Dishub

E-Kiosk Mudahkan Retribusi Masuk Terminal Tipe B Abdya

BLANG PIDIE – Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Rizki Fadhil meninjau uji coba sistem layanan e-restribusi di Terminal Tipe B Aceh Barat Daya, Rabu, 31 Agustus 2022. E-retribusi ini merupakan sistem layanan mandiri berbasis aplikasi (e-kiosk) yang memudahkan supir angkutan umum antar kota dalam provinsi (AKDP) menyetor retribusi melalui anjungan yang telah disediakan. Nilai plus dari layanan e-retribusi ini, kata Rizki, tidak lagi membutuhkan biaya percetakan karcis karena telah tersedia print-out dari mesin yang juga berlaku sebagai resi resmi retribusi. Rizki juga menyebutkan, data pelaporan terkait pergerakan angkutan dan penumpang terinput secara otomatis ke dalam sistem. Data yang terinput nantinya dapat menjadi bahan analisis guna pengembangan terminal, sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Sementara itu, Kepala UPTD Penyelenggaraan Terminal Tipe B Dishub Aceh, Erizal pada saat uji coba menyampaikan bahwa e-retribusi akan diisi langsung oleh para sopir angkutan. Layanan elektronik ini, kata Erizal, menjadi sarana pendataan dan pengawasan angkutan AKDP yang terintegrasi dengan Kartu Pengawas Izin Trayek. Di samping itu, kata Erizal, layanan ini menghadirkan transparansi saat pemungutan retribusi sehingga bebas dari pemungutan liat (pungli). Sebagai informasi, E-kiosk merupakan sistem vending machine informasi yang digunakan untuk penginputan manifest data keberangkatan dan transit ADKP di terminal. E-kiosk digunakan secara mandiri oleh pengemudi saat penginputan data manifest. Data-data yang diinput antara lain; jenis perusahaan otobus (PO), trayek, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), serta Data penumpang (jenis kelamin dan usia). Turut hadir dalam kegiatan uji coba ini Ketua Tim Percepatan Pembangunan Dinas Perhubungan Aceh Muhammad Dahlan, Kepala Seksi Tata Ruang Transportasi dan Lingkungan Bidang Pengembangan Sistem dan Multimoda, Muhajir, serta segenap jajaran Dinas Perhubungan Aceh. (MU) Berita Menarik Lainnya: Transportasi Berperan Penting Dukung Distribusi Potensi Alam Dishub Aceh dan Dishub Bireuen Bahas Pemanfaatan Terminal Mobar Trans Koetaradja di Mata Mahasiswi

Trans Koetaradja di Mata Mahasiswi

OLEH NURUL HUSNA, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), dan Anggota FAMe, melaporkan dari Banda Aceh SAYA tinggal di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Setiap pergi dan pulang kuliah saya menggunakan angkutan massal bus Transkoetaradja. Karena saya tak bisa mengendarai sepeda motor menjadi alasan tambahan bagi saya mengapa lebih memilih naik bus. Apalagi gratis dan saya merasa nyaman berada di dalamnya. Transkoetaradja berpusat di Kota Banda Aceh, tapi layanannya menjangkau hingga ke wilayah Aceh Besar.Bus ini juga penyatu semua kalangan: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan tiba sama cepat. Kebanyakan penumpang bus ini adalah mahasiswa dan mahasiswi. Teman-teman saya di Penbi angkatan 2020 maupun anak kecil yang pernah naik bus ini menyebut Transkoetaradja dengan sebutan “Tayo”. Naik bus sambil berjemur Senin (13/6/2022), matahari pagi menyilaukan mata. Halte bus Masjid Raya Baiturrahman dipenuhi orang-orang yang menunggu bus menuju arah Darussalam. Saya duduk di kursi paling depan. Di deretan kursi ini sedikit orang yang mau duduk kala pagi. Soalnya, cahaya matahari langsung menembus kulit siapa saja yang duduk di situ. Sebaliknya, saya suka duduk di kursi tersebut karena sekalian berjemur. Rasanya tidak masalah berjemur di pagi hari untuk mendapatkan vitamin D gratis dari sang surya, mumpung masih pukul 08.35 WIB. Tak lama menunggu, tiba satu bus Transkoetaraja yang menuju Darussalam koridor 1. Bus ini sangat penuh.Banyak penumpang yang berdiri. Setelah penumpang turun dari bus barulah penumpang yang ingin naik masuk ke dalam bus. Lantunan lagu Aceh menggema di dalam bus pada saat saya duduk di kursi penumpang. Ada pengalaman berkesan sewaktu saya pulang dari kampus mengejar Transkoetaradja trayek Kedah-Darussalam koridor 1. Saat itu, Rabu (15/6/2022) sore, bus terlihat dari jauh. Posisi saya juga masih jauh dari tangga bus (pengganti halte bus) yang ada di depan Toko Fantasi Darussalam, Banda Aceh. Saya memutuskan berjalan cepat menyeberangi jalan dua jalur. Saat itu jalan dipenuhi kendaraan. Ada rasa waswas di hati saya, perasaan takut ditinggal bus dan takut ditabrak kendaraan yang melaju kencang. Dengan berlari saya melambaikan tangan agar sopir (pramudi) berhenti. Untunglah satu orang penumpang laki-laki yang baru turun melihat saya yang sedang berlari. Dia sepertinya paham kondisi saya yang sedang mengejar bus, dengan cekatan penumpang tersebut menoleh ke belakang agar kondekturnya menunggu saya. Kondektur bus menatap saya tanpa kata saat saya naiki tangga dengan terburu-buru. Kata terima kasih terucap begitu saja dari mulut saya yang tertutupi oleh masker putih. Rasa lelah berganti dengan rasa syukur setelah berada di dalam angkutan massal Transkoetaraja. Wanita paruh baya menatap lekat ke arah saya dan beberapa orang memperhatikan saya mungkin mereka melihat saya berlari mengejar bus tadi, tapi saya hanya memperhatikan sekilas saya fokus duduk sambil mengatur napas agar normal kembali. Pelayanan yang baik dan memuaskan terasa langsung oleh siapa saja yang pernah menaiki bus ini. Para pramudi dan pramugaranya memiliki sikap yang baik, toleransi dan suka menolong para penumpangnya tanpa memadang status mereka. Pramudi dan pramugaranya mempakai pakaian seragam yang sopan dan rapi. Mereka bekerja dengan sistem shift, dua hari kerja satu hari off duty. Pramudi dan pramugara arah koridor 1 ada pergantian ke koridor lain, tergantung kebijakan mutasi dari operator Transkoetaraja. Jadwal bus Senin hingga Sabtu dari pukul 06.30 sampai pukul 19.20 WIB.Minggu dari pukul 06.30 hingga 14.45 WIB, terbatas hanya tiga bus untuk koridor 1 (Keudah-Darussalam). Bus ini milik bersama, tentu yang menjaganya adalah kita semua. Semoga angkutan massal milik masyarakat Aceh ini selalu ada dan tetap gratis selamanya.(*) Sumber: Serambi Indonesia

Kadishub Aceh Bertemu Susi Pudjiastuti Bahas Potensi Penerbangan Perintis

JAKARTA – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal melakukan pertemuan dengan Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air), Susi Pudjiastuti guna membahas potensi pengembangan penerbangan perintis di Aceh, Jakarta, Kamis, 25 Agustus 2022. Pada pertemuan yang berlangsung cukup santai itu, Faisal menyampaikan rencana Pemerintah Aceh untuk meningkatkan konektivitas wilayah di Aceh melalui transportasi udara. Saat ini, transportasi udara di Aceh terselenggara melalui program angkutan udara perintis yang dilayani oleh maskapai Susi Air. Faisal yang didampingi oleh Kepala Bidang Penerbangan Dishub Aceh, Muhammad Dahlan juga mendengar sejumlah masukan dari Susi Pudjiastuti terkait rute-rute penerbangan potensial yang bisa dikembangkan. Mendengar masukan mengenai pengembangan rute perintis dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini tentu hal yang tepat karena ia sudah cukup berpengalaman mengoperasikan penerbangan perintis di Indonesia. Masukan-masukan yang diperoleh dari pertemuan ini, kata Faisal, akan menjadi bahan kajian lebih lanjut oleh Dinas Perhubungan Aceh untuk nantinya diusulkan ke Kementerian Perhubungan. Sementara itu, Susi Pudjiastuti menyarankan agar Pemerintah Aceh mengoptimalkan rute-rute penerbangan yang potensial. Pada rute itu, kata Susi, idealnya ada penerbangan seminggu 3 kali minimal. Sehingga masyarakat yang ingin melakukan perjalanan pada rute tersebut pun lebih mudah saat mengatur jadwal. Susi juga mencontohkan sejumlah daerah yang telah berhasil meningkatkan konektivitas wilayah mereka melalui penerbangan perintis. Dukungan dari Pemerintah Daerah, katanya, sangat penting agar penerbangan perintis benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. (AM)

Transportasi Berperan Penting Dukung Distribusi Potensi Alam

BENER MERIAH – Kabupaten Bener Meriah memiliki potensi alam yang sangat besar terutama di sektor perkebunan, pertanian dan pariwisata, serta topografi perbukitannya yang indah. Pengelolaan sumberdaya potensial tersebut perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat menghadirkan nilai tambah. Oleh karena itu, tatanan transportasi yang terorganisasi berperan penting dalam mendukung keterpaduan pergerakan, konsolidasi hasil produksi, serta pola perangkutan dan distribusi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh, T Rizki Fadhil saat menyampaikan sambutan pada Focus Group Discussion (FGD) Tataran Transportasi Lokal (Tatralok) Kabupaten Bener Meriah di Hotel Parkside Takengon, Kamis, 25 Agustus 2022. Tatralok Bener Meriah, kata Rizki, dapat dijadikan sebagai pedoman dan landasan dalam perencanaan, pembangunan, serta penyelenggaraan transportasi yang mampu mewujudkan layanan atau jasa transportasi yang efektif dan efisien. Selain itu, menurut Rizki, pengembangan sistem transportasi harus dilakukan secara berkesinambungan, konsisten, dan terpadu, baik intra maupun antar moda, dengan sektor pembangunan lainnya, serta memperhatikan RTRW Nasional, RTRW Aceh, RTRW Kabupaten Bener Meriah, RTRW Kabupaten/Kota di sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah pada tahun 2022 sedang menyusun Tatralok dalam rangka me-review dokumen Studi Transportasi Kabupaten Bener Meriah Tahun 2007. Untuk itu, Dinas Perhubungan Aceh memandang perlu melakukan FGD sebagai kegiatan fasilitasi penyusunan Tatralok Kabupaten Bener Meriah sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 118 Tahun 2016. Pelaksanaan FGD ini juga bertujuan untuk mengharmoniskan antara Tataran Transportasi Nasional (Tatranas), Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) Aceh, dengan rencana Tatralok Kabupaten Bener Meriah, serta sinkronisasi perencanaan pembangunan antar wilayah. Sementara itu, Penjabat Bupati Bener Meriah yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Bener Meriah, drh. Sofyan saat membuka FGD ini menyampaikan, Tatralok harus disusun secara profesional dengan kaidah-kaidah perencanaan transportasi yang tepat. Melalui penyusunan yang baik, kata Sofyan, diharapkan dapat mengakselerasi pembangunan, serta menjadi acuan atau pedoman dalam membangun sarana dan prasarana transportasi di Kabupaten Bener Meriah ke depannya. Sofyan juga berharap, Tatralok yang sedang disusun ini dapat mengoptimalkan kajian transportasi di wilayah Kabupaten Bener Meriah 20 tahun yang akan datang (2022-2042). Sehingga mampu menghasilkan layanan transportasi yang berkemampuan tinggi dan efektif dalam mendukung mobilitas manusia, barang dan jasa, serta menunjang pengembangan dan pembangunan wilayah Bener Meriah. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 25 – 26 Agustus 2022, dan menghadirkan narasumber dari Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ashfa, S.T., M.T., serta Dr. Noer Fadhly, S.T., M.T., selaku tenaga ahli penyusun Tatralok Kabupaten Bener Meriah dalam rangka me-review dokumen Studi Transportasi Kabupaten Bener Meriah Tahun 2007. (HM)

Pj Gubernur Aceh Temui Menhub Bahas Percepatan Pembangunan Transportasi di Aceh

JAKARTA – Pelaksana Jabatan (Pj) Gubernur Aceh Achmad Marzuki melakukan pertemuan dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi membahas sejumlah isu terkait transportasi di Aceh di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa, 23 Agustus 2022. Achmad Marzuki meminta agar Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar bisa segera melayani penerbangan internasional dengan diterbitkan surat edaran dari Kemenhub dan Satgas Covid-19. “Kemarin terkait entry point sudah dirapatkan lintas Kementerian/Lembaga yang dipimpin oleh Kemenko Marves dimana hasilnya Bandara SIM adalah salah satu prioritas. Mohon kiranya Bapak Menhub bisa mendukung dengan menerbitkan surat edaran ,” kata Achmad Marzuki. Dengan beroperasi penerbangan internasional di Bandara SIM, sebut Achmad Marzuki, akan mempermudah perjalanan umrah, kunjungan wisata mancanegara, hubungan perdagangan dan kekerabatan, kerjasama IMT-GT dan Indonesia – India. “Apalagi sebagaimana yang kita tahu potensi untuk umrah dari Bandara SIM ke Madinah dan Jeddah itu sangat tinggi,” sebutnya. Selain itu, Achmad Marzuki juga meminta kepada Budi Karya agar rute penerbangan perintis di Aceh ditambah dari empat rute menjadi 16 rute dengan frekuensi tiga kali dalam seminggu. Selama ini frekuensi penerbangan hanya ada satu kali dalam seminggu, yaitu Banda Aceh – Takengon, Banda Aceh – Gayo Lues, Banda Aceh – Sinabang dan 2 kali per minggu rute Banda Aceh – Kutacane. “Penambahan rute itu untuk mempermudah mobilitas masyarakat daerah kepulauan, daerah terluar dan daerah yang jauh jaraknya dari ibukota provinsi untuk menggerakkan perekonomian ,” sebutnya. Selanjutnya, Achmad Marzuki juga membahas sejumlah hal untuk mendorong percepatan perekonomian di Aceh melalui sektor transportasi, seperti pengerukan alur pelabuhan Kuala Langsa serta pembangunan dry port di Bener Meriah untuk menunjang aktivitas ekspor impor di Aceh. Sementara itu, Menhub Budi Karya Sumadi menjelaskan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan permintaan yang disampaikan oleh Pj Gubernur Aceh. Terkait penerbangan internasional di Bandara SIM, Budi Karya menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan rapat sehari sebelumnya dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Satgas Covid-19 dan kementerian lembaga lainnya. Menyangkut dengan perjalanan umrah yang akan diberangkatkan melalui Bandara SIM, Budi Karya menyambut baik usulan tersebut. Ia bahkan menyarankan supaya Pemerintah Aceh berkolaborasi dengan bandara-bandara lainnya di Indonesia agar penerbangan umrah yang akan menuju Jeddah/Madinah transit di Bandara SIM untuk mengangkut jamaah umrah asal Aceh sehingga frekuensi penerbangan ke Arab Saudi melalui Bandara SIM bisa meningkat. Hal ini tentunya akan membawa efek domino bagi perekonomian Aceh. Sedangkan terkait penambahan rute perintis, Menhub meminta Pemerintah Aceh mendata bandara-bandara yang diprioritaskan untuk ditetapkan sehingga nanti bisa dibantu subsidinya. “Dengan harapan rute itu penumpangnya cukup, tidak hanya satu atau dua orang. Kalau nanti trafficnya sudah baik, nanti akan banyak lagi pelayanan dari maskapai,” ungkapnya. Dalam pertemuan itu dihadiri oleh Staf Khusus Menteri BUMN, Nezar Patria Msc, Anggota DPR RI, Salim Fahkri, Ketua DPRA, Saiful Yahya, Anggota DPRA dr Purnama Setia Budi SpOG, Anggota DPRA Fraksi Golkar, Teuku Raja Keumangan, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, dan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Akkar Arafat SSTP MSi. (TF)

Pergerakan Arus Barang E-Commerce Belum Terdata dengan Baik

BANDA ACEH – Pergerakan barang di Aceh saat ini selain dipengaruhi oleh aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat kini juga dipengaruhi oleh pertumbuhan e-commerce. Namun, kendala yang terjadi saat ini, pergerakan arus barang melalui e-commerce tidak terdata dengan baik. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh, T Rizki Fadhil saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Studi Angkutan Barang di Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh, Senin, 22 Agustus 2022. Rizki menambahkan, penataan sistem transportasi angkutan barang di Aceh belum sepenuhnya dikelola dengan baik, mulai dari jenis barang, titik awal, tujuan akhir, serta jenis moda transportasi yang digunakan. Data pergerakan barang di Aceh, kata Rizki, belum terinformasi dan terdistribusi secara transparan. Sehingga data tersebut susah untuk didapati. Menurut Rizki, untuk menciptakan transportasi angkutan barang yang terintegrasi dibutuhkan informasi yang komprehensif dari berbagai stakeholder agar dapat memberikan pelayanan yang optimal. Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia FGD, Safriyanthi menyebutkan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaring beragam masukan dan saran dari pelaku usaha baik produsen maupun distributor barang di Aceh selaku pengguna jasa transportasi khususnya melalui jalur darat. Ia mengharapkan melalui FGD ini diperoleh informasi terkait data-data yang berhubungan dengan angkutan barang di Aceh dari stakeholder yang berhadir. FGD yang mengangkat tema “Identifikasi Data Distribusi Pergerakan Barang di Aceh” ini berlangsung selama dua hari, 22 – 23 Agustus 2022. Kegiatan ini juga menghadirkan guru besar pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Sofyan, M.Sc.Eng, IPU., sebagai pemateri. (AM)

Dishub Aceh Bersama Disbudpar Aceh Uji Coba Trans Wisata

BANDA ACEH – Dinas Perhubungan Aceh bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melakukan uji coba layanan Trans Wisata ke sejumlah destinasi wisata di Banda Aceh dan Aceh Besar. Uji coba layanan transportasi ini dimulai dari Halte Mesjid Raya Baiturrahman menggunakan 2 unit bus Trans Koetaradja. Satu unit bus bergerak ke arah Lhoknga di Aceh Besar, dan berhenti pada sejumlah destinasi wisata, seperti Rumoh Cut Nyak Dhien, Pusat Jajanan Lam Pisang, Gampong Nusa, hingga Pantai Lampuuk. Sedangkan satu bus lainnya bergerak ke sejumlah spot wisata di Banda Aceh, seperti Museum Tsunami, Museum PLTD Apung, hingga pantai Ulee Lheue.   Kegiatan hari ini, Minggu (21/8) juga diikuti oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh, diwakili Sekdishub T Rizki Fadhil, Kadisbudpar Aceh Almuniza Kamal, dan Kepala UPTD Trans Kutaraja Hanung Kuncoro. Selain itu, juga hadir perwakilan dari Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, serta perwakilan Dinas Perhubungan Banda Aceh dan Aceh Besar. Program Trans Wisata ini ditujukan untuk meningkatkan kunjungan pariwisata di Aceh Besar dan Banda Aceh, serta mendukung pelaku UMKM di sekitar destinasi wisata yang dilayani. (AM) Simak Videonya: https://www.youtube.com/watch?v=a9aKq-XN_wg

Dalops Dishub Aceh Lakukan Penertiban Lalin Saat Upacara HUT RI

BANDA ACEH – Personil Dal-Ops Bidang Lalu dan Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Aceh melakukan penertiban dan pengamanan lalu lintas saat upacara pengibaran bendera merah putih dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Kantor Gubernur Aceh, Rabu 17 Agustus 2022. Upacara memperingati hari kemerdekaan itu dipimpin oleh Penjabat Gubernur Aceh Achmad Marzuki, dan diikuti oleh seluruh Pimpinan Forkopimda Aceh. Pengamanan lalu lintas pada ruas jalan Teuku Nyak Arief itu juga melibatkan personil dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Banda Aceh dan Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh. (AM)

Dishub Aceh dan Dishub Bireuen Bahas Pemanfaatan Terminal Mobar

BANDA ACEH – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, diwakili Sekretaris Dishub Aceh, Teuku Rizki Fadhil bersama Kepala UPTD Penyelenggaraan Terminal Tipe B, Erizal menerima kunjungan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bireuen, Ismunandar guna membahas pemanfaatan Terminal Tipe B Bireuen di Aula Dishub Aceh, Jumat, 12 Agustus 2022. Pada kesempatan itu, Ismunandar meminta area Terminal Tipe B Bireuen dapat difungsikan pula sebagai tempat parkir mobil barang. Pasalnya, tambah Ismunandar, hanya terminal tersebut yang bisa digunakan sebagai area bongkar muat di Bireuen. Meski begitu, ia menyadari bahwa secara aturan, di terminal penumpang tidak dapat dilakukan bongkar muat barang. “Jika di terminal Bireuen tidak dapat dilakukan bongkar muat barang, maka Pemkab Bireuen tidak tahu harus bongkar di mana,” ujarnya. Ismunandar menambahkan, tidak mungkin pihaknya membiarkan aktivitas bongkar di depan toko. Sebab, secara teknis di lapangan, hal itu akan menimbulkan konflik baru dan menyebabkan kemacetan lalu lintas. Keberadaan terminal seharusnya menjadi pusat aktivitas mobilitas atau pergerakan barang maupun orang untuk transportasi darat. Namun dengan perubahan arah kebijakan, maka tata kelolanya pun perlu dirumuskan kembali. Oleh karenanya, menurut Rizki, Sekdishub Aceh, area Terminal Tipe B Bireuen dapat dikerjasamakan pemanfaatannya untuk terminal parkir mobil barang yang berlokasi di bagian belakang terminal penumpang. “Peruntukan lokasi terminal mobil barang sebelumnya memang berada di belakang Terminal Tipe B Bireuen, hal-hal teknis dapat kita sepakati bersama agar tidak mengganggu fungsi terminal penumpang tipe B,” ujar Rizki. Pada kesempatan itu, kedua belah pihak menyepakati untuk penggunaan tempat parkir mobil barang di komplek Terminal Tipe B Bireuen melalui kerjasama pinjam pakai yang akan ditandatangani oleh masing-masing Sekretaris Daerah. Turut hadir juga pada rapat pembahasan ini, pejabat dari Bappeda Bireuen, BPKAD Bireuen, dan Penjabat Aset BPKA. (AM)

Dishub Aceh dan Pemkab Bener Meriah Diskusi Pembangunan Transportasi

BANDA ACEH – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal menyambut kunjungan silaturrahmi Penjabat (Pj) Bupati Bener Meriah, Haili Yoga bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bener Meriah di Aula Dishub Aceh, Kamis, 11 Agustus 2022. Melalui pertemuan ini, kedua belah pihak berdiskusi cukup hangat terkait pembangunan sektor perhubungan di wilayah Bener Meriah. Pada kesempatan tersebut, Faisal menyampaikan bahwa transportasi merupakan sektor penting yang menggerakkan aktivitas masyarakat di semua lini, mulai dari perekonomian hingga pariwisata. “Transportasi ini kalau kita analogikan seperti anatomi tubuh, dia semacam urat yang mengalirkan darah ke jantung, ginjal, dan organ tubuh lainnya,” ujar Faisal. Oleh karena itu, tambah Faisal, konsolidasi dan koordinasi dengan berbagai sektor penting untuk dilakukan supaya pembangunan daerah berjalan dengan baik. Selain itu, Faisal juga menyinggung terkait keberadaan Terminal Tipe B Bener Meriah yang berada di bawah kewenangan Dishub Aceh. Konsep terminal dewasa ini, tambahnya, lebih cenderung menyerupai rest area. Ia berharap ada investor atau pelaku usaha yang beraktivitas di Terminal Tipe B Bener Meriah. Sehingga tumbuh sentra ekonomi baru di area terminal dan sekitarnya. “Kita juga baru saja bertemu dengan para Direktur Perusahaan Otobus (PO) angkutan umum supaya loket-loket penjualan tiket mereka dipindahkan ke Terminal, supaya fungsi terminal berjalan sebagaimana semestinya,” tutur Faisal. Sementara itu, Pj Bupati Bener Meriah, Haili Yoga menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan yang luar biasa dari Dishub Aceh. Ia juga mengapresiasi atas kepedulian Dishub Aceh terhadap pembangunan sektor transportasi di Bener Meriah selama ini, salah satunya bantuan operasional bus saat pelaksanaan MTQ di Bener Meriah beberapa waktu yang lalu. Haili mengungkapkan, saat ini komoditi unggulan Bener Meriah, seperti kopi, koka, dan durian, yang diangkut ke Pulau Jawa dan Medan belum menyumbangkan insentif bagi pembangunan daerah karena tidak tercatat sebagai hasil daerah Bener Meriah. Padahal, kata Haili, devisa yang dihasilkan dari komoditi itu hampir 3 trilun per tahun. “Ini kebutuhan sebuah daerah atau kawasan, sehingga dryport sangat dibutuhkan oleh masyarakat Bener Meriah agar komoditi yang keluar dari sana tercatat sebagai devisa Bener Meriah,” ungkap Haili. Di samping itu, Haili juga bersyukur saat ini sudah terbangun terminal kargo di Bandara Rembele Bener Meriah. Sehingga para pelaku usaha di Bener Meriah dapat mengirimkan barang mereka dari bandara tersebut. “Ini salah satu bentuk kebutuhan Bener Meriah agar menjadi insentif bagi daerah penghasil komoditi,” tambahnya. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah I Aceh, yang diwakili Kasi Sarana dan Prasarana, Fahni Mauludi. Ia menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung pembangunan sektor transportasi termasuk penyediaan fasilitas keselamatan jalan pada ruas jalan nasional yang ada di wilayah Bener Meriah. Fahni juga menyarankan agar Pemkab Bener Meriah mengusulkan pelayanan angkutan darat perintis bila terdapat wilayah yang membutuhkan pelayanan angkutan perintis di Bener Meriah. (AM)