Dishub

Lebih Dekat dengan Biro Klasifikasi Indonesia

Banyak pihak yang terlibat dalam pembangunan sebuah kapal. Hal ini guna memastikan pembangunan kapal berjalan sesuai dengan prosedur dan regulasi yang berlaku. Salah satu aspek penting yang harus dipenuhi sebelum kapal dapat beroperasi adalah laik laut, dibuktikan dengan adanya sertifikat klasifikasi yang akan menjadi dasar penerbitan sertifikat keselamatan kapal. Kewenangan untuk menerbitkan sertifikat klasifikasi kapal di Indonesia berada pada PT. Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau lebih dikenal dengan sebutan BKI. BKI adalah badan klasifikasi nasional yang secara resmi ditunjuk oleh Pemerintah RI untuk melakukan klasifikasi terhadap kapal-kapal berbendera Indonesia ataupun kapal-kapal asing yang beroperasi di wilayah NKRI, serta melakukan survei periodik untuk kapal yang telah beroperasi guna mengevaluasi status laik laut kapal tersebut. Proses sertifikasi KMP Aceh Hebat 1, 2 dan 3 yang dibangun di tiga galangan yang berbeda, diawali dengan dilakukannya evaluasi teknis terhadap dokumen rencana desain kapal oleh surveyor BKI guna mengecek kesesuaian dokumen tersebut dengan standar dan peraturan teknis perkapalan yang berlaku. Evaluasi ini ditindaklanjuti dengan survei lapangan ke lokasi pembangunan kapal untuk memastikan konstruksi komponen utama kapal, terutama bagian permesinan, kelistrikan, dan lambung kapal. Setelah proses pembangunan kapal selesai, langkah selanjutnya adalah melawati serangkaian pengujian (test) teknis dan percobaan (trial) untuk memastikan keamanan kapal saat dioperasikan. Pengujian dan percobaan tersebut meliputi pemeriksaan material, percobaan dock (dock trial), uji stabilitas kapal (inclining test), dan official sea trial. Pemeriksaan material berguna untuk mengecek material yang terpasang di kapal sudah tersertifikasi oleh BKI. Percobaan dock meliputi uji komponen sistem dan perlengkapan utama kapal, seperti mesin induk dan mesin bantu (auxiliary engine), kemudi, dan uji beban (load test). Uji stabilitas kapal (inclining test) bertujuan untuk mengetahui kondisi setimbang kapal pada saat muatan kosong sehingga diperoleh bobot kapal saat kondisi tanpa muatan. Percobaan terakhir yang dilalui oleh KMP Aceh Hebat 1,2, dan 3 adalah official sea trial, yang berguna untuk memastikan seluruh sistem dan komponen kapal berfungsi dengan baik pada kondisi yang sebenarnya sebelum kapal dioperasikan. Setiap tahapan dari seluruh rangkaian pengujian tersebut disaksikan oleh perwakilan BKI dan hasil dari setiap pengujian dicatat dengan cermat sebagai dasar penerbitan sertifikat klasifikasi kapal bagi ketiga kapal Aceh Hebat. Tentu saja peran BKI tidak berhenti sampai di sini. BKI masih berwenang untuk melakukan survei periodik terhadap KMP. Aceh Hebat 1, 2, dan 3 baik pada saat pemeliharaan maupun jika terdapat perombakan konstruksi kapal untuk memastikan kondisi kapal tetap sesuai dengan syarat dan ketentuan klasifikasinya. (Mellita Nadya) Download   

Memberikan Pelayanan Terbaik Dari Hati

Pelayanan pada fasilitas publik, khususnya di pelabuhan penyeberangan perlu ditingkatkan guna memberikan kenyamanan bagi masyarakat saat melakukan perjalanan. Seperti yang kita tahu, transportasi merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat diabaikan prioritasnya. Apalagi pelabuhan penyeberangan menjadi satu-satunya pintu masuk ke wilayah kepulauan. Bebagai kendala dan keterbatasan yang ada saat ini, Dinas Perhubungan Aceh perlu melakukan optimalisasi dari kondisi infrastruktur, kekurangan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung lainnya. Demi mendongkrak standar pelayanan di Pelabuhan penyeberangan, Dinas Perhubungan Aceh sedang mereformasi pelayanan di seluruh pelabuhan penyeberangan di Aceh. Sebagai permulaan, Dishub Aceh menjadikan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sebagai leading project perubahan pelayanan pelabuhan ini menuju standar pelayanan. Mengawali proses tersebut, Kadishub Aceh, Junaidi, bersama Asisten 3 Setda Aceh, Iskandar dan seluruh pejabat struktural Dishub Aceh melakukan silaturrahmi dengan seluruh petugas di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Jum’at (13/08/2021). Sejak pukul 08.00 pagi, Asisten 3 Setda Aceh, Iskandar telah berada di Pelabuhan Ulee Lheue untuk melakukan zikir Bersama. Silaturrahmi ini juga ditujukan untuk menjalin keakraban dengan personil yang bertugas di pelabuhan. Mengingat sebelumnya pelabuhan ini berada di bawah Pemerintah Kota Banda Aceh. “Sabang sudah menjadi tujuan yang mendunia. Biasanya, usai dari Bandara wisawatan dari luar Aceh akan segera melanjutkan perjalanan ke Sabang, yang berarti kebanyakan wisatawan luar ini sudah melewati pelayanan pada simpul transportasi yang lain sebelum ke Pelabuhan Ulee Lheue sehingga akan membandingkan kondisinya. Hal ini menjadi prioritas bagi kita untuk berupaya agar pelabuhan ini harus nyaman dan tertib serta tidak ada kesenjangan pelayanan antar moda,” ujarnya. Dalam sambutannya, Kadishub Aceh juga menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh ingin melakukan perubahan yang lebih baik pada Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sesuai standar dari Kementerian Perhubungan. Di samping itu, ia menyebutkan bahwa pengelolaan pelabuhan ke depan juga harus lebih profesional di mana personil yang bertugas harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya. “Maka ke depan, kita rencanakan petugas harus mengikuti diklat yang sesuai dengan tugasnya,” sebut Junaidi. Pada kesempatan yang sama, Iskandar juga memotivasi para petugas supaya bekerja dengan lebih maksimal. Iskandar juga mengingatkan bahwa, sebagai abdi negara, harus menjadi teladan dalam bersikap dan berperilaku. Iskandar juga mengajak seluruh ASN sebagai petugas yang bertanggungjawab bersama-sama untuk mengembangan Pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue “Kita tahu, Sabang sangat dikenal hingga ke luar negeri. Bahkan banyak wisatawan yang langsung menuju ke Sabang usai mendarat dari luar daerah. Hal ini secara tidak langsung, fasilitas pelayanannya akan menjadi perbandingan,” tutur Iskandar. (AM)

Perwira Wanita di KMP. Aceh Hebat 3

Berita ini dimulai dari sebuah ruang kemudi kapal. Ruang yang berada di bagian paling atas biasanya diisi oleh para lelaki tangguh pengarung lautan, yang terus memantau kondisi kapal agar tetap berlayar dengan nyaman dan aman. Namun, kali ini ada kisah menarik di ruang kemudi KMP. Aceh Hebat 3. Seperti kisah Laksamana Malahayati yang merupakan panglima angkatan laut perempuan pertama yang memimpin 2.000 pasukan untuk melawan Belanda. Namun, kali ini bukan bercerita tentang strategi kapal perang. Inilah sebuah kisah tentang seorang mualem III di KMP. Aceh Hebat 3 yang merupakan Malahayati masa kini. Biasanya, profesi pelaut diisi oleh kaum adam. Pasalnya, para pelaut pasti berkutat dengan ganasnya lautan di atas kapal. Sangat jarang mendengar seorang mualim kapal adalah perempuan. Apalagi di Indonesia, aneh ketika wanita memutuskan menjadi pelaut karena dia akan meninggalkan keluarganya berbulan-bulan bahkan tahunan. Namun, dibalik berlayarnya KMP. Aceh Hebat 3 di perairan Laut Singkil, ada seorang mualim perempuan yang selalu siap siaga dalam bertugas sebagai pengatur, memeriksa, memelihara semua alat keselamatan kapal dan juga bertugas sebagai pengatur arah navigasi di anjungan masing-masing selama 4 jam sebelum pergantian shift jaga dengan perwira lainnya, Dialah yang akrab disapa Maria. Gadis ini memiliki nama lengkap Maria Guadalupe Pasaribu berkelahiran tahun 1997. Seorang gadis yang masih sangat muda telah mengambil keputusan terbesar menjadi seorang pelaut.  Dia merupakan salah satu perempuan Indonesia yang menjadi mualim kapal. Jika berbicara tentang kehidupan pelaut, film One Piece memberikan gambaran bagaimana seorang pelaut setia bersama bahteranya, mereka tidur dan menghabiskan waktu luang di kapal. Kapal adalah rumah mereka sekarang. Aceh TRANSit pun berkesempatan bertemu Maria usai ia bertugas di Pulau Banyak, Aceh Singkil. Maria membagi kisah ketika memutuskan melaut dan harus rela meninggalkan keluarganya serta menjadikan kapal sebagai rumahnya. Faktanya bagi pelaut, kapal adalah rumah, karena kehidupan sehari-hari dihabiskan di atas kapal dan kru kapal adalah keluarga baru. Simak Video Dukungan Infrastruktur Transportasi untuk Pengembangan Kawasan Pulau Banyak Maria telah menyabet beberapa sertifikat keahlian yang menjadikannya sebagai mualim 3 di KMP Aceh Hebat 3, Salah satunya International Safety Management (ISM) dan masih banyak lainnya. Di Tahun 2018, Maria juga sempat bergabung bersama kru KMP. Wira Victory yang berkapasitas 4028 GT dan KMP. Wiraglory berkapasitas 1805 GT. Pada kesempatan tersebut, Maria juga merupakan satu-satunya kru perempuan sebagai Deck Cadet yang membantu Perwira dek/Mualim dalam semua kegiatan di kapal. “Dulu sebelum lulus untuk bekerja di KMP. Aceh Hebat 3 yang merupakan pengalaman kerja saya pertama, saya sempat magang juga di KMP. Wira dan saya sendiri perempuannya. Awalnya merasa sangat canggung, karena di kapal semua awaknya adalah laki-laki. Seiring waktu berjalan, lebih terbiasa dengan kehidupan di kapal, teman-teman di kapal juga saling menjaga dan sudah dianggap jadi saudara,” ujarnya. Kemudian, lanjutnya, awal-awal berlayar dulu memang harus beradaptasi dulu dengan lingkungannya, karena namanya ombak kalau kita manja ya akan mabuk. Tapi lama-lama kan akan mulai bersahabat. Apalagi cuaca kita nggak bisa tebak, bisa jadi pagi cuaca cerah dan sorenya mulai hujan dan badai. Kondisi seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari pelaut. “Memimpin dan memerintah para lelaki ada kendala tersendiri. Apalagi kita perempuan yang sering dianggap lemah, apalagi pandangan orang-orang kalau perempuan sebagai mualim itu sering dipandang sebelah mata, kan kita bertugas sepenuh hati. Kadang, pas diinstruksikan mereka ada ngeyel-nya, saya sabar aja. Mungkin itulah bentuk candaan mereka saat bekerja. Sejauh ini, mereka sangat suportif,” tuturnya.(Misqul Syakirah) Download 

Setiap Akhir Pekan Load Factor Dapat Mencapai 100 Persen

Siang itu cuaca cukup cerah di Pelabuhan Singkil, Aceh Singkil. Terlihat KMP. Aceh Hebat 3 sedang bersandar. Ada sejumlah anak buah kapal yang sedang sibuk mengecek kelengkapan kapal dan administrasi kapal untuk berlayar ke Pulau Banyak. Pelabuhan Singkil menjadi satu-satunya pintu masuk ke Pulau Banyak, pulau yang telah diakui keasrian pantainya dan merupakan kawasan konservasi. Tampak pula masyarakat dan para wisatawan yang datang secara berkelompok. Ada yang mengajak anggota keluarganya, ada pula yang datang bersama teman-temannya. Mereka mendekati kapal-kapal tersebut, lalu sesekali mengambil foto bersama dengan latar belakang laut dan jejeran pepohonan yang hijau sepanjang garis pantai. Di depan sebuah kapal, ada seorang pria sedang mengawasi suasana pelabuhan beserta para pengunjung yang lalu lalang di hadapannya pada siang itu. Pria itu Capt. Laode Mat Salim. Usianya kini 51 tahun. Dialah nakhoda kapal KMP. Aceh Hebat 3. Sebelumnya, beliau merupakan kapten kapal KMP. Teluk Singkil yang melayani rute Singkil ke Pulau Banyak lalu ke Nias. Simak Video KMP. Aceh Hebat 3 Hadir untuk Wiswata Pulau Banyak Baik di laut, darat, dan udara, peran kapten moda transportasi memang vital. Dalam sebuah perjalanan, mereka adalah pemegang kendali agar perjalanan nyaman dan tertib. Peran itu tak main-main, bahkan di banyak negara termasuk Indonesia, didukung dalam konstitusi. Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, nakhoda kapal adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pemimpin tertinggi di kapal dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undang. “Ada sembilan belas orang (yang bekerja) termasuk saya di kapal ini,” ujar  Capt. Laode saat diwawancarai Aceh TRANSit, Rabu (19/5/2021). Anak buah kapal menghabiskan waktunya bekerja di kapal dan mengarungi lautan berhari-hari. Tidak jarang bahaya mengancamnya, misalnya saat angin kencang datang pada malam hari ketika berada di tengah laut. Bagaimanapun juga,  Capt. Laode menganggap itu sudah menjadi risiko pekerjaannya. Konsekuensi yang harus dia jalani sebagai seorang pelaut. Belum lagi, kita harus meninggalkan keluarga. “Sejauh ini nggak ada keluhan dari keluarga, karena dari awal sudah dibicarakan juga kebijakan dari perusahaan. Perusahaan juga memberikan cuti,” jawabnya. Selama pelayaran dengan KMP. Aceh Hebat 3 berjalan lancar, namun Pelabuhan Singkil ini kebetulan terbuka. Artinya, kalau pasang surut ada benturan antara kapal dan dermaga, karena arus yang terus beralun. Sudah pernah dipasang ban kecil biasa dari pihak pelabuhan, tapi sering terjadi hentakan, tali ban fender-nya putus. Kondisi ini terjadi berulang, karena memang besar hentakannya, meski kapal dalam posisi sandar di dermaga. Hal ini berdampak pada hancurnya lambung kapal. “Jika keluhan dari masyarakat minta jadwal operasionalnya rutin, dengan adanya KMP. Aceh Hebat 3 sekarang jadwal operasional sudah dilakukan tiap hari dengan dua trip. Masyarakat sangat bersyukur. Jumlah penumpang di akhir pekan sangat banyak hampir mendekati 100 persen dari kapasitas kapal. Meskipun pada hari biasa jumlah okupansi masih berkisar 30 hingga 35 persen,” tuturnya lagi. Pengangkutan bahan pokok ke kepulauan juga lancar. Dengan tarif kapal perintis ini sangat membantu masyarakat. Sehingga, harga jual di kepulauan masih berimbang dengan di daratan. Jika dari segi pariwisata agak terkendala mengingat lagi kondisi pandemi. “Jika untuk kebutuhan masyarakat sangat menguntungkan, karena kapan pun mereka butuh jasa transportasi untuk mengangkut barang, sudah bisa langsung karena beroperasi tiap hari. Perputaran ekonominya juga berjalan lancar. Masyarakat pun menanti-nanti kehadiran kapal ini,” pungkasnya. (Misqul Syakirah) Download 

Berkunjung ke Sabang Kini Lebih Menyenangkan

Capt. Ruba’i, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini merupakan nahkoda armada penyeberangan kebanggaan masyarakat Aceh, khususnya warga Sabang, yaitu KMP Aceh Hebat 2. Pria inilah yang menahkodai pelayaran kapal Aceh Hebat 2 dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh menuju Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang atau sebaliknya. Sebelum menjadi nahkoda Aceh Hebat 2, pria ini sudah lebih dulu mengeyam pengalaman melayani perjalanan masyarakat Sabang dan wisatawan dari atas KMP Tanjung Burang sejak tahun 2015. Pengalaman selama 6 tahun di atas kapal berbobot 507 Gross Tonage (GT) itu menjadi modal baginya untuk naik kelas ke kapal Aceh Hebat 2 dengan bobot mencapai 1.186 GT. Pada Januari 2021, manajemen PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh resmi menunjuk Capt. Ruba’i sebagai nahkoda KMP Aceh Hebat 2. Pria ber-KTP-kan Sabang ini menahkodai KMP. Aceh Hebat 2 pertama kali pada Sabtu, 30 Januari 2021. Momen tersebut sekaligus menjadi pelayaran perdana KMP Aceh Hebat 2 melayani penyeberangan masyarakat Aceh pada lintasan Ulee Lheue – Balohan. Saat itu, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah melepas langsung pelayaran perdana KMP. Aceh Hebat 2. Perasaan bangga dalam dirinya terpancar jelas dari raut wajahnya yang ceria. “Suatu kebanggaan bagi saya melayani penumpang dengan KMP. Aceh Hebat 2, bisa mengantar dan melayani penumpang dengan selamat,” ungkap Ruba’i kepada Aceh TRANSit, Minggu, 6 Juni 2021. Di sela-sela bertugas, Ruba’i bercerita banyak tentang pengalaman dan kesannya terhadap kapal keluaran PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia ini. “Selama menjadi nahkoda KMP. Aceh Hebat 2, Alhamdulillah berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan apapun,” ujarnya. Ruba’i juga memberikan penilaiannya terkait keunggulan KMP. Aceh Hebat 2. Ia menilai bahwa peralatan yang terpasang pada KMP. Aceh Hebat 2 sudah canggih. Selain itu, desain kapal beserta interiornya juga sangat bagus untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang kapal. Seperti diketahui, kapal ini dilengkapi dengan sejumlah teknologi navigasi terbaru, di antaranya peralatan navigasi dan komunikasi, perekam data pelayaran yang mengunakan Automatic Indentification System (AIS). Selain itu juga dilengkapi dengan peralatan Voyage Data Recorder (VDR) yang berfungsi seperti black box pada pesawat terbang untuk merekam aktivitas navigasi kapal selama pelayaran. Dari sisi keselamatan, kapal ini dilengkapi dengan lifeboat atau sekoci bertipe Fully Enclosed Lifeboat (Sekoci Tertutup). Lifeboat jenis ini paling populer karena di dalamnya dilengkapi mesin dan kemudi sehingga mampu melindungi penumpang atau kru dari air laut, angin kencang, dan cuaca buruk. Penempatan lifeboat pada kapal Aceh Hebat 2 berpedoman pada aturan Safety of Life At Sea 1974  (SOLAS) dan Life Saving Appliance (LSA Code) yang diterbitkan oleh International Maritime Organization (IMO) yang berada di bawah Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain mengikuti berbagai aturan dari IMO, sebagai kapal baru, KMP. Aceh Hebat 2 juga sudah terdaftar dan memiliki nomor registrasi IMO (9905954) yang melekat pada bagian depan kapal. Tonton Video Pelayaran Perdana, KMP. Aceh Hebat 2 Bawa 280 Penumpang Kapal kebanggaan masyarakat ini mempunyai desain dan interior yang sangat futuristik serta menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dek lantai tiga kapal ini didesain berupa rooftop sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan pemandangan laut selama penyeberangan. Pada lantai ini juga tersedia kafetaria yang bisa dimanfaatkan oleh penumpang untuk berbelanja. Kapal ini juga menyediakan ruang bagi ibu menyusui, memiliki dua musala, tempat wudhu, serta toilet terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Selain berbicara tentang keunggulan kapala ini, Ruba’i juga bercerita terkait aktivitasnya sebagai nahkoda sehari-hari. Masa pandemi sedikit merubah kebiasaan yang terjadi saat musim liburan tiba. Ia menyebutkan, meskipun terjadi peningkatan wisatawan ke Sabang, tapi tidak seramai seperti sebelum masa pandemi. “Alhamdulillah dengan adanya KMP. Aceh Hebat 2 ini, meningkatnya kunjungan wisatawan ke Sabang dapat terlayani dengan baik,” ungkapnya. Nahkoda KMP. Aceh Hebat 2 ini juga menjelaskan sejumlah peraturan yang diterapkan oleh pihak manajemen PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh pada armada penyeberangan selama masa pandemi. Ia menjelaskan, selama berada di atas kapal penumpang wajib mengikuti protokol kesehatan. Ke depan, ia berharap penumpang bisa saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain untuk mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Kita juga aktif mengingatkan kru  kapal untuk selalu mengikuti protokol kesehatan agar semua merasa nyaman saat berada di atas kapal,” tutupnya. (Amsal Bunaiya) Download 

Pesawat Hercules TNI AU Kembali Mendarat di Bandara Rembele

Dua pesawat Hercules kembali mendarat dengan mulus di landasan pacu/runway Bandara Rembele Bener Meriah, Senin, 9 Agustus 2021. Pesawat bertipe C-130 tersebut masing-masing berasal dari Skuadron 32 Malang (A-1330) dan 33 Makassar (A-1331). Pendaratan pesawat jenis kargo ini dimaksudkan untuk mengangkut 168 prajurit TNI ke Papua. Prajurit yang diberangkatkan merupakan pasukan Satgas Pamtas Penyangga (Mobile) Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 114/Satria Musara. Dengan runway sepanjang 2.250 x 30 meter, bandara ini mampu melayani pendaratan pesawat dengan bobot mencapai 141.000 pounds, yaitu sekelas Boeing 737 classic dan C-130 Hercules. (AM)

Penumpang Tidur Nyenyak Selama Berlayar

*Pelayaran Calang-Sinabang Membutuhkan Waktu 14 Jam Penumpang yang pernah menyeberang dari Ulee Lheue, Banda Aceh menuju Balohan, Sabang, tentu mengenal Capt. Muhammad Noer. Dialah nahkoda KMP. BRR selama 12 tahun. Kini, ia diberi kepercayaan baru menahkodai KMP. Aceh Hebat 1. Calang, Aceh Jaya memiliki pesona keindahan alam yang luar biasa. Seperti terlihat di Pelabuhan Calang yang menjadi tempat Capt. M. Noer menyandarkan KMP. Aceh Hebat 1 yang kini telah tepat 100 hari berlayar menyusuri lautan barat Aceh. Sayup terdengar suara petugas pelabuhan menginformasikan kepada masyarakat bahwa KMP. Aceh Hebat 1 akan segera berlayar. Rampdoor diturunkan dan penumpang menaiki kapal ini seraya diikuti mobil pribadi, truk logistik, hingga petugas medis pembawa vaksin Covid-19 ke Pulau Simeulue. Capt. M. Noer bersyukur adanya kapal ini sangat membantu masyarakat kepulauan menuju Banda Aceh. “Jadinya masyarakat tidak menunggu-nunggu kapal yang akan ke Banda Aceh juga ke Simeulue. Sudah ada kepastian jadwal,” ucapnya. Pria asli Sabang ini bercerita bahwa ini kali pertama ia berlayar ke Pantai Barat-Selatan Aceh menahkodai kapal penyeberangan dengan jarak tempuh terjauh selama 14 jam lamanya, untuk kenyamanan penumpang KMP. Aceh Hebat 1 memiliki tempat tidur masing-masing. “Di tengah perjalanan, jika tiba-tiba ada badai, kita menghindar dari alun ombak besar. Sehingga kita berlayar zig zag mencari jalur yang aman. Alhamdulillah bisa kita atasi.” sambungnya. Secara rutin, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh guna memantau intensitas gelombang Pantai Barat Selatan Aceh. “Alam tak bisa kita lawan. Jika cuaca buruk dan ekstrem, kita tunda berlayar. Selama ini pernah dua kali kita tunda berlayar. Jadinya, kita selalu menginformasikan kepada penumpang baik di pelabuhan maupun media sosial.” Tonton Video Cerita Nahkoda KMP Aceh Hebat 1 Layari Calang-Sinabang https://www.youtube.com/watch?v=RIGG9cnPvqM Capt. M. Noer dan ABK merasakan kendala saat bersandar di Pelabuhan Calang. Walaupun karakteristiknya berupa teluk, tetapi alun lautnya membuat kapal sering berbenturan dengan fender di dermaga. Ia berharap, agar pemerintah menyiapkan pelabuhan lain yang lebih tenang dan tersedianya prasarana dan sarana pendukung sandaran kapal. Pada libur Idul Fitri 1442H lalu, Noer menceritakan adanya lonjakan penumpang yang menaiki KMP. Aceh Hebat 1. Rata-rata penumpang saat itu didominasi mahasiswa, pedagang, wisatawan, pekerja hingga sopir truk logistik yang ingin merayakan momen suci bersama keluarga. “Alhamdulillah tidak ada antrian baik kendaraan maupun orang, kita bisa maksimum mengangkut penumpang.” tambahnya. Saat ditanyai perbedaan teknologi dengan kapal lainnya, Noer menyebut kapal kebanggaan rakyat aceh ini dibuat dengan teknologi canggih terbaru menggunakan double engine mitsubishi yang mampu menghasilkan kecepatan tempuh maksimum 14,3 knot (sekitar 26,5 km/jam). Selain itu, dilengkapi dengan Automatic Identification Sysem (AIS) / Sistem Pelacakan Otomatis, memiliki dek Kendaraan dengan 2 lantai bersistem hidrolik, rampdoor depan dengan sistem teknologi bow visor dengan pintu hidrolik yang dapat terbuka 90  derajat untuk memberikan jarak pandang maksimum bagi nahkoda ketika sandar. Selain sebagai lintasan perintis sekaligus prioritas daerah, perannya membantu distribusi logistik maupun penyeberangan penumpang lebih cepat sampai ke Sinabang sangat dirasakan masyarakat. “Dari sektor bisnis menguntungkan pebisnis yang mengangkut hasil komiditi Simeulue diantaranya sektor perikanan dan perkebunan menuju Calang. Begitu pula sembako dari Calang menuju Sinabang.” Pada akhir wawancara di tengah laut Samudera Hindia, Capt. Noer menceritakan kerinduannya dengan keluarga, dengan menebar senyum penuh harap ia ingin sekali bisa segera dapat mengambil cuti dan menikmati liburan bersama keluarganya. “Ya kangenlah, sudah lama gak ketemu anak-anak dan istri,” pungkasnya. Terakhir ia berpesan kepada penumpang agar tetap menjaga kebersihan kapal ini.(Muarrief Rahmat) Download   

Kawasan Lut Atas

Cuaca hari itu, Sabtu, 3 April 2021 lumayan mendung di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Kondisi ini tidak menyurutkan niat kami untuk mengeksplor salah satu destinasi wisata baru yang ada di daerah ini, yaitu Kawasan Lut Atas atau Lut Kucak. Kata Lut dalam bahasa masyarakat setempat diartikan sebagai danau. Dinamakan Lut Atas karena kawasan ini berada pada ketinggian 2.100 mdpl dari permukaan laut. Berbekal informasi yang kami dapatkan dari masyarakat setempat, kami bergerak menuju Kampung Waq Pondok Sayur, Kecamatan Bukit yang berada di jalan lintas KKA tersebut. Menurut penuturan mereka, di Kawasan Lut Atas ini awalnya terdapat sebuah danau kecil berukuran luas sekitar 8 hektare dengan kondisi yang tidak terurus serta akses jalan yang belum tersedia. Ternyata cerita mereka benar adanya, akses jalan menuju Kawasan Lut Atas ini sangat menantang. Kondisi jalan yang belum teraspal sangat menyulitkan kendaraan roda empat yang kami kendarai untuk mendaki setiap tanjakannya. Kami hampir kehilangan asa dan menyerah dengan keadaan. Namun rasa penasaran yang begitu kuat untuk menikmati keindahan alam yang ada di Lut Atas kembali memompa tekad kami. Kami pun melanjutkan pendakian. Setelah bergelut dengan jalan yang terjal dan berbatu, akhirnya kami tiba di puncak Kawasan Lut Atas. Subhanallah, pemandangan yang disuguhkan di sini seakan mengobati semua perjuangan yang telah dilalui. Bertarung dengan jalanan yang berkelok tajam sejauh lebih kurang 3 kilometer terbayar lunas dengan pemandangan pepohonan dan awan yang mengelilinginya. Yang tidak kalah serunya adalah udara sejuk langsung menghampiri ketika pertama kali kami menginjakkan kaki di Kawasan Lut Atas. Bagi pengunjung Kawasan Lut Atas, cukup membayar Rp 10.000,- untuk tiket masuk kendaraan roda empat, sedangkan roda dua hanya Rp. 5.000,- saja. Retribusi yang dibayarkan oleh pengunjung tentu sangat berguna bagi perawatan dan peningkatan infrastruktur destinasi wisata ini ke depan. Wilayah ini telah diserahkan pengelolaannya oleh Pemerintah Kabupaten Bener Meriah pada 27 Januari 2021 kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kampung Waq Pondok Sayur. Pengelolaan destinasi wisata seperti ini oleh pihak desa diharapkan dapat dirawat sebaik mungkin dan berdampak bagi perekonomian masyarakat setempat. Sebelum menjelajah lebih jauh Kawasan Lut Atas ini, kami beristirahat sejenak di salah satu bilik yang tersedia di sini. Kami juga membeli minuman dan makanan pada sebuah kios kecil yang berada di lokasi Lut Atas. Dari penjual tersebut kami menggali lebih banyak informasi terkait Lut Atas. Ia mengungkapkan, kawasan ini yang biasanya ramai pengunjung pada hari libur, Sabtu, dan Minggu. Dulunya,masyarakat memanfaatkan tempat untuk memancing, ada sejumlah ikan endemik di kawasan danau ini, seperti ikan gabus dan ikan lele lokal yang biasa disebut emut oleh mereka. Selain untuk memancing, di sekitar daerah ini juga banyak warga yang memanfaatkan lahan untuk berkebun. Makanya tak heran, saat perjalanan menuju ke sini, kami banyak melihat hamparan lahan yang ditanami sayur-sayuran, kentang, bunga kol, wortel, cabai, tomat, dan bawang. Ada juga masyarakat yang sedang mengangkut hasil kebun mereka ke dalam mobil pick-up atau ke atas roda dua untuk dibawa turun ke desa. Di danau atas ini, kami berswafoto ria dengan view gunung hutan lindung yang sangat indah. Selain berfoto di sejumlah spot yang sangat bagus di sini, kami juga berkeliling sambil menikmati keindahan panorama gunung Burni Telong yang sangat menawan. Bagi Rakan Moda yang ingin merasakan sensasi keindahan alam Kawasan Lut Atas, Rakan perlu menempuh perjalanan darat dari Banda Aceh ke Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah sejauh 305 kilometer, atau sekitar enam jam perjalanan darat. Rakan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau memanfaatkan jasa angkutan umum dari Banda Aceh. Dari terminal, Rakan dapat menyewa mobil atau kendaraan roda dua untuk menuju ke Kawasan Lut Atas. Selain jalur darat, Rakan juga bisa memanfaatkan jasa transportasi udara yang ada di Bandara Rembele Bener Meriah. Dari bandara ini, Rakan bisa meneruskan perjalanan sejauh 6,4 kilometer atau selama 11 menit menuju Kampung Waq Pondok Sayur menggunakan kendaraan sewa. Saat ini, Bandara Rembele telah melayani penerbangan perintis dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh setiap hari Senin. Selain penerbangan perintis yang dioperasikan oleh maskapai Susi Air, juga tersedia penerbangan dari Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. (Fajar Hakim) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Bandara Rembele, Permudah Akses Menuju Dataran Tinggi Gayo

Ketersediaan layanan transportasi udara yang memadai mampu mendongkrak berbagai sektor kegiatan di daerah, baik pembangunan, pariwisata, bisnis, ataupun urusan kepemerintahan. Transportasi udara juga menjadi urat nadi perekonomian karena dapat mempermudah aksesibilitas sehingga kunjungan orang atau distribusi barang bisa berjalan dengan lancar. Di wilayah tengah Aceh, Bandara Rembele Bener Meriah menjadi salah satu pintu gerbang bagi pelaku perjalanan via udara. Bandara ini melayani penerbangan rutin setiap hari dengan rute Rembele – Kualanamu. Di masa pandemi sekalipun, bandara ini masih beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi pengguna jasa penerbangan. Namun, selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) aktivitas penerbangan komersial di bandara ini berhenti sementara. Pengembangan Bandara Rembele perlu dipacu guna mendukung tumbuhnya perekonomian di wilayah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Bener Meriah, Dailami kepada Aceh TRANSit, menyebutkan bahwa Bandara Rembele telah mempunyai masterplan pengembangan bandara yang disahkan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi pada 4 Juni 2021 yang lalu. “Ini sebuah keberuntungan bagi Aceh dan khususnya masyarakat Bener Meriah, kita sangat mendukung pengembangan Bandara Rembele”, ungkapnya. Ditemui pada kesempatan yang sama, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Rembele, Faisal, S.T., M.T., menyebutkan, peran Bandara Rembele cukup strategis bagi kemudahan aksesibilitas wilayah tengah Aceh. Hal ini dikarenakan lokasi bandara terletak pada posisi sentris yang menghubungkan seluruh wilayah Aceh. Secara geografis, Bandara Rembele berada di tengah-tengah Provinsi Aceh. Sebagaimana diketahui bentang jalur darat Banda Aceh ke batas perbatasan Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara sepanjang 611 kilometer, dan bentang Aceh Utara ke pantai barat Meulaboh sepanjang kurang lebih 250 kilometer. “Benar-benar daerah ini bisa dikatakan sebagai simpul tengahnya ke berbagai jalur. Disisi lain, bandara ini juga berperan sebagai bandar udara mitigasi bencana di provinsi Aceh,” ungkap Faisal lebih lanjut. Faisal menambahkan, melalui masterplan yang telah disahkan, Bandara Rembele diproyeksikan menjadi bandara yang representatif bagi kemudahan aksesibilitas transportasi udara di wilayah tengah Aceh. Selain itu, diharapkan pula dapat mendukung Pemerintah daerah dalam menunjang perekonomian dan kepariwisataan. Salah satu pengembangan yang akan dilakukan adalah perpanjangan runway dari 2.250 x 30 meter menjadi 2.800 meter dan lebar 45 meter. Perpanjangan runway ini menurut Faisal untuk optimalisasi aksesibilitas transportasi udara sehingga ke depan mampu didarati oleh pesawat berbadan besar sekelas Boeing 737-800 dan sejenisnya. Selain itu, Faisal menyebutkan bahwa saat ini pihaknya sedang membangun terminal kargo untuk mendukung pengiriman barang atau produk hasil alam dataran tinggi Gayo Aceh. Pengiriman barang hasil perkebunan dengan kargo udara dianggap lebih mudah dan cepat. Apalagi komoditi alam yang ada di daerah ini merupakan produk ekspor seperti Kopi Gayo, Pisang Cavendish ,dan palawija lainnya. “Harapan saya dengan adanya terminal kargo ini diharapkan segera dapat didukung stakeholder terkait seperti kehadiran Kantor Bea dan Cukai dan Karantina”, pungkasnya. Sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Tahun 2016 lalu, Bandara Rembele rutin melayani  pendaratan pesawat ATR72 yang berkapasitas 72 penumpang. Secara teknis, dengan panjang runway mencapai 2.250 meter bandara ini mampu menampung pesawat terkritis (critical aircraft) dengan bobot mencapai 141.000 pounds, yaitu sekelas Boeing 737 classic atau C-130 Hercules. Oleh karena itu, pendaratan pesawat tipe C-130 Hercules pada Senin, 25 Juli 2021 yang lalu merupakan sejarah baru bagi bandara ini karena telah berhasil dilakukan proving flight oleh pesawat Hercules Long Body dari Skadron Udara 31. Seperti diketahui, pendaratan pesawat Hercules tipe C-130 di bandara ini untuk mendukung pemberangkatan 400-an pasukan Satgas Pamtas Penyangga (Mobile) Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 114/Satria Musara ke Papua. (*)

Rooftop, Bersantai di Atas Lautan Luas

Langit berwarna biru cerah bermotifkan gumpalan awan keabu-abuan, gelombang laut berderetan mengikuti arah angin seraya menciptakan bulir kristal dari tempias sinar surya. Semilir angin menyeka ujung pakaian yang dikenakan sang penjelajah di atas kapal laut. Si penjelajah menjadikan Sabang, Pulau Banyak, dan Simeulue sebagai destinasi yang wajib dikunjungi pada kesempatan kali ini. Sebuah pulau yang eksotis nan indah di ujung Pulau Sumatera menjadi tempat wisata andalan, apalagi penikmat gunung dan pantai. Dari sebuah geladak atas kapal, kalau bahasa milenialnya disebut rooftop, menjadi tempat populer untuk menikmati sebuah pemandangan dari atas sebuah bangunan dengan sebagiannya saja yang tertutupi atap. Seperti momen menikmati panorama laut dengan semilir anginnya membawa aromanya segar yang bercampur bau garam yang sangat khas dari atas KMP. Aceh Hebat. Geladak atas KMP. Aceh Hebat yang didesain khusus dengan konstruksi terbuka yang terletak pada lantai atas kapal. Dari sini, penumpang kapal dapat menikmati riak gelombang dari putaran-putaran baling-baling yang menyeruak ke permukaan. Sekaligus, menyaksikan buritan kapal yang mulai menjauh dari daratan. Jajaran pepohonan hijau dan bukit barisan tampak indah tergambar dari geladak ini. Pantulan sinar matahari dengan tepisan angin sepoi menambah kehangatan pelayaran kala itu. Namun, jika hujan mengguyur sekaligus angin menerpa, bagian ini akan terkena tempias hujan. Para penumpang akan basah diterpa gerimis dan lantai tersapu air hujan. Namun, air hujan akan turun menuju ke dek bawah melalui saluran pembuang yang berada di empat titik. Ironinya, saat sampah dibuang dengan semena-mena tanpa rasa peka dan peduli, sampah pun akan ikut terseret ke saluran tersebut. Mungkin, kita sering kali menyepelekan sehelai sampah. Misalkan saja, puntung rokok yang dibuang sembarang, tergerus air hujan mengalir ke saluran. Dan apa yang akan terjadi? Sampah akan menyumbat saluran dan menyebabkan genangan air hujan yang turun deras menjadi lebih banyak dan meninggi. Demi kenyamanan bersama, sampah menjadi tanggung jawab kita bersama, satu sampah akan membawa malapetaka bagi kita juga. Bersama-sama kita menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya. Bersih tempat, nyaman beraktivitas. (Misqul Syakirah) Download