Dishub

Optimalisasi Pelayanan Pelabuhan Melalui Survei Kepuasan Penilaian Fasilitas

Pelayanan. Sebuah kata yang sering kita dengar namun acap kali masih dianggap sepele. Kata yang dianggap mudah, padahal dalam penerapannya cukup complicated. Tidak berwujud namun dirasakan keberadannya, tidak melalui ragawi cukup mengandalkan perasaan dan hati. Pelayanan pada dasarnya menyangkut perasaan dan kenyamanan yang ditawarkan. Rasa menyenangkan yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lainnya dan disertai dengan kemudahan dalam memenuhi segala kebutuhan. Intinya dengan pelayanan satu pihak berusaha memenuhi hak pihak lain baik melalui sistem, prosedur dan metode tertentu. Banyak hal yang menguntungkan ketika pelayanan dijadikan prioritas. Misalnya dalam bidang bisnis. Keberhasilan suatu bisnis bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan. Dengan pelayanan yang memuaskan, pelanggan bahagia dan pada akhirnya tertarik untuk kembali dan melakukan pembelian ulang produk yang ditawarkan. Begitu pula dengan Pelabuhan Ulee Lheue. Fasilitas publik yang dikatagorikan dalam kegiatan bisnis, menawarkan jasa transportasi penyeberangan bagi masyarakat Aceh. Konon katanya Pelabuhan Ulee Lheue sebagai pelabuhan penyeberangan “tersibuk” di Aceh. Melalui pelabuhan ini ratusan orang setiap harinya hilir mudik dengan berbagai tujuan. Maka sudah seharusnya Pemerintah Aceh memberikan pelayanan yang mampu memberikan kebahagiaan bagi banyak orang. Apalagi Aceh terkenal dengan slogan “peumulia jamee adat geutanyoe” sebagai slogan selamat datang yang dihanturkan bagi pendatang. Apa yang terjadi jika pelayanan tidak diprioritaskan? Dalam hal ini Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh berusaha “mengikat hati” pengguna Pelabuhan Ulee Lheue dengan berupaya memberikan pelayanan yang lebih baik. Mencoba memahami pengunjung, membaca kebutuhan dan berusaha mengakomodir keinginan masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan survei kepuasan pelanggan. Dari kegiatan ini terlihat jelas adanya antusias masyarakat menyampaikan keluhan maupun apresiasi nya terhadap kualitas pelabuhan. Banyak responden yang terlibat sebagian besar berasal dari Kecamatan Baiturrahman yaitu sebanyak 18,4%. Namun sebagian lainnya juga diikuti oleh masyarakat di luar Kota Banda Aceh, seperti Sabang dan Kota Medan. Lebih dari 60% responden yang terlibat merupakan penumpang, yaitu penumpang kapal cepat sebanyak 32,4% dan kapal lambat sebanyak 29,7%. Survei kepuasan yang telah dilakukan ini erat kaitannya dengan kondisi kenyamanan, kebersihan fasilitas umum dan toilet pada pelabuhan. Kondisi kenyamanannya sendiri dinilai dari beberapa aspek seperti kondisi ruang tunggu, alur keberangkatan, kemudahan informasi, respon petugas sampai kepada penampilan petugasnya. Dan hasilnya cukup menyenangkan, yaitu sebesar 27% responden menyatakan sangat baik, 52% responden menyatakan baik dan selebihnya menyatakan cukup. Begitu pula untuk kondisi kebersihan fasilitas. Yang meliputi ruang tunggu, lobi, jalur penumpang, area drop off dan toilet yang disediakan. 30% responden menyatakan sangat baik, 46% baik dan selebihnya penilaian buruk dan cukup sekitar 24%. Dengan dilakukannya survei kepuasan setidaknya Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh menunjukkan loyalitasnya. Sungguh apalagi yang lebih membahagiakan bagi pemerintah selain melihat masyarakat bahagia dengan fasilitas publik yang tercipta. Dengan bertanya kepada masyarakat secara langsung pemerintah jadi lebih paham kekurangan yang ada saat ini dan permasalahan yang pernah dialami oleh masyarakat, dan pada akhirnya berharap mampu memberikan solusi yang tepat sasaran. Selain kepuasan pelanggan, pelayanan di pelabuhan penyeberangan juga perlu didukung dengan fasilitas yang memadai. Sesuai standar yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 39 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Angkutan Penyeberangan. Untuk memenuhi standar pelayanan tersebut, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Pengembangan Sistem dan Multimoda (PSM) juga melakukan penilaian terhadap kondisi fasilitas yang telah ada di pelabuhan saat ini. Sehingga kedepannya anggaran yang ada dapat dialokasikan guna memperbaiki fasilitas yang ada, memperbaharui atau bahkan menambah fasilitas yang belum ada namun dibutuhkan. Kembali lagi, semuanya dilakukan demi memenuhi hak dan kenyamanan masyarakat. 1xBet promo codes provide players with rewards for entering a unique code while depositing or registering with 1xBet. These are available for casino games and sports betting, letting users claim deposit bonuses, free spins, and bonus cash. Players can also find 1xbet promo code exclusive to their country from this review. Once-off codes can also be purchased from the 1xBet betting site for bonus points that are awarded whenever a player places a bet. There are also loads of bonus offers that feature a vast range of rewards, including cashback bonuses, bonus winnings for sports and casino markets. Terlebih saat ini Pelabuhan Ulee Lheue telah menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, pastinya pelayanan harus lebih baik demi mendongkrak standar pelayanan pada pelabuhan penyeberangan. Apalagi pelabuhan penyeberangan menjadi satu-satunya akses masuk ke wilayah kepulauan. Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, baik berupa survei kepuasan dan penilaian fasilitas. Pemerintah Aceh berupaya agar hasil dari survei ini dapat dijadikan sebagai acuan pengambilan keputusan di masa yang akan datang. (Rahmi C. Nazir) Download Tabloid Aceh TRANSit Edisi 8

Mulai 4 Oktober, Ke Sabang Wajib Tunjukkan Sertifikat Vaksin

Masyarakat yang akan menyeberang ke Sabang mulai diperiksa sertifikat vaksin di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue hari ini, Senin, 4 Oktober 2021. Pemeriksaan ini dilakukan guna menindaklanjuti surat Walikota Sabang Nomor 440/6373 tentang persyaratan sertifikat vaksin Covid-19 bagi pelaku perjalanan dari/ke Kota Sabang pada 23 September yang lalu. Surat yang ditujukan kepada operator angkutan penyeberangan tersebut mewajibkan kepada seluruh pelaku perjalanan, baik dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue maupun Pelabuhan Penyeberangan Balohan, untuk menujukkan sertifikat vaksin saat pembelian tiket kapal. Sebagai informasi, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Banda Aceh menyediakan posko vaksinasi di ruang tunggu Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue. Hal ini dilakukan guna memudahkan masyarakat yang akan berangkat namun belum memiliki sertifikat vaksin. Informasi yang diperoleh dari petugas KKP Kelas III Banda Aceh, posko tersebut mulai aktif sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB siang. Bagi masyarakat yang ingin divaksin di luar waktu tersebut bisa mendatangi kantor KKP yang berada di depan Polsek Ulee Lheue, Banda Aceh. (AM)

Dishub Aceh Akan Usul Empat Lintasan Penyeberangan Perintis

Angkutan penyeberangan perintis merupakan salah satu layanan transportasi yang disediakan oleh pemerintah untuk menghubungkan wilayah 3TP (tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan) di Indonesia. Dengan tersedianya angkutan penyeberangan perintis yang baik, akan terwujudnya pemerataan ekonomi sehingga tidak terjadi perbedaan harga komoditas yang signifikan antar wilayah. Layanan angkutan penyeberangan perintis ditetapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan RI setiap tahunnya dan dibiayai operasionalnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun 2021, Kemenhub RI telah menetapkan 5 lintasan angkutan penyeberangan perintis di Provinsi Aceh, di antaranya, Ulee Lheue – Lamteng, Ulee Lheue – Seurapong/Ulee Paya, Calang – Sinabang, Meulaboh – Sinabang, dan Singkil – Pulau Banyak. Menjelang tahun 2022, Dishub Aceh melakukan rapat pembahasan lintasan penyeberangan perintis di Aceh untuk diusulkan ke Kemenhub RI, Jumat, 1 Oktober 2021. Rapat yang dipimpin oleh Kepala Bidang Pelayaran, Al Qadri, mewakili Kadishub Aceh, ini membahas beberapa usulan lintasan penyeberangan perintis baru di Aceh, di antaranya, Ulee Lheue – Sinabang, Balohan – Lamteng, Pulau Banyak – Sinabang, dan Pulau Banyak – Labuhan Haji. Beberapa stakeholder yang hadir turut memberikan pendapat maupun masukan terkait usulan lintasan angkutan penyeberangan perintis di Aceh. Pada prinsipnya, semua pihak menyetujui lintasan baru tersebut demi tumbuhnya pembangunan dan perekomian di wilayah 3TP. Seperti yang dikemukakan oleh Fahni Mauludi, perwakilan BPTD Wilayah I Aceh, ia mendukung usulan lintasan tersebut agar dapat mempermudah akses masuk dan distribusi barang ke wilayah 3TP. Selain itu, ia menyarankan untuk menghitung kekuatan armada penyeberangan yang ada di Aceh bila 4 lintasan baru disetujui. Pada kesempatan yang sama, Mulyawan Rohas, Kadishub Kabupaten Simeuleu, ikut memberikan pandangannya terkait usulan lintasan perintis yang baru. Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Simeulue sangat mendukung, dan itu terbukti dengan adanya Surat Bupati Simeulue kepada Gubernur Aceh tentang usulan jaringan trayek angkutan penyeberangan perintis pada 31 Mei yang lalu. Hasil keputusan dalam rapat ini akan menjadi usulan Dinas Perhubungan Aceh saat mengikuti rapat koordinasi terkait penetapan lintasan penyeberangan perintis bersama Kemenhub RI nantinya. Turut hadir dalam acara ini, perwakilan BPTD Wilayah I Aceh, Dishub Aceh Besar, Dishub Aceh Selatan, Dishub Sabang, Kadishub Simeulue, General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh dan Singkil. (AM)

KKP Pasang Thermal Scanner di Pelabuhan Ulee Lheue

Berbagai penanganan untuk menghambat penyebaran virus corona terus dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya mencegah penyebaran virus pada fasilitas transportasi penyeberangan di Aceh. Untuk mengantisipasi penyebaran wabah, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Banda Aceh memasang kamera thermal scanner di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue. Pemasangan kamera ini telah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu, dan diharapkan dapat meningkatkan upaya deteksi dini penyebaran virus di area pelabuhan. Dari informasi yang diterima oleh Tim Aceh TRANSit dari petugas KKP Banda Aceh yang bertugas di pelabuhan, kamera yang terpasang di lorong menuju ruang tunggu pelabuhan ini akan mendeteksi suhu tubuh setiap penumpang yang akan berangkat menuju Sabang. Ia menambahkan, bila suhu tubuh penumpang terdeteksi mencapai 37,5°C, maka petugas KKP Kelas III Banda Aceh akan melakukan observasi atau tindakan lebih lanjut. Penggunaan kamera thermal scanner di area pelabuhan karena dapat bekerja dengan efektif dan tidak mengganggu pergerakan penumpang. Sehingga, dengan adanya fasilitas ini, penumpang yang berada di pelabuhan tetap merasa nyaman.

Dosi Elfian Isi Webinar Public Speaking ASN Dishub Aceh

Kemampuan berbicara di depan khalayak ramai atau lebih dikenal public speaking sangat penting untuk dimiliki oleh seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam dunia kerja. Kemampuan ini sangat membantu agar ASN terlihat lebih percaya diri dan mampu menyampaikan informasi secara jelas kepada orang lain, khususnya di sektor pelayanan publik. Dishub Aceh menilai kemampuan public speaking yang baik wajib dimiliki oleh ASN sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat. Untuk itu, Dishub Aceh menggelar webinar ASN Dishub Terampil dan Carong dengan tema Public Speaking pada Rabu, 29 September 2021. Dishub Aceh menghadirkan Dosi Elfian selaku founder Dosielfian Smart Speaking sebagai pemateri. Dosi cukup dikenal luas oleh masyarakat Aceh karena kerap tampil di berbagai acara selaku presenter, dan sering memberi pelatihan public speaking di sejumlah kegiatan. Pada webinar ini, Dosi menyampaikan bahwa kemampuan public speaking penting dimiliki agar dapat menyampaikan ide, pendapat, ataupun saran dengan efektif. “Dengan public speaking yang baik, seseorang mampu memotivasi lawan bicaranya untuk melakukan hal-hal baik,” sebut Dosi. Webinar yang diikuti oleh ASN Dishub Aceh ini berjalan cukup santai dan seru. Pemateri juga kerap menyampaikan canda-canda yang membuat peserta webinar tetap antusias mengikuti kegiatan. Sebelum menutup pelatihannya, pemateri tidak lupa menyampaikan bahwa ilmu yang diperoleh peserta pada webinar ini agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin bagi pelayanan masyarakat, khususnya pelayanan transportasi di Aceh. (AM) Simak Video Pelatihan Public Speaking Bersama Dosi Elfian

Hati-hati, Ada Tumpahan Minyak di Simpang Beutong Saree

Telah terjadi tumpahan CPO (Crude Palm Oil) di Jalan Nasional Banda Aceh – Medan, tepatnya di Simpang Beutong turunan Saree, Aceh Besar menuju Laweung, Sabtu, 25 September 2021. Akibat tumpahan ini, terjadi kecelakaan yang melibatkan 2 unit kendaraan roda 4, serta 1 kendaraan terperosok ke luar badan jalan. Kecelakan tersebut juga menyebabkan beberapa pengendara mengalami luka-luka. Menurut pengakuan salah seorang warga yang menyaksikan langsung di lokasi kejadian, tumpahnya CPO disebabkan oleh kran dari tangki truk pengangkut tidak berfungsi dengan baik, dan hanya terikat menggunakan karet ban. Saat berita ini diturunkan, sejumlah petugas kepolisian dari Polsek Muara Tiga sudah berada di lokasi untuk melakukan pengawasan agar tidak terjadi kecelakaan lainnya. Bagi RakanModa yang akan melewati jalur ini, dihimbau agar berhati-hati, dan mengikuti arahan dari petugas kepolisian agar perjalanannya aman dan selamat.

Jalin, Sosok yang Mengabdi Dalam Diam

Mengabdi kepada bangsa melalui pelayanan pada fasilitas publik bisa dilakukan oleh siapa saja. Asalkan memiliki kemauan dan ketekunan untuk melakukannya dengan sepenuh hati dalam melayani masyarakat. Bekerja pada fasilitas publik pun bisa dilakukan oleh siapa saja, baik mereka yang “normal” secara fisik, maupun bagi mereka penyandang disabilitas. Sebab, bekerja pada sektor ini tidak memandang bentuk fisik, tapi kemauan, keterampilan, dan keikhlasan yang menjadi nilai penting dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Pak Jalin adalah salah satu contoh penyandang disabilitas tunawicara yang bekerja pada sektor pelayanan publik. Ia merupakan tenaga kebersihan di Terminal Tipe B Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Ia menjadi pegawai Dinas Perhubungan Aceh sejak terminal Abdya, sebelumnya dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Abdya, dialihkan pengelolaannya ke Pemerintah Provinsi Aceh pada tahun 2018. Di terminal Abdya, pria paruh baya ini telah bekerja sejak tahun 2016 sebagai pramu bakti. Setahun setelahnya, ia diangkat menjadi tenaga honorer/kontrak di bawah Dinas Perhubungan Kabupaten Abdya. Pada Agustus yang lalu, Tim Aceh TRANSit sengaja mendatangi Pak Jalin di Abdya untuk mengetahui keluh kesahnya selama bekerja sebagai tenaga kebersihan di Terminal Tipe B Abdya. Saat bertemu dengannya, Tim Aceh TRANSit ditemani oleh rekan Pak Jalin yang sering berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa isyarat. Meskipun, rekan-rekannya di terminal sedikit kesulitan berkomunikasi dengannya karena Pak Jalin sendiri kurang menguasai bahasa isyarat yang lumrah digunakan oleh tunawicara lainnya. Menurut cerita Pak Jalin, yang dibantu terjemahkan oleh rekannya, selama bekerja ia mendapat perlakuan baik dari rekan sesama pegawai terminal maupun masyarakat yang beraktifitas di terminal. Masyarakat menyambut kehadirannya di terminal dengan tangan terbuka. Membantunya berkomunikasi dengan yang lain hingga ikut bercengkerama dengannya yang terkenal santun. Pak Jalin juga dikenal dengan sosok yang periang dan lucu. Tidak pernah merasa berbeda saat berada di tengah-tengah rekan kerja yang lain. Ia merupakan pribadi yang sungguh-sungguh dalam melakukan tugasnya. Selepas subuh, ia sudah berangkat dari rumahnya yang berjarak 15 kilometer dari terminal Abdya. Walaupun menyandang disabilitas, Pak Jalin masih menjadi tulang punggung bagi keluarga. Ia memiliki istri dan dua anak yang menjadi tanggung jawabnya di rumah. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, ia menyempatkan diri untuk bertani di desanya yang terletak di Gampong rumoh Panyang, Kecamatan Kuala Batee. Pegawai Terminal Tipe B Abdya memang mempersilahkan Pak Jalin untuk mengurusi sawahnya di sela waktu luang bekerja. Mengingat bahwa ia adalah tulang punggung bagi anak-anak yang masih menduduki bangku sekolah. Meski begitu, Pak Jalin tidak meninggalkan kewajibannya terhadap kebersihan terminal. Ia tetap bekerja dengan tekun sejak pagi hari, lalu menjelang siang, sore dan pukul 10 malam sebelum jam operasional terminal berakhir. Kesungguhan dan ketekunannya dalam bekerja di Terminal Tipe B Abdya terbukti dengan dinobatkannya terminal tersebut sebagai terminal terbaik dan terbersih pada tahun 2019 oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh. Kala itu, Dinas Perhubungan Aceh membuat penilaian internal terhadap pelayanan fasilitas publik yang dikelola oleh Dinas Perhubungan. Saat ditanya mengenai keluh kesah selama bekerja, Pak Jalin menggelengkan kepalanya lalu mengangkat jempol. lebih kurang, dari isyaratnya tersebut ia ingin menyampaikan bahwa ia senang-senang saja selama bekerja. Sosok ini memang terkenal pantang menyerah dengan keadaan. Menurut penuturan salah satu petugas keamanan terminal, Jailani, Pak Jalin tetap bekerja meskipun cuaca sedang terik atau hujan. “Bapak ini kalau kerja gak kondisi, kadang malah kita suruh berhenti karena lagi hujan, tapi dia gak mau sampai kerjaannya selesai,” ungkap Jailani. Pegawai terminal lainnya turut memberi kesan positif terhadap kinerja Pak Jalin. Salah satunya adalah Bisra Isma, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Terminal Tipe B Abdya sudah melihat kinerja Pak Jalin sejak dirinya masih bekerja di bawah Pemerintah Kabupaten Abdya. Ia sudah bersama Pak Jalin di terminal sejak tahun 2016. M e n u r u t pengakuannya, pada tahun 2016, Pak Jalin tidak memperoleh gaji dari pemerintah karena statusnya sebagai pramu bakti. Namun, melihat kinerja yang ditunjukkan oleh Pak Jalin sangat bagus, petugas terminal membuat patungan untuk membayar jerihnya. “Kami merasa berhutang budi sama dia, makanya saat itu petugas di sini patungan dari gaji bulanan untuk dikasih ke Pak Jalin,” kenang Bisma saat ditanya Tim Aceh TRANSit. Kisah singkat tentang Pak Jalin ini menjadi cerminan bagi pegawai Dinas Perhubungan Aceh lainnya. Bekerja dan mengabdi kepada bangsa haruslah diniatkan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Lebih dari itu, segala kekurangan maupun hambatan yang dihadapi bukanlah suatu alasan untuk tidak memberikan kinerja yang optimal bagi masyarakat. Semoga menginspirasi! (Amsal Bunaiya) Download Tabloid Aceh Transit Edisi 8 Selengkapnya cek di: https://dishub.acehprov.go.id/publikasi-data/aceh-transit/tabloid-transit/

ASDP dan Dishub Aceh Berbagi Kebahagian di SDN 48 Banda Aceh

Berbagai rangkaian kegiatan memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) tahun 2021 di Provinsi Aceh masih berlangsung. Di antaranya, kegiatan bakti sosial berupa penyerahan bantuan peralatan sekolah kepada siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 48 Kota Banda Aceh, Rabu, 22 September 2021. Penyerahan 50 paket bantuan ini dipimpin langsung oleh Koordinator Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Ismayadi, mewakili Kepala Dinas Perhubungan, bersama General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Syamsuddin. Kepala Sekolah SDN 48, Cut Aja Irawati mengapresiasi kepedulian instansi perhubungan di Aceh terhadap dunia pendidikan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Perhubungan Aceh beserta General Manager ASDP Cabang Banda Aceh atas kunjungan dan penyerahan bantuan perlengkapan belajar bagi siswa. (AM)

KKP Layani Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Pelabuhan Ulee Lheue

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Banda Aceh menyelenggarakan pemeriksaan gratis bagi penumpang angkutan penyeberangan yang berada di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Selasa, 21 September 2021. Petugas KKP Wilayah Kerja Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue yang dimintai keterangan oleh Aceh TRANSit menyebutkan, pemeriksaan ini dalam rangka meningkatkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) di pintu masuk pelabuhan. Sistem ini ditujukan untuk memantau tren perkembangan suatu penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah. Bila terdeteksi, sistem ini akan memberi sinyal peringatan kepada petugas atau instansi kesehatan untuk segera melakukan tindakan respon secepat mungkin. Pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma ini dilaksanakan selama dua hari, Senin dan Selasa, 20 – 21 September 2021. Jenis pemeriksaan yang dilakukan di antaranya, pemeriksaan suhu, SpO2, tekanan darah, nadi, gula darah, kolesterol, asam urat, antibody, dan swab antigen covid-19. (MS)

Dishub Aceh Wakaf Alquran untuk Santri Pulau Banyak

Masih dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) Tahun 2021, Hari ini (20/09/2021), Dinas Perhubungan Aceh menyerahkan bantuan dan waqaf Alquran untuk Pengajian Mustafawiyah Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil dan bantuan usaha mesin obras. Dalam momen ini juga diserahkan hadiah pemenang doorprize di acara pekan vaksinasi insan perhubungan yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 sampai dengan 16 September lalu. Penyerahan bantuan dan hadiah ini diselenggarakan di Aula Dishub Aceh. Acara ini dihadiri oleh Kadishub Aceh, Sekdishub Aceh, Kepala Bidang/UPTD Dishub Aceh, Ketua dan Pengurus Dharma Wanita Dishub Aceh dan Para Eselon 4 Dishub Aceh. Kegiatan ini menjadi momentum berbagi kebahagiaan kepada sesama. Junaidi, Kadishub Aceh menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini harus dipertahankan. Dengan berbagi, kita ikut merasakan kebahagiaan yang sama dengan mereka. “Namun, masih banyak ide dan inovasi yang belum dapat dilakukan dalam tahun ini, kita berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan. Tentunya, dari kegiatan ini juga masih banyak kekurangan dan perlu evaluasi,” ujar Junaidi dalam sambutannya. “Saya sangat berterimakasih dan saya senang sekali dapat berhadir di sini, bantuan yang diberikan ini merupakan berkah terbesar dari Allah bagi kaudi Pulau Banyak. Sekaligus mereka (muallaf-red) menitipkan salam sebesar-sebesarnya bagi bapak dan ibu sekalian,” ujar Tgk. Asri Nafitri, perwakilan pengajian mustafawiyah Pulau Banyak. Tgk. Asri menambahkan kehormatan yang sangat besar bagi kami dan bisa ke Banda Aceh untuk menerima bantuan yang sudah kami nanti-nantikan sejak lama. Ia juga menceritakan kisah perjalanan dari Pulau Banyak ke Banda Aceh, ia begitu susah mendapatkan angkutan umum karena telah dibooking untuk ikut tes CPNS. Dan juga, kondisi badai yang sedang terjadi di perairan Pulau Banyak. “Terima kasih kepada Pemerintah Aceh yang telah memberikan Aceh Hebat 3 kepada kami, kalau badai kami nggak basah, yang basah cuma kapalnya. Kalau naik boat, kapal basah, kami pun basah. Habis itu, di boat nggak ada pelampung, kalau di Aceh Hebat ada pelampung,” pungkasnya. (MS)