedaan signifikan antara OSS-RBA dengan pendahulunya, OSS atau sering disebut OSS versi 1.1 adalah pada OSS-RBA, jenis pengajuan perizinan telah dibedakan berdasarkan risiko dan skala kegiatan usaha. Hal ini memudahkan para pelaku usaha memilih sendiri jenis perizinan usaha yang akan mereka ajukan. Peluncuran sistem OSS-RBA pada awal Agustus 2021 lalu turut diikuti oleh Gubernur Aceh. Pada kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bahwa OSS-RBA merupakan perubahan yang sangat signifikan dalam dunia perizinan, karena layanan perizinan dapat dilakukan secara online dan terintegrasi dalam satu sistem data. Sistem OSS-RBA diharapkan mampu menyederhanakan prosedur pengurusan perizinan menjadi lebih efektif dan efisien sehingga berdampak pada peningkatan iklim usaha, termasuk kegiatan pengusahaan pelabuhan dan jasa terkait angkutan pelayaran. Pada tahun 2021, Dinas Perhubungan Aceh tercatat telah menerbitkan 26 pertimbangan teknis bagi para pelaku usaha pada sektor jasa kepelabuhanan dan angkutan pelayaran, di antaranya izin Jasa Pengurusan Transportasi, izin Bongkar Muat Barang, dan izin Persetujuan Operasi Angkutan Laut dan Angkutan Penyeberangan. Alur pengajuan perizinan melalui OSS-RBA pada prinsipnya didesain menjadi lebih sederhana dan mudah. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan bongkar muat akan mengajukan izin kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan penyeberangan, maka perusahaan tersebut hanya perlu meng-upload berkas-berkas yang diperlukan. Selanjutnya, Dinas Perhubungan, dalam hal ini yang memiliki kewenangan terhadap kegiatan usaha di pelabuhan penyeberangan, akan melakukan verifikasi dan tinjauan lapangan berdasarkan surat permohonan dari perusahaan tersebut. Hasil verifikasi dan tinjauan lapangan akan disusun menjadi Berita Acara Peninjauan Lapangan yang melahirkan pertimbangan teknis. Selanjutnya, berkas-berkas persyaratan yang telah di-upload akan ikut diverifikasi berdasarkan pertimbangan teknis tersebut. Jika ada persyaratan yang kurang, maka perusahaan dipersilakan untuk melengkapi berkas kembali. Ketika seluruh persyaratan telah lengkap, maka perusahaan akan memperoleh sertifikat standar yang dapat dicetak secara mandiri melalui sistem. Sosialisasi tentang pengajuan perizinan dengan menggunakan OSS-RBA perlu terus digencarkan kepada masyarakat dan para pelaku usaha pada sektor transportasi, terutama di daerah-daerah dengan akses digital yang masih minim. Hal ini mengingat masih adanya pelaku usaha yang menolak menggunakan OSS-RBA dengan alasan belum memahami cara kerja OSS-RBA dan lebih nyaman mengajukan izin secara offline seperti sebelumnya. Selain itu, penyempurnaan pada sistem OSS perlu terus dilakukan karena salah satu kendala yang sering dialami oleh pelaku usaha saat akan mengajukan izin adalah sulitnya akses disebabkan sistem yang sering down atau mengalami maintenance. Fasilitas penunjang seperti pemerataan akses internet di daerah-daerah juga perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan penggunaan OSS-RBA karena semua prosedur pada sistem OSS-RBA dilakukan secara online. Meningkatnya investor maupun pelaku usaha pada sektor transportasi secara tidak langsung ikut berkontribusi pada sehatnya perekonomian nasional. Oleh karena itu, kemudahan dalam perizinan berusaha menjadi salah satu faktor penentu yang utama. OSS-RBA menjadi awal untuk “menggeser” citra prosedur pengurusan izin di birokrasi yang semula dikenal sulit, lambat, dan penuh dengan kecurangan menjadi mudah, aman, transparan, dan dapat diakses di mana saja. Tentu, hal tersebut perlu didukung pula dengan koordinasi dan sinergi antar stake holder terkait. Dengan demikian, sistem OSS-RBA akan benar-benar menjadi salah satu reformasi dalam pelayanan publik. (HM)

Infrastruktur Melemah, Investasi Nihil Adanya

Maka seperti investor, infrastruktur akan memikat hatinya. Keputusan investasi dan penentuan lokasi strategis selayaknya akan membeli sebuah mobil, mereka akan mengecek setiap detail dan spesifikasi yang nantinya akan menjadi barang miliknya. Dari budget yang sesuai hingga fitur yang tersedia. Pastinya, mereka akan memilih yang nyaman dan andal, sehingga tidak membuat tuannya harus mengernyitkan kening saat melakukan pemeliharaan. Begitulah infrastruktur memainkan peranan dalam menarik minat investor. Sang juragan akan melirik pada kualitas, itu sudahlah jelas. Mereka tak ingin rugi, infrastruktur yang yang menjadi perangkat usaha dalam menjalankan roda perekonomian harus mampu menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dalam dunia bisnis, omzet dan profit ini penentunya. Nah, kedua faktor inilah yang menyebabkan infrastruktur yang disediakan harus mampu mengatur keduanya mencapai grafik yang maksimal. Menjadi pertanyaan, sudah mampukah infrastruktur yang telah dibangun meningkatkan iklim usaha? Yang terpampang nyata, banyak infrastruktur yang telah ditumbuhi ilalang sepanjang lantai dan dindingnya, bak istana putri tidur. Belum lagi, beberapa bagiannya tercipta pola retak yang akan mahal jika itu adalah lukisan. Namun sayang ini hanyalah bangunan yang terdiam bisu menjadi saksi roman picisan dalam dunia birokrasi. Percakapan dalam pers yang dirilis Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenetrian Perhubungan RI, Menteri Perhubungan mengutarakan bahwa di Tahun 2020, anggaran yang dialokasikan untuk infrastruktur naik 1 triliun dari tahun sebelumnya, difokuskan pada peningkatan konektivitas melalui pembangunan dan pengembangan infrastruktur transportasi dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sektor transportasi. Pemerintah tentu tidak tinggal diam, terus berupaya mewujudkan kesejahteraan. Dengan anggaran yang sebesar ini, semestinya infrastruktur mulai memainkan perannya di dunia bisnis. Namun dilema tak kunjung berakhir, belum beberapa tahun, infrastruktur yang dibangun telah mengalami ‘gagal tulang’, entah osteoporosis atau reumatik. Mengapa bisa demikian? Sebenarnya, sedikit berat untuk diutarakan, bagaimana tidak, beberapa tahun berselang, infrastruktur dikerjakan disitu-situ saja, yang retaknya, jalannya berlubang, kurang sana sini hingga akhirnya harus dihancurkan padahal belum mencapai umur bangunan. Dalam aturan telah disebutkan, setiap pembangunan mutu beton itu telah ditentukan, misalnya bangunan yang diperuntukkan untuk gudang, stadion, tempat industri, dan lain-lain memiliki mutu beton yang berbeda-beda. Hasil itu tentunya didapatkan dalam perhitungan struktur secara kompleks, mustahil hanya menerka secara kasat mata atau sekedar pengalaman pekerjaan yang telah dilakukan. Bukannya, beda lubuk beda belalang. Begitu pun faktor yang akan dihitung pada suatu struktur bangunan, setiap aspeknya harus dipertimbangkan, dari beban dinamis maupun statis, beban tambahan hingga faktor alam yang mempengaruhi. Semua harus diperhitungkan dan wajib ada masterplan (perencanaan). Tapi shortcut lebih menggiurkan, mengambil satu sampel untuk setiap proyek. Ada lain yang mengharmonisasi kualitas struktur menjadi di bawah rata-rata. Birokrasi, bianglala yang dimainkan dengan nada yang bias dengan tempo yang tak beraturan serta panjang dan mengena pada ujungnya. Tepatnya, dipermainkan atau permainan. Pengurusan administrasi yang bertele-tele juga menyumbang potensi besar keterlambatan proyek. Yang pada ujungnya, kualitas bukanlah prioritas dan terpenting pekerjaan selesai tepat waktu, tidak ada yang mencoba harmonis dengan ‘denda’. Kembali lagi pada pentingnya pembangunan infrastruktur yang berkualitas untuk investasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan saat infrastruktur suatu negara melemah, berarti perekonomian berjalan secara tidak efesien yang akan menurunkan daya saing dan ketidakadilan sosial. Indonesia Infrastructure Investment kembali menegaskan pembangunan fisik yang kualitasnya kurang baik juga dapat menyebabkan masalah yang lebih buruk. Namun, inilah kesempatan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadi partner pemerintah dalam memantau kualitas infrastruktur dengan kritikan yang mebangun. Karena ini bukan jamannya lagi menyalahkan, namun bangkit untuk berbenah dan bergerak maju. Ayo, kita bangun dari mimpi dan siap untuk menggapainya. (Misqul Syakirah)

294.287 Pergerakan Penumpang di Aceh Selama Lebaran 1443 H

Selama periode angkutan lebaran tahun 2022, atau sejak 21 April hingga 10 Mei, ratusan ribu pergerakan orang tercatat menggunakan layanan transportasi umum. Angka pergerakan orang tersebut terekam melalui simpul-simpul transportasi, baik darat, laut, maupun udara, yang ada di seluruh Aceh. Kriteria perjalanan pada periode angkutan lebaran ini pun cukup bervariasi, mulai dari perjalanan mudik, kunjungan wisata, hingga arus balik ke daerah asal. Berdasar data yang diperoleh, transportasi penyeberangan dan laut menjadi moda yang cukup diminati oleh masyarakat Aceh, yaitu terdapat sebanyak 162.925 pergerakan orang pada moda ini. Angka tersebut cukup relevan, sebab banyak masyarakat Aceh yang tinggal di wilayah kepulauan, seperti Pulau Simeulue, Pulau Sabang, Pulau Banyak, dan Pulo Aceh. Selain itu, pada periode ini juga terjadi lonjakan kunjungan pariwisata pada sejumlah destinasi, khususnya Pulau Weh Sabang dan Pulau Banyak. Kemudian, angka tertinggi selanjutnya terlihat pada moda transportasi darat, yaitu sebanyak 107.896 pergerakan orang. Jumlah pergerakan masyarakat di Aceh menggunakan angkutan darat umum ini terdata dari dua rute trayek, yaitu angkutan antar kota antar provinsi (AKAP) dan angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP). Sementara itu, pada periode yang sama, perjalanan orang menggunakan burung besi alias pesawat udara di Aceh mencapai 23.466 pergerakan. Meski tarif tiket pesawat pada masa tersebut melambung tinggi, tapi tidak menyurutkan keinginan untuk berlebaran bersama keluarga di kampung halaman. (AM)

23.828 Orang Menyeberang dengan KMP Aceh Hebat

Tiga kapal Aceh Hebat sudah melayani sebanyak 23.828 orang selama periode mudik dan libur lebaran tahun 2022 di Aceh, lho. Luar biasa, bukan? Pada masa mudik lebaran tahun ini, kehadiran 3 kapal KMP Aceh Hebat memang sangat urgen dalam memperlancar perjalanan mudik masyarakat Aceh di wilayah kepulauan. Selain itu, ketiga armada ini juga menjadi tulang punggung kunjungan pariwisata di Aceh selama masa libur lebaran. Makanya, sudah seharusnya Rakan ikut menjaga kapal Aceh Hebat kebanggaan kita bersama. Caranya mudah, cukup jaga kebersihan kapal dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. (AM) Link Infografis  23.828 Orang Menyeberang dengan KMP Aceh Hebat

Serba-Serbi Kegiatan Pemudik di Aceh

Lebaran Idul Fitri 1443 H menjadi momen mudik dan liburan yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat seantero negeri. Bagaimana tidak, setelah 2 tahun lamanya diberlakukan pembatasan kegiatan dan tidak diperbolehkan mudik akibat pandemi Covid-19 di Indonesia. Beriringan dengan itu, ada ragam momen dan cerita unik nan menarik yang dialami oleh mereka yang mudik maupun melakukan perjalanan liburan menggunakan armada transportasi. Ada cerita suka, ada pula cerita duka. Tentu semua ini menjadi pengalaman untuk dijadikan pelajaran bagi semua pihak saat tiba musim mudik di tahun-tahun berikutnya. (AM)

Sabtu dan Minggu Puncak Arus Balik di Aceh

SABANG – Ratusan kendaraan roda empat maupun roda dua mulai memadati Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang pada H+4 Lebaran 2022 pada Jumat, 6 Mei 2022 malam. Mereka menunggu giliran berlayar menuju Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh. Puncak arus balik lebaran 2022 di Pelabuhan Balohan diperkirakan terjadi pada Sabtu dan Minggu atau H+5 dan H+6 mengingat masyarakat akan kembali beraktivitas pada hari Senin, 9 Mei 2022. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal saat meninjau arus balik masyarakat dan wisatawan di Pelabuhan Balohan Sabang hari ini, Sabtu, 7 Mei 2022. Pergerakan wisatawan yang kembali ke Banda Aceh dari Sabang mulai mengalami peningkatan sejak H+3 lebaran. Per Kamis (5/5), sebanyak 3.636 wisatawan menggunakan kapal penyeberangan kembali ke Banda Aceh. Pada hari berikutnya, atau Jumat (6/5), sedikit meningkat dimana 3.983 wisatawan terpantau bergerak dari Sabang. “Kita prediksi akan terus meningkat saat akhir pekan ini, makanya kita perlu antisipasi kepadatan penumpang di Balohan supaya semua wisatawan dapat terlayani dengan baik,” ujar Faisal. Dari hasil amatan langsung Dishub Aceh hari ini, kondisi arus balik masyarakat maupun wisatawan dari Pelabuhan Balohan masih tertib dan terkendali. Meskipun ada antrian, semua kendaraan diprediksi dapat diseberangkan oleh kapal penyeberangan ke Banda Aceh. Faisal mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik supaya terhindar dari antrian yang cukup padat di pelabuhan. Ia juga mengajak masyarakat agar kembali lebih awal atau setelah masa puncak arus balik. “Kalau cutinya bisa diperpanjang, sebaiknya pulang setelah puncak arus balik supaya lebih nyaman,” imbaunya. Selain itu, ungkap Faisal, saat ini Dishub Aceh telah mengerahkan Tim Dalops (Pengendalian dan Operasional) Dishub Aceh untuk mengatur lalu lintas di area pelabuhan agar tidak terjadi kemacetan. Pengaturan lalu lintas juga didukung oleh Tim Dalops Dishub Kota Sabang yang telah bertugas sejak Kamis yang lalu. Di samping pengaturan lalu lintas, kebersihan Pelabuhan Balohan juga tidak luput dari perhatian. Oleh karena itu, Dishub Aceh telah menambah personil kebersihan sejak hari ketiga lebaran guna memastikan kenyamanan bagi wisatawan selama berada di pelabuhan. Demi kenyamanan bersama selama berada di pelabuhan, Faisal mengajak pengguna jasa untuk ikut menjaga kebersihan pelabuhan dengan membuang sampah pada tempatnya. “Mari jaga keindahan dan kenyamanan pelabuhan karena ini adalah fasilitas publik milik bersama,” ajak Faisal. Salah satu wisatawan asal Pekanbaru, Bambang, kepada Dishub Aceh, menyebutkan bahwa ia bersyukur aktivitas penyeberangan ke Banda Aceh maupun sebaliknya berjalan lancar. “Anak-anak hari Senin masuk sekolah, ujian, jadi hari ini harus balik karena perjalanan 2 hari ke Pekanbaru,” sebutnya. Meski antrian kendaraan cukup panjang, baik di Banda Aceh maupun Sabang, Bambang memaklumi karena selama dua tahun aktivitas masyarakat dibatasi, termasuk liburan. “Ya wajar, gak apa-apa, dua tahun kita nggak bisa kemana-mana,” ujarnya memaklumi. (AM)

236 Penumpang KMP Aceh Hebat 1 Tiba di Calang

CALANG – Sebanyak 236 penumpang yang diseberangkan dari Pelabuhan Penyeberangan Sinabang menggunakan KMP Aceh Hebat 1 telah tiba di Pelabuhan Calang pada Jumat pagi, 6 Mei 2022. Kapal ini juga mengangkut 70 unit kendaraan campuran dan 8 ton barang. Sejauh amatan Tim AcehTRANSit, arus balik pemudik dari Simeuleu ke daratan masih relatif normal. Saat ini, penumpang yang tiba di Calang didominasi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta yang bekerja di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Selain itu, terlihat pula anak-anak muda yang hendak mengikuti tes kepolisian di Banda Aceh. Nahkoda KMP Aceh Hebat 1, Capt. M Noer mengungkapkan, diperkirakan lonjakan arus balik dari Simeulue akan terjadi pada minggu kedua lebaran. “Kebanyakan penumpang masih enggan balik akibat cuaca yang kurang bersahabat,” sebutnya. Sebagai informasi, bagi penumpang yang tidak membawa kendaraan pribadi dari Sinabang, bisa menggunakan jasa angkutan umum yang telah mengantri di pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh. (AM)

124 Ribu Warga Aceh Melakukan Mudik dan Liburan

BANDA ACEH – Sebanyak 124.581 orang di Aceh terpantau melakukan perjalanan mudik maupun liburan menggunakan berbagai jasa angkutan transportasi, baik moda transportasi darat, laut, dan udara. Berdasar data yang terhimpun per 21 April hingga 4 Mei 2022, atau H+2 lebaran Idul Fitri 1443 H, sebagian besar memilih jasa angkutan darat untuk perjalanan mudik dan liburan, dengan total penumpang yang tercatat sebanyak 68.825 orang. Sedangkan pelaku perjalanan dengan angkutan laut, baik kapal penyeberangan atau Sabuk Nusantara, berada pada posisi kedua dengan total penumpang 40.327 orang. Lalu disusul oleh angkutan udara dengan jumlah penumpang sebanyak 15.429 orang. Sementara itu, guna menghindari puncak arus mudik, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal mengimbau para pemudik di Aceh untuk merencanakan perjalanan balik ke daerah asal dengan cermat agar perjalanan lebih nyaman dan terhindar dari kemacetan. Sebab, puncak arus balik diperkirakan akan terjadi pada hari Sabtu dan Minggu (7-8 Mei 2022) mendatang. (AM)

12.246 Wisatawan Keluar Masuk Sabang

BANDA ACEH – Sebanyak 12.246 wisatawan keluar masuk Sabang sejak lebaran Idul Fitri 1443H, atau mulai tanggal 2 hingga 4 Mei 2022. Wisatawan yang menggunakan jasa kapal penyeberangan juga semakin membludak tiap harinya, baik yang berangkat dari Banda Aceh maupun Sabang. Selain penumpang, terdapat 2.202 kendaraan roda dua dan 883 kendaraan roda empat telah berhasil diseberangkan, baik dari Ulee Lheue maupun Balohan. Angka tersebut cukup fantastis melampaui jumlah yang diprediksi sebelumnya. Berdasar pantauan di lapangan, antrian kendaraan di Pelabuhan Ulee Lheue terlihat mengular hingga ke luar area pelabuhan. Hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk berwisata ke Sabang cukup tinggi. Lonjakan yang cukup tinggi ini perlu antisipasi dari Pemerintah maupun stakeholder agar semua wisatawan terlayani dengan baik. Di samping itu, wisatawan diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan cermat guna menghindari antrian yang semakin parah saat peak season. Lakukan perjalanan lebih awal atau tunda hingga melewati puncak arus balik. Persiapan logistik serta suplemen saat melakukan perjalanan juga perlu diperhatikan agar kondisi tubuh tetap fit dan liburannya lebih menyenangkan. (AM)