Dishub

Permasalahan dan Menambah Ketertarikan Generasi Milenial Terhadap Trans Koetaradja

Oleh Ridha Rosmarna DewiJuara 1 Lomba Menulis Transportasi Aceh Tahun 2022 Trans Koetaradja tentu sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Aceh, khususnya warga Banda Aceh dan di sekitarnya. Kehadiran Trans Koetaradja memberikan warna baru dalam dunia transportasi umum, kehadirannya pun kerap digemari oleh sebagian kalangan masyarakat. Trans Koetaradja sudah mulai dioperasionalkan sejak tahun 2016 yang merupakan inovasi baru bagi Provinsi Aceh. Kehadiran Trans Koetaradja diharapkan mampu memberikan akses mobilitas yang merata kepada seluruh masyarakat hingga ke daerah terpencil. Dengan adanya Trans Koetaradja masalah pada transportasi kini dapat dikurangi. Seperti masalah pada masyarakat yang mobilitasnya terkadang terhambat oleh tidak adanya kendaraan pribadi, namun dengan adanya Trans Koetaradja diharapkan penghambatan mobilitas seperti ini dapat diatasi. Kehadiran Trans Koetaradja juga diharapkan dapat mendukung infrastruktur pertumbuhan ekonomi, mengurangi kecelakaan lalu lintas, menghindari kemacetan sehingga dapat menurunkan polusi udara, dan mampu menciptakan kondisi kota yang ramah lingkungan.1,2 Selain memiliki beberapa tujuan dan manfaat, Trans Koetaradja terus mengutamakan dan mempertahankan kualitasnya. Hal ini dapat terlihat dari suasana bus yang selalu bersih, fasilitasnya pun dilengkapi dengan AC (Air Conditioner) dan CCTV (Closed Circuit Televition) sehingga dari kamera tersebut dapat memantau perilaku pengemudi, dan kondisi penumpang di dalam bus. Tentu fasilitas yang ditawarkan menambah kenyamanan dan keamanan bagi para penumpang. Tidak hanya itu, tarif biaya yang akan diberlakukan juga sangat ekonomis dan cara pembayarannya juga bisa dengan menggunakan berbagai cara nantinya, yaitu dengan cara tunai maupun nontunai seperti: LinkAja, T-Money, OVO, GoPay, dan lain-lain. Hal ini merupakan inovasi yang patut diapresiasi karena pemerintah Aceh sangat sigap dalam mengikuti perkembangan digital yang semakin hari semakin berkembang. Dengan adanya metode pembayaran digital, tanpa disadari mampu menambah wawasan baru pula bagi para penumpang dalam mengikuti perkembangan zaman khususnya bagi generasi milenial. Namun, beberapa tujuan tersebut sepertinya belum sepenuhnya tercapai. Sungguh disayangkan fasilitas yang begitu nyaman dan mudah belum mampu menambah ketertarikan generasi milenial pada Trans Koetaradja. Hal ini dapat dilihat dari data statistik yang memperlihatkan penggunaan transportasi pribadi terus meningkat di setiap tahunnya.3,4 Tentu hal ini belum relevan dengan tujuan dioperasionalkannya Trans Koetaradja. Seharusnya dengan adanya Trans Koetaradja mampu menekan jumlah penggunaan transportasi pribadi di setiap tahunnya. Banyaknya penggunaan transportasi pribadi yang terus meningkat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor status ekonomi. Semakin tinggi pendapatan masyarakat semakin berpeluang generasi milenial menggunakan transportasi pribadi dibandingkan dengan transportasi umum.5 Jika hal ini terus berlanjut, tradisi sosial-budaya menggunakan transportasi umum akan hilang tingkat eksistensinya dan pelajaran moral yang didapat dalam tata krama penggunaan transportasi umum juga akan menurun. Akibatnya lahirlah generasi milenial yang tidak tertarik pada tranportasi umum dan kurang berkembangnya nilai sosial budaya bagi kehidupan yang berkualitas. Ketertarikan generasi milenial pada Trans Koetaradja diharapkan dapat meningkat sehingga mampu mewujudkan tujuan pokok dari dioperasionalkannya Trans Koetaradja dan mampu mewujudkan tujuan visual yang berdampak positif bagi sosial budaya, seperti mampu membangun kembali tradisi menggunakan transportasi umum di kalangan generasi milenial yang sedikit demi sedikit kini mulai menghilang. Jika dipahami lebih luas lagi, dengan menggunakan Trans Koetaradja juga dapat melatih generasi milenial untuk lebih menghargai waktu dalam menghadapi keterlambatan mengakses Trans Koetaradja sehingga generasi milenial akan lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Pelajaran menarik lainnya dapat membentuk kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Misalnya di dalam Trans Koetaradja terdapat penumpang lanjut usia yang tidak memiliki tempat duduk, generasi milenial bisa melatih kepeduliannya dengan cara memberikan tempat duduknya kepada penumpang lanjut usia tersebut dan tentu masih banyak lagi pelajaran moral yang akan didapat. Ironisnya, nilai-nilai positif tersebut sudah jarang terlihat terlebih lagi karena banyaknya dari generasi milenial saat ini lebih tertarik menggunakan transportasi pribadi dibandingkan dengan transportasi umum. Sinurat, dkk mengungkapkan beberapa alasan kurangnya ketertarikan masyarakat pada Trans Koetaradja yaitu, pertama: pengaruh pendapatan. Dari hasil penelitian didapat bahwa tingkat pendapatan responden berpengaruh negatif dan signifikan terhadap intensitas penggunaan Trans Koetaradja, yang artinya semakin tinggi pendapatan masyarakat maka semakin menurun intensitas pemakaian transportasi umum. Yang kedua: pengaruh waktu, masyarakat akan lebih senang jika lokasi halte Trans Koetaradja lebih mudah dijangkau, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju halte Trans Koetaradja. Yang ketiga: pengaruh jarak, Semakin jauh jarak tempuh Trans Koetaradja akan meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakannya. Bertambahnya jangkauan rute Trans Koetaradja akan menambah tujuan-tujuan mobilitas masyarakat.5 Selain itu keluhan mengenai keterlambatan kedatangan Trans Koetaradja juga dikeluhkan oleh masyarakat sebanyak 37% yang merupakan tingkat keluhan tertinggi mengenai layanan Trans Koetaradja.6 Beberapa keluhan tersebut sudah mendapat perhatian pemerintah dan sedang ditindaklanjuti demi kelancaran operasional dan demi menambah ketertarikan pada Trans Koetaradja. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aplikasi yang sudah mulai dirancang untuk melacak posisi Trans Koetaradja supaya penumpang tidak terlalu lama dalam menunggu. Bahkan bukan hanya pemerintah, Payana dkk juga terinspirasi dari permasalahan tersebut untuk menciptakan aplikasi pelacakan rute dan halte Trans Koetaradja menggunakan self position GPS berbasis android.7  Selain itu, upaya lain yang dilakukan pemerintah untuk menarik minat pada Trans Koetaradja yaitu telah dilakukan uji coba pada hari Minggu tanggal 21 Agustus 2022 terhadap layanan ke sejumlah destinasi wisata yang ada di kota Banda Aceh dan Aceh besar bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh dan Dinas Kebudayaan dan Parawisata (Disbudpar) Aceh diharapkan perluasan rute ini akan meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakannya.8 Namun, untuk menarik perhatian generasi milenial terhadap Trans Koetaradja sepertinya masih belum optimal. Mengenai masalah ketertarikan generasi milenial, perhatian pemerintah masih sangat minim. Gambaran ini terlihat dari fokus pemerintah yang lebih kepada meningkatkan kualitas Trans Koetaradja sedangkan pengenalan terhadap Trans Koetaradja itu sendiri masih sangat kurang. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, oleh karena itu penting bagi pemerintah untuk meningkatkan kembali pengenalan pada Trans Koetaradja kepada generasi milenial. Beberapa usaha pengenalan yang telah dilalukan pemerintah sebenarnya sudah baik, seperti pemanfaatan media sosial sebagai alternatif dalam mengedukasi masyarakat, khusunya generasi milenial.  Hal ini terlihat dengan adanya akun Dishub Aceh di media sosial seperti: Instagram, Tiktok, Twitter, bahkan Channel Youtube juga sudah ada. Namun, generasi milenial sebagian masih sangat jarang mengakses akun-akun tersebut. Untuk mengatasi hal ini pemerintah bisa memanfatkan jasa selebgram atau influencer Aceh untuk mempromosikan akun-akun tersebut dan bisa juga dengan cara membuat konten kreatif yang menarik berisi edukasi atau drama singkat tentang ayo naik bus Trans Koetaradja yang melibatkan orang-orang

Komisi III DPRK Banda Aceh Sambangi Dishub Aceh

BANDA ACEH – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal bersama pejabat struktural menerima kunjungan silaturrahmi anggota Komisi 3 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Banda Aceh di Ruang Traffic Dishub Aceh, Rabu, 28 September 2022. Pada pertemuan itu, Teuku Faisal mendengar sejumlah aspirasi yang disampaikan oleh anggota DPRK Banda Aceh terkait pembangunan sektor perhubungan di Kota Banda Aceh. Teuku Faisal menyampaikan apresiasi atas kunjungan silaturrahmi tersebut. Tugas pemerintah di sektor perhubungan, ujarnya, memang sangat kompleks karena kewenangannya cukup luas, mulai dari membangun infrastruktur hingga menjalankan operasional transportasi. “Maka sudah sepatutnya sektor perhubungan menjalin kolaborasi yang kuat dengan berbagai elemen supaya pembangunannya berjalan efektif serta berkelanjutan,” ungkap Faisal. Masukan-masukan yang disampaikan oleh DPRK Banda Aceh, kata Teuku Faisal, akan kita tampung untuk selanjutnya dipelajari dan ditindaklanjuti bersama dengan Dishub Kota Banda Aceh maupun dengan instansi terkait lainnya. Di samping itu, kata Teuku Faisal, Dishub Aceh telah menyediakan layanan aduan maupun masukan terkait sektor perhubungan melalui media sosial. “Walaupun jam kantor hanya sampai pukul 5 sore, tapi masukan maupun laporan ke Dishub Aceh tetap bisa dilakukan melalui media sosial selama 24 jam,” tuturnya. (AM)

Bus Trans Koetaradja Bawa Peserta Fordasi Keliling Banda Aceh

BANDA ACEH – Peserta Forum Desentralisasi Asimetris Indonesia (Fordasi) mengikuti kegiatan City Tour di Kota Banda Aceh menggunakan bus Trans Koetaradja, Kamis, 22 September 2022. Bus Trans Koetaradja juga membawa para peserta ke sejumlah destinasi pariwisata di Kota Banda Aceh, seperti Museum Aceh, Museum Tsunami, Museum PLTD Apung, dan Mesjid Raya Baiturrahman. Selama city tour, peserta juga mendengar penjelasan dari pemandu wisata tentang sejarah dan wisata Aceh. Fordasi merupakan forum kolaborasi yang terdiri dari lima provinsi di Indonesia, yaitu Aceh, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Papua, dan Papua Barat. Rapat koordinasi Fordasi diselenggarakan setiap tahun, di mana Provinsi Aceh menjadi tuan rumah pada tahun 2022 ini. (AM)

Terminal, Peluang dan Potensi Ekonomi Daerah

Kotor, dan tidak teratur. Itulah image terminal yang melekat dalam persepsi masyarakat. Mereka pun enggan singgah ke terminal. Katanya, masuk ke terminal sama dengan masuk sarang penyamun. Dapat dibayangkan betapa sumpeknya jika harus berada di terminal. Jauh berbeda dengan bandara, indah, mewah, rapi, dan nyaman. Padahal, terminal sebagai bagian simpul transportasi yang menjadi salah satu gerbang perekonomian daerah. Dalam lembaran ilmiah juga mengungkap fakta bahwa perkembangan suatu daerah tidak terlepas dari sistem transportasi, yang menjadi dasar bagi pembangunan ekonomi, masyarakat dan pertumbuhan industri. Jelas, pertumbuhan ekonomi suatu daerah tergantung pada tersedianya pengangkutan dalam daerah yang bersangkutan. Keberadaan terminal di suatu daerah merupakan pemicu munculnya aktivitas ekonomi. Hal ini terlihat jika operasional dan pelayanan terminal berjalan optimal maka pokok-pokok ekonomi akan tumbuh, seperti pengiriman barang akan meningkatkan daya jual dan beli di tengah masyarakat akibat penekanan biaya transportasi. Biasanya teori dasar ekonomi yaitu semakin banyak permintaan, maka penawaran akan tinggi, berarti setiap produk yang banyak diinginkan konsumen maka harga barang akan naik. Hal ini jauh berbeda dengan konspirasi transportasi, semakin banyak permintaan, maka harga pun dapat ditekan. Oleh karenanya, kelancaran operasional dan pelayanan terminal harus diupayakan seoptimal mungkin. Belum lagi, pusat-pusat usaha seperti kios-kios, warung serta pusat souvenir di sekitar terminal yang semakin beragam dan bertambah jumlahnya akan terus berkembang dan tumbuh, inilah tunas-tunas ekonomi bermunculan. Tumbuhnya aktivitas-aktivitas ekonomi tersebut mendukung peran terminal sebagai penggerak atau kutub pertumbuhan yang menarik aktivitas lain untuk berkembang. Terminal sebagai media penghubung aliran ekonomi antara produsen dengan konsumen serta bentuk guna lahan memberikan stimulus bagi masyarakat di sekitarnya. Terminal memiliki peluang ekonomi tinggi dalam mengembangkan usaha perdagangan dan jasa. Namun, pelayanan terminal yang optimal menjadi kunci awal penarik minat masyarakat sebagai pelaku ekonomi. Jika wajah terminal masih sama dengan persepsi awal masyarakat yang kumuh dan pusatnya premanisme maka dapat dipastikan bahwa tidak ada investor dengan “ide gilanya” mau menitipkan dananya. Sebagai pemegang kewenangan, potensi yang sangat besar terhadap peran terminal seyogyanya telah membuka mata kita, strategi apa yang semestinya dilakukan agar peran terminal sebagai pengungkit ekonomi berfungsi secara efisien dan efektif. Seperti yang disampaikan Safuadi, S.T., M.Sc., Ph.D., Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Aceh/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Aceh, saat memberi materi tentang Membangun Aceh melalui Sinergi Strategi dan Kebijakan Bidang Transportasi di Aceh dalam Rapat Sinergisitas Rencana Kerja Perhubungan Aceh Tahun 2022 di Amel Hotel and Convention Hall, Selasa, 15 Maret 2022. Safuadi mengilustrasikan pentingnya transportasi dalam menopang potensi alam dan pariwisata yang sangat besar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun sayangnya, aksesibilitas yang kurang memadai dan belum terintegrasi dengan baik menjadi penghambat tumbuhnya perekonomian Aceh. Di samping itu, Safuadi menyebutkan pula bahwa penghambat utama ekonomi Aceh tumbuh tinggi adalah infrastruktur yang kurang memadai, terutama terkait konektivitas antar wilayah seperti halnya terminal. Makanya, kolaborasi yang baik sangat diperlukan agar pembangunan sarana dan prasarana transportasi benar-benar berdampak bagi pertumbuhan ekonomi Aceh. Terkadang juga tak dapat dipungkiri, peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan terminal berbenturan dengan kejadian lapangan. Semestinya terminal bersifat terpadu dan kolaboratif, yang berarti sebuah terminal memiliki layanan satu pintu yang dapat mengakses transportasi baik dalam daerah maupun ke luar daerah. Namun pasal kewenangan, semuanya jadi terpisah dan terkotak-kotak. Kenyataannya, banyak bus antar provinsi yang tidak bisa masuk ke terminal yang hanya melayani antar kabupaten dalam daerah, sedangkan permintaan penumpang akan pelayanan bus cukup tinggi. Ujung-ujungnya, bus terpaksa menjemput penumpang dan ngetem di pinggir jalan. Akibatnya, lalu lintas kembali amburadul dan kemacetan tak terelakkan. Hal-hal yang seperti ini menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengaturan kebijakan. Perubahan harus digebrak secepatnya. Layaknya mall atau pusat perbelanjaan yang menarik perhatian masyarakat dan investor, terminal juga harus memiliki wajah baru, dari sarang penyamun menjadi ruang publik yang banyak diminati masyarakat. Memang membangun perubahan butuh waktu, tidak serta merta dan tidak hanya fisik saja, tapi juga menyangkut sumber daya manusia (SDM) dan menyangkut masalah hal lain, seperti penganggaran, manajemen operasional dan lain sebagainya. Namun dengan seabrek masalah bukan tidak mungkin untuk membuat perubahan. Perubahan itu nyata, hanya kita butuh usaha dan mempercepat proses. Tak ada yang mustahil ketika kita berusaha dan saling mendukung. (Misqul Syakirah) Selengkapnya donwload di:

Sektor Transportasi Tumbuh 21,27 Persen di Kuartal Kedua

BANDA ACEH – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor transportasi telah berhasil tumbuh 21,27 persen di kuartal kedua tahun 2022, dan memberi sumbangan positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,44 persen. Pencapaian ini harus kita syukuri. Di tengah tantangan (pandemi Covid-19), sektor transportasi masih memberi kontribusi yang berarti bagi Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal saat membacakan sambutan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi, dalam upacara peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) di Provinsi Aceh yang digelar di Depo UPTD Angkutan Massal Trans Kutaraja, Banda Aceh, Sabtu, 17 September 2022. Di tengah pencapaian yang baik ini, kata Teuku Faisal, harus diakui pula bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi. Di mana banyak pembangunan yang harus dituntaskan untuk meningkatkan konektivitas di seluruh nusantara. “Peringatan Harhubnas merupakan momentum yang tepat bagi Insan Perhubungan untuk terus memperbaiki kinerja pada sektor transportasi,” ungkapnya. Tantangan-tantangan ini, tambahnya, tidak akan bisa dihadapi tanpa kolaborasi dan sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor transportasi. “Oleh karena itulah, hari perhubungan tahun ini mengambil tema “Bangkit Maju Bersama”. Kita tidak akan bisa cepat bangkit jika kita tidak bersama, tidak Bersatu,” ujarnya. Di samping itu, Teuku Faisal menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh Insan Transportasi di manapun berada. Yang bertugas di kota, di desa, di perbatasan dan di pulau-pulau terpencil. Yang telah mengabdi demi menjaga konektivitas di seluruh penjuru negeri. Teuku Faisal juga mengajak seluruh peserta upacara maupun tamu undangan untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah gugur dalam memajukan transportasi Indonesia. “Mari kita kenang mereka semua sebagai pahlawan transportasi,” tuturnya. Hari Perhubungan Nasional 2022 atau Harbubnas diperingati setiap tanggal 17 September. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengangkat tema “Bangkit Maju Bersama”. Tema ini diharapkan menjadi spirit kebangkitan jasa transportasi setelah dua tahun menghadapi pandemi COVID-19. Upacara Harhubnas tersebut dihadiri seluruh Aparatur Sipili Negara (ASN) Dinas Perhubungan Aceh. Turut dihadiri pula oleh Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Kepolisian Daerah (Polda) Aceh para Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota se-Aceh, dan para mitra kerja perhubungan Aceh. Dinas Perhubungan Aceh juga menyerahkan hadiah kepada para mitra kerja perhubungan terbaik dan pemenang lomba yang menjadi rangkaian kegiatan memperingati Harhubnas 2022 di Aceh. Di antaranya, penilaian standar pelayanan minimal (SPM) AKDP terbaik, lomba menulis transportasi Aceh, serta pengelolaan media sosial terbaik pada Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota se-Aceh. (AM)

ASN Dishub Aceh dan Mitra Kerja Donasikan 144 Kantong Darah

BANDA ACEH – ASN Dinas Perhubungan Aceh bersama mitra kerja di sektor perhubungan Aceh berhasil donasikan 144 kantong darah dalam kegiatan donor darah rutin Pemerintah Aceh yang digelar di Depo UPTD Angkutan Massal Trans Kutaraja, Rabu, 14 September 2022. Aksi kemanusiaan ini juga menjadi rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) Tahun 2022 yang jatuh pada tanggal 17 September mendatang. Sekretaris Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Rizki Fadhil saat meninjau dan ikut mendonasikan darahnya pada kegiatan ini menyebutkan bahwa antusias pegawai Dishub Aceh untuk berkontribusi dalam aksi ini sangat luar biasa. “Alhamdulillah, para ASN cukup antusias, buktinya hari ini ramai sekali yang hadir agar bisa ikut menyumbang darahnya, kita sangat mengapresiasi kebaikan niat mereka,” kata Teuku Rizki. Teuku Rizki juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh mitra kerja perhubungan Aceh yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah hari ini. Di antaranya, PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, Perum Damri Banda Aceh, Basarnas Banda Aceh, PT Jasa Raharja Aceh, dan Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh. (AM)

Trans Meudiwana Lahirkan Legacy Baru Kemajuan Pariwisata Aceh

BANDA ACEH – Aceh sangat kaya akan nilai-nilai sejarah, dan ini menjadi tugas kita semua untuk terus menjaga dan mempromosikan kekayaan peninggalan sejarah itu kepada masyarakat luas. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal saat memberi sambutan dalam Launching Trans Meudiwana di Museum Aceh, Minggu, 11 September 2022. Program Trans Meudiwana ini, kata Almuniza, merupakan hasil kerjasama dan kolaborasi Disbudpar Aceh dengan Dinas Perhubungan Aceh untuk melahirkan legacy baru untuk kemajuan kepariwisataan Aceh. “Untuk memajukan pariwisata Aceh, Disbudpar tidak bisa melakukannya sendiri, butuh kolaborasi dan kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk sektor perhubungan,” kata Almuniza. Kehadiran layanan angkutan umum di lokasi wisata, tambah Almuniza, tentu akan menghadirkan kenyamanan bagi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Almuniza juga menyampaikan apresiasi kepada Dishub Aceh, UPTD Angkutan Massal Trans Kutaraja, serta para pelaku pariwisata atas dukungan dan atensinya terhadap pariwisata Aceh. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal menyampaikan bahwa kehadiran Trans Meudiwana bisa menjadi solusi bagi masyarakat di tengah tingginya inflasi dan kenaikan harga BBM. “Ini salah satu solusi dan inovasi hasil kolaborasi Dishub Aceh dan Disbudpar Aceh agar masyarakat tetap bisa beraktivitas dan berwisata sehingga tidak terlalu berat beban yang dirasakan oleh masyarakat dengan meningkatnya inflasi dan tingginya harga BBM,” ungkap Teuku Faisal. Teuku Faisal juga mengisahkan bahwa inovasi ini lahir dari keresahannya, di mana sarana dan SDM Trans Koetaradja yang cukup baik namun belum termanfaatkan dengan maksimal. “Jadi kita berpikir inovasi apa yang bisa dilakukan untuk mendukung seluruh sektor, akhirnya kita cetus inovasi yang bisa mendukung pariwisata Banda Aceh dan Aceh Besar,” ujarnya. Teuku Faisal berharap kolaborasi ini menjadi sebuah model kolaborasi baru untuk menjadikan pariwisata Aceh semakin baik ke depannya. Turut hadir dalam launching Trans Meudiwana ini Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Kadishub Kota Banda Aceh, Kadis Pariwisata Banda Aceh, Kadisparpora Aceh Besar, Dirut PT Harapan Indah Transport, GM Perum Damri Banda Aceh, serta para pelaku pariwisata di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebagai informasi, Trans Meudiwana mempunyai makna Trans Berwisata yang diambil dari bahasa Aceh kuno. Program yang berlangsung setiap hari Minggu ini tidak berbayar, atau sama dengan pelayanan Trans Koetaradja reguler. Dishub Aceh mengerahkan 6 unit bus untuk melayani 2 rute Trans Meudiwana di wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Rute 1 (MRB – Pelabuhan Ulee Lheue) dilayani oleh 2 unit bus, dan beroperasi mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.22 WIB. Sedangkan rute 2 (MRB – Pantai Lampuuk) dilayani oleh 4 unit bus, dan beroperasi mulai pukul 09.00 WIB hingga 18.57 WIB. (AM) Berita Menarik Lainnya: Dishub Aceh Bersama Disbudpar Aceh Uji Coba Trans Wisata Dishub Aceh Perluas Layanan Trans Koetaradja dengan 4 Rute Baru Buy The Service (BTS), Upaya Menggalakkan Angkutan Massal Perkotaan

Pelajar Pelopor Jadi Ujung Tombak Keselamatan Berlalu Lintas

BANDA ACEH – Indonesia butuh generasi muda untuk membawa perubahan yang semakin baik bagi negara ini, terkhusus pada perkembangan transportasi. Ide keratif dan inovatif yang ada pada generasi mendatang merupakan senjata yang sangat penting dalam mewujudkan transportasi yang yang andal dan berdaya saing. Hal ini  seperti yang disampaikan  Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal dalam sambutannya, saat acara pembekalan Peserta Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Jalan Tingkat Nasional Tahun 2022 di Ruang Pertemuan “Multimoda”, Sabtu, 10 September 2022, bahwa pelajar pelopor ini merupakan ujung tombak generasi dalam mewujudkan kesadaran pada generasi bangsa akan keselamatan berlalu lintas. “Dipundak adik-adik saat ini membawa nama provinsi aceh. Besar harapan kami kepada adik-adik untuk memberikan yang terbaik dalam agenda nasional ini, sehingga di tingkat nasional aceh dipandang menjadi cerminan generasi milenal yang peduli keselamatan LLAJ,” ujar T. Faisal. Pemilihan pelajar pelopor keselamatan LLAJ tingkat Provinsi Aceh tahun 2022 telah diselenggarakan pada bulan juli yang lalu diikuti sebanyak 23 orang peserta yang berasal dari kabupaten/kota se- aceh. Dari hasil kegiatan terpilihlah 3 (tiga) peserta terbaik akan mewakili provinsi aceh dalam agenda pemilihan pelajar pelopor keselamatan LLAJ tingkat nasional yang mengusung tema “Indonesia future transport”. “Saya berharap kegiatan ini menjadi acuan bagi para peserta pelajar pelopor keselamatan lalu lintas agar dapat memberikan tauladan bagi rekan-rekan di sekolahnya sehingga akan mampu meciptakan suatu kondisi lalu lintas yang aman, tertib dan nyaman di lingkungannya,” pungkasnya. Dalam acara ini juga turut hadir mendampingi, Sekdishub Aceh, Kabid. LLAJ, dan Kabid. Pelayaran. Sebagai informasi, kegiatan Pemilihan Pelajar Pelopor Tingkat Nasional ini akan dilaksanakan di Jakarta, pada 12 – 14 September 2022, yang dikuti oleh perwakilan dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Lampung, D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, JAwa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Banten, dan Jakarta. (MS) Berita Menarik Lainnya:  23 Pelajar SMA Se-Aceh Ikuti Pemilihan Pelajar Pelopor 2022 Organda Aceh Akan Sesuaikan Tarif Angkutan Dalops Dishub Aceh Lakukan Penertiban Lalin Saat Upacara HUT RI

Dishub Aceh Perluas Layanan Trans Koetaradja dengan 4 Rute Baru

ACEH BESAR – Tingginya permintaan masyarakat Kota Banda Aceh dan Aceh Besar akan pelayanan Trans Koetaradja untuk menjangkau wilayah layanan yang lebih luas, menjadi perhatian khusus Pemerintah Aceh. Oleh karenanya, guna menjawab kebutuhan transportasi masyarakat, Dinas Perhubungan Aceh melalui UPTD Angkutan Massal Trans Kutaraja memperluas layanannya dengan membuka 4 (empat) rute baru sehingga kebutuhan mobilitas masyarakat terpenuhi. Rute pengumpan (feeder) baru yang dilalui Bus Trans Koetaradja sejak 1 September 2022 lalu, yaitu Ulee Lheue – Simpang Rima, Simpang Rima – Simpang 3 PU, Simpang Rima – Lampuuk dan Pusat Kota – Lambaro via Lueng Bata. Bus ini beroperasional dari pukul 06.30 WIB hingga pukul 20.00 WIB setiap harinya. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal mengatakan bahwa dengan diluncurkannya rute baru ini, masyarakat di wilayah layanan dapat memanfaatkan Trans Koetaradja untuk berbagai kebutuhan mobilisasi, seperti kebutuhan perdagangan, bisnis, pendidikan maupun aktivitas sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Rute baru ini juga diharapkan dapat menunjang aktifitas wisata karena terhubung dengan kawasan wisata pantai Lampuuk di Aceh Besar serta dengan mudah dapat terkoneksi dengan rute-rute utama lainnya. “Penumpang yang ingin berpindah rute, dapat turun pada halte transit, dan selanjutnya melanjutkan perjalanannya ke rute yg dituju” ungkap Faisal. Sementara itu Kepala UPTD Angkutan Mssal Trans Kutaraja, M. Hanung Kuncoro mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap ketepatan waktu, kebersihan dan pelayanan angkutan masal perkotaan milik masyarakat Aceh ini. Ia berharap masyarakat dapat menikmati pelayanan rute baru ini dan bersama-sama menjaga kebersihan serta menerapkan protokol kesehatan dalam bertransportasi.(QQ) Berita Menarik Lainnya: Wisata Ceuraceu Eumbon, Berdayakan Masyarakat Gampong GISA Percepat Penanganan Stunting dan Imunisasi di Aceh E-Kiosk Mudahkan Retribusi Masuk Terminal Tipe B Abdya Simak Video Menarik: https://www.youtube.com/watch?v=OZdraDRPcAU

Wisata Ceuraceu Eumbon, Berdayakan Masyarakat Gampong

Indah nan syahdu, mungkin itu ungkapan yang akan sering terbayang dalam benak pikiran kita selama mengikuti perjalanan wisata ini. Iya, wisata Ceuraceu Eumbon, salah satu wisata air yang sedang naik daun di Aceh pada tahun 2021 ini. Wisata air memang sudah lumrah kita temukan di Aceh, khususnya wisata air tawar. Namun, siapa sangka, bumi Aceh Jaya menawarkan wisata air yang begitu indah dan membuat mata penuh takjub. Perjalanan wisata menggunakan speedboat selama lebih kurang 3 jam ini dimulai dari Gampong Ceuraceu. Di dekat dermaganya, kita bisa melihat jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses masyarakat saat ingin beraktivitas ke luar. Namun bukan itu fokus kita kali ini, tetapi pemandangan indah di sepanjang Krueng Teunom sudah dimulai dari sini. Dimulai dengan jembatan gantung yang berdiri kokoh, berlatarkan pegunungan hijau yang bersilang. Bergerak 15 menit dari dermaga, kita menjumpai ‘pantai-pantai’ sungai yang penuh dengan pasir dan bebatuan kecil nan unik. Rasanya ingin langsung terjun ke sungai untuk berenang di antara ikan-ikan yang bermain di dalamnya. Tepian sungai yang dilalui ini juga masih terlihat sangat alami, artinya tidak banyak aktivitas masyarakat di daerah ini. Pengunjung bisa meminta kepada pemandu untuk berhenti di pantai sungai, baik untuk berswafoto, makan siang, berenang, atau shalat. Perjalanan pun lebih dinamis tidak diburu waktu, karena perjalanan yang disarankan dimulai pukul 7 atau 8 pagi. Di saat mata masih terpesona dengan pantai sungai yang indah, tebing-tebing tinggi menjulang ikut menyapa. Tebing batuan kapur yang ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan kecil di sela-selanya ini menemani perjalanan wisata. Sungguh indah, rasanya seperti sedang berada di Grand Canyon-nya Sungai Colorado di Arizona Utara. Bedanya, tebing-tebing di sini tidak berupa ngarai yang berbentuk lembah dalam. Akan tetapi, ia adalah tebing bebatuan murni yang terbentuk oleh patahan-patahan yang telah terjadi selama beberapa abad yang lalu. Pemandangan indah yang telah kita lalui bukanlah sebuah akhir, Wisata Ceuraceu Eumbon masih menyimpan wahana air terjun sebagai sebuah kejutan. Rasanya pantas menjadikan air terjun sebagai titik istirahat setelah perjalanan selama lebih kurang 3 jam. Lokasinya berada tidak jauh dari bibir sungai. Hanya butuh waktu 5 menit berjalan kaki ke lokasi ini. Pihak pengelola telah membersihkan area air terjun dan membuat jalur setapak untuk memudahkan akses bagi pengunjung. Di air terjun, kita bisa menyantap makan siang sembari beristirahat, atau mandi di bawah air terjun sambil berswafoto bersama sejawat. Wisata ini dimotori oleh anak-anak muda sekitar Gampong Ceuraceu, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya sejak bulan Juli 2021 yang lalu. Mereka menggagas Komunitas Sadar Wisata Ceuraceu Eumbon dengan tujuan untuk bersama-sama membangun perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata. Maulidi, ketua komunitas ini, yang ditemui Aceh TRANSit, menyebutkan bahwa wisata Ceuraceu Eumbon masih baru, sehingga masih perlu pembenahan dan dukungan dari berbagai pihak. “Kita mengharapkan dukungan banyak pihak, khususnya Pemerintah Aceh dan Aceh Jaya, supaya pelayanan wisata ini terus membaik,” harapnya. Selama ini, ungkapnya, wisata Ceuraceu Eumbon sudah mulai memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Misalnya, paket penginapan dan makanan yang ditawarkan kepada pengunjung dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Tidak cuma itu, untuk speedboat juga dikerjasamakan dengan masyarakat, sehingga pemilik boat bisa terberdayakan dengan wisata. Perjalanan ke sini membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dari Banda Aceh. Begitu tiba di Pasar Teunom Aceh Jaya, kita bisa meneruskan perjalanan selama 40 menit ke Gampong Ceuraceu. Kondisi jalan di daerah ini lumayan bagus, hanya saja di beberapa titik ada kerusakan akibat dilalui kendaraan berat. Tapi tentu saja tidak akan menurunkan semangat kita untuk cepat-cepat tiba di Ceuraceu. (Amsal Bunaiya) Selengkapnya donwload di: https://dishub.acehprov.go.id/aceh-transit-press/