Dishub

ASN Cerdas Berbahasa Tangkas

Bahasa telah menjadi kebutuhan yang mutlak dalam kehidupan. Apa jadinya manusia tanpa bahasa? tanpa bahasa, kita akan sangat sulit menyampaikan informasi dan apa yang menjadi keinginan maupun harapannya. Apalagi, bahasa yang disampaikan harus mudah dipahami. Bahasa yang baik dan benar menunjukkan identitas suatu bangsa. Begitu pula pada tataran pemerintahan, informasi dan kebijakan yang disampaikan kepada masyarakat mudah dipahami dan tidak menimbulkan makna yang ambigu. Apalagi kebijakan yang dikeluarkan menjadi referensi yang akan menuai respon masyarakat. Guna mencapai kompetensi berbahasa yang ideal, Dinas Perhubungan Aceh menyelenggarakan Webinar yang bertemakan “ASN Dihub Terampil dan Carong : ASN Cerdas Berbahasa Tangkas” secara daring, Kamis, 29 Juli 2021. Kegiatan ini diisi oleh sang pemantik diskusi yang berkompeten di bidang bahasa yang telah menerbitkan beberapa buku karyanya. Hadir Herman R, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP USK. “Senang membaca agar mengenal dunia, suka menulis agar dikenal dunia,” sebut Herman yang menjadi mottonya menulis. Herman menambahkan, bahasa yang digunakan dalam kepenulisan seperti surat menunjukkan identitas instansi. Ilmu kepenulisan Bahasa Indonesia yang ideal, kontekstual dan tangkas sesuai situasi dan kondisi harus menjadi suatu kompetensi bagi setiap Aparatur Sipil Negara (ASN). Mengapa demikian? Karena, ASN bertanggungjawab menyampaikan informasi yang benar dan akurat terkait kinerja pemerintahan sehingga masyarakat mengosumsi informasi yang benar adanya. “ASN yang cerdas harus berbahasa tangkas, berarti mengetahui kapan harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang disampaikan sesuai konteks, misalnya dalam penulisan surat dinas harus menggunakan bahasa formal yang baik dan benar,” jelas dosen yang pernah mengajar di Thailand ini. Bahasa merupakan cermin budaya. Karena dari sebuah tutur akan memberikan nilai karakteristik sebuah bangsa. Contohnya saja, ketika bangsa ini dianggap jam karet oleh bangsa luar. Ini karena dari penuturan bahasa kita, kita sering menyematkan janji dalam sebuah makna yang super luas. “Pajan tanyoe jak merumpok pak geuchik?” (Kapan kita bertemu dengan Kepala Desa?), jawab lainnya “Singoh beungoh” (Besok Pagi). Dalam konteks bahasa ini, Singoh Beungoh ini dapat berarti besok pagi, menjelang siang atau bahkan usai dhuhur, lebih bermakna luas yakni waktu yang fleksibel untuk satu harian. Namun, jika dalam bahasa Inggris, penempatan keterangan waktu sangatlah jelas. Misalnya, I buy the book today dengan kata I bought the book yesterday, menerangkan waktu hari ini dan kemarin secara tegas. Inilah yang dimaknai bahasa cermin budaya. Sebagai masyarakat dan ASN khususnya, berbahasa yang baik dan benar sesuai konteks akan mempermudah masyarakat menyerapkan informasi secara konkrit dan aktual, sehingga tidak menimbulkan respon yang provokit dalam penafsiran yang makna yang ambigu atau berbeda-beda. (MS)

Pelabuhan Balohan Sebagai Pintu Gerbang Pariwisata

Keberadaan pelabuhan penyeberangan yang representatif menjadi syarat utama untuk memajukan wilayah kepulauan. Pelabuhan merupakan prasarana utama untuk mendukung perputaran roda perekonomian pada tiap kawasan di Aceh yang terpisah oleh laut. Jika dilihat dari potensi, Sabang memiliki banyak hal yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan. Di antaranya adalah fasilitas yang dapat mengoptimalkan potensi sekaligus mendatangkan penghasilan dan keuntungan bagi kawasan. Revitalitasi Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang dilakukan mengingat kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi. Kondisi pelabuhan semrawut dan sangat sempit, dengan infrastruktur dan areal parkir yang terbatas. Infrastruktur Pelabuhan Penyeberangan Balohan yang telah diredesain menjadi public area, yang dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh pengguna jasa pelabuhan, juga seluruh masyarakat Sabang. Proyek ini meliputi pembangunan Gedung Kapal Lambat, Pembangunan Gedung Kapal Cepat, Pembangunan Gedung Souvenir dan Kafetaria, Jembatan Moveable Bridge (MB) untuk kapal lambat, pemancangan sheet pile, jembatan tipe A dan jembatan tipe B, jembatan tipe C, serta reklamasi dan pemagaran pada areal pelabuhan seluas 4,5 hektare. Pembangunan pelabuhan ini menggunakan anggaran APBN melalui Multiyers Contract Tiga Tahun sejak tahun 2017 sampai tahun 2019. Revitalisasi ini seharusnya telah rampung pada tahun 2019 bila pengerjaan dimulai dari tahun 2017. Namun, dikarenakan pengerjaan dimulai pada pertengahan tahun 2018, maka waktu pengerjaannya ditambah hingga tahun 2020. Upaya ini sejatinya memiliki tiga tujuan. Yaitu, sebagai upaya meningkatkan standar keamanan dan kenyamanan Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang, memberikan image positif untuk Kota Sabang sebagai kawasan wisata dengan bangunan publik yang memiliki standar pelayanan yang baik. Terakhir, untuk memberikan alternatif pilihan yang lebih banyak bagi para penumpang atau pengunjung Pelabuhan Penyeberangan Balohan. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Sabang melakukan rapat bersama Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh serta Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) terkait pengelolaan Pelabuhan Balohan. Pemkot Sabang menyatakan kesiapannya dalam mengelola Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang sebagai upaya meningkatkan pelayanan publik. Transportasi ke Sabang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI telah menetapkan Kota Sabang sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pada tahun 2011. Oleh karena itu, hal utama yang perlu dibenahi adalah transportasi penyeberangan pada lintasan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang), begitu juga sebaliknya. Transportasi penyeberangan pada lintasan ini dilayani oleh dua jenis angkutan penyeberangan, yaitu Kapal Motor Express dan Kapal Ferry. Kapal Motor Express atau lebih familiar dengan sebutan “kapal cepat” dioperasikan oleh dua perusahaan swasta dengan armada KM Express Bahari dan MV Putri Anggreni, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kedua operator transportasi penyeberangan tersebut hanya melayani penumpang saja. Sedangkan Kapal Ferry, lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan “kapal lambat”, dioperasikan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh. Perusahaan milik Negara ini mengoperasikan 2 armada penyeberangan, yaitu KMP BRR dan KMP Aceh Hebat 2, yang melayani angkutan penumpang dan kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. KMP Aceh Hebat 2 yang berkapasitas 1186 GT tersebut baru hadir pada akhir Tahun 2020. Kapal ini lebih besar dari KMP BRR yang sedang beroperasi saat ini, sekaligus menjadi penyemangat sektor pariwisata Sabang. Kedua kapal ferry tersebut diproyeksikan untuk memperlancar transportasi penyeberangan Ulee Lheue – Balohan yang sebelumnya kerap terkendala karena keterbatasan kapasitas kapal pada musim liburan. Menparekraf Dukung Pariwisata Sabang Pada Sabtu, 1 Mei 2021, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sandiaga Uno, melakukan kunjungan kerja ke Aceh. Sandiaga melakukan pertemuan dengan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah di Meuligoe Gubernur. Pada pertemuan tersebut, Sandiaga berharap agar pariwisata di Aceh pada masa pandemi Covid-19 tetap menerapkan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability). Agar sektor pariwisata dapat tetap menggeliat di tengah gempuran Covid-19. Saat mengunjungi destinasi wisata Pantai Teupin Layeu Sabang (2/5/2021), Sandiaga menyampaikan untuk mengambil langkah konkrit dan bergerak cepat berkoordinasi dengan beberapa investor yang potensial terutama yang berkaitan dengan penyediaan amenitas, fasilitas dan juga penyelenggaraan event. “Kita harapkan dapat mempercepat kebangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan ini, membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya,” harap pria penyuka triathlon ini. (Dewi Suswati)

Akses Mudah, Menstimulus Pertumbuhan Ekonomi

Sebuah adagium latin berbunyi “Si Vis Pacem, Para Iustitiam” yang berarti “Jika kamu mendambakan kedamaian, tegakkanlah keadilan”, menggambarkan bahwa keadilan itu merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan. Keadilan dalam membangun perekonomian, pendidikan, infrastruktur maupun trasnportasi mempunyai peran penting dalam memperkecil jurang kesenjangan dalam masyarakat terutama pada masyarakat kepulauan. KMP Aceh Hebat sebagai perwujudan keadilan transportasi bagi masyarakat kepulauan, dalam konteks pengembangan wilayah kepulauan, memainkan peran sebagai unsur penunjang (servicing), yaitu penyediaan layanan transportasi bagi masyarakat, dan memberikan kepastian layanan transportasi logistik baik pada jadwal rutin maupun hari besar keagamaan yang menjaga harga agar tetap stabil serta membantu pengendalian inflasi di wilayah kepulauan. Selain itu, KMP Aceh Hebat juga berperan sebagai unsur pendorong (promoting), yaitu sebagai penghubung wilayah kepulauan dengan pusat kegiatan wilayah di daratan yang diharapkan mampu mampu menstimulus pertumbuhan dan pengembangan potensi ekonomi wilayah kepulauan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, produksi perikanan tangkap pada Kota Sabang, Kabupaten Simeulue dan Aceh Singkil adalah 20,7 Ton dengan nilai sebesar Rp. 660,1 juta. Pada tahun yang sama, jumlah kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara pada ketiga wilayah kepulauan tersebut sebesar 760 ribu-an orang, dengan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 54 persen dari rata-rata 3 tahun terakhir.  Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa potensi ketiga wilayah kepulauan pada sektor-sektor basis perekonomian seperti perikanan dan pariwisata sangatlah besar. Selain kedua sektor tersebut, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga berpotensi menjadi basis perekonomian masyarakat kepulauan, namun ada kebutuhan dari para pelaku UMKM untuk dapat mendistribusikan produk atau hasil usaha mereka ke luar wilayah kepulauan serta dapat membeli bahan baku dengan biaya dan jadwal pengiriman yang murah dan reliabel yang harus dipenuhi. KMP Aceh Hebat memberikan kemudahan aksesibilitas serta mengakomodasi mobilitas orang/barang sebagai resultan interaksi ekonomi antar wilayah untuk mendukung sektor perikanan, pariwisata maupun UMKM dimana hal ini secara luas akan memberikan sumbangan positif pada peningkatan kinerja dan pertumbuhan ekonomi.  Kehadiran KMP Aceh Hebat diharapkan tidak hanya untuk melayani pertumbuhan ekonorni yang telah ada (ship follow the trade) namun juga dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi atau potensi ekonomi (ship promote the trade) pada wilayah kepulauan. (Arrad Iskandar) Download 

Operator Kapal Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Serahkan Bantuan CSR

Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh merupakan satu-satunya akses penyeberangan menuju Sabang. Melalui pelabuhan ini pula ribuan orang setiap harinya hilir mudik dengan berbagai tujuan. Tingginya angka kunjungan orang di pelabuhan ini juga perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan kebersihan di area pelabuhan. Sehingga pengguna jasa merasa nyaman saat berada di pelabuhan. Guna mencapai hal tersebut, tiga operator kapal penyeberangan di Pelabuhan Ulee Lheue menyerahkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Dishub Aceh berupa perlengkapan kebersihan untuk dimanfaatkan di pelabuhan, Senin (26/07/2021). Selain itu, bantuan ini juga menyahuti instruksi Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada saat meninjau pelabuhan beberapa waktu lalu. Sekdishub Aceh, T. Faisal, saat menerima bantuan CSR tersebut secara simbolis, mengapresiasi atas kepedulian operator kapal dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan penumpang di pelabuhan. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan swasta akan memberikan dampak yang begitu positif bagi pelayanan transportasi. Ditemui Tim Aceh TRANSit saat penyerahan CSR, General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Banda Aceh, Syamsuddin menyebutkan, bantuan tersebut merupakan bagian dari partisipasi ASDP untuk menghadirkan kebersihan di Pelabuhan Ulee Lheue. “Kebersihan pelabuhan menjadi tanggung jawab kita bersama. Salah satu bentuk tanggung jawab kami adalah berupa bantuan beberapa peralatan kebersihan untuk pelabuhan,” ujarnya. Pada saat yang sama, Husin Bakri, selaku Kepala Operasional PT. Putra Maju Global Indonesia (MV. Putri Anggreni) mengungkapkan, pihaknya siap berkolaborasi untuk menciptakan pelabuhan yang nyaman dan bersih bagi masyarakat. Beberapa fasilitas kebersihan yang diberikan oleh operator kapal di antaranya, tong sampah 15 unit, kipas angin 2 unit, dan tangga alumunium 1 unit dari PT. ASDP Indonesia Ferry Banda Aceh, tong sampah double 3 unit, tong sampah stainless steel 4 unit dari PT. Pelayaran Sakti Inti Makmur (Express Bahari), tong sampah 4 unit dari PT. Putra Maju Global Indonesia (MV. Putri Anggreni). Kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan pelabuhan, seperti membuang sampah pada tempatnya. Pada akhirnya, pelabuhan yang bersih juga akan menghadirkan kenyamanan bagi bersama. (AM)

Kisah Nur Laibah, Petugas Parkir Aceh Timur

Nur Laibah, ibu delapan orang anak ini merupakan salah satu juru parkir yang ada di pasar Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur. Profesi ini sudah ia lakoni sejak 10 tahun lalu. Setiap hari, ibu yang lebih akrab disapa “Kak Nur Parkir” ini berangkat dari rumahnya di Gampong Banda Alam sejak pukul 09.30 pagi. Ia menjalani pekerjaan ini hanya hingga pukul 17.00 sore. Setelahnya, ia menghabiskan waktu di rumah. Ceritanya, meski menjadi juru parkir, ia tetap menjalani tugasnya sebagai ibu bagi anak-anak. Bahkan, berkat perjuangannya sebagai seorang ibu, kini anak-anaknya sebagian sudah bekerja dan menikah. Saat ini, hanya anak terakhir yang masih menuntut ilmu pada salah satu dayah di Lhok Nibong. Kak Nur juga bercerita bahwa di antara jukir perempuan di pasar Idi Rayeuk ada yang dulunya merupakan korban konflik. Mereka berterima kasih diberi kesempatan untuk bekerja sebagai juru parkir di sini. Hal senada juga disampaikan oleh Kadishub Aceh Timur, Zulkifli yang ditemui Tim Aceh TRANSit secara terpisah. Ia menjelaskan, di antara jukir perempuan tersebut ada janda dan korban konflik yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga. Pemberdayaan perempuan sebagai jukir sudah dilakukan Dishub Aceh Timur sejak tahun 2014. “Alasannya karena perempuan lebih tahan banting, ulet dalam bekerja, lalu pelayanannya juga lebih humanis,” sebutnya. Saat ini terdapat dua kawasan di Aceh Timur yang juru parkirnya didominasi oleh perempuan, yaitu Pasar Peureulak sebanyak 17 orang dan Pasar Idi Rayeuk sebanyak 16 orang. Profesi jukir memang lazimnya dilakoni oleh kaum lelaki. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi kaum perempuan untuk ikut berperan agar tatanan lalu lintas kota menjadi lebih teratur. (AM)

Mendekati Idul Adha, KMP. Teluk Singkil Tambah Trip Pelayaran

Tepatnya pukul 17.00 WIB sebanyak 257 penumpang KMP. Teluk Singkil berangkat dari Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji menuju Pelabuhan Penyeberangan Sinabang, Sabtu (17/07/2021). Kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry ini juga membawa kendaraan golongan II sebanyak 24 unit, golongan IV penumpang sebanyak 8 unit, golongan IV barang sebanyak 5 unit, dan kendaraan golongan V sebanyak 5 unit. Meskipun tidak semua penumpang yang telah tiba di pelabuhan dapat menaiki kapal ini, pada Senin besok, pukul 17.00 WIB kapal akan kembali berlayar dari Labuhan Haji menuju Sinabang. Diimbau kepada setiap pengguna jasa penyeberangan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Informasi yang diperoleh dari petugas ASDP Cabang Singkil, KMP. Teluk Singkil tiba dengan selamat di Sinabang pada Minggu pagi (18/07/2021) pukul 05.30 WIB.

Masa PPKM Mikro, Petugas Gabungan Gencar Periksa Masyarakat di Perbatasan Aceh Tamiang-Sumut

Hingga hari ke-12 penerapan PPKM Mikro di Aceh, petugas gabungan dari berbagai instansi kabupaten/kota di wilayah perbatasan Aceh masih gencar melakukan penyekatan, Sabtu, 17 Juli 2021. Penyekatan ini menindaklanjuti instruksi Gubernur Aceh Nomor 12 Tahun 2021 tentang perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro untuk pengendalian penyebaran Covid-19 di Aceh. Pada posko penyekatan di perbatasan Aceh Tamiang misalnya, petugas memeriksa dokumen perjalanan yang disyaratkan selama masa penerapan PPKM mikro di Aceh. Selain itu, petugas juga intens melakukan sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat yang melintas di wilayah ini. Diketahui, saat ini beberapa dokumen persyaratan untuk memasuki wilayah yang sedang menerapkan PPKM mikro di antaranya, menunjukkan sertifikat vaksin atau hasil Rapid Test Antigen yang berlaku 1×24 jam, serta hasil RT-PCR yang berlaku 2×24 jam. Posko yang berlokasi di UPPKB Jembatan Timbang Seumadam ini juga menyediakan layanan vaksinasi bagi pelintas yang belum divaksin. Layanan ini tersedia setiap hari sejak pagi hingga siang hari guna mempermudah masyarakat sehingga perjalanan mereka tidak terganggu. Berdasarkan amatan Tim Aceh TRANSit di posko penyekatan Aceh Tamiang, petugas juga memeriksa jumlah penumpang yang menaiki angkutan umum Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Selama penerapan PPKM mikro, jumlah penumpang angkutan umum dibatasi hanya 50 persen dari total kapasitas kendaraan. (AM)

Pergerakan Penumpang di Terminal Tipe B Berjalan Normal

Pergerakan orang di Terminal Tipe B Aceh Barat Daya (Abdya) pada H-4 Lebaran Idul Adha masih terlihat normal, Jumat, 16 Juli 2021. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh penerapan PPKM Mikro yang masih berjalan di Aceh. Hal itu disampaikan Koordinator Terminal Tipe B Abdya, Khairunnas saat ditemui di ruangannya, Sabtu pagi (17/07/2021). Dikatakannya, semalam tercatat sebanyak 21 minibus berangkat dari terminal Blang Pidie ini. “Keberangkatan penumpang sebanyak 135 orang dengan tujuan Banda Aceh. Namun, kedatangannya hanya 5 orang penumpang dari Singkil”, sebutnya. Sementara itu, pada pagi hari hingga pukul 10.00 WIB keberangkatan penumpang dari Abdya sebanyak 10 minibus yang membawa 35 penumpang. Untuk kedatangan tercatat sebanyak 30 penumpang. Berdasarkan data dari petugas terminal, mayoritas keberangkatan dari Blang Pidie menuju Banda Aceh. Selain itu lintas trayek lainnya dengan tujuan Meulaboh, Tapaktuan, Takengon, Lhokseumawe, hingga Medan. (MR)

Jelang Idul Adha, Pelabuhan Calang Ramai Penumpang, Kuala Bubon Sebaliknya

Menjelang lebaran Idul Adha 1442 H, terlihat kepadatan penumpang yang akan berangkat dari Pelabuhan Calang menuju Pelabuhan Sinabang, Jumat (16/07/2021). Informasi yang dihimpun dari operator kapal ASDP Ferry Indonesia Cabang Singkil yang bertugas di pelabuhan ini, sebanyak 320 penumpang memakai jasa KMP. Aceh Hebat 1 menuju Simeulue. Sementara itu, untuk kendaraan golongan II (sepeda motor) sebanyak 95 unit, golongan IV (mobil) sebanyak 16 unit, dan kendaraan golongan V (truk) sebanyak 18 unit. Selama pemberlakuan PPKM Mikro, penumpang tetap diimbau untuk mematuhi protokol kesehatan. Di hari yang sama, aktivitas berbeda terpantau di Pelabuhan Penyeberangan Kuala Bubon, Meulaboh tampak sepi penumpang baik orang hingga kendaraan. Hal ini dikarenakan adanya docking tahunan KMP. Teluk Sinabang sejak pertengahan bulan lalu. Koordinator Pelabuhan Penyeberangan Kuala Bubon Meulaboh, Romi Masri yang ditemui Tim Aceh TRANSit menyebut telah menginformasikan jauh-jauh hari adanya docking kapal. “Untuk itu kita mengarahkan penumpang agar menyeberang ke Simeulue melalui Pelabuhan Calang maupun Pelabuhan Labuhan Haji,” sebutnya. Romi menambahkan, saat KMP. Teluk Sinabang docking pada tahun-tahun sebelumnya, terdapat antrian kendaraan logistik. Mereka terpaksa menunggu kapal tersebut selesai docking untuk bisa mengantarkan pasokan logistik ke Simeulue. Masa tunggu ini mengakibatkan terhambatnya distribusi logistik ke wilayah kepulauan. (MR)

Alas Kaki

Pasangan terbaik itu seperti sepatu. Bentuknya tak persis sama, namun serasi. Meski berada di posisi paling bawah dan selalu diinjaki, namun dialah yang membawa banyak orang berkeliling dunia. Bayangkan, sepasang sepatu tentara yang terus disempurnakan untuk “beradaptasi” dengan tugas dan alam yang dihadapi, barangkali warna hitam dengan ikatan tali hingga pangkal betis untuk dapat melakukan “perjalanan” dengan semangat pantang mundur serta sebagai wujud kewibawaan dan kegagahan. Apakah kita menyadari kebenaran Forrest Gump? Karya Winston Groom yang diangkat dalam sebuah film terbaik garapan Robert Zemeckis dengan penghargaan Academy Awards Tahun 1994.  Berkisah tentang seorang anak yang ber-IQ di bawah rata-rata dengan kelainan “perjalanan” hidup yang harus dibantu dengan sepatu terapi, sehingga dia diolok-olok oleh temannya. Dia menyadari “Mama selalu bilang, kau bisa mengetahui pribadi orang dari sepatu yang dipakainya. Kemana mereka pergi, darimana mereka. Aku merusak banyak sepatu.” Sepatu atau sebuah alas kaki mengisahkan banyak cerita, karena “semakin jauh berjalan, akan semakin banyak yang dilihat” serta banyak pula kisah yang ada di setiap “perjalanan”. Namun pada realitas kehidupan, berjalan tanpa henti akan membawa pada kelelahan. Ada kala, langkah perlu berbalik untuk beristirahat sementara, meski terkadang hasrat terus saja bergerak, istirahat sebaiknya dimanfaatkan untuk merenung peran yang dapat kita berikan diantara peran-peran orang lain. Memang, kita terbiasa membiarkan hasrat maju jauh di depan, alih-alih mempertimbangkan kebutuhan yang akan memberikan “manfaat” pada orang lain, malah bersitegang untuk mempertahankan “prinsip” yang hanya terlintas sekilas dalam benak demi sebuah “fatamorgana” keuntungan. Tak ayal, argumen yang diperdebatkan demi sebuah kehormatan yang dianggap bermartabat padahal telah mencoreng “harga diri” dan dengan sukarela melupakan kepentingan bersama yang telah disepakati. Bertahan pada keinginan semata tentu akan menjerat diri, pada akhirnya hasrat ini menjadi sebuah wujud ketamakan dan keangkuhan yang menganggap rendah pada kepentingan lainnya. Hal ini sama persis dengan transformasi makna “ruang publik” yang awalnya disandingkan dengan tiga elemen, yaitu responsif, demokratis dan bermakna sesuai pemanfaatan ruang. Ruang publik telah dialihkan fungsi untuk meraup keuntungan “keakuan”. Sebuah ruang yang telah ditetapkan untuk dimanfaatkan bersama, kini telah diberi sekat-sekat “kewenangan” hingga mengekang gerak massa yang berujung konflik tiada henti. Kewenangan ini menjadi “embel-embel” sangat sering didengungkan untuk dasar membangun sebuah kepentingan, pribadi atau kebersamaan. Pertahanan sebuah kewenangan akan dikalahkan ketika akan terjadi permasalahan secara teknis, semua akan saling “lempar handuk”. Sehingga penyelesaian berujung terhambatnya pelayanan bagi masyarakat. Pada akhirnya, permasalahan tersebut jadi menguap. Tidak ada solusi konkret, ego sektoral menjadi pemenang sesaat. Kewenangan inilah, biang kerok yang membuat pihak yang merasa diri lebih “diakui” dan enggan untuk mendengar keluh-kesah. Mereka akan menutup kuping rapat-rapat jika perihal tersebut tidak membawa manfaat bagi kepentingannya. Lagi-lagi, sebidang tanah hanya menjadi wahana ilalang, tidak akan berubah menjadi ladang sayur yang penuh manfaat. Perilaku “keakuan” bagaikan benteng kokoh yang menghadang setiap upaya untuk bersinergi meraih tujuan dan kemajuan. Akibatnya bukan hanya mereduksi efisiensi operasional secara keseluruhan juga akan menggerus moral kebersamaan sehingga tidak mau berkontribusi dan sangat sulit untuk mencapai sinergi. Satu sektor memandang sektor lain tidak lebih penting dari sektornya sendiri, demikian pula sebaliknya. Mentalitas sempit yang lebih mementingkan sektornya masing-masing ini bisa terus menguat manakala perekat antar sektor melemah atau tidak ada. Bahkan, keakuan ini membuat perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya menjadi tidak sehat, tidak adil, dan tidak efisien dari sudut pandang kepentingan kawasan. Dengan meminimalisir tubrukan peran, kewenangan eksekusi sepenuhnya dipegang kembali oleh masing-masing sektor yang mementingkan kepentingan masyarakat diatas segala-galanya. Tentunya, solusi mengurangi ego sektoral tidak terbatas, tidak hanya pada satu sudut pandang saja. Kesamaan cara pandang dan tujuan serta orkestrasi yang dimainkan menjadi aspek terpenting dalam mengeliminasi keakuan yang muncul. “Perjalanan” menuju pada pangkal untuk mencari solusi ego sektoral sama seperti alas kaki, antara sepasang kiri dan kanan sepatu tidak pernah memiliki bentuk yang sama. Walaupun begitu, sepatu akan terus bersama ke manapun perginya demi kenyamanan dan bisa memberi manfaat kepada yang membutuhkannya. Bayangkan ketika salah satunya hilang, maka manfaatnya akan hilang. Sepasang sepatu saat berjalan memang tidak pernah kompak, tetapi tujuannya sama, tidak perlu harus ganti posisi, namun saling melengkapi. Keajaiban datang bagi mereka yang tidak pernah menyerah untuk melengkapi, Forrest merusak banyak sepatu dalam “perjalanannya” mengitari setengah daratan Amerika selama bertahun-tahun, kemampuan yang dimulai saat dia dikejar teman yang meragukan dirinya. Dengan kemampuan berlari ini, Forrest menjadi seorang yang sangat berjasa dalam peletonnya saat peperangan serta menjadi penyelamat banyak tentara yang terluka dan menolong siapa pun yang meragukannya, sehingga dia menerima kehormatan atas kepahlawanannya. Begitulah perumpamaan manusia, masing-masing dari kita memiliki sudut pandang dan pola pikir yang berbeda, tapi alangkah baiknya jika kita menghargai pendapat dan tujuan orang lain tanpa perlu mengedepankan “keakuan” kita. Karena justru dengan saling melengkapi dan mengapresiasi perbedaan itulah, kita bisa mencapai tujuan secara optimal sesuai dengan yang kita inginkan. (Junaidi Ali) Selengkapnya baca di https://dishub.acehprov.go.id/publikasi-data/aceh-transit/tabloid-transit/