Dishub

Keselamatan Jalan Raya Berbasis Data

Mengingat masa depan, kita semua pasti memiliki harapan. Dalam Bidang Transportasi, penerapan inovasi sistem keselamatan secara Real Time menjadi impian. Salah satu teknologi yang terbesit di pikiran adalah Pemasangan sensor di Jalan dan juga di kendaraan yang memungkinkan pemberian informasi penting tentang pola lalu lintas, bagaimana kondisi jalan, dan kinerja kendaraan. Data yang diterima membantu meningkatkan keselamatan kita di jalan raya. Selain itu, data ini memberikan gambaran komprehensif dan terkini mengenai situasi jalan raya, hal ini dapat membantu mengidentifikasi area berisiko dan lokasi rawan terjadi kecelakaan untuk mengambil tindakan proaktif. Misalnya, jika data menunjukkan bahwa persimpangan tertentu mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi, Dinas Perhubungan dapat memasang perangkat pengatur lalu lintas tambahan atau memodifikasi tata letak jalan untuk mengurangi risiko kecelakaan kedepan. Data yang dikumpulkan juga memberi manfaat luar biasa bagi produsen penghasil kendaraan dimana produsen dapat mengembangkan kendaraan yang lebih andal dan sistem keselamatan yang efektif untuk mencegah kecelakaan. Bagi pihak berwenang, data ini tidak hanya membantu meningkatkan keselamatan di jalan raya namun juga memandu proses pengambilan keputusan untuk perencanaan transportasi dan pembangunan infrastruktur yang lebih baik kedepannya. Secara keseluruhan, keselamatan jalan raya berbasis data merupakan komponen penting untuk segera dibicarakan, sistem ini diyakini  berkontribusi signifikan terhadap pengurangan tingkat kecelakaan dan peningkatan manajemen lalu lintas jalan raya. Pengembangan sistem ini juga menyahuti regulasi tentang Lalu Lintas  dan  Angkutan  Jalan yang menyatakan bahwa Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang  dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, Jalan, dan/atau lingkungan yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009.*(AP)

Rute Angkutan Perintis Aceh 2024

Kamu harus tahu nih, layanan angkutan perintis yang beroperasi di Aceh tahun 2024. Selain penerbangan dan penyeberangan perintis, ada layanan perintis lainnya yaitu angkutan jalan, angkutan laut (Sabuk Nusantara) serta angkutan barang di laut perintis (Tol Laut). Layanan yang disubsidi melalui APBN ini diperuntukkan untuk membuka aksesibilitas dan konektivitas di wilayah 3ТР (tertinggal, terluar, terdepan, dan perbatasan) di seluruh Indonesia. Kamu wajib manfaatin layanan ini karena biayanya cukup murah,lho. Apakah di daerah kamu ada layanan angkutan perintis? Yuk cek informasinya berikut! Cek infografisnya dengan klik DI SINI

Caca, Si Hobi Traveling Nikmati Pelayaran Perdana Lamteng Balohan

BANDA ACEH – Jalan-jalan dengan kapal penyeberangan KMP Papuyu ternyata mengasyikkan. Itulah yang dirasakan oleh Stephanie Mharsya, gadis cantik yang hobi traveling, saat mengikuti pelayaran perdana angkutan penyeberangan perintis tahun 2024 ke Pulo Aceh dan Sabang hari ini, Kamis, 18 Januari 2024. Gadis yang akrab disapa Caca ini sangat menikmati perjalanan dengan KMP Papuyu yang dinaikinya dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue. Udara pagi yang masih cukup sejuk membuat perjalanan kian mengesankan. Ditambah lagi pemandangan laut dan pulau-pulau kecil yang terbentang begitu indah saat mendekati Pulo Aceh. Begitu kapal berlabuh sementara (transit) di dermaga Pelabuhan Lamteng, Caca menyempatkan diri turun sejenak ke dermaga untuk mengabadikan pemandangan Pulo Aceh yang belum pernah dilihatnya. Tidak lupa, ia berselfie ria dengan latar kapal Papuyu yang mungil tapi sangat tangguh melewati ombak lautan. Saat mendengar suara nahkoda kapal menginformasikan bahwa kapal akan segera berangkat ke Sabang, Caca bergegas menaiki kapal agar setiap momen perjalanan selanjutnya tidak terlewatkan. Caca kegirangan begitu mengetahui rute Pulo Aceh ke Sabang merupakan lintasan baru angkutan penyeberangan perintis yang mulai beroperasi tahun ini. “Senang banget karena Caca jadi orang pertama yang bisa nikmatin perjalanan dari Pulo Aceh ke Sabang,” begitu sebutnya di depan nahkoda KMP Papuyu Capt. Saiful Amri. Capt Saiful juga bercerita bahwa penyeberangan Pulo Aceh ke Sabang, dengan jarak 17 mil laut, ditempuh sekitar 2,5 jam pelayaran. Lintasan bersubsidi ini, tambahnya, merupakan terobosan baru yang sangat bermanfaat, tidak hanya bagi masyarakat Lamteng, tapi juga untuk wisatawan karena memiliki destinasi wisata alternatif ketika berlibur. Perjalanan Caca hari ini berakhir di Sabang, kapal Papuyu tiba sekitar pukul 13.20 WIB di Pelabuhan Balohan. Selanjutnya, Caca melanjutkan eksplorasi wisata ke berbagai destinasi yang ada di Pulau Weh Sabang. Kata Caca, berwisata jadi lebih murah meriah dengan angkutan penyeberangan perintis. Jadi, yuk manfaatkan sebaik mungkin!(AB)

Angkutan Penyeberangan Perintis Layani 3 Lintasan di Aceh

BANDA ACEH – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan 3 (tiga) lintasan penyeberangan perintis di Provinsi Aceh pada tahun 2024. Hal ini sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 7330 Tahun 2023 dan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 552/1776/2023 tentang penetapan lintas penyeberangan perintis Aceh tahun 2024. Kepala Dinas Perhubungan Aceh Teuku Faisal menyebutkan, 3 lintasan penyeberangan yang disubsidi oleh Kemenhub melalui APBN tersebut adalah lintasan Singkil – Pulau Banyak, Ulee Lheue – Lamteng, dan Lamteng – Balohan. “Lintasan Lamteng – Balohan merupakan rute penyeberangan baru yang diusulkan oleh Pemerintah Aceh dan disetujui di Kemenhub. Sedangkan 2 lintasan lainnya merupakan lintasan lama yang sudah beroperasi sejak beberapa tahun lalu,” ungkap Teuku Faisal. Sebagai informasi, pada tanggal 20 Juni 2023 yang lalu Pj. Gubernur Aceh Achmad Marzuki bersurat kepada Menteri Perhubungan RI untuk mengajukan usulan lintasan angkutan penyeberangan perintis agar dapat disubsidi melalui APBN tahun 2024. Angkutan penyeberangan perintis di Aceh, tambah Teuku Faisal, diharapkan bisa membuka keterisoliran wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan) sehingga bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut, seperti Pulau Banyak dan Pulo Aceh. “Kita tentunya berterima kasih kepada Kemenhub yang telah mendukung terbukanya akses penyeberangan ke wilayah kepulauan di Aceh. Di samping mempermudah aksesibilitas, dengan adanya angkutan penyeberangan perintis ini tentu kita harapkan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan kunjungan pariwisata. Seperti kita ketahui, kedua wilayah tersebut memiliki potensi wisata yang cukup menjanjikan bila digarap dengan serius,” tambah Teuku Faisal. Kadishub Aceh juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk memanfaatkan layanan angkutan penyeberangan perintis secara maksimal karena tarifnya cukup terjangkau. Untuk diketahui, lintasan Singkil – Pulau Banyak dengan jarak mencapai 28 mil dilayani oleh KMP Aceh Hebat 3. Sedangkan lintasan Ulee Lheue – Lamteng (12 mil) dan Lamteng – Balohan (17 mil) dilayani oleh KMP Papuyu dengan operator PT. ASDP Indonesia Ferry.(AB)

Sudahkah Park and Ride di Banda Aceh Berfungsi?

Menyusuri setiap sudut kota Banda Aceh sembari menikmati keindahan tatanan kota dari dalam bus Trans Koetaradja sangat menyenangkan. Bagi masyarakat yang mengendarai sepeda tetapi ingin bersantai di dalam bus Trans Koetaradja dapat menitipkan kendaraannya pada fasilitas Park and Ride dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan transportasi umum bus Trans Koetaradja. Park and Ride adalah area parkir kendaraan bertempat pada lokasi yang jauh dan dihubungkan oleh pelayanan transportasi massal (bus, kereta api maupun trem) menuju pusat kota atau pusat perekonomian. Di Banda Aceh, fasilitas ini dapat ditemukan pada beberapa halte bus Trans Koetaradja diantaranya halte Mesjid Jami’, halte Dunia Barusa, halte Grand Kuliner Ulee Lheue, halte TVRI, dan halte Lhong Raya. Fasilitas Park and Ride memiliki keterkaitan yang erat dengan layanan transportasi massal dan seharusnya menjadi pelengkap pada sistem Bus Rapid Transit (BRT). Sayangnya, fasilitas Park and Ride di Banda Aceh saat ini hanya terlihat seperti pajangan saja bahkan nyaris tidak ada yang ingin menitipkan sepedanya disana. Masih menjadi tanda tanya mengapa pesepeda di Banda Aceh enggan menggunakan fasilitas Park and Ride. Padahal, dengan menggunakan transportasi umum pesepeda dapat menghemat tenaga dan lebih aman dalam berkendara. Selain itu, dengan menggunakan fasilitas Park and Ride dapat membantu mengurangi kemacetan di pusat kota, mengurangi emisi gas buang kendaraan pribadi, dan memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan serta nyaman bagi penduduk setempat juga wisatawan untuk melakukan perjalanan ke pusat kota atau area yang ramai. Berdasarkan hasil wawancara tim Aceh Transit pada salah seorang pesepeda, ternyata fasilitas Park and Ride di Banda Aceh masih belum memenuhi kriteria. Kondisi Park and Ride yang ada dianggap tidak terjamin keamanannya. Disamping itu, ternyata masyarakat Banda Aceh juga masih banyak yang belum mengetahui keberadaan fasilitas Park and Ride ini. Padahal, Dinas Perhubungan Aceh melalui UPTD Trans Kutaraja sudah berupaya untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang fasilitas Park and Ride dengan berbagai konten yang dipublikasikan di media sosial Dinas Perhubungan Aceh dan Trans Kutaraja.Alasan lain yang membuat fasilitas Park and Ride ini sepi adalah minimnya masyarakat yang menggunakan sepeda untuk beraktivitas. Mengendarai kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama masyarakat Banda Aceh. Dilansir dari Harian Serambi Indonesia, pasca pandemi covid 19, pertambahan kendaraan bermotor baru di Aceh rata-rata jumlahnya di atas angka 100.000 unit per tahun. Artinya, semakin hari semakin banyak masyarakat yang lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi dibandingkan dengan menggunakan transportasi umum. Untuk menunjang penggunaan transportasi umum, banyak hal yang harus dibenahi. Selain mengajak masyarakat untuk beralih dari penggunaan kendaraan pribadi, yang paling penting untuk dibenahi adalah kualitas fasilitas Park and Ride yang ada agar masyarakat percaya dan yakin untuk menitipkan kendaraannya pada fasilitas tersebut. Kita perlu belajar dari negara-negara maju yang memiliki fasilitas Park and Ride yang baik, seperti Belanda. Belanda memiliki fasilitas transportasi umum yang baik, aman dan terawat. Selain Belanda, Jepang juga memiliki kualitas Park and Ride yang baik. Biasanya Park and Ride yang ada di Jepang dilengkapi dengan informasi jadwal transportasi umum, dan kadang kala juga memiliki layanan sewa sepeda atau kendaraan listrik kecil untuk membantu mobilitas dari stasiun ke tujuan akhir. Idealisasi fasilitas Park and Ride harus memiliki sistem keamanan yang baik seperti pengawasan CCTV, pencahayaan yang cukup, dan keberadaan petugas keamanan dapat memberikan rasa aman kepada pengguna kendaraan. Meskipun aksesibilitas ke transportasi umum sudah cukup baik, namun keamanan dari sebuah Park and Ride merupakan hal yang paling perlu diperhatikan. Beberapa hal penunjang yang harus diperhatikan juga yang pertama seperti lokasi yang strategis, tempat parkir harus mudah diakses dari jalan raya utama dan terletak dekat dengan halte transportasi umum untuk memudahkan pengguna. Yang kedua adalah ruang parkir yang luas, fasilitas harus memiliki area parkir yang cukup besar untuk menampung sejumlah besar kendaraan pribadi. Yang ketiga, informasi dan papan petunjuk, seharusnya pada setiap fasilitas Park and Ride tersedia papan informasi yang jelas dan mudah diakses untuk membantu pengguna menavigasi lokasi parkir dan memahami jadwal serta rute transportasi umum yang tersedia. Yang keempat perawatan dan kebersihan, fasilitas harus dirawat dengan baik dan tetap bersih untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Melalui kombinasi beberapa penunjang ini, didorong dengan keamanan yang terjamin, fasilitas Park and Ride dapat meningkatkan penggunaan transportasi umum dengan memudahkan pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke transportasi publik, mengurangi kemacetan lalu lintas, serta mendukung mobilitas yang berkelanjutan. Park and Ride bukanlah sekadar tempat parkir biasa. Ini adalah simbol harapan, di mana kenyamanan bertemu kesadaran akan lingkungan. Sebuah perjalanan yang dimulai dari sini, di mana setiap langkah kecil memiliki dampak besar bagi kota, lingkungan, dan masa depan kita bersama.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman:

Dalops, Di Balik Layar PKA

Seharusnya kita memberikan penghargaan tinggi terhadap penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 yang bisa dibilang berlangsung sukses. Keberhasilan itu dapat dilihat dari antusiasme masyarakat yang berbondong-bondong ke lokasi PKA, serta keterlibatan daerah kabupaten/kota yang secara serius mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba dan mendirikan stan di berbagai lokasi. Kekhawatiran sebelumnya terkait potensi ketidakmeriahan PKA akibat cuaca hujan ternyata tidak terwujud. Hal ini tentu menjadi keberuntungan bagi panitia, sehingga hampir semua rangkaian perlombaan dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Secara keseluruhan, PKA ke-8 berjalan sukses sesuai rencana dan memenuhi harapan banyak masyarakat. Pada acara penutupan PKA-8 di Taman Sulthanah Safiatuddin dan Lapangan Blang Padang, suasana berubah menjadi kerumunan manusia yang begitu padat. Pengunjung sudah memadati kedua area tersebut sejak sore hari. Para pengunjung datang dari berbagai daerah di Aceh untuk menyaksikan ajang lima tahunan tersebut satu kali lagi sebelum ditutup. Keberhasilan penyelenggaraan event ini juga tidak terlepas dari koordinasi yang baik dari panitia dalam melayani kebutuhan pengunjung PKA. Baik yang bertugas mengamankan lokasi acara maupun yang mengatur kelancaran lalu lintas di sekitarnya berkolaborasi secara harmonis. Kerjasama yang baik ini benar-benar menghasilkan pencapaian maksimal, termasuk dalam mengatasi insiden-insiden kecil seperti tindakan pencopetan yang segera ditangani. Di balik gemerlapnya Pekan Kebudayaan Aceh, ada orang-orang belakang layar yang menjadi pahlawan tak terlihat, Diantara ramainya aktor dibalik layar tersebut, salah satunya adalah rekan-rekan dari Dinas Perhubungan yang bertugas sebagai tim pengendalian dan operasional (Dalops). Hadirnya petugas Dalops pada event tersebut jadi kunci lancarnya arus perparkiran di tengah lautan pengunjung PKA.Selain melakukan kegiatan Pengaturan, Pengawasan dan Pengendalian Lalu Lintas (P3L) dan perparkiran, tugas dari Dalops sendiri meliputi menyiapkan sistem informasi dan penanggulangan kecelakaan lalu lintas, menyiapkan bahan serta bimbingan/ penyuluhan di bidang lalu lintas sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Lalu pengumpulan dan analisis data kecelakaan lalu lintas serta membuat usulan penanggulangannya. Kemudian juga menyiapkan bahan bimbingan teknis perparkiran. Hari-hari saat PKA digelar, beriringan dengan matahari yang menyapa kota Banda Aceh, lalu lintas di sekitar lokasi Pekan Kebudayaan semakin menjadi hiruk-pikuk yang tak terkendali. Ratusan kendaraan memadati jalan-jalan sekitar acara, menciptakan simpul kemacetan yang menantang. Rahmad Satriawan, atau yang biasa disapa dengan panggilan Wawan, bersama tim Dalops lainnya, tidak hanya melihat kemacetan sebagai masalah, tetapi sebagai tantangan yang harus dipecahkan dengan strategi dan kehati-hatian. Dengan peta lalu lintas yang rinci, mereka merencanakan alur yang optimal, mengarahkan pengendara ke tempat parkir yang telah ditentukan. Komunikasi yang efektif dan sinkronisasi yang apik antarpetugas Dalops menjadi kunci mengurai simpul kemacetan tersebut. Sementara itu, suasana keramaian di sekitar lokasi acara semakin terasa. Pengunjung dari berbagai penjuru mulai berdatangan, membawa semangat kebudayaan yang membara. Wawan dan rekan tidak hanya menjadi pengatur lalu lintas, tetapi juga jadi wajah-wajah ramah yang menyambut pengunjung. Dengan senyum di wajah dan isyarat tangan yang terampil, mereka memberikan arahan kepada pengendara, menciptakan suasana yang lebih teratur dan aman. Tantangan sebenarnya dapat muncul ketika beberapa kendaraan mendadak mogok di tengah jalan, menciptakan hambatan tambahan. Wawan dengan cepat merespon, memanggil bantuan untuk mengevakuasi kendaraan yang macet dan mengarahkan lalu lintas di sekitarnya. Keahlian tim Dalops dalam menangani situasi kritis seperti ini menjadi penentu dalam menjaga kelancaran acara.“Ada begitu banyak kesan saat bertugas, misalnya ya adu argumen dengan pengendara. Biasanya itu karena nggak mau diatur, maunya menang sendiri, “ ujarnya. Wawan yang telah bertugas di Dinas Perhubungan Aceh sejak tahun 2003 ini mulai bertugas di Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sejak tahun 2010. Sudah banyak suka dan duka yang dialami selama masa bertugas tersebut. “Pekerjaan pengamanan lalu lintas itu kan kadang berjalan 24 jam, jadi otomatis waktu sama keluarga jadi berkurang kalau sedang bertugas. Jadi, hari liburnya ya kadang nggak ada. Misal, kalau ada acara keluarga juga ya harus ditinggalkan kalau tugas,” tambahnya. Bertugas sebagai Dalops pada Pekan Kebudayaan Aceh bukan hanya pekerjaan, tetapi sebuah perjalanan penuh makna yang mengajarkan nilai-nilai kekompakan, tanggung jawab, dan cinta terhadap kebudayaan lokal. Dari setiap pengalaman, Wawan membawa pulang pesan dan kesan yang melekat dalam hatinya, menjadikannya pribadi yang lebih kuat dan bermakna dalam menjalani tugas.“Bertugas jadi dalops itu, kawan dan relasi jadi bertambah banyak. Karena saat tugas itu, kita kan kerjasama, koordinasi dengan stakeholder lainnya,” tutup Wawan.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman:

Masjid Kubah Peninggalan Tsunami Tidak Sekadar Tempat Wisata Religi

Tsunami Aceh meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat Aceh, peristiwa yang merenggut ribuan nyawa tersebut seakan tidak lekang oleh waktu. Peninggalan sejarah tsunami dapat kita jumpai di beberapa lokasi sehingga mengingatkan kita akan bencana dahsyat yang telah terjadi di bumi Aceh. Dari sekian banyak peninggalan sejarah tersebut, salah satu yang menarik adalah sebuah kubah masjid yang terdampar di persawahan. Kubah masjid yang terseret ombak tersebut dijuluki Kubah Tsunami Aceh, atau Kubah Al-Tsunami. Kubah yang berukuran 4×4 meter dan berbobot 80 ton tersebut kini berada di Gampung Gurah, sebuah kecamatan di Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Awalnya Kubah tersebut merupakan kubah Masjid Lamteungoh, yang berasal dari desa Lamteungoh, sebuah wilayah kecamatan Peukan Bada, yang terseret ombak sekitar 2,5km. Pada saat tsunami menghantam Lamteungoh, bangunan Masjid Lamteungoh hancur namun kubahnya terseret ombak di area persawahan yang dikelilingi bukit. Setelah bencana Tsunami Aceh, Kubah Al-tsunami dijadikan tempat wisata religi. Saat ini, wilayah kubah tersebut telah dikelilingi komplek berlantai yang dilengkapi dengan wilayah parkir, tempat wisata, tempat penjualan produk UMKM penduduk lokal, dan juga sebuah masjid yang terletak di sebelah kubah agar para pengunjung dapat lebih leluasa untuk beribadah sekaligus berwisata. Untuk menuju lokasi kubah peninggalan tsunami, dari Masjid Raya Baiturrahman jalan yang harus dilalui yaitu jalan menuju ke bundaran Masjid Baiturrahim Ulele, setelah itu belok ke kiri dengan melewati Jl. Banda Aceh – Calang menuju Jl. Gurah yang letaknya berada dekat Polsek Peukan bada. Dari Polsek Peukan Bada menuju lokasi berjarak kurang lebih 1,5 km dengan waktu tempuh rata-rata sekitar 5 menit. Angkutan umum memang tidak bisa langsung ke lokasi kubah, namun dari Masjid raya masyarakat bisa pergi ke halte kuburan massal dengan menaiki Trans Kutaradja koridor 2B, setelah itu untuk menuju Jl. Gurah bisa menggunakan feeder 5 Trans Kutaradja. Setelah melewati perumahan warga dan jalan menuju persawahan, kita akan menemukan kubah tersebut dikelilingi oleh pemandangan alam yang begitu cantik berupa bukit dan persawahann yang asri dan hijau. Hal yang menarik pada wilayah tersebut, pelancong bisa membeli cinderamata kerajinan aceh berupa pin, hiasan kayu, kain, tas, dan sebagainya yang dijajakan oleh masyarakat sekitar pada area khusus. Walaupun akses jalan agak sempit sehingga bus besar tidak dapat langsung ke lokasi kubah, telah disediakan alternatif solusi berupa ojek khusus mesjid kubah yang dapat dikendarai wisatawan itu sendiri atau dikemudikan oleh pemilik motor untuk ke Masjid Kubah atau keliling Kampung Gurah dengan biaya Rp.20.000,-, seperti yang diungkapkan oleh Ibu Sri, pemandu lokal Masjid Kubah. Uniknya, para pengemudi ojek memiliki gantungan kunci khusus. Ketika wisatawan bus besar sampai, maka pemandu wisata akan menyodorkan nampan berisi kumpulan gantungan kunci yang dapat dipilih acak oleh para wisatawan, untuk menghindari adanya konflik sesama pengemudi ojek mesjid kubah. Wisatawan yang mengunjungi masjid kubah bukan hanya berasal dari Aceh atau Indonesia saja, namun juga berasal dari negara tetangga seperti Malaysia untuk mempelajari sejarah tsunami dan melihat kebesaran Kuasa Allah SWT. Masjid Kubah ini bukan hanya menjadi lokasi wisata religi namun juga sebagai tempat yang dapat memajukan UMKM lokal agar barang-barang khas Aceh dapat dikenal wisatawan lokal maupun internasional. Masyarakat berharap perbaikan fasilitas, akses lokasi jalan dan transportasi lebih baik agar lebih menarik wisatawan lokal maupun internasional untuk lebih banyak mengunjungi tempat wisata religi tersebut.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman:

Pawai Kapal Hias, Impresi Kemahsyuran Maritim Aceh

Kerajaan Aceh adalah salah satu kerajaan di nusantara yang bercorak islam. Kerajaan ini awalnya ialah sebuah pelabuhan transit yang kemudian yang berkembang pesat menjadi kota pelabuhan hingga akhirnya berubah menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan Aceh didirikan oleh raja pertamanya yaitu Ali Mughayat Syah (1514-1530 M). Adapun kerajaan ini dapat berubah menjadi kerajaan besar sendiri tidak lepas dari pengaruh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Karena hal tersebut, Aceh yang wilayahnya sangat strategis terletak di Selat Malaka pun menjadi pelabuhan alternatif bagi para pedagang, khususnya pedagang muslim yang enggan berbisnis di Malaka karena telah dikuasai oleh Portugis.Kehidupan ekonomi masyarakat Aceh adalah dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Dalam perdagangan Kerajaan Aceh memiliki komuditas meliputi lada, emas, minyak tanah, kapur, sutera, kapas, kapur barus, menyan dan belerang. Hasil bumi dan alam yang banyak menjadi bahan ekspor dan komiditas perdagangan yang penting bagi Aceh, sehingga perekonomian Aceh maju dengan pesat. Dalam bidang pelayaran, Aceh yang letaknya sangat strategis di selat malaka pun sangat diuntungkan sehingga menjadi kota pelabuhan. Dari kota pelabuhan tersebut, Aceh mengadakan hubungan dengan pihak asing. komoditas utama atau bisa dikatakan unggulan di Kesultanan Aceh yang diekspor ke luar adalah lada. Adapun kapal yang dimiliki oleh Kerajaan Aceh yang digunakan untuk perdagangan dan pelayaran pada masa keemasan dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda sendiri adalah Kapal Galleon. Pawai Kapal Hias dari Krueng Aceh hingga pendopo Gubernur Aceh yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan PKA 8 Tahun 2023 bertepatan di Hari Minggu (5/11/2023) menjadi suatu peristiwa yang memvisualisasikan dan merayakan kejayaan maritim Aceh. Perjalanan pawai ini tidak sekadar perayaan visual, tetapi juga merangkum sejarah dan warisan keberlanjutan tradisi maritim Aceh. Krueng Aceh sebagai Landasan Sejarah Pawai Kapal Hias dimulai dari Krueng Aceh, yang merupakan simbolisasi landasan sejarah kejayaan maritim Aceh. Krueng Aceh, sebagai jalur air yang mengalir melalui sejarah perdagangan dan perlawanan, menjadi awal perjalanan pawai yang sarat makna. Kapal Hias sebagai Warisan Budaya Kapal Hias yang dihias dengan megah bukan hanya perwujudan seni, tetapi juga warisan budaya yang memperkaya kekayaan maritim Aceh. Setiap kapal membawa cerita tentang perdagangan rempah-rempah, keberanian panglima laut, dan kejayaan maritim Kesultanan Aceh. Perjalanan Menuju Pendopo Gubernur Perjalanan kapal hias menuju pendopo Gubernur Aceh mencerminkan peran penting Aceh dalam konteks regional dan nasional. Pendopo Gubernur, sebagai tempat pertemuan dan pengambilan keputusan, menjadi saksi kejayaan maritim Aceh yang turut membentuk nasionalisme dan identitas bangsa. Simbol Keberlanjutan Tradisi Pawai Kapal Hias tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menunjukkan keberlanjutan tradisi maritim Aceh. Melibatkan generasi muda dalam pawai ini memberikan pesan bahwa warisan maritim harus dijaga dan dilestarikan untuk masa depan sekaligus dapat menyaksikan, merasakan kebanggaan akan kejayaan maritim Aceh. Pawai Kapal Hias menjadi peristiwa yang mencerminkan keberagaman dan kekayaan budaya maritim Aceh. Lebih dari sekadar perayaan, ini adalah suatu bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah yang melibatkan masyarakat dalam merawat dan melestarikannya. Dalam pawai ini juga, mengingatkan kembali kita pada seorang laksamana wanita yang begitu tangguh dan ditakuti di samudera nan luas ini.Ialah Panglima Malahayati terkenal karena strategi militernya yang cerdas dan berhasil memimpin pasukan laut Aceh dalam melawan pasukan kolonial Belanda pada abad ke-17. Namun, dampak dan ketenaran strateginya tidak hanya terbatas di wilayah Aceh, tetapi juga mencapai Eropa. Inilah tujuannya, pawai kapal hias menjadi visualisasi Sejarah bagi generasi sekarang, sehingga penerus bangsa ini tidak lupa dengan kejayaan yang dulu bersanding dengan nama Aceh ini.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman:

Layanan Trans Koetaradja Gratis, Kemenhub Beri Penghargaan Kepada Pemerintah Aceh

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal menerima penghargaan sebagai Pemerintah Daerah dengan Kontribusi Pemberian Subsidi Penyelenggaraan Angkutan Terbaik dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia di Kota Bandung, Rabu, 8 November 2023. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Hendro Sugiatno dalam acara Rapat Koordinasi Teknis (RAKORNIS) Bidang Perhubungan Darat Tahun 2023 yang mengambil tema ‘Kolaborasi Kebijakan untuk Transportasi Darat yang Inklusif dan Berkelanjutan’. Selepas menerima penghargaan pada Rakornis yang dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ini, Teuku Faisal menyebutkan bahwa terpilihnya Pemerintah Aceh untuk mendapatkan penghargaan ini dikarenakan komitmen yang tinggi dalam penyelenggaraan angkutan umum perkotaan.Upaya ini, tambah Teuku Faisal, dilakukan melalui subsidi operasional bus Trans Koetaradja yang telah beroperasi melayani kawasan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar sejak tahun 2016 hingga saat ini dan masih gratis. “Alhamdulillah, penghargaan ini merupakan wujud apresiasi Kemenhub atas upaya Pemerintah Aceh dalam membenahi pelayanan angkutan perkotaan di Aceh, melalui pemberian subsidi Transkoetaradja,” sebut Teuku Faisal. Melalui apresiasi ini, dilanjutkan Teuku Faisal menjadi penyemangat untuk selalu dan kontinyu menghadirkan pelayanan yang maksimal dan profesional. “Sesuai arahan Pj. Gubernur Aceh, Dishub Aceh akan terus meningkatkan pelayanan Trans Koetaradja sehingga masyaraka dapat menikmati angkutan yang nyaman dan murah dalam melakukan aktivitasnya,” kata Faisal. Kehadiran bus Trans Koetaradja sebagai transportasi umum bagi masyarakat perkotaan menjadi bukti keseriusan Pemerintah Aceh sebagai langkah peningkatan tata kelola transportasi perkotaan, aksesibilitas, dan percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pemerintah Aceh merupakan salah satu pemerintah daerah yang concern terhadap layanan angkutan umum perkotaan di Indonesia. Hal itu tercermin dari penyediaan anggaran untuk subsidi operasional Trans Koetaradja yang telah berjalan sejak tahun 2016. Di mana Masyarakat maupun pengguna jasa angkutan massal ini tidak dikenai tarif alias gratis. Pada tahun 2016, Direktorat Bina Sistem Transportasi Perkotaan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memberikan dukungan bus kepada Pemerintah Aceh untuk menyelenggarakan angkutan masal perkotaan bertipe BRT (Bus Rapid Transit) di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Kemenhub RI memberikan dukungan berupa penyediaan bus dan Pemerintah Aceh menyediakan prasarana serta biaya operasionalnya. Angkutan massal perkotaan Trans Koetaradja sebagai solusi tranportasi perkotaan juga diharapkan mampu meningkatkan antusiasme masyarakat untuk beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum. Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI, Hendro Sugiatno mengucapkan selamat atas raihan penghargaan ini dan mengharapkan pemerintah daerah lainnya untuk ikut memberikan kontribusi bagi terselenggaranya angkutan perkotaan di wilayah masing-masing.Pada kesempatan tersebut, Hendro menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kementerian Perhubungan terus melakukan perbaharuan informasi dan peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki karena teknologi transportasi berkembang begitu pesat. Di samping itu, menurut Hendro, untuk mengurangi polusi yang ada di kota-kota besar Indonesia, Pemerintah terus mengembangkan teknologi transportasi di antaranya melalui kendaraan listrik. Tidak sampai di situ, Pemerintah juga melengkapinya dengan aturan-aturan pendukungnya. “Ke depannya teknologi transportasi publik juga berkembang dengan pesat, dan hal ini menjadi tantangan bagi kita sebagai aparatur Pemerintah untuk bisa mengikutinya dengan menyesuaikan terhadap peraturan yang ada. Kita juga dituntut memiliki kesiapan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang terbaik. Karenanya kami berharap Rakornis ini menjadi sarana update informasi dan peningkatan kemampuan kita semua,” kata Hendro. Dirinya juga menuturkan bahwa tidak hanya mempersiapkan kemajuan transportasi di dalam negeri saja, saat ini kemajuan transportasi juga terjadi ditingkat regional. Dimana jalan bebas hambatan di antara negara Asean juga telah dibangun, sehingga transportasi darat di kawasan regional ini akan terhubung. Hal yang serupa juga terjadi di daerah perbatasan seperti di Indonesia dengan Malaysia, dan Indonesia dengan Timor Leste. “Karenanya kebijakan transportasi di tingkat Nasional harus disikapi dengan baik, sehingga tuntutan masyarakat terhadap pelayanan transportasi yang diinginkan dibidang kecepatan dan kenyaman dapat diberikan,” tambahnya.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman:

Faskes Jalan: Penunjang Keselamatan PON XXI Aceh-Sumut

Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XXI Tahun 2024 tinggal menghitung bulan, tepatnya pada bulan September 2024 yang akan digelar di Aceh dan Sumut. Aceh dan Sumut terpilih menjadi tuan rumah pelaksanaan PON ke XXI Tahun 2024 setelah sebelumnya diadakan di Papua empat tahun silam. PON ke XXI Aceh-Sumut ini akan berbeda dari pelaksanaan PON yang pernah ada sebelumnya. Sebab, ajang olahraga nasional tersebut menjadi yang pertama digelar di dua provinsi dengan 33 cabor di Aceh dan 34 cabor di Sumut dan yang pertama diikuti oleh 38 provinsi seluruh Indonesia. Berbagai stakeholder mulai ikut melakukan persiapan dan membantu untuk turut andil dalam perhelatan empat tahunan tersebut. Pada kesempatan ini Dinas Perhubungan Aceh ditunjuk sebagai Panitia Inti Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB. PON XXI/2024) Aceh–Sumut Wilayah Aceh mengikuti dan berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan PON XXI Tahun 2024. Pada perhelatan PON XXI Aceh-Sumut khusus untuk lingkup perhubungan darat Dinas Perhubungan Aceh semakin fokus untuk memberikan pelayanan yang maksimal yaitu dengan melakukan persiapan sejak tahun 2022 lalu. Berbagai fasilitas dan persiapan mulai dilakukan demi kelancaran keberlangsungan acara PON ke XXI, salah satunya yaitu persiapan fasilitas keselamatan pada ruas-ruas jalan yang akan digunakan dan dilewati pada penyelenggaraan PON berlangsung. Fasilitas keselamatan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung keselamatan serta kelancaran keberlangsungan acara PON XXI Aceh-Sumut. Untuk itu, penyediaan fasilitas keselamatan telah dilakukan dan saat ini sedang dalam masa pengajuan terkait fasilitas yang dibutuhkan pada ruas jalan yang akan digunakan pada PON XXI yang diselenggarakan di Aceh khususnya. Pengajuan fasilitas keselamatan yang disetujui nantinya akan segera dilakukan pemasangan dan menggantikan fasilitas-fasilitas keselamatan yang sudah tidak layak bahkan yang belum ada sekalipun. Saat ini, kondisi eksisting jalan yang ada di Aceh masih terbilang dalam keadaan layak, sedangkan untuk kondisi eksisting fasilitas keselamatan jalan beberapa masih dikatakan layak dan beberapa pula perlu dilakukan penggantian bahkan pengadaan fasilitas keselamatan yang baru. Berkaca pada PON tahun-tahun sebelumnya, diharapkan  Aceh dan Sumut dapat sukses menjadi tuan rumah PON ke-XXI Tahun 2024, diharapkan Aceh-Sumut dapat menyediakan performa layanan yang maksimal dengan memperhatikan kenyamanan, keselamatan dan bertanggungjawab penuh terhadap keberlangsungan acara, serta perhelatan empat tahunan tersebut dapat terselenggara dengan lancar dan sukses. Dalam hal ini juga, Dinas Perhubungan Aceh beserta seluruh pihak dapat memberikan kontribusi maksimal dan berperan aktif ikut berpartisipasi untuk bekerjasama menyukseskan PON ke-XXI Tahun 2024. Serta PON ke-XXI Tahun 2024 di Aceh dan Sumatera Utara diharapkan dapat menjadi agenda akbar terakhir yang menjadi kenangan yang berkesan bagi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di masa akhir jabatannya.(*) Versi cetak digital Tabloid Aceh TRANSit Edisi 15 dapat diakses di laman: