Dishub

190 Petugas Angkasa Pura II Bandara SIM Divaksin Covid-19

Sebanyak 190 karyawan dan pekerja transportasi publik PT. Angkasa Pura II Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda menerima vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Banda Aceh, Senin (22/3/2021). Vaksinasi bagi pekerja transportasi udara ini berlangsung hingga Rabu, 24 Maret 2021. Vaksinasi ini diwajibkan kepada seluruh pekerja di bawah Angkasa Pura II Bandara SIM. Bagi karyawan yang memiliki riwayat kesehatan, sebagaimana yang ditentukan dalam aturan penerima vaksin, tetap wajib hadir di rumah sakit untuk melaksanakan konsultasi dengan tim vaksinasi. Pemberian vaksin Covid-19 kepada petugas bandara ini sangat penting, karena mereka berinteraksi dengan banyak orang setiap harinya. Diharapkan, dengan pemberian vaksin ini, mampu memberi rasa percaya diri bagi petugas itu sendiri, dan bagi pengguna jasa transportasi udara di Bandara SIM. (AM)

KMP. Aceh Hebat 1 Bawa 67 Penumpang

Layanan transportasi penyeberangan pada lintasan Calang – Sinabang terus beroperasi guna memastikan pergerakan orang dan barang dari dan ke Kabupaten Simeulue berjalan lancar. Hal tersebut terlihat dari keberangkatan KMP Aceh Hebat 1 dari Pelabuhan Penyeberangan Sinabang pada Minggu malam kemarin (21/3) dengan membawa 67 penumpang dan 21 unit kendaraan. Kapal tiba di Pelabuhan Calang, Aceh Jaya pada Senin pagi, 22 Maret 2021. Hari ini, KMP Aceh Hebat 1 telah berangkat kembali menuju Sinabang pada pukul 17.00 WIB dengan mengangkut 83 penumpang dan 23 unit kendaraan. Berdasarkan laporan BMKG Aceh, tinggi gelombang pada wilayah perairan Barat Selatan Aceh pada hari ini sekitar 1,25 – 2,50 meter.

Kemenhub Koordinasikan Langkah Antisipasi Mudik Lebaran Tahun Ini Dengan Satgas Covid-19

Kementerian Perhubungan segera mengkoordinasikan langkah antisipasi Mudik Lebaran Tahun 2021 dengan Satgas Covid-19. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka mencegah dan memutus penyebaran covid-19 yang masih melanda Indonesia. “Kemenhub tidak bisa melarang atau mengijinkan mudik, karena harus dikoordinasikan dengan Kementerian/Lembaga terkait dan Satgas Covid 19, yang nanti akan memberikan arahannya,” kata Menhub saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI, di Jakarta, Selasa (16/3). Menhub mengatakan, dalam rangka mengantisipasi adanya lonjakan penumpang pada masa mudik lebaran tahun ini, akan menerapkan protokol kesehatan dan tracing secara ketat kepada masyarakat yang bepergian. Menhub menjelaskan, tengah mengkonsultasikan dengan pihak-pihak terkait untuk memperketat syarat perjalanan, yaitu dengan mempersingkat masa berlaku alat skrining (penyaringan) covid 19 seperti : GeNose, Rapid Test, atau PCR Test. Penerapan protokol kesehatan lainnya yang juga akan diperketat seperti : memakai masker, melaksanakan jaga jarak, melakukan disinfektasi prasarana/sarana, pemberlakuan pembatasan penumpang dan pengaturan jadwal layanan. Lebih lanjut Menhub mengungkapkan, telah bekerja sama dengan media nasional untuk melakukan survey nasional tentang potensi pemudik pada masa Lebaran Tahun 2021 yang akan menjadi rekomendasi pelaksanaan Angkutan Lebaran tahun ini. Sementara itu, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mengatakan, dalam rangka persiapan menjelang masa mudik lebaran tahun 2021, meminta Kemenhub untuk melakukan sejumlah langkah yaitu : mengantisipasi lonjakan penumpang dan konsistensi pengawasan protokol kesehatan; melakukan pengawasan kelaikan sarana dan prasarana transportasi berupa inspeksi terhadap personil, ramp check sarana transportasi, ketersediaan peralatan keselamatan, dan SOP pelayanan dan keselamatan; meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait mengenai penyediaan fasilitas alat tes covid-19 yang terjangkau dan akurat dan mendorong penggunaan GeNose di setiap simpul transportasi. (LKW/RDL/LA/JD)   Biro Komunikasi dan Informasi Publik Sumber : Kemenhub Koordinasikan Langkah Antisipasi Mudik Lebaran Tahun Ini Dengan Satgas Covid-19 (dephub.go.id)

54 Pilot Drone Aceh Ikuti Sertifikasi Penerbangan

Sebanyak 54 pilot drone mengikuti pelatihan dan sertifikasi BRP (Basic Remote Pilot) yang diselanggarakan oleh Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) dan TNI Angkatan Udara di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Sabtu (20/3). Pelatihan selama 2 hari ini dibuka oleh Danlanud SIM, Kolonel Pnb Henri Ahmad Badawi. Drone merupakan produk teknologi tinggi yang memberi manfaat sebagai solusi praktis dalam kegiatan di lokasi yang berbahaya dan berisiko. Sehingga perlu dilakukan sertifikasi pilot guna untuk meningkatkan keamanan, dan menata potensi kedirgantaraan yang ada di Aceh. Peserta yang mengikuti pelatihan ini berasal dari berbagai kalangan, di seperti militer, ASN, pewarta, dan pelajar. Perlu diketahui, sertifikasi ini merupakan terlengkap yang ada di Asia karena berada di bawah bimbingan TNI Angkatan Udara. (AM/MD)

Dalam Sehari, KMP. Aceh Hebat 3 Bawa 96 Penumpang

KMP. Aceh Hebat 3 telah bertolak dari Pelabuhan Penyeberangan Pulau Banyak menuju Pelabuhan Penyeberangan Singkil pagi ini, Jumat (19/3/2021). Pada pelayaran ini, kapal membawa 7 penumpang dan 1 mobil. Di hari yang sama, pada siangnya sebanyak 89 penumpang, 3 sepeda motor dan 1 mobil barang yang menaiki KMP. Aceh Hebat 3 telah berangkat dari Pelabuhan Penyeberangan Aceh Singkil menuju Pelabuhan Penyeberangan Pulau Banyak, Aceh Singkil pada pukul 14.30 WIB. Berdasarkan informasi yang diterima dari PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Singkil, alur gelombang dan cuaca di pelabuhan ini cenderung aman untuk dilayari kapal. Informasi yang disampaikan BMKG Aceh, prakiraan tinggi gelombang perairan pada hari ini untuk wilayah Barat Selatan Aceh dari 0,2 meter hingga 1,5 meter. Sehingga diharapkan mampu menambah kenyamanan bagi penumpang baik yang berwisata maupun aktivitas lainnya. Seperti diberitakan sebelumnya, KMP. Aceh Hebat 3 telah memulai pelayaran perdananya pada Selasa (9/3/2021). Di hari bersejarah itu, KMP. Aceh Hebat 3 membawa sebanyak 36 penumpang, 4 truk besar, dan 5 sepeda motor. Capt. Laode Mat Salim ditunjuk sebagai kapten KMP Aceh Hebat 3 oleh PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Singkil selaku operator kapal yang membawai 18 ABK dan menempuh perjalanan selama lebih kurang 4 jam. KMP. Aceh Hebat 3 hadir untuk meningkatkan pariwisata ke Pulau Banyak, menguatkan iklim ekonomi, dan investasi. Masyarakat yang ingin menuju ke Pulau Banyak, dapat memantau jadwal kapal di akun media sosial Dishub Aceh, baik di Instagram, Facebook, dan Twitter yang diposting setiap harinya. Tonton Video Destinasi Wisata Pulau Panjang, Pulau Banyak https://www.youtube.com/watch?v=2FYAvOE5iZE Selain melayani pelayaran dalam provinsi Aceh, Pelabuhan Penyeberangan Singkil juga melayani pelayaran menuju Pelabuhan Penyeberangan Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara. Bagi masyarakat yang ingin ke sana dapat menaiki KMP. Wira Mutiara. (MR)  

Arus Gelombang Laut Tinggi, Komponen Rampdoor KMP. Aceh Hebat 1 Perlu Perbaikan

Keberangkatan KMP Aceh Hebat 1 dari Pelabuhan Calang menuju Sinabang yang dijadwalkan pada hari Rabu, 17 Maret 2021 ditunda karena alasan teknis. Berdasarkan data dari BMKG yang dirillis tanggal 17 Maret 2021 tinggi gelombang di Barat – Selatan Aceh dapat mencapai 2,5 meter dengan potensi hujan dan angin kencang kategori 4 yang berbahaya untuk transportasi. Rampdoor kapal Aceh Hebat 1 mengalami kerusakan pada saat merapat ke dermaga di Pelabuhan Calang karena kondisi cuaca. Berdasarkan hasil koordinasi Dishub Aceh dengan General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Singkil, Andi M Harun menyampaikan bahwa panel pengait rampdoor mengalami kerusakan akibat arus dan gelombang di dermaga Calang. Benturan dan gesekan dengan dermaga pada saat sandar mengakibatkan kerusakan komponen panel pengait pada rampdoor.   Hari ini, Kamis (18/3), ASDP selaku operator kapal sedang memperbaiki kerusakan tersebut. Proses maintenance ini membutuhkan beberapa waktu karena komponen yang diperlukan tidak tersedia di Calang. Kebutuhan komponen perlu disupply dari Banda Aceh dan selanjutnya akan dilakukan perbaikan. “Kita juga akan menyiapkan beberapa komponen cadangan untuk mengantisipasi apabila terjadi kerusakan ke depan,” sambung Andi. Mengantisipasi kerusakan rampdoor ke depannya, ASDP telah menginstruksikan kepada Nahkoda untuk merapat dengan buritan saat bersandar di dermaga Pelabuhan Calang karena KMP Aceh Hebat 1 menggunakan teknologi bow visor pada bagian haluan sangat berpotensi mengalami kerusakan bila terjadi gelombang dan angin kencang. Sedangkan saat merapat di Pelabuhan Penyeberangan Sinabang, akan tetap menggunakan haluan kapal karena masih aman. (AM)

SELEKSI CALON PENERIMA BEASISWA PEMERINTAH ACEH TA 2021

Dalam rangka mewujudkan program Aceh Carong, Pemerintah Aceh melalui BPSDM Aceh membuka kesempatan bagi putra/putri Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan dengan memperoleh beasiswa dari Pemerintah Aceh. info selengkapnya dapat diakses pada : BPSDM Aceh | Berita SELEKSI CALON PENERIMA BEASISWA PEMERINTAH ACEH TA 2021 (acehprov.go.id)

Dorong Peningkatan Keselamatan Transportasi, Kemenhub Luncurkan Kampanye Kolaboratif Yuk Selamat Bersama

Jakarta – Kementerian Perhubungan meluncurkan kampanye kolaboratif “Yuk Selamat Bersama” dalam rangka mengedukasi insan transportasi dan masyarakat akan pentingnya menjaga keselamatan dalam bertransportasi. Peluncuran kampanye keselamatan ini dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara virtual, di Jakarta, Rabu (17/3). “Keselamatan merupakan muara utama dalam sebuah penyelenggaraan transportasi.Untuk itu perlu langkah, komitmen, dan kolaborasi yang baik antar pemangku kepentingan, untuk mewujudkan kemajuan dan peningkatan keselamatan transportasi di Indonesia,” kata Menhub. Menhub mengatakan, terus mendorong para pelaku di sektor transportasi untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam upaya meningkatkan keselamatan transportasi. Menhub juga menginstruksikan jajarannya untuk selalu konsisten mengedepankan keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas melayani masyarakat serta menjadi pelopor keselamatan bertransportasi. Dalam peluncuran kampanye keselamatan, Kemenhub menyelenggarakan dialog publik yang menghadirkan sejumlah narasumber seperti : Sekretaris Jenderal Kemenhub Djoko Sasino, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Soerjanto Tjahjono, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia Harya S. Dillon, dan pesepeda Nirina Zubir. Pada kesempatan tersebut, Sesjen Kemenhub Djoko Sasono mengatakan, kegiatan kampanye ini merupakan bagian dari upaya Kemenhub untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga aspek keselamatan dalam bertransportasi. “Semua orang butuh selamat. Maka kita semua harus komit untuk menjaga keselamatan diri kita dan orang lain. Untuk itu Kemenhub perlu mengawal untuk itu,” ucap Sesjen. Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan, semua pihak memiliki peran penting untuk menjaga keselamatan. “Misalnya, para pemilik hotel atau tempat wisata bisa menyediakan tempat yang layak bagi para pengemudi bus untuk beristirahat. Karena banyak kecelakaan yang disebabkan karena kelelahan pengemudi,” tuturnya. Selanjutnya, pesepeda yang juga selebriti Nirina Zubir mengatakan, kesadaran akan keselamatan harus dimulai dari diri sendiri dan tentunya harus memahami aturan-aturan terkait keselamatan. “Saya sebagai pesepeda harus tahu dan paham aturan-aturan dalam bersepeda. Kalau kita disiplin, Insha Allah bisa terhindar dari kecelakaan. Kalau ada yang mengatakan kesehatan itu mahal, maka keselamatan juga sama mahalnya,” ujar Nirina. Kampanye kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor transportasi ini dilakukan mulai Maret 2021 sampai dengan 31 Mei 2021 Turut hadir pada acara launching Kampanye Keselamatan Bertransportasi sejumlah akademisi, dan sejumlah pejabat terkait. (Sumber: Kemenhub RI)

Bus Listrik : Perkiraan Penurunan Emisi dan Biaya Operasional Trans Koetaradja

Peningkatan volume kendaraan yang begitu cepat terlihat dari penyebaran titik-titik kemacetan yang yang semakin banyak di wilayah perkotaan Banda Aceh. Kebutuhan akan angkutan umum pun menjadi prioritas pemerintah dalam mengurai angka kemacetan. Lahirlah Trans Koetaradja yang mulai beroperasi sejak Tahun 2017, mahasiswa dan pelajar menjadi sasaran utama penumpang setia Trans Koetaradja, hal ini juga tentu untuk menurunkan angka kecelakaan bagi pelajar. Awal beroperasi pada Tahun 2017, Trans Koetaradja melayani tiga koridor, yaitu koridor 1 (Masjid Raya Baiturrahman –Darussalam), koridor 2A (Masjid Raya Baiturrahman – Batoh – Blang Bintang), dan Koridor 2B (Masjid Raya Baiturrahman – Ulee Lheue) dengan 22 armada. Pada tahun berikutnya di Tahun 2018, Kementerian Perhubungan memberikan bantuan 8 unit bus dan pada Tahun 2019 ditambah lagi dengan 10 unit bus. Pengguna jasa angkutan umum perkotaan Banda Aceh atau Trans Koetaradja pada tahun 2017 mencapai satu juta dua ratus ribu lebih penumpang dan pada tahun 2018 mencapai 4 juta penumpang serta pada Tahun 2019 meningkat menjadi empat juta dua ratus lima puluh ribu lebih penumpang. Namun ada cerita yang berbeda di Tahun 2020, pandemi corona menyerang secara global, penurunan penumpang yang sangat signifikan hingga 72,4 persen dari hari yang normal sebelum pandemi. Adaptasi pada masa new normal, memaksa Trans Koetaradja memangkas lima puluh persen muatan yang tersedia untuk menjaga protokol kesehatan, hal ini tentu sangat berpengaruh pada jumlah pengguna si Bus Biru ini, enam ratus enam puluh ribu lebih penumpang, berarti turun mencapai 84 persen dari tahun 2020. Ini merupakan angka yang sungguh dramatis. Sejauh ini, Trans Koetaradja memang belum melayani seluruh kawasan perkotaan Banda Aceh, masih ada kawasan pemukiman warga dan pusat kegiatan seperti sekolah, pasar, perkantoran yang belum dilewati oleh Trans Koetaradja. Dari hasil survey langsung ke lapangan beberapa waktu lalu pun mengutarakan keinginan masyarakat agar Trans Koetaradja melayani hingga ke titik rumah dan tempat kerja yang berjarak dari koridor utama. Oleh karena itu, Dinas Perhubungan Aceh yang mengurusi bidang transportasi mencanangkan feeder Trans Koetaradja dengan enam rute feeder prioritas yang akan dilayani pada tahun ini. Feeder ini nantinya akan dilayani oleh Bus Listrik sebagai upaya mengurangi emisi yang telah banyak disumbang oleh sarana transportasi selama ini. Adapun rute prioritas feeder yaitu yaitu Kawasan Darussalam dengan panjang rute 4,61 kilometer, Lampineung – Pango dengan panjang rute 9,17 kilometer, Lamdingin dengan panjang rute 7,8 kilometer, Ulee Lheue – Simpang Rima dengan panjang rute 9,90 kilometer, dan Simpang Rima – Simpang Tiga (PU) dengan panjang rute 9,15 kilometer. Di samping peningkatan pelayanan kebutuhan mobilitas masyarakat, tentu harus sejalan dengan penjagaan lingkungan. Dengan itu, bus listrik menjadi pelopor transportasi yang ramah lingkungan. Menindaklanjuti pemanfaatan bus listrik sebagai feeder nantinya, dilakukan uji coba sejak tanggal 13 Januari sampai dengan 5 Februari 2021 pada rute prioritas yang telah ditetapkan untuk melihat kendala dan kebutuhan titik bus stop. Dari hasil uji coba bus listrik pada lima rute prioritas tersebut bahwa rata-rata jarak tempuh mencapai 141,6 kilometer menghabiskan daya listrik sebesar 74,16 Kwh, artinya hanya 53 persen baterai yang terpakai. Pengisian daya listrik pada bus rata-rata selama tiga jam dengan kecepatan rata-rata pengisian sebesar 0,43 Kwh/menit untuk satu bus. Sederet uji coba yang dilakukan, namun apa pengaruhnya terhadap pengurangan gas buang (Co2) kendaraan bermotor? Operasional bus yang berdaya listrik ini tidak menghasilkan asap knalpot, karena tidak terjadi pembakaran untuk menggerakkan mesin penggerak. Hal ini berbeda dengan kendaraan diesel yang membutuhkan proses pembakaran untuk menjalankan kendaraan. Faktanya hampir seluruh kegiatan manusia berkontribusi terhadap kenaikan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Hal ini terjadi karena sebagian besar aktivitas manusia membutuhkan sumber energi yang saat ini sebagian besar masih berasal dari bahan bakar fosil seperti; minyak bumi, gas alam dan batubara serta ekstraksi sumber daya alam lainnya. Pembakaran bahan bakar fossil untuk memenuhi kebutuhan energi manusia dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari berkontribusi terhadap hampir 2/3 emisi gas rumah kaca yang diproduksi secara global. Dengan asumsi perhitungan jejak karbon oleh Institute for Essential Services Reform (IESR), apabila mengendarai mobil yang berbahan bakar bensin atau solar (yang merupakan energi yang tidak terbarukan) dari satu tempat ke tempat lain, maka aktivitas ini akan menghasilkan emisi CO2 dalam jumlah tertentu. Perjalanan sejauh 1 km akan menghasilkan emisi sebanyak 0,2 kilogram CO2. Penggunaan energi listrik untuk keperluaan sehari-hari misalnya penerangan, menggerakan atau menyalakan perangkat pribadi (notebook, HP, PDA, dsb.) dapat memproduksi emisi CO2 yang bersumber dari pembakaran bahan bakar fossil di pembangkit listrik. Untuk setiap penggunaan lampu berdaya 10 Watt yang dinyalakan selama 1 jam, maka CO2 yang dihasilkan adalah 9,51 gram. Berdasarkan asumsi dan perbandingan terhadap penumpang kendaraan roda empat, maka bus listrik ini diasumsikan dapat mengurangi emisi dengan rata-rata sebesar 28,32 Kg.Co2/Km per hari dari lima rute prioritas yang diuji coba. Jika dibandingkan dengan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Bus Trans Koetaradja Konvensional (diesel) dengan penggunaan listrik mencapai Rp. 457,- per kilometer per hari dengan asumsi biaya listrik per Kwh sebesar Rp. 1.400,-. Jika dalam perhitungan kasar, dalam setahun operasional bus ini menghemat sebesar Rp. 166.805,- per kilometer. Selama masa uji coba, ada kendala-kendala yang masih perlu penyempurnaan. Seperti halnya, rekayasa lalu lintas pada titik U-Turn yang menghalangi proses manuver bus pada jam-jam puncak seperti pada Simpang Jambo Tape. Lain halnya pada Simpang Rima, olah gerak bus pada simpang yang bercabang ini tidak safety akibat dari geometrik jalan yang melengkung dan jarak pandang yang sangat pendek. Begitu juga dengan kebutuhan titik henti (bus stop) yang perlu ditambah akibat jarak antar pemberhentian yang relatif jauh. Selama 25 hari masa uji coba bus listrik yang dilakukan pada lima rute feeder yang telah direncanakan, UPTD Trans Koetaradja terus memantau perkembangan dan melakukan evaluasi setiap uji coba. Pantauan yang dilakukan pun berlangsung tiap harinya. Dari uji coba ini pun masih banyak kekurangan, sehingga Dinas Perhubungan Aceh terus berusaha melakukan penyempurnaan agar pada saat operasional nantinya pelayanan lebih optimal dan masyarakat mendapatkan transportasi yang aman dan nyaman. Implikasi yang terjadi dari kenyataan ini adalah “peningkatan kualitas udara” perkotaan Banda Aceh yang kian sarat dengan angka kemacetan. Sehubungan dengan keuntungan sekunder lebih jauh, merinci tiga hal yang akan diperoleh bila ada peningkatan aksesibilitas, yaitu; (1) pengurangan emisi gas buang, (2) pengurangan usaha atau nilai ekonomi

Dialog Suara Publik : KMP. Aceh Hebat Akselerator Ekonomi Aceh

Semaraknya isu yang merebak terkait KMP Aceh Hebat belakangan ini, TVRI Aceh dalam program acara Dialog Suara Publik mengangkat pembahasan akankah KMP Aceh Hebat mampu membebaskan daerah-daerah yang selama ini dianggap terisolir dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat? Acara yang dipandu oleh M. Syuib Hamid berlangsung secara live dari studio TVRI Aceh dengan mengundang para pakar yang berkompeten di bidangnya. Hadir Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Junaidi Ali, S.T., M.T., Ketua Fraksi Partai Gerindra yang merupakan anggota Komisi IV DPR Aceh, Drs. H. Abdurrahman Ahmad, GM PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Syamsuddin, S.E., dan pengamat transportasi sekaligus Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Sofyan M. Saleh. Dalam acara yang mengusung tema “KMP. Aceh Hebat, Akselerator Ekonomi Aceh”, Junaidi menjelaskan pertimbangan dan gagasan awal terhadap kebutuhan pembangunan kapal ini. “Melihat pada tren pertumbuhan penumpang dari masing-masing pelabuhan ada perhitungan pertumbuhan penumpang dan barang logistik harus dipenuhi, selama ini jika terjadi cuaca buruk dan puncak penumpang maupun barang sering kali menyebabkan antrian di pelabuhan. Hal ini akan berpengaruh sekali terhadap ekonomi masyarakat, dampak terhadap fluktuasi harga pokok sehingga banyak usaha yang merugi, karena inilah kita memulai menggagas pembangunan kapal ini, tentu saja dengan persetujuan anggaran melalui DPR Aceh,” jelas Junaidi. Penambahan armada KMP Aceh Hebat merupakan upaya pengembangan wilayah, jaminan ketersediaan sarana dan kepastian jadwal transportasi sangat berpengaruh pada pengembangan pariwisata, perikanan dan sector-sektor lain sebagai salah satu faktor utama yang mengundang para pelaku usaha dalam mengembangkan potensi wilayah, ada banyak pesona Aceh yang belum terekspos. DPR Aceh juga menerima masukan-masukan dari masyarakat melalui wakil rakyat di masing-masing kabupaten/kota. Dalam hal pembangunan kapal, masyarakat Sabang dan Sinabang beraudiensi dalam rapat kerja untuk adanya penambahan kapal karena pada kondisi puncak seperti momen lebaran, mereka selalu tidak dapat terlayani kebutuhan akan transportasi. “Banyak masyarakat dan kebutuhan logistik kepulauan yang tidak bisa terangkut pada saat tertentu. Dengan adanya penambahan kapal ini mempercepat pergerakan orang dan barang. Masukan yang seperti inilah yang sering kami terima dari masyarakat,” ujar Abdurrahman. Pada Tahun 2018, Dinas Perhubungan Aceh berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) mengajukan usulan pembangunan kapal untuk melayani Sabang dan Simeulue yang didiskusikan bersama DPR Aceh. “Kami komisi IV pun tidak keberatan, bahkan pada waktu itu juga disampaikan jika Singkil butuh satu kapal lagi, sehingga menimbang kebutuhan tersebut, alangkah baiknya kita punya kapal sendiri agar terjadinya kontak dagang antara Pulau Banyak dengan daratan Singkil dan Subulussalam dalam konteks pertumbuhan ekonomi,” tambahnya lagi. Selaku operator angkutan penyeberangan, General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Syamsuddin menyampaikan bahwa KMP Aceh Hebat adalah kapal yang cukup bagus, speed-nya cukup tinggi sehingga waktu tempuhnya jadi terpangkas. Khususnya Sabang, biasanya kita menempuh dengan waktu 1 jam 40 menit, sekarang bisa lebih cepat 20 menit karena top speed operasionalnya bisa mencapai 13 knot. Ini telah menjadi kapal pilihan untuk tujuan pariwisata ke Sabang, animo masyarakat pun cukup tinggi serta sesuatu yang baru dan kami selaku operator berusaha maksimal untuk terus merawat dan menjaga agar kapal ini menjadi akselerator pembangunan ekonomi Aceh. Pengamat transportasi dari Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Prof. Sofyan M. Saleh memberikan tanggapan program pembangunan KMP. Aceh Hebat 1, 2 dan 3. “Sebenarnya, sebulan lalu saya ada juga dimintai tanggapan tentang KMP Aceh Hebat di salah satu laman berita daerah, jadi saya katakan, mengapa tidak dari 20 tahun lalu, artinya hal ini sangat bagus daripada kita tidak punya sama sekali, ini merupakan tahap awal dalam menarik minat pelaku usaha di Aceh,” jelas Prof. Sofyan. Tantangan ke depan dalam pengembangan transportasi Aceh, Prof. Sofyan menyampaikan perlunya kontinuitas dari frekuensi pelayaran yang mampu menyediakan (supply) untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan perjalanan (demand) yang semakin meningkat. Selanjutnya, bagaimana keterlibatan masyarakat terutama UMKM dalam menyikapi adanya pelayanan kapal yang sudah tersedia, apabila terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisata, maka masyarakat perlu menyiapkan kuliner, kerajinan tangan (souvenir) sehingga masyarakat tidak hanya sebagai penonton. (MS)