Dishub

Tangguh, Modern, dan Memanjakan

KMP Aceh Hebat menjadi primadona baru bagi masyarakat Aceh, khususnya mereka yang mendiami wilayah kepulauan. Bagaimana tidak, kehadiran armada ini diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik ke wilayah tersebut. KMP Aceh Hebat 1 misalnya, kapal ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan lama yang sering terulang. Sebut saja misalnya pengiriman barang yang membutuhkan waktu berhari-hari dari Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji ke pulau Simeulue, karena pada lintasan ini hanya KMP Labuhan Haji yang melayani penyeberangan. Parahnya, antrean kendaraan akan menyemut saat kondisi cuaca tidak kondusif akibat kapal penyeberangan berhenti beroperasi. Sama halnya dengan KMP Aceh Hebat 2 dan 3, kedua kapal ini diharapkan dapat mendukung kunjungan pariwisata ke Pulau Weh (Sabang) dan Pulau Banyak (Singkil). Beroperasinya kedua kapal ini sejalan dengan agenda Pemerintah Aceh untuk menurunkan angka kemiskinan melalui pariwisata. Menanti KMP Aceh Hebat hadir memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, rasanya belum afdhal bila belum mengetahui keunggulan yang dimiliki oleh armada baru tersebut. Layaknya pesan pepatah lama “tak kenal maka tak sayang,” maka rasanya perlu mengenal lebih dekat kelebihan yang dimiliki oleh kapal milik rakyat Aceh ini. Teknologi Mutakhir di Aceh Hebat 1 Saat menyeberang ke Pulau Simeulue, penumpang akan mendapatkan pengalaman menarik dari KMP Aceh Hebat 1. Dengan waktu tempuh berkisar 10 jam lebih, penumpang dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang dimiliki oleh kapal ini. Mulai dari tempat tidur, cafetaria indoor dan outdoor, mushalla bagi pria dan wanita, 12 unit kamar mandi, serta rooftop yang menawarkan pemandangan indah. Penumpang yang tertarik dengan seni fotografi tentu sangat cocok berada di tempat ini. Ukuran KMP Aceh Hebat 1 lebih besar dibandingkan dengan kapal lainnya yang telah beroperasi di Aceh. Kapal ini memiliki panjang 69,06 meter dengan lebar 15,10 meter sehingga mempunyai kabin atau deck yang luas untuk menampung sebanyak 250 penumpang. KMP Aceh Hebat 1 memiliki 3 fasilitas layanan bagi penumpang, di antaranya 106 tempat tidur untuk Ekonomi Kelas 1, 82 tempat tidur untuk Ekonomi Kelas 2, dan 62 tempat duduk bagi Ekonomi Kelas 3. Selain fasilitas untuk istirahat, juga tersedia ruang medis dan ruang menyusui bagi ibu-ibu. Kapal berkapasitas 1.300 gross tonage (GT) ini juga mampu menampung 33 unit kendaraan dalam sekali berlayar. Pada deck kendaraan, tersedia 8 unit tempat tidur dan 4 unit kamar mandi. Bisa dibayangkan bagaimana kenyamanan yang dihadirkan KMP Aceh Hebat 1 bagi para pengemudi kendaraan logistik yang biasanya harus beristirahat di dalam kendaraan mereka. Keunggulan KMP Aceh Hebat 1 lainnya adalah menggunakan teknologi bow visor pada haluan kapal yang berbentuk melengkung. Teknologi ini menjadikan kapal lebih stabil saat mengarungi lautan karena mampu membelah ombak yang tinggi. Meski berlayar dengan kecepatan 12 knot, penumpang tetap merasa nyaman saat berada di atas kapal. Deck Outdoor Memanjakan di Aceh Hebat 2 KMP Aceh Hebat 2 memiliki desain yang menarik yang akan memanjakan wisatawan. Pada deck penumpang, KMP Aceh Hebat 2 memiliki ruang VIP yang mampu menampung 96 orang, ruang kelas ekonomi 2 dan 3 sebanyak 100 orang, serta ruang outdoor yang mampu menampung 56 orang. Ruang outdoor menjadi spot favorit bagi para penumpang yang ingin melihat keindahan pulau Weh atau bertemu lumba-lumba yang sering mengikuti kapal penyeberangan di tengah laut. Selain ruang bagi penumpang, deck ini juga memiliki mushalla, kamar mandi, dan cafetaria bercorak kerawang Gayo yang siap melayani penumpang di kala lapar. KMP Aceh Hebat 2 memiliki bobot mati 1.100 GT sehingga menjadikannya lebih besar dari KMP BRR yang telah beroperasi saat ini. Kapal ini sudah dilengkapi sejumlah teknologi canggih seperti peralatan navigasi dan komunikasi, serta perekam data pelayaran yang mengunakan System Automatic Indentification System (AIS). Selain AIS, KMP Aceh Hebat 2 juga telah menggunakan teknologi bow thruster (25 KN), yaitu alat pendorong yang berfungsi untuk membantu kapal bermanuver. Biasanya, kapal berbadan besar sulit untuk melakukan manuver dengan diameter kecil. Dengan bow thruster, manuver kapal dapat diperkecil namun mampu menghasilkan putaran manuver yang besar. Menikmati Keindahan Pulau Banyak di Rooftop Aceh Hebat 3 Mendukung kunjungan pariwisata ke Pulau Banyak, Aceh Singkil merupakan misi utama KMP Aceh Hebat 3. Kapal ini pun memiliki sejumlah fasilitas yang dapat membuat penumpang merasa nyaman. Salah satunya adalah rooftop kapal yang akan menjadi tempat pilihan bagi wisatawan. Dari tempat ini penumpang dapat mengeksplor keindahan Pulau Banyak dan mengabadikan setiap pengalaman yang dirasakan. Pada ruang di bawahnya, KMP Aceh Hebat 3 memiliki ruang VIP yang mampu menampung 32 orang, ruang kelas bisnis sebanyak 96 orang, dan ruang ekonomi sebanyak 84 orang. Pada area ini juga terdapat cafetaria, mushallah, dan kamar mandi yang dapat diakses dengan mudah oleh penumpang. KMP Aceh Hebat 3 memiliki kapasitas yang lumayan besar untuk menampung kendaraan dalam sekali berlayar. Memiliki panjang 54,50 meter dan lebar 13 meter, kapal ini mampu menampung 15 unit truk, dan 6 unit mobil. (Amsal) Selengkapnya cek di laman:

Gerakan Aceh Hebat (GAH): Wakili Rakyat Suarakan Pendapat Terkait Pembangunan KMP Aceh Hebat

Belakangan ini sedang dihebohkan dengan isu mark-up kapal di berbagai laman media, yang diduga KMP. Aceh Hebat 1, 2, dan 3 merupakan kapal bekas hingga proses pembangunan kapal dengan mekanisme Penunjukan Langsung (PL). Isu yang beredar begitu heboh hingga menggerakkan hati nurani komunitas Gerakan Aceh Hebat (GAH) untuk menyuarakan pendapat atau demonstrasi terkait pengadaan tiga kapal Aceh Hebat di depan kantor Dinas Perhubungan Aceh, Kamis, 25 Februari 2021. Sesuai rilis berita yang dikeluarkan oleh GAH, mereka mempertanyakan proses pengadaan tiga kapal yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh. Mereka mengindikasi terjadi mark-up dengan alokasi anggaran sebesar 378 milyar untuk pengadaan tiga unit kapal Ro-ro dengan masing-masing harga kapal diduga 178 milyar. Koordinator Lapangan (korlap) GAH, Eriza Gusnanda dalam unjuk pendapat yang dilakukan di depan Kantor Dinas Perhubungan Aceh ini mempertanyakan proses pengerjaan yang berlangsung hanya 10 bulan, adanya indikasi mark-up anggaran, dan kapal ini disebut kapal bekas. “Kami ingin transparansi penggunaan anggaran,” ujar sang korlap saat berorasi. Pada saat diwawancarai, Syarbaini, salah satu demonstran menyatakan, pihaknya menduga 3 kapal Aceh Hebat merupakan kapal bekas karena durasi pembangunannya hanya 10 bulan saja. Dugaan tersebut berdasarkan publikasi Dinas Perhubungan saat kunjungan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada bulan Februari 2020 ke galangan kapal PT. Multi Ocean Shipyard, Batam, Kepulauan Riau. “Dinas Perhubungan sampai ke sana sudah melihat dan mempostingkan bahwa kapal kita sebentar lagi siap. Jadi kami menghitung persiapannya dari jarak situ,” tukasnya. Aksi menyuarakan pendapat di muka umum merupakan hak bagi setiap warga negara yang dilindungi oleh konstitusi. Aksi unjuk rasa tersebut dilakukan untuk mempertanyakan atau meminta penjelasan kepada penyelenggara negara (Pemerintah) terkait sejumlah kebijakan atau program yang dilaksanakan. Dinas Perhubungan Aceh sangat menghargai masukan yang disampaikan sehingga publikasi kegiatan pembangunan sektor perhubungan semestinya terus ditingkatkan. Seusai berorasi yang berlangsung lebih kurang setengah jam ini, lima perwakilan dari GAH ini melakukan audiensi dengan Kepala Bidang Pelayaran, Muhammad Al Qadri mewakili Kadishub Aceh untuk mengklarifikasi secara jelas dan transparan terkait proses pembangunan tiga unit KMP. Aceh Hebat. Kehadiran mereka disambut dengan tangan terbuka. Untuk diketahui bahwa pembangunan tiga kapal Aceh Hebat dilakukan melalui kontrak tahun jamak (multiyears contract) tahun anggaran 2019 dan 2020. Proses pelelangan ketiga kapal yang ada dalam anggaran Pemerintah Aceh dilakukan melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Perhubungan RI dengan pertimbangan bahwa Pemerintah Aceh tidak memiliki pengalaman dalam pelelangan kapal dengan spesifikasi khusus, sedangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di kementerian telah memiliki kompetensi untuk pembangunan kapal Ro-ro. Perencanaan terhadap ketiga kapal tersebut pun telah dilakukan pendampingan teknis dari kementerian. “Proses pelaksanaan pembangunan ketiga kapal dimulai sejak Agustus 2019 sampai dengan akhir tahun 2020, KMP. Aceh Hebat 1 dengan spesifikasi rencana 1.300 Gross Tonage (GT) dibangun dengan anggaran 73,9 Miliar dikerjakan selama 470 Hari di galangan PT. Multi Ocean Shipyard yang berlokasi di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. KMP. Aceh Hebat 2 dengan spesifikasi rencana 1.100 GT dengan anggaran 59,7 Miliar dikerjakan selama 497 hari di galangan PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia yang berlokasi di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Sedangkan KMP. Aceh Hebat 3 dengan spesifikasi rencana 600 GT total anggaran 38 Miliar yang dikerjakan selama 497 hari di galangan PT. Citra Bahari Shipyard, Tegal, Jawa Tengah. Pembangunan ketiga kapal ini menghabiskan waktu rata-rata selama 15 bulan,” jelas Al Qadri dihadapan perwakilan GAH. Selama pelaksanaan pekerjaan, Dinas Perhubungan Aceh didampingi oleh Konsultan Pengawas dan Tim Teknis yang melibatkan personil dari Kementerian Perhubungan dan Dishub Aceh. Untuk terlaksananya setiap tahapan pembangunan, telah dilakukan sertifikasi oleh Kementerian Perhubungan RI dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) di antaranya; Builder Certificate, Keel Laying, Launching, Inclining Test, Dock Trial, dan Official Sea Trial. Bahkan untuk menguji kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kapal telah dilakukan uji kelayakan dan kestabilan kapal di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI yang berlokasi di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Unjuk rasa ini berlangsung damai dan turut dikawal oleh Kepolisian Daerah Kota Banda Aceh. (AM/MS)  

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Kini Miliki Prodi Magister Terapan

Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui salah satu sekolah tingginya yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta berhasil mendapatkan izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuka program studi magister terapan mulai tahun ajaran 2022. Surat keputusan Mendikbud tentang izin pembukaan program studi tersebut diserahkan oleh Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto kepada Kemenhub pada hari ini, Senin (22/2), yang dihadiri Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara virtual. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu mewujudkan pembukaan program studi magister terapan pada lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Kemenhub. Terobosan baru ini merupakan wujud komitmen kami dalam menyediakan SDM Transportasi yang unggul, profesional dan memiliki kompetensi di bidangnya,” kata Menhub. Menhub juga menyampaikan terima kasih kepada Kemendikbud yang terus mendukung program-program pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan yang ada di Kemenhub melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP). Selanjutnya, Menhub menginstruksikan kepada STIP agar mempersiapkan diri dalam pelaksanaan penerimaan peserta didik Program Studi Magister Terapan tahun ajaran 2022/2023, dan mendorong sekolah transportasi lainnya seperti darat, udara dan kereta api untuk juga membuka program magister terapan. “Kami minta agar BPSDMP juga menjajaki kerjasama dengan universitas baik di dalam maupun luar negeri yang juga menyelenggarakan program magister terapan melalui program double degree agar lulusannya dapat memiliki kualitas yang sama dengan universitas lain,” tutur Menhub. Sementara itu, Dirjen Pendidikan Vokasi (DIKSI) Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan, pembangunan infrastruktur dan pengembangan SDM merupakan syarat yang sangat penting untuk menjadikan transportasi Indonesia semakin baik. “Transportasi seperti urat nadi, namun jika tidak dikembangkan SDMnya, seperti tidak ada darah yang mengalir. Kami berharap sinergi antara perguruan tinggi di bawah Kemenhub dan perguruan tinggi di bawah Kemendikbud semakin kuat kedepannya,” tandas Wikan. Kepala BPSDMP Sugihardjo menjelaskan, progam studi magister terapan yang ada di STIP antara lain: Magister Terapan Rekayasa Keselamatan dan Resiko dan Magister terapan Pemasaran, Inovasi, dan Teknologi. Usulan program studi magister di STIP mulai diajukan kepada Kemendikbud pada Oktober 2020. Kemudian divalidasi oleh BAN PT pada 26 Januari 2021 dan akhirnya diterbitkan SK Mendikbud pada 15 Februari 2021. Pada tahun 2020 lalu, BPSDMP telah mengusulkan 8 (delapan) program studi baru untuk tingkat D.IV dan Magister (S2) Terapan. Perguruan tinggi yang mengusulkan selain STIP yaitu : Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar, Politeknik Pelayaran Surabaya, dan Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI)-STTD. (Sumber: Kemenhub RI)

KMP. Aceh Hebat, Sejarah Baru Transportasi Laut Aceh

SESUAI dengan namanya “Aceh Hebat”, kapal ini menjadi sejarah pembangunan sektor transportasi di Aceh dan dibangun dengan anggaran Aceh sendiri. Kelancaran mobilitas penumpang, logistik, dan pengembangan pariwisata kepulauan di Aceh, akan tertumpu pada moda transportasi ini. Harapannya, dengan hadirnya kapal ini dapat menyetarakan taraf kehidupan masyarakat di kepulauan, menjadi sama dengan yang di daratan. “Menurut jadwal, 30 November, kapal (KMP. Aceh Hebat 1 –red) akan di-delivery atau berlayar ke Aceh, selanjutnya akan beroperasi sebagaimana mestinya,” ujar Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, M.T, saat menyaksikan langsung launching kapal pada galangan PT. Multi Ocean Shipyard di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Sabtu 3 Oktober 2020. Berita kedatangan kapal motor penyeberangan (KMP) Aceh Hebat 1 menjadi sebuah harapan yang baru bagi mereka. Pengorbanan dan proses yang panjang demi mendapatkan sekantong beras, akan lebih terasa ringan. Jembatan penghubung kepada tanah kelahiran dan keluarga telah nampak lebih nyata sekarang. “Aceh belum pernah punya kapal yang dibangun sendiri, kapal pertama ini (KMP. Aceh Hebat 1 –red) kita bangun dengan uang Rakyat Aceh, ukurannya yang relatif besar 1300 GT serta desainnya juga yang up to date, nantinya akan melayari Pantai Barat ke Simeulue. Kapal ini bukan hanya kebanggaan Rakyat Aceh, akan tetapi kebanggaan Indonesia juga,” sebuah penggalan kata dari Plt. Gubernur Aceh (Kini Gubernur Aceh) yang akan menjadi catatan sejarah transportasi laut Aceh. Kapal 1300 Gross Tonnage (GT) berkapasitas 250 orang, 25 unit truk, dan 8 unit kendaraan roda empat ini diharapkan mampu berlayar dengan aman dan selamat dalam gelombang tinggi, disertai angin dan hujan. Jarak tempuh mencapai 120 mil dengan waktu tempuh 10 sampai 11 jam perjalanan, menuntut kapal ini harus benar-benar tangguh berlayar di samudera lepas. Jika musim penghujan, alam pantai barat agak sedikit berkecamuk dengan gelombang tinggi disertai angin kencang dan hujan lebat menjadi keseharian. Begitu pula kisah dari dermaga pelabuhan yang berada di pantai barat, yaitu Pelabuhan Kuala Bubon di Meulaboh, Pelabuhan Calang, dan Pelabuhan Labuhan Haji di Aceh Selatan. Lambung kapal yang bersandar pun kerap bertabrakan dengan badan dermaga hingga menghancurkan fender. Cerita ini tak berujung di sini saja, setelah bermalam menanti hingga cuaca kembali bersahabat, tidak semua truk dapat termuat di dalam kapal dan harus mengantri lagi untuk penyeberangan berikutnya jika antrian kendaraan begitu panjang. Tak perlu dipertanyakan lagi, berapa kali lipat biaya yang harus dikeluarkan oleh mereka – yang tetap teguh agar kebutuhan pokok di kepulauan tetap tersedia-. Sebagai bayangan lagi, proses pengangkutan logistik ini bukan dimulai dari pelabuhan kemudian berlayar di perairan hingga sampai ke wilayah kepulauan. Tidaklah sesimpel itu. Ada proses transportasi darat yang panjang di balik kisah dermaga tadi. Perjalanan darat ini juga tak semulus jalan tol yang terbentang panjang di garis khatulistiwa. Jalan yang ditempuh sungguh berliku dengan geografi alam Aceh ini diitari oleh perbukitan dan pegunungan –bayangkan saja kelok sembilan yang ada di Padang, begitulah karakteristik jalan di Aceh-. Belumlah usai ketangguhan sang sopir pengangkut logistik, saat jalan menanjak dan menurun yang terjal serta berkelok-kelok memaksa sang sopir memutar otak agar truk tak masuk jurang yang berada di tepian jalan. Bunyi rem mobil yang berdecit menambah kewaspadaan. Setelah berjam-jam melewati jalan darat tersebut dengan ribuan tantangan barulah sampai di pelabuhan. Dari sinilah kisah dermaga tadi dimulai. Jika saja cuaca bersahabat, maka tak perlu waktu lama untuk membawa logistik ini ke pulau seberang. Nah, lain cerita jika cuaca ekstrem datang berkunjung, mereka harus mengalah dengan keadaan. Para penumpang harus mengalah untuk menyambutnya terlebih dulu hingga harus menginap di pelabuhan. Begitu pula dengan truk atau mobil-mobil besar pengangkut logistik kebutuhan pokok masyarakat kepulauan. Dapat dibayangkan, jika mengangkut bahan segar seperti sayur mayur dan buah-buahan, pastinya barang tersebut telah “membusuk” sebelum mencapai tanah kepulauan. Semoga saja, memorandum of understanding (MoU) perdamaian dengan ombak dan cuaca ekstrem dapat tertandatangani segera dan alam pun kian bersahabat dengan sang kapal. Sehingga, tak perlu lagi masyarakat ini memutar roda perekonomian secara manual. (Syakirah) Selengkapnya cek di:

Pendongkrak Pariwisata Sabang

SABANG adalah kota yang terletak di Pulau Weh dan merupakan pintu gerbang di kawasan ujung barat Indonesia. Pulau Weh sendiri merupakan pulau utama dan terbesar yang terpisahkan dari daratan Aceh oleh Selat Benggala. Saat ini Sabang menjelma menjadi destinasi wisata bahari Indonesia yang menawarkan surga bagi para penyelam. Pesona Sabang sendiri menawarkan keelokan garis pantai yang indah, air laut nan biru dan bersih, serta pepohonan nan hijau. Pemerintah Aceh terus berusaha agar nilai ekonomi masyarakat terus tumbuh dan berkonstribusi dalam pembangunan Aceh, di antaranya meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas antar destinasi wisata dengan meningkatkan sektor pariwisata. Sejak Maret 2020, sektor pariwisata menjadi sektor yang paling berimbas dari pandemi global ini. Penghasilan masyarakat juga banyak yang melemah dengan adanya pandemi ini. Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh tersebut sebagai salah satu prasarana yang mendukung kemajuan transportasi laut di Banda Aceh yang menghubungkan jalur penyeberangan menuju Balohan Pulau Weh (Sabang) dan Pulo Aceh. Penyeberangan dari pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh ke Balohan Sabang saat ini menggunakan kapal KMP BRR. Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh telah memesan tiga unit kapal di antaranya KMP Aceh Hebat 1 dengan rute Aceh Barat – Simeulue, Aceh Hebat 2 dengan rute Pelabuhan Ulee Lheue – Balohan Sabang, dan kapal KMP Aceh Hebat 3 yang akan melayani pelayaran Singkil-Pulau Banyak. Dinas Perhubungan Aceh memperkirakan ketiga kapal penumpang antarpulau tersebut sudah berada di perairan Aceh untuk berlayar pada Januari 2021 mendatang. Kini hadir KMP Aceh Hebat 2 yang berkapasitas 1100 GT. Kapal ini lebih besar dari KMP BRR yang sedang beroperasi saat ini. Kapal ini hadir sebagai penyemangat sektor pariwisata Sabang yang terkenal akan keindahan alam bawah laut yang telah lama vakum. Hal ini menjadi harapan besar agar roda perekonomian masyarakat kembali berjalan normal. Kapal feri tersebut akan memperlancar transportasi dari Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Pelabuhan Balohan (Sabang), yang sebelumnya kerap terkendala karena keterbatasan kapasitas kapal. Banyak pihak pelaku usaha wisata di Sabang sangat senang dengan kehadiran KMP Aceh Hebat 2 ini, karena kekhawatiran tamu akan tertinggal di pelabuhan akan segera teratasi. Kendala yang selama ini sering terjadi seperti kehadiran para tamu dari luar khususnya dari Medan, mobil mereka terpaksa harus mereka tinggalkan di pelabuhan. Dengan adanya kapal Aceh Hebat ini, kendaraan bisa diangkut tanpa harus ditinggal lagi. Sehingga kunjungan wisatawan bisa semakin meningkat. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pelaku usaha wisata PT. Imam Tour & Travel Inbound & Outbound Tour Operator, Muhammad Imam Fuadi, S.Pd.I, M.Pd. “Sebuah terobosan baru penunjang aksesibilitas pariwisata semakin mudah dan mensejahterakan. Dengan adanya kapal KMP Aceh Hebat 2 ini, wisatawan akan semakin mudah PP (return) antara Banda Aceh – Sabang, wisatawan juga punya banyak opsi, sehingga aktivitas pelabuhan dan perputaran ekonomi juga meningkat”. “Untuk kelancaran operasional, tarif harga juga jangan terlalu mahal, sejatinya punya pemerintah harus menjadi alternatif dan lebih banyak jadwal keberangkatan, jangan sedikit hujan atau badai akhirnya kapal tidak bisa berangkat,” imbuhnya. KMP Aceh Hebat 2 ini menjadi angkutan penyeberangan yang diperuntukkan bagi pengembangan wisata Sabang. Kapal ini memiliki daya muat sebanyak 377 penumpang dan 24 unit kendaraan (kombinasi). Kapal ini dengan panjang 63,75 meter dan lebar 13,6 meter serta tinggi mencapai 3,9 meter. Kapal ini mulai dibuat pada Tahun 2019 secara tahun jamak. Kapasitas mesin induk yang digunakan berdaya 2 x 1400 HP dengan kecepatan mesin mencapai 13 knot serta terdapat fasilitas-fasilitas lain yang tidak dimiliki oleh kapal-kapal sebelumnya. “Konsep utama pembangunan KMP Aceh Hebat 2 ini juga diperuntukkan bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Sabang. Tentunya, multiplayer effect-nya untuk pertumbuhan ekonomi wilayah Aceh. Jelas, keberhasilan pembangunan kapal ini merupakan kebanggaan bagi kita semua,” tutur Nova di sela-sela Peluncuran KMP Aceh Hebat 2. Kapal ini akan dilakukan serangkai pengujian, salah satunya adalah uji berlayar (sea trial) agar nantinya saat melayani lintasan Ulee Lheue – Balohan. Kapal ini dapat beroperasi secara optimal dan sesuai dengan standar kelayakan. Seluruh uji teknis dan non-teknis sangat penting dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan pelayaran nantinya. Diharapkan kapal ini akan membawa manfaat yang besar bagi konektifitas di Aceh, khususnya dalam peningkatan pariwisata Sabang. (Dewi) Selengkapnya cek di:

PWI Aceh Peringati Hari Pers Nasional di Atas KMP Aceh Hebat 2

Kadishub Aceh, Junaidi beserta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Aceh hadiri peringatan Hari Pers Nasional 2021 bersama Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dari KMP Aceh Hebat 2, Selasa, 9 Februari 2021. Acara yang berlangsung melalui konferensi video ini turut dihadiri pula oleh Gubernur Aceh, yang diwakili Sekretaris Daerah Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes., dan Ketua TP PKK Aceh, Dr. Ir. Dyah Erti Idawati, MT. Presiden Jokowi, dalam amanatnya menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang telah berada di garis terdepan dalam mengedukasi masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan. “Terima kasih telah menjadi jembatan komunikasi antara Pemerintah dan masyarakat. Serta menjaga optimisme dan harapan bangsa di tengah pandemi, pers menjadi ruang diskusi dan kritik untuk penanganan dampak pandemi yang lebih baik” ujar Jokowi. HPN dirayakan serentak bersama pengurus PWI provinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia, untuk memperingati kelahiran dan perjuangan PWI sebagai aktivis pers dalam mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan. Momentum perayaan ini juga untuk memperkokoh kesolidan institusi pers bersama Pemerintah untuk bangkit dari pandemi, dan sebagai akselerator perubahan dan pemulihan ekonomi. (AM)

Normalisasi PNS untuk Peningkatan Kinerja

Seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan kerja Dinas Perhubungan Aceh mengikuti penyerahan SK Normalisasi ASN Pemerintah Aceh, Senin, 8 Februari 2021. Penyerahan SK Normalisasi dilakukan secara simbolis melalui pejabat eselon III Dishub Aceh yang selanjutnya menyerahkan kepada ASN pada bidang masing-masing. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Junaidi, saat penyerahan SK Normalisasi ini, menyampaikan kepada ASN supaya terus bersemangat. “Normalisasi ini dilakukan untuk penyegaran pegawai, supaya kinerja kita lebih meningkat di lingkungan yang baru,” ujarnya. Kegiatan ini berjalan secara daring dan luring untuk menghindari kerumunan. Sebelum acara dimulai, seluruh peserta menyaksikan video pengarahan keselamatan Covid-19. (AM)

Pulo Aceh: Meneropong Harapan dari RI-Nol

KALI ini, aku bingung harus memulai dari kata apa. Sejuta kata yang telah aku susun pun tak akan cukup untuk menggambarkan betapa indahnya negeriku ini. Baiklah, aku tak ingin juga berlama-lama membuat kalian tenggelam dalam imajinasi diri pada “Tanoh Rencong” ini. Lebih khususnya lagi, aku akan membawa kalian ke sebuah pulau nan indah di ujung barat Sumatera. Tentu bukanlah Pulau Weh, Sabang yang hendak aku kisahkan kali ini. Penasaran bukan? Awal Desember tepat pukul 08.22, Kapal motor penyeberangan (KMP) yang diberi nama Papuyu bertolak dari Pelabuhan Ulee Lhee, Banda Aceh. Syukurnya, setelah beberapa hari dirundung mendung dan hujan, hari itu cuaca berpihak pada kami, matahari kembali garang bersinar sembari menyemai bulir-bulir kristal di atas ombak samudera. Lebih kurang dua jam perjalanan, KMP. Papuyu berayun bersama ombak mengangkut barang dan penumpang menuju ke Seurapong, Pulau Breueh -Pelabuhan ini berjarak lebih jauh dari Pelabuhan Lamteng yang berada di Pulau Nasi-. Kedatangan ini di sambut oleh dua semenanjung –pemisah pulau Breueh dan Pulau Nasi- yang tersusun dari batu karang dan pepohon hijau yang indah. Ke sinilah langkah kaki akan aku ayunkan, Pulo Aceh –pulau yang berada di Kabupaten Aceh Besar yang terdiri dari Pulau Nasi dan Pulau Breueh- Dermaga Tanah Untuk Papuyu Dua semenanjung itu menjadi pertanda bahwa sebentar lagi kapal akan berlabuh. Dari atas dek kapal itu kita dapat menikmati bukit-bukit tinggi mengitari kedua pulau, ombak yang usil pun sengaja menubruk karang yang berdiri gagah di kaki bukit, menciptakan ciprakan buih besar kembali ke laut. Dari belakang kapal, baling-baling menyemburkan pasir dari dasar ke permukaan air. Air yang tadinya biru kini telah menjadi cokelat muda seperti cappucino. Sebuah gundukan tanah berwarna cokelat yang kekuning-kuningan dengan pinggiran batu besar sebagai dinding penahan agar tanah tak jatuh ke dalam air saat kapal bersandar serta rerumputan hijau begitu subur tumbuh diantara bebatuan tersebut. Di situlah, aktivitas bongkar muat dilakukan dalam waktu yang begitu singkat –karena takut air laut surut dan kapal tidak dapat lagi berlayar-. Lebih kurang sepuluh lima belas menit KMP. Papuyu telah menaikkan penumpang dan kendaraan untuk kembali mengarungi samudera kembali ke Pelabuhan Ulee Lheue. Dapat dibayangkan dari kondisi kolam pelabuhan (saat ini belum pantas di sebut demikian-red) yang sangatlah dangkal dan dermaga tanah harus menjadi perhatian khusus. Belum lagi, pada alur pelayaran itu tersebar terumbu karang yang dapat menghantam baling-baling dan bagian bawah kapal. Di samping itu masalah lainnya juga menghantui, yaitu pasang surut air laut sangat menghambat sandarnya kapal yang datang ke Pulo Aceh. Hal ini merupakan sebuah hambatan besar yang “wajib” dituntaskan segera –tanpa kompromi lagi-. “Kamo lakee bak Pemerintah untuk geupeduli kamo yang bak ujong nyoe (Kami berharap pemerintah memberi perhatian bagi kami yang di ujung pulau ini –red),” ujar Mahfud, seorang warga Pulo Aceh yang bekerja sebagai operator boat tradisional. Katanya lagi, kapal yang hendak bersandar ke dermaga yang ada sekarang memiliki risiko yang sangat besar, hanya sebuah tekad saja mereka mampu menaklukkan alur pelayaran yang penuh karang dan dangkal. Bisa dilihat, dermaga yang ada pun seadanya. Perhatian Pendidikan untuk Anak Pulo Kini, 75 tahun berlalu, belumlah berakhir untuk negeri ini berjuang. Dari sebuah bangunan kecil yang disebut sekolah dasar yang berada tepat di pinggir pantai tepatnya di Pasie Janeng, ada empat puluh lima generasi muda yang berjuang untuk memperoleh pendidikan. Seragam sekolah yang mulai menguning dengan tas dan sepatu yang sudah usang tidak menyurutkan semangat mereka untuk menggapai cita-cita. “Enteuk lon peuget kapal raya nyan untuk ba u Pulo (nanti saya akan membangun kapal besar untuk Pulo Aceh ini-red),” ujar Aqra, salah satu siswa MIN 47 Aceh Besar dengan mata berbinar dan senyumnya yang lebar sambil menunjuk miniatur KMP. Aceh Hebat 1. Kala itu, Tim dari Dinas Perhubungan Aceh berkunjung ke MIN 47 Aceh Besar sekaligus membawa miniatur kapal. Hal ini tentu untuk menumbuhkan cita-cita generasi muda ini dapat menjadi ahli yang akan membangun transportasi Aceh. Para siswa tersebut begitu antusias saat melihat miniatur kapal yang dibawa. Mereka begitu antusias mengelilingi miniatur kapal untuk mengetahui bagian-bagian kapal yang mereka lihat. Setiap jengkal mereka sentuh saking takjubnya, begitu jelas tergambar dari rona wajah mereka. Dari sudut ruangan, seorang guru yang berpakaian rapi mengawasi gerak-gerik siswanya. Begitu sigap beliau melerai jika ada siswanya yang beradu pendapat hingga terjadi sedikit kericuhan –namanya saja anak kecil yang perlu eksplorasi yang lebih jauh-. “Kami sangat bercita-cita jika anak di sini dapat bersaing dan berkembang seperti anak-anak lainnya di daratan (Banda Aceh),” ujar Bakhtiar, Kepala Sekolah MIN 47 Aceh Besar sambil menatap lurus ke arah siswanya yang begitu semangat membahas perihal kapal. Kondisi bangunan sekolah yang telah mengalami kelapukan akibat pengaruh air pantai ini sudah lama tidak diperbaiki. Dari 2007, bangunan sekolah ini belum tersentuh renovasi, banyak bagian bangunan sekolah ini telah rusak, seperti pintu yang telah copot dari pengakunya. “Jika diharapkan dari dana operasional sekolah memang tidak akan bisa, untuk kebutuhan administrasi sekolah dan kebutuhan non-teknis lainnya saja kita harus mutar kepala ribuan kali. Beberapa kali kita berusaha untuk mengajukan tetapi belum ada perkembangan sampai saat ini,” kata lelaki paruh baya itu penuh harap. “Semangat anak-anak di sini memang harus kita perjuangkan, merekalah generasi yang akan membangun pulau ini, siapa lagi kalau bukan putra Pulo Aceh,” tutur Iqbal Saputra, salah satu guru MIN 47 Aceh Besar. Tim Medis, Kami Menantimu Di Pulo Sepertinya, angin barat mulai berkunjung lagi ke Pulo Aceh. Barisan boat ikan bergerak lebih lincah dari biasanya, tali pengait sesekali terhentak akibat boat menjauh dari tambatannya. Cuaca kembali memperlihatkan kelabilannya, dari terik matahari yang cerah seketika berubah menjadi redup dan guyuran hujan lebat. Demam dan flu menjadi penyakit biasa yang tidak dapat dihindari. Bermodal rempah-rempah alam yang dihasilkan tanah ini menjadi obat penawar yang begitu mujarab. “Miseu na saket, tapajoh ju peu-peu yang jeut. Nyoe mengharap bak puskesmas nyan saban lage tan ju. Han ek ta pike le, ta peubut ju lagee nyang na (jika sakit, minum obat tradisional yang ada dulu. Karena jika berharap sama puskesmas, ya sama juga tidak ada. Nggak sanggup pikir lagi, ambil tindakan seperti yang biasa (pengobatan tradisional) -red),” curhat seorang warga yang akrab disapa Bang Cut Demit. “Nyoe miseu hana puleh cit kaleuh

Dukung Vaksinasi, Dishub Aceh Fasilitasi Penyeberangan Dokter ke Pulo Aceh

Program vaksinasi Covid-19 di Aceh telah dimulai sejak Jumat, 15 Januari 2021 yang lalu. Sebanyak 27.880 dosis vaksin Sinovac yang diterima oleh Pemerintah Aceh, pada tahap pertama, diprioritaskan distribusinya bagi tenaga kesehatan di Banda Aceh dan Aceh Besar. Penyelenggaraan vaksinasi di wilayah kepulauan perlu dukungan berbagai pihak, khususnya dalam penyiapan transportasi penyeberangan. Pulo Aceh misalnya, wilayah terluar dari Aceh Besar ini butuh sarana dan prasarana transportasi penyeberangan yang memadai supaya program vaksinasi tidak terkendala. Selain itu, penting pula untuk mencermati Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Juknis tersebut menjelaskan sejumlah langkah yang harus diperhatikan, terkait penyimpanan dan pendistribusian, sebagai upaya mencegah penurunan kualitas vaksin. Guna mendukung terselenggaranya program vaksinasi Covid-19 di Aceh, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Pelayaran memfasilitasi penyeberangan dokter dan tim Dinas Kesehatan Aceh menggunakan KM. Willem Toren 1875 ke Pulo Aceh. Sesuai jadwal, tim tersebut akan melakukan kegiatan vaksinasi Covid-19 perdana di Puskesmas Pulo Aceh hari ini, Sabtu, 6 Februari 2021. Sebagai informasi, KM. Willem Toren 1875 merupakan kapal milik Dinas Perhubungan Aceh. Kapal berbobot 15 Gross Tonage (GT) ini mengangkut 13 penumpang, berangkat dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Banda Aceh, lalu bersandar di dermaga Lampuyang, Pulo Breueh. Selain di Pulo Aceh, Dishub Aceh juga telah mendukung pendistribusian vaksin ke Kabupaten Simeulue menggunakan KMP. Aceh Hebat 1 pada Senin (1/2) yang lalu. (AM)

Kincir Angin

PERGOLAKAN di daratan Eropa pada abad ke- 14 yang menyebabkan pergeseran penguasaan “pasar rempah-rempah” telah memotivasi petualangan mengejar tanah penghasilnya. Mengikuti jejak petualang sebelumnya, kapal-kapal dari negeri “kincir angin” dengan penguasaan keilmuan saat itu memulai penjelajahan untuk berdagang mencari “pulau rempah” yang berada di garis khatulistiwa. Tentu, dengan modal pemahaman navigasi dan kemampuan membaca peta yang telah mereka “curi” dari petualang sebelumnya. Ekspedisi terus berkembang untuk mengisi mesin-mesin produksi yang akan didistribusikan dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya. Semisal lada yang pada musim dingin menjadi “emas” agar mereka mampu bertahan dalam dingin yang menembus tulang. Demi kebutuhan dan martabat, maka keputusan untuk menguasai dan mengangkut hasil rempah-rempah dari “negeri jajahan” menjadi target utama. Kebutuhan logistik negara harus dapat diproduksi dan didistribusi secara stabil. Naluri konsep logistik mulai dikembangkan pada pertimbangan untung rugi, hari ini kita memberi nama perencanaan strategis, teknologi informasi, permintaan kebutuhan (pemasaran) dan keuangan. Maka terbentuklah manajemen rantai pasok (Supply Chain Management). Demi “rantai pasok” ini, suatu bangsa yang katanya beradab menjadi “garang” untuk menaklukkan bangsa lain. Memulai pada hasrat pengakuan atas menguasai bangsa yang ditaklukkan, Belanda telah mengambil “ancang-ancang” dengan menargetkan pelabuhan sebagai lokasi strategis untuk menguasai seluruh daratan. Hasrat yang kian besar akan keakuan bangsa lain atas negerinya telah membalikkan nalar untuk menggunakan “jalan kekerasan” hingga keluar dari tatanan hukum. Tingkat pengakuan yang ingin dibuktikan pada bangsa biru membuat taring mereka semakin tajam di negeri yang telah ditaklukan. Catatan perlawanan tertuang jelas dalam Buku Aceh Sepanjang Abad karya H. Mohammad Said bahwa segalanya telah jelas di mata dunia, pernyataan perang Tahun 1873 bukan karena ada campur tangan asing tapi hanyalah “nafsu” memperluas penaklukan wilayah Hindia Belanda -terkhusus Kerajaan Aceh-. Kegarangan yang memicu perlawanan mempertahankan martabat. George Lodewijk Kepper, menggambarkan perlawanan itu, “Pejuang (Aceh) tidak kecut sedikitpun menghadapi tembakan kilat, bahkan sebaliknya kencang mendekat, makin banyak jatuh, makin mengkilat lagi cepatnya yang lain mendekat, semua berteriak”. Beberapa generasi terbenam dalam “debat” yang dihabiskan untuk menjaga kestabilan “rantai pasok” kolonialisme, seorang makelar kopi dalam buku “Max Havelaar” karya Multatuli, membongkar “benang merah” peran transportasi agar sistem rantai pasok tetap seimbang yaitu, “Belanda membangun pemecah gelombang dengan tujuan untuk mendatangkan perdagangan ke dalam distrik yang terhubung seluruh pusat kegiatan dengan lautan -pusat perdagangan global-sehingga kapal dapat bersandar lama di pelabuhan apabila terjadi cuaca ekstrem” (Edward Douwes Dekker; “Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij”; Belgia 1860). Jalur transportasi laut yang membutuhkan waktu dan biaya juga telah mewarnai perubahan dengan gambaran bahwa “Kapal-kapal Belanda melayari lautan luas dan membawa peradaban”. Jauh sebelum penjelajah merintis perjalanan ke “Timur Jauh”, Bangsa Belanda telah memiliki “peradaban” dan perkembangan teknologi hingga menjadi negara yang terangkat derajat di Bangsa Biru. Sebagai simbol peradaban dari kecerdikan dan ketabahan manusia, kincir angin di Kinderdijk-Elshout menjadi “modal” untuk mampu menjajah. Simbol ini sudah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1997. Faktanya, dengan teknologi kincir angin ini mengakui Belanda telah mempersiapkan lanskap buatan manusia yang luar biasa serta memberikan kesaksian yang kuat peradaban manusia. Konstruksi kincir angin menjadi jejak dan bukti yang masih kokoh bagi sejarah perkembangan teknologi Belanda yang dikenal oleh masyarakat dunia. Inovasi pengembangan teknik drainase Belanda disalin dan diadaptasi di banyak bagian dunia. Sistem hidroliknya yang sangat cerdik masih berfungsi sampai sekarang untuk mengolah lahan gambut yang luas serta maha karya arsitektur serta lanskap budaya yang menjadi ciri khas Belanda dan menggambarkan tahap penting dalam sejarah manusia. Kanal-kanal yang dibangun dari energi kincir angin tersebar ke setiap sudut kota sebagai jaringan transportasi utama negara ini merupakan kepingan-kepingan ekonomi yang kian membukit untuk kesejahteraan rakyatnya. Apa “modal” yang kita miliki untuk mensejahterakan negeri kita saat ini? Di sini juga jelas apa hikmah dari penjajahan yang dilakukan oleh Belanda bagi Indonesia, sarana dan prasarana transportasi adalah kunci utama Belanda dapat menguasai daerah-daerah jajahan. Infrastruktur yang ditinggalkan Belanda pun sebagian besar masih berdiri kokoh dan belum menjadi pelajaran. Tanah Air ini bukanlah lagi kanak-kanak, tujuh puluh lima tahun telah lewat. Hikmah yang diberikan Bangsa Belanda untuk negeri harus kita “petik” secara cermat. Teknologi kincir angin yang mereka siarkan hingga rencana induk pengembangan kawasan jajahan harus kita “curi” dan implementasikan ke negeri ini. Lanskap negeri ini telah diciptakan begitu sempurna. Berbeda dengan Belanda yang memaksa kincir angin raksasa mereka untuk memompa air di daratan rendah serta reklamasi agar layak dihuni. Peradaban “kincir angin” yang terus menggerakkan generator di negerinya sendiri dan mempertahankan tanah penjajahan yang mereka lakukan pada bangsa lain hanya demi kesejahteraan, mereka mempersiapkan perencanaan penjajahan begitu matang, dimulai memahami pentingnya peta hingga perbekalan serta semua kebutuhan didetail secara terukur. Hebat bukan, menjajah demi sejahtera? Nah, mengapa kita tidak mempersiapkan kesejahtaraan dengan segala cara? Atau kita sedang mengatur ritme “debat” untuk menjajah negeri sendiri. (Junaidi Ali) Selengkapnya cek di: