Dishub

Pemanfaatan N219 Untuk Pengembangan Wilayah

Pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 44,69 persen. Pesawat N219 diharapkan dapat digunakan di Indonesia untuk mendukung misi Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam pelayanan terhadap masyarakat dengan kemampuannya untuk dioperasikan sebagai pesawat angkut penumpang, logistik maupun medical evacuation dan flying doctor. Hampir seluruh Provinsi di Indonesia memiliki daerah dengan rute penerbangan perintis, oleh karena itu, Pesawat N219 dapat dioperasikan dan diciptakan berdasarkan karakteristik wilayah Indonesia. “Pesawat N219 yang dibangun di PT. Dirgantara Indonesia, yang merupakan karya anak bangsa dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang cukup tinggi. Spesifikasi pesawat direkayasa oleh engineer dalam negeri mengikuti karakteristik wilayah Indonesia yang dominan wilayah pesisir dan pegunungan. Pesawat ini didesain sedemikian rupa agar dapat landing dengan runway yang relatif pendek serta menjadi andalan transportasi bagi negeri ini,” Ujar Elfien Guntoro. Dengan adanya pemanfaatan pesawat N219 dalam meningkatkan konektivitas daerah untuk mobilitas penumpang maupun logistik. Sejalan dengan itu, diharapkan terjadinya peningkatkan pembangunan daerah, terutama wilayah perintis di Indonesia. Hal tersebut merupakan upaya yang perlu dilakukan demi terwujudnya Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Menjawab pertanyaan seputar pemanfaatan angkutan udara, dalam hal ini Pesawat N219 bagi Pemerintah Daerah melalui peningkatan konektivitas udara untuk penumpang dan logistik di bandar udara perintis, PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) melaksanakan webinar secara daring, Selasa, 07 September 2021. Webinar ini dibuka oleh Direktur Utama PT. DI, Elfien Guntoro. Turut hadir Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Plt. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Erna Sri Adiningsih, Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PT. DI, Gita Amperiawan, Kasubdit Sertifikasi Pesawat Udara (DKPPU), Agustinus Budi Hartono, Direktur Transportasi Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas, Ikhwan Hakim, Bupati Puncak Papua, Willem Wandik, Ketua INACA, Denon B. Prawiraatmadja, Perwakilan Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Peneliti Ahli Utama/Pelaksana Teknis Pusat Riset Teknologi Penerbangan, Gunawan Setyo Prabowo, Ketua Tim Peneliti Angkutan Udara ITB, Taufiq Mulyanto, Kadishub Aceh, Junaidi dan Direktur Bisnis Kurir dan Logistik PT. Pos Indonesia (Persero), Siti Choiriana. Dalam sambutannya, Gubernur Aceh menyampaikan kesigapan pemerintah dalam pengiriman logistik dan mobilitas manusia saat itu dapat diupayakan melalui sarana angkutan udara. Sehingga, Pemerintah Aceh telah membuat sebuah Nota Kesepahaman dengan PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) untuk mengembangkan potensi angkutan udara Aceh yang tanggap bencana dan keadaan darurat. Sehingga, ketersediaan angkutan udara menjadi penting untuk mengakomodir kebutuhan angkutan udara dalam mengakomodasi kebutuhan mobilitas dan tanggap darurat wilayah pesisir dan terpencil. Dalam pengalaman mengoperasikan pesawat udara sebagai satu-satunya transportasi yang dapat mengakses daerahnya, Bupati Puncak, Papua, Willem Windek juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Puncak berinisiasi pengembangan angkutan udara yang menjangkau daerahnya yang berada di tengah pegunungan yang sangat sulit diakses oleh transportasi darat dengan membangun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bertanggungjawab dalam operasional pesawat. Ia juga menjelaskan, selama ini pun masih banyak kendala dan tantangan yang dialami pada saat pengoperasian pesawat di wilayah Puncak, Papua, diantaranya fasilitas bandara perintis yang masih berupa kerikil sehingga menyebabkan kerusakan pada landing gears dan propellers serta kondisi cuaca yang sering berubah-berubah. Di samping itu juga, fasilitas hangar untuk perawatan juga belum tersedia, sehingga perawatannya dilakukan ke wilayah lainnya yang relatif jauh dan juga persediaan spare part-nya juga bersifat just in time, hanya tersedia sesuai kebutuhan pesanan dan jika butuh sewaktu-waktu harus menunggu pengiriman barang. “Kami sangat mengharapkan PT. DI segera meyelesaikan serangkai uji coba dan produksi N219 secara massal. Karya anak bangsa ini menjadi harapan besar bagi kami yang menggunakan angkutan udara sebagai transportasi utama. Karena lebih cepat, lebih baik,” tuturnya mengakhiri pemaparannya. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Junaidi juga menyampaikan Pemerintah Aceh dan PT. DI akan mendalami secara detail skema kerjasama peningkat sumber daya manusia (SDM) dan pengoperasian pesawat dengan melibat BUMD sebagai manajemen operasional angkutan udara. Sekaligus, pengalaman yang disampaikan oleh Bupati Puncak, Papua dengan keberanian pemda menjadikan pesawat sebagai alat transportasi utama dan satu-satunya ke wilayah tersebut, menjadi patron Pemerintah Aceh dalam mengambil langkah yang akan ditindaklanjuti dalam Momerandum of Understanding (MoU) dengan PT. DI. “Kerjasama ini diharapkan akan membawa manfaat langsung bagi masayarakat Aceh khususnya. Pengembangan N219 yang dilakukan secara simultan oleh PT. DI ini segera mempercepat pemenuhan kebutuhan transportasi yang handal dan segera dinikmati oleh masyarakat Indonesia, Aceh khususnya,” pungkasnya. (MS) Simak Video N219 Dukung Konektivitas di Wilayah Aceh

Antrian Kendaraan di Pelabuhan Kuala Bubon Meningkat Drastis

Antrian kendaraan yang akan menyeberang ke Simeulue di Pelabuhan Penyeberangan Kuala Bubon, Aceh Barat meningkat cukup drastis sejak akhir Agustus hingga pekan pertama bulan September ini. Akibatnya, sejumlah kendaraan harus menunggu giliran karena keterbatasan kapasitas kapal. Meningkatnya jumlah kendaraan di pelabuhan ini disebabkan oleh dua lintasan penyeberangan lainnya di wilayah barat Aceh sedang tidak beroperasi, yaitu lintasan Labuhan Haji – Sinabang dan Calang – Sinabang. Seperti diketahui, layanan angkutan penyeberangan pada lintasan Labuhan Haji – Sinabang berhenti sementara karena KMP Teluk Singkil sedang menjalani perbaikan di Simeulue. Sedangkan pada lintasan Calang, penghentian operasi karena dermaga Pelabuhan Calang sedang dilakukan perbaikan. Dari informasi yang diperoleh Tim Aceh TRANSit dari PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Singkil, layanan angkutan penyeberangan pada lintasan Calang – Sinabang mulai beroperasi kembali pada hari Senin, 6 September 2021. Sementara itu, lintasan Labuhan Haji – Sinabang masih menunggu selesainya perbaikan kapal Teluk Singkil. (AM)

Masuk Docking Tahunan, KMP. Papuyu Berhenti Beroperasi Sementara

KMP Papuyu akan berhenti sementara melayani penyeberangan ke Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Kapal yang melayani angkutan penyeberangan perintis pada lintasan Ulee Lheue – Lamteng dan Ulee Lheue – Seurapong/Ulee Paya ini akan berhenti beroperasi selama sebulan, yaitu sejak tanggal 1 hingga 30 September 2021. Dari keterangan yang diperoleh Tim Aceh TRANSit dari PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh, pemberhentian sementara operasional kapal ini karena akan menjalani docking atau perawatan rutin tahun 2021. Kegiatan docking tahunan rutin dilakukan pada setiap kapal agar dapat melayani dengan aman dan selamat, serta meminimalisir berbagai kendala saat beroperasi. (AM)

Melihat ‘Roburnya’ Warga Abdya yang Bantu Evakuasi Korban Tsunami

Kalau di Banda Aceh dulu ada Robur, bus ini adalah “Robur”-nya Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Begitulah kira-kira cara Junaidi mendeskripsikan bus bantuan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan RI pada tahun 2002 ini. Baca Mengenang Robur, Si Pengantar Mahasiswa Junaidi sendiri adalah juru mudi yang telah mengoperasikan bus tersebut belasan tahun lamanya. Ia bercerita, setiap hari sekolah, ia mulai menyetiri bus sejak pukul 7 pagi ke sekolah-sekolah di Abdya. Lalu kembali melakukan hal serupa pada jam pulang sekolah di siang hari. Ongkos untuk menaiki bus khusus pelajar ini pun sangat murah. Pelajar cukup membayar Rp 1.000 untuk semua tujuan yang dilewati oleh bus. Junaidi menyebutkan, bus ini punya jasa yang tak terhingga saat bencana tsunami di Aceh pada 2004 lalu. Sebab, bus ini ikut membantu evakuasi korban tsunami di wilayah Barat Aceh hingga Banda Aceh. Selain membantu proses evakuasi, bus berplat merah ini juga membantu distribusi logistik dari Medan ke wilayah Barat Selatan Aceh pasca tsunami. (AM)

Kebersihan Pelabuhan Ulee Lheue Tanggung Jawab Bersama

Menjadikan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sebagai pelabuhan yang bersih dan nyaman bagi pengunjung akan terasa berat dan butuh proses panjang bila tanpa ada dukungan dari berbagai pihak. Akan tetapi, pembenahan pelabuhan akan menjadi lebih mudah bila seluruh komunitas pelabuhan ikut turun tangan secara bersama-sama dalam menjaga kebersihan pelabuhan. Misalnya adalah kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh komunitas abang-abang becak pelabuhan pada hari ini, Selasa, 31 Agustus 2021. Partisipasi abang-abang becak dalam menjaga kebersihan pelabuhan patut diapresiasi sebagai upaya mewujudkan pelabuhan yang nyaman bagi pengguna jasa. Selain abang-abang becak ini, pihak lain yang berada di pelabuban tentu memiliki cara-cara tersendiri sesuai kapasitas yang dimiliki. Termasuk juga, masyarakat sebagai pengguna jasa, diharapkan bisa berpartisipasi dalam menjaga kebersihan pelabuhan. Salah satu caranya adalah membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Sekda Aceh Tinjau Kapal Ambulans Laut di Ulee Lheue

Berbagai upaya pembenahan di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue terus dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Percepatan dalam membenahi pelabuhan ini juga dilakukan supaya manfaatnya bisa dirasakan segera oleh masyarakat. Guna memastikan perkembangan terkini di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah melakukan sidak ke pelabuhan ini pada Minggu, 29 Agustus 2021. Dalam sidaknya, Sekda Aceh mengingatkan agar pelayanan pelabuhan dapat menerapkan Program BEREH. Di samping meninjau pelabuhan, Sekda Aceh juga melihat kapal Willem Torren yang bersandar di dermaga kapal cepat. Sekda Aceh menginstruksikan agar kapal berbobot 15 GT ini bisa digunakan untuk mengangkut pasien dalam kondisi darurat dari Pulo Aceh. Taqwallah menyarankan agar saat kapal selesai dimodifikasi, terlebih dahulu dilakukan simulasi penanganan pasien. “Penanganan dan tindakan medis di laut tentu berbeda dengan ambulance darat. Oleh karena itu, saat modifikasi selesai, sebaiknya dilakukan simulasi. Yang butuh penanganan khusus itu biasanya Ibu Hamil. Jadi, saat simulasi nanti bisa kita coba praktekkan, agar Ibu Hamil merasa nyaman, baik saat di dalam kapal maupun saat naik dan diturunkan,” ujar Taqwallah. Rencananya, Dishub Aceh bersama Dinas Kesehatan Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) akan mempersiapkan kapal Willem Torren menjadi ambulans air. “Kapal ini dirancang untuk patroli laut. Selama ini Willem Torent itu sudah beroperasi untuk kegiatan-kegiatan patroli. Jadi, karena kapal ini akan dialihfungsikan sebagai Ambulance Laut, maka akan ada modifikasi sesuai kebutuhan tim medis nantinya. Sesuai arahan Pak Sekda dan masukan dari Kadis Kesehatan, maka kapal akan kita modifikasi,” ujar Junaidi. Meskipun fungsi utamanya sebagai kapal patroli, kapal yang mampu menampung 10 penumpang ini bisa berfungsi juga sebagai ambulans air. Modifikasi dilakukan untuk mempermudah proses evakuasi dan pasien tetap terlayani dengan maksimal selama perjalanan. (AM)

Tim Dishub Aceh Lakukan Penilaian Pelabuhan Ulee Lheue

Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, sebagai salah satu simpul jaringan transportasi, merupakan pintu gerbang kegiatan perekonomian kawasan. Di samping itu, pelabuhan ini juga menjadi penunjang utama kunjungan pariwisata ke Sabang dan Pulo Aceh. Oleh sebab itu, pelayanan di pelabuhan penyeberangan perlu didukung dengan fasilitas yang memadai dan sesuai standar yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 39 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Angkutan Penyeberangan. Untuk memenuhi standar pelayanan tersebut, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Pengembangan Sistem dan Multimoda (PSM) melakukan penilaian terhadap pelayanan dan fasilitas yang telah ada di pelabuhan ini, Kamis, 26 Agustus 2021. Pengawasan yang dilakukan oleh tim internal ini nantinya akan memberikan penilaian terhadap pelayanan dan fasilitas yang telah ada saat ini. Selain itu, tim juga akan mengeluarkan rekomendasi yang akan menjadi acuan dalam pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue ke depan. Melalui rekomendasi tersebut, pengembangan pelayanan dan fasilitas Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue diharapkan dapat berjalan sesuai standar dari Kemenhub RI. (AM)

Tingkatkan Kompetensi, Dishub Aceh Selenggarakan Webinar Kontrak Konstruksi

Kontrak kerja konstruksi merupakan dokumen yang memuat perjanjian/persetujuan yang berkaitan dengan hak, kewajiban, dan alokasi risiko para pihak yang terlibat dalam sebuah proyek. Seringkali, kekeliruan dalam penyiapan dokumen kontrak mengakibatkan perbedaan persepsi yang akan memicu sengketa antara kedua belah pihak. Sengketa yang terjadi dalam pelaksanaan kontrak tidak saja merugikan para pihak, namun juga masyarakat yang semestinya dapat segera merasakan hasil pembangunan. Pemahaman yang baik terhadap dokumen kontrak mutlak harus dimiliki oleh pengelola proyek agar masalah dan risiko yang terjadi saat pelaksanaan kontrak bisa segera diantisipasi sehingga pelaksanaan proyek tepat waktu, tepat mutu dan dengan biaya yang efisien. Guna meminimalisir kesalahan-kesalahan pada saat penyusunan dokumen kontrak kerja pemerintah, Dishub Aceh selenggarakan webinar dengan tajuk Kontrak Konstruksi, Permasalahan dan Antisipasi bagi ASN Dishub Aceh, Selasa, 24 Agustus 2021. Webinar dengan pemateri Jimmi Zikria, S.P., NNLP. selaku Ahli Kontrak LKPP ini, ditujukan sebagai penyegaran sekaligus meningkatkan kompetensi ASN Dishub Aceh dalam penyusunan dokumen kontrak kontruksi. Kegiatan yang berlangsung menarik ini diisi dengan pemaparan teknik penyiapan kontrak dan berbagai permasalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan kontrak serta antisipasinya. Webinar ditutup dengan diskusi mengenai isu-isu hangat yang sering dihadapi oleh pengelola kegiatan dan alternatif penanganannya sesuai regulasi yang berlaku. (AM)

Memberikan Pelayanan Terbaik Dari Hati

Pelayanan pada fasilitas publik, khususnya di pelabuhan penyeberangan perlu ditingkatkan guna memberikan kenyamanan bagi masyarakat saat melakukan perjalanan. Seperti yang kita tahu, transportasi merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat diabaikan prioritasnya. Apalagi pelabuhan penyeberangan menjadi satu-satunya pintu masuk ke wilayah kepulauan. Bebagai kendala dan keterbatasan yang ada saat ini, Dinas Perhubungan Aceh perlu melakukan optimalisasi dari kondisi infrastruktur, kekurangan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung lainnya. Demi mendongkrak standar pelayanan di Pelabuhan penyeberangan, Dinas Perhubungan Aceh sedang mereformasi pelayanan di seluruh pelabuhan penyeberangan di Aceh. Sebagai permulaan, Dishub Aceh menjadikan Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sebagai leading project perubahan pelayanan pelabuhan ini menuju standar pelayanan. Mengawali proses tersebut, Kadishub Aceh, Junaidi, bersama Asisten 3 Setda Aceh, Iskandar dan seluruh pejabat struktural Dishub Aceh melakukan silaturrahmi dengan seluruh petugas di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Jum’at (13/08/2021). Sejak pukul 08.00 pagi, Asisten 3 Setda Aceh, Iskandar telah berada di Pelabuhan Ulee Lheue untuk melakukan zikir Bersama. Silaturrahmi ini juga ditujukan untuk menjalin keakraban dengan personil yang bertugas di pelabuhan. Mengingat sebelumnya pelabuhan ini berada di bawah Pemerintah Kota Banda Aceh. “Sabang sudah menjadi tujuan yang mendunia. Biasanya, usai dari Bandara wisawatan dari luar Aceh akan segera melanjutkan perjalanan ke Sabang, yang berarti kebanyakan wisatawan luar ini sudah melewati pelayanan pada simpul transportasi yang lain sebelum ke Pelabuhan Ulee Lheue sehingga akan membandingkan kondisinya. Hal ini menjadi prioritas bagi kita untuk berupaya agar pelabuhan ini harus nyaman dan tertib serta tidak ada kesenjangan pelayanan antar moda,” ujarnya. Dalam sambutannya, Kadishub Aceh juga menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh ingin melakukan perubahan yang lebih baik pada Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sesuai standar dari Kementerian Perhubungan. Di samping itu, ia menyebutkan bahwa pengelolaan pelabuhan ke depan juga harus lebih profesional di mana personil yang bertugas harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya. “Maka ke depan, kita rencanakan petugas harus mengikuti diklat yang sesuai dengan tugasnya,” sebut Junaidi. Pada kesempatan yang sama, Iskandar juga memotivasi para petugas supaya bekerja dengan lebih maksimal. Iskandar juga mengingatkan bahwa, sebagai abdi negara, harus menjadi teladan dalam bersikap dan berperilaku. Iskandar juga mengajak seluruh ASN sebagai petugas yang bertanggungjawab bersama-sama untuk mengembangan Pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue “Kita tahu, Sabang sangat dikenal hingga ke luar negeri. Bahkan banyak wisatawan yang langsung menuju ke Sabang usai mendarat dari luar daerah. Hal ini secara tidak langsung, fasilitas pelayanannya akan menjadi perbandingan,” tutur Iskandar. (AM)

Berkunjung ke Sabang Kini Lebih Menyenangkan

Capt. Ruba’i, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini merupakan nahkoda armada penyeberangan kebanggaan masyarakat Aceh, khususnya warga Sabang, yaitu KMP Aceh Hebat 2. Pria inilah yang menahkodai pelayaran kapal Aceh Hebat 2 dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh menuju Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang atau sebaliknya. Sebelum menjadi nahkoda Aceh Hebat 2, pria ini sudah lebih dulu mengeyam pengalaman melayani perjalanan masyarakat Sabang dan wisatawan dari atas KMP Tanjung Burang sejak tahun 2015. Pengalaman selama 6 tahun di atas kapal berbobot 507 Gross Tonage (GT) itu menjadi modal baginya untuk naik kelas ke kapal Aceh Hebat 2 dengan bobot mencapai 1.186 GT. Pada Januari 2021, manajemen PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh resmi menunjuk Capt. Ruba’i sebagai nahkoda KMP Aceh Hebat 2. Pria ber-KTP-kan Sabang ini menahkodai KMP. Aceh Hebat 2 pertama kali pada Sabtu, 30 Januari 2021. Momen tersebut sekaligus menjadi pelayaran perdana KMP Aceh Hebat 2 melayani penyeberangan masyarakat Aceh pada lintasan Ulee Lheue – Balohan. Saat itu, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah melepas langsung pelayaran perdana KMP. Aceh Hebat 2. Perasaan bangga dalam dirinya terpancar jelas dari raut wajahnya yang ceria. “Suatu kebanggaan bagi saya melayani penumpang dengan KMP. Aceh Hebat 2, bisa mengantar dan melayani penumpang dengan selamat,” ungkap Ruba’i kepada Aceh TRANSit, Minggu, 6 Juni 2021. Di sela-sela bertugas, Ruba’i bercerita banyak tentang pengalaman dan kesannya terhadap kapal keluaran PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia ini. “Selama menjadi nahkoda KMP. Aceh Hebat 2, Alhamdulillah berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan apapun,” ujarnya. Ruba’i juga memberikan penilaiannya terkait keunggulan KMP. Aceh Hebat 2. Ia menilai bahwa peralatan yang terpasang pada KMP. Aceh Hebat 2 sudah canggih. Selain itu, desain kapal beserta interiornya juga sangat bagus untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang kapal. Seperti diketahui, kapal ini dilengkapi dengan sejumlah teknologi navigasi terbaru, di antaranya peralatan navigasi dan komunikasi, perekam data pelayaran yang mengunakan Automatic Indentification System (AIS). Selain itu juga dilengkapi dengan peralatan Voyage Data Recorder (VDR) yang berfungsi seperti black box pada pesawat terbang untuk merekam aktivitas navigasi kapal selama pelayaran. Dari sisi keselamatan, kapal ini dilengkapi dengan lifeboat atau sekoci bertipe Fully Enclosed Lifeboat (Sekoci Tertutup). Lifeboat jenis ini paling populer karena di dalamnya dilengkapi mesin dan kemudi sehingga mampu melindungi penumpang atau kru dari air laut, angin kencang, dan cuaca buruk. Penempatan lifeboat pada kapal Aceh Hebat 2 berpedoman pada aturan Safety of Life At Sea 1974  (SOLAS) dan Life Saving Appliance (LSA Code) yang diterbitkan oleh International Maritime Organization (IMO) yang berada di bawah Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain mengikuti berbagai aturan dari IMO, sebagai kapal baru, KMP. Aceh Hebat 2 juga sudah terdaftar dan memiliki nomor registrasi IMO (9905954) yang melekat pada bagian depan kapal. Tonton Video Pelayaran Perdana, KMP. Aceh Hebat 2 Bawa 280 Penumpang Kapal kebanggaan masyarakat ini mempunyai desain dan interior yang sangat futuristik serta menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dek lantai tiga kapal ini didesain berupa rooftop sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan pemandangan laut selama penyeberangan. Pada lantai ini juga tersedia kafetaria yang bisa dimanfaatkan oleh penumpang untuk berbelanja. Kapal ini juga menyediakan ruang bagi ibu menyusui, memiliki dua musala, tempat wudhu, serta toilet terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Selain berbicara tentang keunggulan kapala ini, Ruba’i juga bercerita terkait aktivitasnya sebagai nahkoda sehari-hari. Masa pandemi sedikit merubah kebiasaan yang terjadi saat musim liburan tiba. Ia menyebutkan, meskipun terjadi peningkatan wisatawan ke Sabang, tapi tidak seramai seperti sebelum masa pandemi. “Alhamdulillah dengan adanya KMP. Aceh Hebat 2 ini, meningkatnya kunjungan wisatawan ke Sabang dapat terlayani dengan baik,” ungkapnya. Nahkoda KMP. Aceh Hebat 2 ini juga menjelaskan sejumlah peraturan yang diterapkan oleh pihak manajemen PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh pada armada penyeberangan selama masa pandemi. Ia menjelaskan, selama berada di atas kapal penumpang wajib mengikuti protokol kesehatan. Ke depan, ia berharap penumpang bisa saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain untuk mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Kita juga aktif mengingatkan kru  kapal untuk selalu mengikuti protokol kesehatan agar semua merasa nyaman saat berada di atas kapal,” tutupnya. (Amsal Bunaiya) Download