Dishub

Bandara Rembele, Permudah Akses Menuju Dataran Tinggi Gayo

Ketersediaan layanan transportasi udara yang memadai mampu mendongkrak berbagai sektor kegiatan di daerah, baik pembangunan, pariwisata, bisnis, ataupun urusan kepemerintahan. Transportasi udara juga menjadi urat nadi perekonomian karena dapat mempermudah aksesibilitas sehingga kunjungan orang atau distribusi barang bisa berjalan dengan lancar. Di wilayah tengah Aceh, Bandara Rembele Bener Meriah menjadi salah satu pintu gerbang bagi pelaku perjalanan via udara. Bandara ini melayani penerbangan rutin setiap hari dengan rute Rembele – Kualanamu. Di masa pandemi sekalipun, bandara ini masih beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi pengguna jasa penerbangan. Namun, selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) aktivitas penerbangan komersial di bandara ini berhenti sementara. Pengembangan Bandara Rembele perlu dipacu guna mendukung tumbuhnya perekonomian di wilayah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Bener Meriah, Dailami kepada Aceh TRANSit, menyebutkan bahwa Bandara Rembele telah mempunyai masterplan pengembangan bandara yang disahkan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi pada 4 Juni 2021 yang lalu. “Ini sebuah keberuntungan bagi Aceh dan khususnya masyarakat Bener Meriah, kita sangat mendukung pengembangan Bandara Rembele”, ungkapnya. Ditemui pada kesempatan yang sama, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Rembele, Faisal, S.T., M.T., menyebutkan, peran Bandara Rembele cukup strategis bagi kemudahan aksesibilitas wilayah tengah Aceh. Hal ini dikarenakan lokasi bandara terletak pada posisi sentris yang menghubungkan seluruh wilayah Aceh. Secara geografis, Bandara Rembele berada di tengah-tengah Provinsi Aceh. Sebagaimana diketahui bentang jalur darat Banda Aceh ke batas perbatasan Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara sepanjang 611 kilometer, dan bentang Aceh Utara ke pantai barat Meulaboh sepanjang kurang lebih 250 kilometer. “Benar-benar daerah ini bisa dikatakan sebagai simpul tengahnya ke berbagai jalur. Disisi lain, bandara ini juga berperan sebagai bandar udara mitigasi bencana di provinsi Aceh,” ungkap Faisal lebih lanjut. Faisal menambahkan, melalui masterplan yang telah disahkan, Bandara Rembele diproyeksikan menjadi bandara yang representatif bagi kemudahan aksesibilitas transportasi udara di wilayah tengah Aceh. Selain itu, diharapkan pula dapat mendukung Pemerintah daerah dalam menunjang perekonomian dan kepariwisataan. Salah satu pengembangan yang akan dilakukan adalah perpanjangan runway dari 2.250 x 30 meter menjadi 2.800 meter dan lebar 45 meter. Perpanjangan runway ini menurut Faisal untuk optimalisasi aksesibilitas transportasi udara sehingga ke depan mampu didarati oleh pesawat berbadan besar sekelas Boeing 737-800 dan sejenisnya. Selain itu, Faisal menyebutkan bahwa saat ini pihaknya sedang membangun terminal kargo untuk mendukung pengiriman barang atau produk hasil alam dataran tinggi Gayo Aceh. Pengiriman barang hasil perkebunan dengan kargo udara dianggap lebih mudah dan cepat. Apalagi komoditi alam yang ada di daerah ini merupakan produk ekspor seperti Kopi Gayo, Pisang Cavendish ,dan palawija lainnya. “Harapan saya dengan adanya terminal kargo ini diharapkan segera dapat didukung stakeholder terkait seperti kehadiran Kantor Bea dan Cukai dan Karantina”, pungkasnya. Sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Tahun 2016 lalu, Bandara Rembele rutin melayani  pendaratan pesawat ATR72 yang berkapasitas 72 penumpang. Secara teknis, dengan panjang runway mencapai 2.250 meter bandara ini mampu menampung pesawat terkritis (critical aircraft) dengan bobot mencapai 141.000 pounds, yaitu sekelas Boeing 737 classic atau C-130 Hercules. Oleh karena itu, pendaratan pesawat tipe C-130 Hercules pada Senin, 25 Juli 2021 yang lalu merupakan sejarah baru bagi bandara ini karena telah berhasil dilakukan proving flight oleh pesawat Hercules Long Body dari Skadron Udara 31. Seperti diketahui, pendaratan pesawat Hercules tipe C-130 di bandara ini untuk mendukung pemberangkatan 400-an pasukan Satgas Pamtas Penyangga (Mobile) Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 114/Satria Musara ke Papua. (*)

Rooftop, Bersantai di Atas Lautan Luas

Langit berwarna biru cerah bermotifkan gumpalan awan keabu-abuan, gelombang laut berderetan mengikuti arah angin seraya menciptakan bulir kristal dari tempias sinar surya. Semilir angin menyeka ujung pakaian yang dikenakan sang penjelajah di atas kapal laut. Si penjelajah menjadikan Sabang, Pulau Banyak, dan Simeulue sebagai destinasi yang wajib dikunjungi pada kesempatan kali ini. Sebuah pulau yang eksotis nan indah di ujung Pulau Sumatera menjadi tempat wisata andalan, apalagi penikmat gunung dan pantai. Dari sebuah geladak atas kapal, kalau bahasa milenialnya disebut rooftop, menjadi tempat populer untuk menikmati sebuah pemandangan dari atas sebuah bangunan dengan sebagiannya saja yang tertutupi atap. Seperti momen menikmati panorama laut dengan semilir anginnya membawa aromanya segar yang bercampur bau garam yang sangat khas dari atas KMP. Aceh Hebat. Geladak atas KMP. Aceh Hebat yang didesain khusus dengan konstruksi terbuka yang terletak pada lantai atas kapal. Dari sini, penumpang kapal dapat menikmati riak gelombang dari putaran-putaran baling-baling yang menyeruak ke permukaan. Sekaligus, menyaksikan buritan kapal yang mulai menjauh dari daratan. Jajaran pepohonan hijau dan bukit barisan tampak indah tergambar dari geladak ini. Pantulan sinar matahari dengan tepisan angin sepoi menambah kehangatan pelayaran kala itu. Namun, jika hujan mengguyur sekaligus angin menerpa, bagian ini akan terkena tempias hujan. Para penumpang akan basah diterpa gerimis dan lantai tersapu air hujan. Namun, air hujan akan turun menuju ke dek bawah melalui saluran pembuang yang berada di empat titik. Ironinya, saat sampah dibuang dengan semena-mena tanpa rasa peka dan peduli, sampah pun akan ikut terseret ke saluran tersebut. Mungkin, kita sering kali menyepelekan sehelai sampah. Misalkan saja, puntung rokok yang dibuang sembarang, tergerus air hujan mengalir ke saluran. Dan apa yang akan terjadi? Sampah akan menyumbat saluran dan menyebabkan genangan air hujan yang turun deras menjadi lebih banyak dan meninggi. Demi kenyamanan bersama, sampah menjadi tanggung jawab kita bersama, satu sampah akan membawa malapetaka bagi kita juga. Bersama-sama kita menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya. Bersih tempat, nyaman beraktivitas. (Misqul Syakirah) Download 

Sungai Alas dengan Seribu Pesona

Sibuk dengan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya sehingga membuat pikiran dan tubuhmu lelah serta mood kamu juga jadi berantakan. Aktivitas harian membuat Rakan Moda menjadi semakin jenuh dan lesu bukannya memberi semangat ekstra. Ini pertanda Rakan Moda butuh istirahat sejenak untuk menikmati dan mengumpulkan kembali ion-ion yang hilang. Saatnya, Rakan Moda berwisata agar kembali mengalirkan semangat dan kreativitas Rakan Moda bersama aliran darah yang lancar. Perjalanan Menuju Ketambe Berjarak 32,5 kilometer dari pusat kota Kutacane yang berada di bagian tenggara Provinsi Aceh, tepatnya di kawasan hutan lindung Leuser merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Di sini terdapat sebuah kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Ketambe begitulah nama kawasan yang merupakan habitat dari berbagai macam satwa seperti burung dan orang utan. Ketambe yang masih asri dan terlindungi, menjadi pusat penelitian satwa, khususnya Orang Utan Sumatera. Perjalanan menuju Ketambe mempertontonkan hamparan hijau perbukitan serta aliran sungai di sisi lainnya akan menambah ketakjuban pada bentang alam Aceh ini. Perjalanan ini memakan waktu 30 menit dari pusat kota Kutacane. Jika berangkat dari Kota Medan  melalui jalur daratan tinggi Karo dengan estimasi perjalanan sekitar 6 hingga 7 jam. Jalan aspal menuju Ketambe dipenuhi dengan kelokan-kelokan yang cukup tajam khas jalan pegunungan, serta kondisi jalannya tidak terlalu lebar, membuat pengendara mobil harus lebih waspada dan berhati-hati. Yang tak kalah serunya lagi, aliran sungai terpanjang di Aceh ini membentang sejajar garis jalan. Sungai Alas sebutannya, sungai ini membelah kawasan lindung ini dan juga kerap menjadi tempat bermain ayunan orang utan, bergelantungan dari pohon yang satu menuju pohon lainnya. Daya Tarik Sepanjang Sungai Alas Sepanjang Sungai Alas terbentang kawasan hutan hujan yang menjadi tempat hidup berbagai ekosistem. Untuk menjelajahi hutan hujan ini sebaiknya ditemani oleh seorang guide. Di dalam hutan, Rakan Moda akan menapaki jalan setapak di antara rindangnya pepohonan, udaranya begitu sejuk. Kegiatan ini pas banget bagi yang suka dengan petualangan. Selain orang utan, juga terdapat satwa-satwa lain yang dengan bebasnya hidup di kawasan hutan Ketambe ini, seperti monyet, rusa atau sesekali muncul harimau sumatera pada saat malam hari. Mereka dapat berkeliaran tanpa diganggu oleh tangan jahil manusia. Menguji Adrenalin di Sungai Alas Jalur yang sempurna untuk kamu para pecinta alam yang senang dengan kegiatan yang penuh petualangan, karena Sungai Alas memiliki arus yang cukup deras serta kelokan yang akan membuat jantungmu bisa berdegup kencang. Sungai Alas ini membelah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan melintasi beberapa daerah, otomatis kamu akan menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa menakjubkan. Rakan Moda akan mendapatkan keseruan ketika melakukan kegiatan rafting apalagi jika dilakukan bersamaan dengan kawan seperjuangan. Kegiatan rafting atau arung jeram dapat kamu lakukan di Ketambe yang akan memberikan kamu sensasi rafting dengan menyusuri Sungai Alas sejauh 50 km dengan estimasi waktu 3 jam lamanya. Terapi Alam di sekitar Sungai Alas Setelah Rakan Moda puas mengeksplor kawasan Ketambe, bersantailah dengan menikmati air panas di pemandian yang berada dekat dengan aliran sungai. Uap atau asap mengepul halus di atas pemandian tersebut menambah relaksasi tubuh dan juga mental untuk kembali pada rutinitas. Berkunjung ke Ketambe tak cukup jika hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja, Rakan Moda perlu menginap di sekitar lokasi wisata, terdapat beberapa penginapan atau homestay yang berada di pinggir jalan, tempatnya nyaman untuk ditinggali. Pemilik pondok biasanya menawarkan paket wisata adventure. Selamat liburan Rakan! Jangan lupa patuhi aturan saat perjalanan. (Misqul Syakirah) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Bagaimana Tarif Tiket Kapal Ditetapkan?

Sebagai salah satu sarana transportasi sungai, danau dan penyeberangan, KMP Aceh Hebat dalam pengoperasiannya memerlukan biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pengelola jasa angkutan penyeberangan atau biasa disebut Badan Usaha Angkutan Penyeberangan. Biaya operasional kapal tersebut yang telah ditambah dengan biaya lain lalu dibebankan kepada calon pengguna jasa dalam bentuk tarif angkutan penyeberangan. Sebenarnya bagaimana cara perhitungan tarif tersebut? Tarif angkutan penyeberangan sendiri merupakan nilai yang harus dibayarkan oleh pengguna jasa atas pelayanan yang diperoleh pada suatu lintas tertentu. Mekanisme perhitungan tarif ini dihitung berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 66 Tahun 2019 Tentang Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penyeberangan. Peraturan ini mengatur penetapan tarif angkutan penyeberangan untuk kelas ekonomi, sedangkan untuk kelas non-ekonomi, perhitungan tarif diserahkan kepada mekanisme pasar yang ada di masing-masing badan usaha angkutan penyeberangan. Tarif yang dibebankan kepada calon pengguna jasa tersebut, ditetapkan oleh Menteri Perhubungan melalui Keputusan Menteri untuk lintasan antar provinsi, Gubernur melalui Peraturan Gubernur untuk lintasan antar kabupaten dalam provinsi dan Bupati/ Walikota melalui Peraturan Bupati/ Walikota untuk lintasan dalam Kab/Kota. Setiap calon pengguna jasa akan dibebankan tarif menurut jenis dan golongan kendaraan (Golongan I s.d. IX) yang digunakan berdasarkan panjang lintasan dikali bobot satuan unit produksi (SUP) yang dinyatakan dalam rupiah per-mil laut. Satuan Unit Produksi sendiri merupakan biaya yang dikeluarkan dalam operasional kapal yang dihitung dari komponen biaya dikalikan dengan bobot dalam satu tahun operasional yang dibagi jumlah hari operasional kapal. Tarif ini dapat mengalami kenaikan maupun penurunan secara berkala minimal 1 tahun sekali sejak tarif terakhir ditetapkan hingga mencapai 100 persen dari biaya produksi. Pengajuan kenaikan tarif ini dilakukan oleh Asosiasi Badan Usaha Angkutan Penyeberangan kepada instansi yang berwenang dengan melampirkan berkas-berkas pendukung yang diperlukan. Kemudian akan dilaksanakan pembahasan dan tarif baru wajib ditetapkan maksimal 14 hari sejak persyaratan dinyatakan lengkap. Dari penjabaran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perhitungan tarif dihitung berdasarkan jarak lintasan kapal, bukan berdasarkan jenis dan tahun kapal. Hal ini diputuskan dengan pertimbangan kesamaan kualitas pelayanan antar badan usaha serta mengurangi monopoli dan ketimpangan usaha. Pada pelayanan jasa angkutan penyeberangan di Aceh yang terdiri dari 7 lintasan utama, operasional angkutan dilaksanakan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry dan PT. Subsea Lintas Globalindo. Tarif lintasan ini ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Aceh Nomor 70 Tahun 2019, yang mengatur tarif angkutan penyeberangan untuk kelas ekonomi antar kabupaten/ kota di Aceh. Peraturan ini merupakan perubahan kedua dari Pergub Aceh No. 5 Tahun 2015 yang berarti tarif angkutan penyeberangan di Aceh telah mengalami dua kali perubahan sejak pertama kali ditetapkan. Proses pengajuan penyesuaian tarif diajukan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry kepada Dinas Perhubungan Aceh pada trimester terakhir 2018. Namun, kala itu belum tercapai titik temu antara pemerintah dengan badan usaha sehingga pembahasan sempat tertunda hingga Agustus 2019. Pertimbangan kenaikan tarif ini, menurut Syamsudin, General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh dikarenakan biaya produksi tiap SUP semakin tinggi, “Naiknya biaya produksi operasional kapal mengharuskan kami untuk melakukan penyesuaian tarif demi optimalnya pelayanan jasa penyeberangan.” imbuhnya. Setelah pembahasan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Aceh, PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Aceh Singkil, Asuransi Jasa Raharja serta akademisi selesai dan persyaratan dinyatakan lengkap, maka Dinas Perhubungan Aceh mengajukan draf peraturan penyesuaian tarif kepada gubernur untuk kemudian diundangkan pada November 2019, sekitar satu tahun sebelum KMP Aceh Hebat resmi beroperasi. Syamsudin menambahkan, penyesuaian tarif ini membuat tarif angkutan penyeberangan di Aceh mengalami kenaikan yang berkisar antara 10 s.d. 12 persen termasuk asuransi sesuai dengan yang tertuang dalam lampiran Peraturan Gubernur. Lebih lanjut ia menyampaikan, idealnya tarif tersebut biasanya mengalami penyesuaian antara 2 s.d. 4 tahun sekali yang kenaikannya berkisar antara 20-25 persen termasuk asuransi. Kecilnya persentase kenaikan tarif ini disebabkan oleh berbagai faktor dan pertimbangan  seperti aspek sosial ekonomi masyarakat setempat. Setelah penyesuaian tarif resmi ditetapkan, tugas selanjutnya ialah mensosialisasikannya kepada masyarakat pengguna jasa. Perlu usaha yang serius agar tidak terjadi ketimpangan informasi dan gejolak sosial akibat penyesuaian ini. “Kami berharap masyarakat dapat menerima penyesuaian tarif ini demi optimalnya pelayanan operasional angkutan penyeberangan di Aceh, tuturnya”. (Reza Ali Ma’sum) Download 

Pemanfaatan CSR untuk Keselamatan Transportasi

Keselamatan penumpang pada sektor transportasi merupakan faktor utama yang menjadi perhatian seluruh stakeholder perhubungan. Menjamin tersedianya keselamatan pada transportasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kerjasama antar mitra kerja dengan konsep saling membantu dan mendukung supaya keselamatan pengguna jasa transportasi dapat terjamin dengan baik. Jasa Raharja Cabang Aceh, sebagai salah satu mitra kerja Dinas Perhubungan Aceh di sektor transportasi, aktif terlibat dalam setiap upaya mendukung penyelenggaraan keselamatan transportasi di Aceh. Sebagai bentuk kepedulian dan wujud bakti terhadap keselamatan transportasi di Aceh, PT. Jasa Raharja Aceh menyalurkan sejumlah fasilitas keselamatan berlayar berupa life buoy dan life jacket yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR). Di samping bantuan fasilitas keselamatan, PT. Jasa Raharja Aceh juga ikut mendukung kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi petugas Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh. Dukungan tersebut meliputi pelaksanaan tes urin untuk deteksi narkoba dan rapid test antigen bagi 25 petugas pelabuhan. Kepala PT. Jasa Raharja Aceh, Mulkan, mengungkapkan bahwa bantuan ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial PT. Jasa Raharja Aceh kepada masyarakat pengguna jasa transportasi di Aceh. Ia mengharapkan, andil Jasa Raharja ini mampu berkontribusi dalam menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan transportasi.(Amsal Bunaiya) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Jejak 100 Hari Operasional KMP. Aceh Hebat

Sama halnya dengan tahun 2020, tahun 2021 pandemi masih melanda bumi. Dunia transportasi mungkin menjadi sisi “tergalau” karena pandemi. Di satu sisi pergerakan manusia dan barang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian. Namun selama pandemi pergerakan malah menjadi pendongkrak masalah yang lebih fatal. Salah satunya berimbas pada pelayaran KMP Aceh Hebat. Banyak momen yang menjadi sebab tidak optimalnya produktivitas di awal keberadaan kapal kebanggaan ini. Meningkatnya kasus Covid-19 di Provinsi Aceh membuat Pemerintah meminta pengelola kapal penyeberangan memperkecil frekuensi operasional ditambah lagi dengan jumlah penumpang dibatasi hanya 50 persen saja. Belum lagi adanya pembatasan pergerakan yang terjadi pada bulan Mei tepatnya pada tanggal 6 s/d 17 Mei 2021. Dimulai dengan rute pelayaran Calang – Sinabang (pp) yang dilayari KMP. Aceh Hebat 1 (KMP. AH 1). Dari awal berlayar, kendala besar terjadi pada pertengahan dan akhir bulan Maret 2021. Pada tanggal 17 dan 18 Maret, KMP. AH 1 sempat mengalami penundaan keberangkatan diakibatkan benturan dan gesekan yang disebabkan arus kuat hingga menyebabkan panel pengait pada rampdoor kapal mengalami kerusakan. Berdasarkan data dari BMKG yang dirillis tanggal 17 Maret 2021 tinggi gelombang di Barat – Selatan Aceh dapat mencapai 2,5 meter dengan potensi hujan dan angin kencang kategori empat yang berbahaya untuk transportasi. Rampdoor kapal Aceh Hebat 1 mengalami kerusakan pada saat merapat ke dermaga di Pelabuhan Calang. Setelah maintenance yang dilakukan oleh pihak PT. ASDP Indonesia Ferry selaku operator kapal, pada tanggal 19 Maret kapal kembali berlayar. Kendala berikutnya terjadi pada tanggal 31 Maret 2021. Tinggi gelombang di perairan Barat – Selatan mencapai ±6 meter yang menyebabkan pihak operator PT. ASDP kembali menunda pelayaran beberapa hari berikutnya. Karakter pelabuhan pantai barat Aceh memang sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi cuaca. Ada penurunan namun ada pula peningkatan. Hingga pada tanggal 2 April pelayaran dilakukan kembali. Namun lonjakan baru terjadi pada saat kondisi cuaca benar-benar stabil dan kondusif, tepatnya tanggal 5 April 2021. Dengan rincian jumlah penumpang melonjak mencapai 134 orang dan mengangkut 63 unit kendaraan. Lonjakan produksi AH 1 berikutnya terjadi menjelang dan setelah pembatasan pergerakan mudik 1442 H. Pembatasan terjadi tanggal 6 s/d 17 Mei 2021. Masyarakat mulai melakukan antisipasi dengan melakukan pelayaran sebelumnya. Tepatnya ada tanggal 30 April, kapal mengangkut 355 orang penumpang dan 102 unit kendaraan, dan pada tanggal 3 Mei dengan membawa 442 orang penumpang dan 198 unit kendaraan. Kemudian masa setelah pembatasan pergerakan juga terjadi lonjakan. Dapat diasumsikan bahwa masyarakat kembali beraktivitas normal. Lonjakan tepatnya terjadi tanggal 30 Mei 2021 menjadi  sebanyak 474 penumpang dan 153 unit kendaraan. Sementara untuk KMP. Aceh Hebat 2 (KMP. AH 2) dengan lintasan Ulee Lheue-Balohan (PP). Lonjakan produksi terjadi pada bulan Mei 2021. Dengan total penumpang mencapai 22.710 orang dan 7.933 unit kendaraan. Dibandingkan dengan produktivitas bulan Januari s/d April yang berada pada angka maksimal 20 ribu penumpang dan 6 ribu unit kendaraan setiap bulannya. Sedangkan penurunan produksi AH 2, dengan jumlah produksi 15 ribu penumpang terjadi di bulan April. Hal tersebut diakibatkan pada awal April kondisi cuaca wilayah Aceh diguyur hujan beserta angin kencang, bahkan tinggi gelombang mencapai ±4 meter. Hal ini pastinya menjadi faktor pertimbangan pelayaran serta pertimbangan penumpang akan keselamatannya. Berbeda lagi yang terjadi pada KMP. Aceh Hebat 3 (KMP. AH 3) dengan rute pelayaran Singkil-Pulau Banyak pulang pergi (PP). Di awal berlayarnya lonjakan terjadi pada tanggal 21 Maret 2021, mencapai 129 orang penumpang. Hal ini sudah memperlihatkan adanya antusias masyarakat Aceh terhadap keberadaan kapal baru ini. Seperti halnya KMP. AH 1, KMP. AH 3 juga mengalami lonjakan setelah Idul Fitri. Tepatnya pada tanggal 19 Mei dengan jumlah penumpang mencapai 164 orang. Sedangkan lonjakan kendaraan yang diangkut terjadi pada tanggal 25 Mei sebanyak 45 unit kendaraan. Para penumpang yang sebagian besar bekerja di sektor  non-formal seperti pedagang sungguh amat bergantung pada transportasi laut ini demi memasok kebutuhan logistik di kepulauan. Berkaitan dengan produktivitas KMP. Aceh Hebat 3, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah memberikan tanggapan di sela kunjungan kerjanya ke Kabupaten Aceh Singkil, 5 Juli 2021. Nova menyampaikan bahwa “Saat ini operasional KMP. Aceh Hebat 3 cukup bagus dalam melayani perjalanan ke Pulau Banyak. Lambat laun dengan kehadiran KMP. Aceh Hebat 3 dan promosi yang dilakukan, Insya Allah okupansi kapal terus meningkat”. Gubernur Aceh juga menambahkan, KMP. Aceh Hebat 3 akan mendukung kegiatan investasi di Pulau Banyak, baik mengangkut wisatawan, tenaga kerja, atau masyarakat Singkil sendiri. Data produksi 100 hari awal keberadaan KMP. Aceh Hebat 3 berkembang secara fluktuatif (tidak stabil), dari bulan Maret sampai dengan Juni 2021. Berdasarkan informasi dari nahkoda dan kru kapal, jumlah penumpang di akhir pekan mendekati 100 persen dari kapasitas kapal. Meskipun pada hari biasa masih berkisar 30 hingga 35 persen. Namun demikian kedepannya sangat kita yakini produktivitas kapal semakin melonjak. Mengingat keindahan Pulau Banyak yang mampu menarik Uni Emirat Arab (UEA) untuk berinvestasi dan ikut mendukung pariwisata Pulau Banyak. Dan pada akhirnya diharapkan mampu berpengaruh pada meningkatnya perekonomian dan taraf hidup masyarakat kepulauan. (Rahmi Caesaria Nazir) Download 

Pasien Rujukan Pulau Banyak Kini Lebih Mudah

Pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang mesti ada dalam lini kehidupan sehari-hari. Kesehatan merupakan harta yang sangat penting untuk menunjang kehidupan yang produktif, karena jika seorang yang mengalami gangguan kesehatan akan menurunkan tingkat produktivitas seseorang. Begitu pun transportasi pelayanan kesehatan merupakan salah satu aspek yang harus terintegrasi dengan pusat layanan yang terpadu. Apalagi, pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan yang sangat butuh tranportasi penyeberangan yang terhubung dengan pusat kabupaten dalam kegiatan koordinasi, distribusi kebutuhan kesehatan, keadaan gawat darurat serta aktivitas lainnya yang harus merujuk ke wilayah daratan dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Seperti halnya Pulau Banyak yang akan kita ceritakan dalam tulisan ini. Wilayah Pulau Banyak merupakan salah satu kecamatan di Aceh Singkil. Kebiasaannya, fasilitas kesehatan di sana masih sangatlah minim, untuk pemeriksaan lanjutan harus dirujuk ke rumah sakit di pusat kabupaten, yang berada di wilayah daratan, yaitu Singkil. Menyeberang dari Pulau Banyak ke Singkil, pastinya memerlukan kapal penyeberangan yang nyaman dan aman bagi kegiatan pelayanan kesehatan. Seperti pengalaman yang dibagikan oleh seorang dokter yang bertugas sebagai Kepala Puskesmas di Pulau Banyak. Beliaulah dr. Indah Puspita Putri. “Di puskesmas ini kita terdiri dari enam puluh staf, diantaranya dua dokter termasuk dokter gigi. Di sini kita melayani rawat jalan, rawat inap dan pasien rujukan. Kalau pelayanan darurat yang harus rujuk ke kabupaten, kita pakai boat masyarakat, kalau datang cuaca yang nggak bersahabat terpaksa kita harus menunggu. Kasihan memang, namanya kita sakit sebenarnya nggak bisa nunggu, tapi mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa mengusahakan seoptimal mungkin,” ujarnya penuh harap. Menurutnya, selama operasional KMP. Aceh Hebat 3 sangat terbantu. Animo masyarakat untuk KMP. Aceh Hebat 3 ini pun terus meningkat. Apalagi jadwal operasionalnya sekarang rutin setiap hari, jika ada pasien rujukan dapat diberangkat segera. Karena, jika naik boat itu kurang aman, fasilitas keselamatannya juga tidak ada. Beda halnya dengan KMP. Aceh Hebat 3, meskipun cuaca musim penghujan dan angin, kapalnya tetap stabil menyeberang. Masyarakat yang menyeberang pun masih nyaman di dalam kapal. Akan tetapi, jika cuaca sangat ekstrem, kapal terpaksa berhenti berlayar, karena ini urusan keselamatan, tidak dapat dipaksakan. Kita sebagai masyarakat pun memaklumi dan menunggu hingga kapal kembali beroperasi. “Cuaca memang menjadi kendala besar untuk pelayaran, apalagi bulan November menjadi puncak cuaca ekstrem. Kita berharap di bulan penghujan, jika bisa, kapal ini jangan naik docking, karena musim yang berubah seperti ini, penyakit sering menyerang masyarakat. Kebutuhan akan pelayanan kesehatan semakin tinggi,” tukasnya. Biasanya, musim penghujan seperti ini, keadaan darurat sering terjadi di malam hari. Jika ada kapal, pasien langsung dirujuk paginya ke Singkil. Jika harus naik boat masyarakat, risiko keselamatan akan menjadi sangat tinggi. Kalau di dalam KMP. Aceh Hebat 3, pasien masih bisa tidur dengan nyaman. “Kita sebagai orang kesehatan, KMP. Aceh Hebat 3 juga menyediakan kamar khusus pasien, yang penting ada tempat tidurnya. Kita dikasih ruang di bawah itu sudah paling bersyukur, karena sayang pasien jika tempatnya kurang nyaman, apalagi waktu menyeberang kurang lebih empat jam. Itu waktu yang melelahkan bagi pasien,” pungkasnya penuh harap. (Misqul Syakirah) Download  Nonton Video KMP Aceh Hebat: Kini Kita Lebih Dekat https://www.youtube.com/watch?v=Lvgzxeva-7M&t=12s

Donor Darah Tahap Tiga, ASN Dishub Aceh Kumpulkan 53 Kantong Darah

53 kantong darah berhasil terkumpul dari ASN Dinas Perhubungan Aceh pada kegiatan donor darah yang diselenggarakan di Depo Trans Koetaradja, Senin, 2 Agustus 2021. Segenap pegawai Dinas Perhubungan Aceh tampak bersemangat mengikuti aksi kemanusiaan ini. Dengan harapan, darah yang terkumpulkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan darah. Drs. Bukhari, MM., staf Ahli Gubernur Aceh, bersama Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto turut hadir menyaksikan kegiatan yang diikuti oleh 119 pegawai Dishub Aceh ini. Donor darah telah menjadi agenda rutin Pemerintah Aceh dalam rangka memenuhi ketersediaan stok darah di PMI. Seperti diketahui, stok darah selama pandemi menurun cukup signifikan akibat kekhawatiran masyarakat terpapar virus corona saat melakukan donor darah. (AM)

Bersyukur Menjadi Bagian KMP. Aceh Hebat

Kapal penyeberangan Aceh Hebat 1 sudah mulai beroperasi menghubungkan pelabuhan Calang, Aceh Jaya dan pelabuhan Sinabang, kabupaten Simeulue sejak  9 maret 2021 lalu. Menariknya Kapal penyeberangan bernama  Aceh Hebat I ini berisikan sembilan orang kru Anak Buah Kapal (ABK) merupakan putra Aceh Asli. Salah satunya adalah Abdul Rahmad pria lajang berusia 21 tahun asal Kota Sabang, Aceh, yang menjabat sebagai Juru Mudi kapal berbobot 2441 GT ini. Usai menyelesaikan sekolah Politeknik Pelayaran Malahayati, Rahmad  diterima sebuah perusahaan kapal kargo di Pulau Jawa. Setelah beberapa lama bekerja, ia mencoba peruntungan melamar menjadi awak kapal di  bawah naungan BUMN PT ASDP Indonesia Ferry dan diterima menjadi juru mudi pada awal tahun 2021 ini yang ditugaskan di Aceh. Saat Rahmad masih remaja selain bermain bola, pecinta klub Barcelona ini mengisi  hari dengan bekerja menjadi mengantar  air isi ulang ke kapal kapal yang bersandar dipelabuhan Balohan Sabang. Dari sini lah awal ketertarikan Rahmad dengan kapal dan berkeinginan menjadi awak kapal  dan diwujudkan impian dengan masuk sekolah pelayaran di Krueng Raya, Aceh Besar. Padahal dalam keluarganya tidak ada yang berprofesi sebagai awak kapal. Rahmad tentu bukan satu-satunya putra Aceh yang dipercayakan untuk mengawaki tiga Kapal Aceh Hebat mengarungi lautan provinsi terujung Indonesia ini. Karena hampir 60 persen ketiga kapal milik masyarakat Aceh diawaki putra daerah Aceh asli. Dengan komposisi, KMP. Aceh Hebat 1 berjumlah 22 kru ABK, 9 diantaranya putra aceh. KMP Aceh Hebat 2 berjumlah 15 orang ABK, 14 orang ABK merupakan putra Aceh. Selanjutnya kru Aceh Hebat 3 berjumlah 19 orang ABK dan 9 diantaranya putra Aceh. Tentunya dengan diawaki putra daerah, ketiga kapal ini telah  menyerap tenaga kerja lokal. Sehingga diharapkan dapat melayani perjalanan penumpang menuju tempat tujuan dengan baik. Guna meningkatkan pelayanan penumpang di sisi pariwisata Aceh yang tersebar di beberapa pulau dan meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat setempat. Rahmad merasa bangga dan bersyukur bisa bekerja di salah satu kapal milik masyarakat Aceh. Ia memiliki harapan, semoga ke depan semakin banyak putera-putera Aceh yang memiliki kesempatan bekerja di sektor transportasi Aceh. Adapun rute dan jadwal ketiga KMP tersebut adalah sebagai berikut: KMP ACEH HEBAT 1  melayani penyeberangan dari Pelabuhan Calang menuju Pelabuhan Sinabang 2 kali seminggu PP. Satu hari tidak beroperasi untuk perawatan kapal. KMP ACEH HEBAT 2 melayani penyeberangan Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh – Pelabuhan Balohan Sabang setiap hari, 3 trip perhari. Dan KMP. ACEH HEBAT 3 melayani penyeberangan Pelabuhan Singkil – Pulau Banyak, 5 kali dalam seminggu, 1 trip per hari (PP). Dalam seminggu kapal ini harus berlayar satu kali ke Simeulue untuk melakukan pengisian bahan bakar.(Rizal Syahisa) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Angkutan Udara di Aceh

Kondisi geografis yang beragam serta kerawanan bencana yang tinggi menjadi tantangan dalam mitigasi bencana, dan pemerataan pembangunan serta pertumbuhan ekonomi yang masih terpusat di wilayah ibu kota Provinsi dan Kabupaten/Kota yang berada di wilayah pantai timur Aceh. Angkutan udara menjadi sebuah alternatif yang tidak terelakkan, ditambah lagi Aceh memiliki potensi besar dibidang kedirgantaraan, dimana terdapat 11 Bandara yang tersebar di Kabupaten/kota di Aceh, namun pemanfaatannya belum optimal. Berkaca pada kondisi tersebut, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh Menyusun dua kajian yaitu kajian kebutuhan transportasi udara dan kajian teknis angkutan udara Aceh. Dari hasil kedua kajian ini didapatkan bahwa Aceh membutuhkan 4 (empat) unit pesawat yang dapat melalui wilayah tebing dan berbukit, dan juga memiliki kemampuan short take off – landing sehingga tidak membutuhkan landasan yang panjang mudah dioperasikan di daerah terpencil sesuai dengan karakteristik beberapa bandara di Aceh untuk kemudian dioperasikan sebagai ambulans udara, angkutan barang/kargo, dan angkutan perintis. Dengan gempa dan tsunami seperti tahun 2004 yang selalu mengancam wilayah pantai barat Aceh dibutuhkan angkutan udara jenis ambulans udara untuk kebutuhan medis dan evakuasi dalam melaksanakan penanggulangan bencana. Pesawat ambulans udara menggunakan konfigurasi khusus dengan kapasitas 9 stretcher, 2 double + 1 single troops seat. Dari hasil kedua kajian tersebut didapatkan bahwa dua unit pesawat dapat mengevakuasi sebanyak 144 orang/hari dengan asumsi loading/unloading time ≈ 1 jam dan kecepatan pesawat 180 Knots. Disamping kesiapsiagaan bencana, kebutuhan akan pengiriman hasil alam juga sama pentingnya. Kinerja ekspor perikanan Provinsi Aceh terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan, hanya saja pergerakan kargo menggunankan transportasi darat dan laut membutuhkan waktu yang lebih lama. Simulasi pergerakan kargo menggunakan pesawat yang dilakukan dengan asumsi pesawat memiliki maksimum payload sebesar 2,3 ton/keberangkatan dengan kecepatan 180 knots, didapatkan bahwa 6,90 Ton potensi hasil perikanan Aceh dapat terangkut dalam waktu kurang lebih 4 jam dari tiga wilayah yang berbeda. Hal ini tentu dapat meningkatkan nilai jual dari hasil sektor perikanan Aceh. Dalam penyelenggaraan aktivitas pemerintahan, mobilitas tinggi dari kabupaten/kota menuju ibukota Provinsi Aceh sangat tinggi. Kedua kajian yang dilakukan mencoba mensimulasikan beberapa rute penerbangan perintis dari beberapa wilayah di Aceh untuk menekan waktu tempuh ke Banda Aceh hingga kurang dari 6 jam perjalanan dengan estimasi utilisasi angkutan udara sebesar 1,106 jam/tahun. Selain itu, beberapa rute penerbangan perintis juga beririsan dan saling melengkapi dengan rute pariwisata potensial dalam wilayah Aceh serta mendukung potensi rute  Internasional yaitu: Sabang – Phuket dan Sabang – Langkawi sebagai penguatan Kerjasama Indonesia – Malaysia – Thailand Golden Triangle (IMT-GT) dibidang pariwisata. Kedua kajian tentang angkutan udara ini dilakukan untuk dapat memberikan gambaran kebutuhan dan potensi angkutan udara dalam mengembangkan wilayah Aceh dengan seluruh potensinya, baik potensi wisata, perikanan, perkebunan, dan lainnya demi peningkatan sosial perekonomian masyarakat Aceh. (Arrad Iskandar) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id) Simak Video Bandara Patiambang Gayo Lues