Dishub

Dukung Vaksinasi, Dishub Aceh Fasilitasi Penyeberangan Dokter ke Pulo Aceh

Program vaksinasi Covid-19 di Aceh telah dimulai sejak Jumat, 15 Januari 2021 yang lalu. Sebanyak 27.880 dosis vaksin Sinovac yang diterima oleh Pemerintah Aceh, pada tahap pertama, diprioritaskan distribusinya bagi tenaga kesehatan di Banda Aceh dan Aceh Besar. Penyelenggaraan vaksinasi di wilayah kepulauan perlu dukungan berbagai pihak, khususnya dalam penyiapan transportasi penyeberangan. Pulo Aceh misalnya, wilayah terluar dari Aceh Besar ini butuh sarana dan prasarana transportasi penyeberangan yang memadai supaya program vaksinasi tidak terkendala. Selain itu, penting pula untuk mencermati Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Juknis tersebut menjelaskan sejumlah langkah yang harus diperhatikan, terkait penyimpanan dan pendistribusian, sebagai upaya mencegah penurunan kualitas vaksin. Guna mendukung terselenggaranya program vaksinasi Covid-19 di Aceh, Dinas Perhubungan Aceh melalui Bidang Pelayaran memfasilitasi penyeberangan dokter dan tim Dinas Kesehatan Aceh menggunakan KM. Willem Toren 1875 ke Pulo Aceh. Sesuai jadwal, tim tersebut akan melakukan kegiatan vaksinasi Covid-19 perdana di Puskesmas Pulo Aceh hari ini, Sabtu, 6 Februari 2021. Sebagai informasi, KM. Willem Toren 1875 merupakan kapal milik Dinas Perhubungan Aceh. Kapal berbobot 15 Gross Tonage (GT) ini mengangkut 13 penumpang, berangkat dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Banda Aceh, lalu bersandar di dermaga Lampuyang, Pulo Breueh. Selain di Pulo Aceh, Dishub Aceh juga telah mendukung pendistribusian vaksin ke Kabupaten Simeulue menggunakan KMP. Aceh Hebat 1 pada Senin (1/2) yang lalu. (AM)

Kincir Angin

PERGOLAKAN di daratan Eropa pada abad ke- 14 yang menyebabkan pergeseran penguasaan “pasar rempah-rempah” telah memotivasi petualangan mengejar tanah penghasilnya. Mengikuti jejak petualang sebelumnya, kapal-kapal dari negeri “kincir angin” dengan penguasaan keilmuan saat itu memulai penjelajahan untuk berdagang mencari “pulau rempah” yang berada di garis khatulistiwa. Tentu, dengan modal pemahaman navigasi dan kemampuan membaca peta yang telah mereka “curi” dari petualang sebelumnya. Ekspedisi terus berkembang untuk mengisi mesin-mesin produksi yang akan didistribusikan dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya. Semisal lada yang pada musim dingin menjadi “emas” agar mereka mampu bertahan dalam dingin yang menembus tulang. Demi kebutuhan dan martabat, maka keputusan untuk menguasai dan mengangkut hasil rempah-rempah dari “negeri jajahan” menjadi target utama. Kebutuhan logistik negara harus dapat diproduksi dan didistribusi secara stabil. Naluri konsep logistik mulai dikembangkan pada pertimbangan untung rugi, hari ini kita memberi nama perencanaan strategis, teknologi informasi, permintaan kebutuhan (pemasaran) dan keuangan. Maka terbentuklah manajemen rantai pasok (Supply Chain Management). Demi “rantai pasok” ini, suatu bangsa yang katanya beradab menjadi “garang” untuk menaklukkan bangsa lain. Memulai pada hasrat pengakuan atas menguasai bangsa yang ditaklukkan, Belanda telah mengambil “ancang-ancang” dengan menargetkan pelabuhan sebagai lokasi strategis untuk menguasai seluruh daratan. Hasrat yang kian besar akan keakuan bangsa lain atas negerinya telah membalikkan nalar untuk menggunakan “jalan kekerasan” hingga keluar dari tatanan hukum. Tingkat pengakuan yang ingin dibuktikan pada bangsa biru membuat taring mereka semakin tajam di negeri yang telah ditaklukan. Catatan perlawanan tertuang jelas dalam Buku Aceh Sepanjang Abad karya H. Mohammad Said bahwa segalanya telah jelas di mata dunia, pernyataan perang Tahun 1873 bukan karena ada campur tangan asing tapi hanyalah “nafsu” memperluas penaklukan wilayah Hindia Belanda -terkhusus Kerajaan Aceh-. Kegarangan yang memicu perlawanan mempertahankan martabat. George Lodewijk Kepper, menggambarkan perlawanan itu, “Pejuang (Aceh) tidak kecut sedikitpun menghadapi tembakan kilat, bahkan sebaliknya kencang mendekat, makin banyak jatuh, makin mengkilat lagi cepatnya yang lain mendekat, semua berteriak”. Beberapa generasi terbenam dalam “debat” yang dihabiskan untuk menjaga kestabilan “rantai pasok” kolonialisme, seorang makelar kopi dalam buku “Max Havelaar” karya Multatuli, membongkar “benang merah” peran transportasi agar sistem rantai pasok tetap seimbang yaitu, “Belanda membangun pemecah gelombang dengan tujuan untuk mendatangkan perdagangan ke dalam distrik yang terhubung seluruh pusat kegiatan dengan lautan -pusat perdagangan global-sehingga kapal dapat bersandar lama di pelabuhan apabila terjadi cuaca ekstrem” (Edward Douwes Dekker; “Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij”; Belgia 1860). Jalur transportasi laut yang membutuhkan waktu dan biaya juga telah mewarnai perubahan dengan gambaran bahwa “Kapal-kapal Belanda melayari lautan luas dan membawa peradaban”. Jauh sebelum penjelajah merintis perjalanan ke “Timur Jauh”, Bangsa Belanda telah memiliki “peradaban” dan perkembangan teknologi hingga menjadi negara yang terangkat derajat di Bangsa Biru. Sebagai simbol peradaban dari kecerdikan dan ketabahan manusia, kincir angin di Kinderdijk-Elshout menjadi “modal” untuk mampu menjajah. Simbol ini sudah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1997. Faktanya, dengan teknologi kincir angin ini mengakui Belanda telah mempersiapkan lanskap buatan manusia yang luar biasa serta memberikan kesaksian yang kuat peradaban manusia. Konstruksi kincir angin menjadi jejak dan bukti yang masih kokoh bagi sejarah perkembangan teknologi Belanda yang dikenal oleh masyarakat dunia. Inovasi pengembangan teknik drainase Belanda disalin dan diadaptasi di banyak bagian dunia. Sistem hidroliknya yang sangat cerdik masih berfungsi sampai sekarang untuk mengolah lahan gambut yang luas serta maha karya arsitektur serta lanskap budaya yang menjadi ciri khas Belanda dan menggambarkan tahap penting dalam sejarah manusia. Kanal-kanal yang dibangun dari energi kincir angin tersebar ke setiap sudut kota sebagai jaringan transportasi utama negara ini merupakan kepingan-kepingan ekonomi yang kian membukit untuk kesejahteraan rakyatnya. Apa “modal” yang kita miliki untuk mensejahterakan negeri kita saat ini? Di sini juga jelas apa hikmah dari penjajahan yang dilakukan oleh Belanda bagi Indonesia, sarana dan prasarana transportasi adalah kunci utama Belanda dapat menguasai daerah-daerah jajahan. Infrastruktur yang ditinggalkan Belanda pun sebagian besar masih berdiri kokoh dan belum menjadi pelajaran. Tanah Air ini bukanlah lagi kanak-kanak, tujuh puluh lima tahun telah lewat. Hikmah yang diberikan Bangsa Belanda untuk negeri harus kita “petik” secara cermat. Teknologi kincir angin yang mereka siarkan hingga rencana induk pengembangan kawasan jajahan harus kita “curi” dan implementasikan ke negeri ini. Lanskap negeri ini telah diciptakan begitu sempurna. Berbeda dengan Belanda yang memaksa kincir angin raksasa mereka untuk memompa air di daratan rendah serta reklamasi agar layak dihuni. Peradaban “kincir angin” yang terus menggerakkan generator di negerinya sendiri dan mempertahankan tanah penjajahan yang mereka lakukan pada bangsa lain hanya demi kesejahteraan, mereka mempersiapkan perencanaan penjajahan begitu matang, dimulai memahami pentingnya peta hingga perbekalan serta semua kebutuhan didetail secara terukur. Hebat bukan, menjajah demi sejahtera? Nah, mengapa kita tidak mempersiapkan kesejahtaraan dengan segala cara? Atau kita sedang mengatur ritme “debat” untuk menjajah negeri sendiri. (Junaidi Ali) Selengkapnya cek di:

26 CPNS Dishub Aceh Dibekali Pemantapan Kapasitas Diri

Sebanyak 26 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh formasi tahun 2019 mengikuti pembekalan CPNS di Aula Dishub Aceh, Senin (1/2/2020). Orientasi dan pembekalan ini guna meningkatkan pemantapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perhubungan yang unggul. Dalam arahannya saat membuka masa pembekalan dan orientasi CPNS jalur umum formasi tahun 2019, Kepala Dishub Aceh Junaidi menyebut orientasi dan pembekalan ini sebagai semangat yang akan tersemat dalam diri CPNS untuk terus bekerja secara inovatif dan kreatif. “Adanya penambahan CPNS ini kita harapkan dapat mengoptimalisasi kinerja kantor dan memberikan perubahan yang semakin baik untuk Aceh, khususnya transportasi,” sebut Junaidi. Junaidi juga menyampaikan harapan kepada CPNS ini menjadi pemimpin masa depan. Calon-calon pemimpin masa depan. Selama tiga bulan ke depan CPNS ini akan mengikuti masa pembekalan dan orientasi. Materi yang disampaikan dari pembinaan karakter, peraturan baris berbaris, hingga pengenalan kerja perhubungan di tiap bidang. Baik di kantor induk maupun wilayah kerja di kabupaten/kota. Sementara itu, Sekretaris Dishub Aceh, T. Faisal pada Selasa (2/2/2020) memberikan materi terkait sekretariat kantor. Meliputi materi keuangan, kepegawaian, program, hingga materi kehumasan. Faisal menekankan pentingnya memahami bidang sekretariat sebagai ‘rumah kedua’ CPNS selama bekerja. Terutama mengedepankan kedisiplinan dan menjaga nama baik dinas. Selain itu juga menggalakkan publikasi kinerja di media sosial resmi kantor. “Publikasi kinerja ini dapat pula menjadi pertanggungjawaban kerja pemerintah kepada masyarakat. Untuk itu, media sosial untuk masa kini memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kepercayaan publik kepada pemerintah,” sebut Faisal. Setelah pengenalan Sekretariat, untuk seterusnya pengenalan Bidang Pengembangan Sistem Transportasi dan Multimoda (PSM); Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), Bidang Penerbangan, Bidang Pelayaran, UPTD Terminal Tipe-B, dan UPTD Angkutan Massal Trans Kutaraja. (MR)

KMP. Aceh Hebat 1 Tiba di Pelabuhan Sinabang

KMP Aceh Hebat 1 telah tiba dan bersandar dengan baik di dermaga Pelabuhan Penyeberangan Sinabang, Simeulue, Selasa (2/2/2020). Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama rombongan, yang mengikuti uji pelayaran ini, disambut oleh Bupati Simeulue, Erli Hasim dan sejumlah jajaran Pemerintah Kabupaten Simeulue saat keluar dari KMP Aceh Hebat 1. Kapal berkapasitas 2.441 Gross Tonage (GT) ini bertolak dari Pelabuhan Calang, Aceh Jaya pada Senin sore (1/2/2020) dengan kecepatan rata-rata 12 knot. Dari amatan Tim Aceh TRANSit yang mengikuti pelayaran ini, kapal berlayar dengan baik mengarungi samudera hindia. Dibekali teknologi bow visor pada haluannya, kapal ini dapat membelah ombak dan kencangnya angin Samudera Hindia dengan baik. Sehingga kapal pun berlayar dengan tenang. Di dalam KMP Aceh Hebat 1 juga tersedia 188 tempat tidur yang terbagi dalam 2 kelas penumpang. Ruang penumpang kelas 1 sebanyak 106 tempat tidur, dan ruang penumpang kelas 2 sebanyak 82 tempat tidur. Selain ruang tidur, juga tersedia 62 kursi pada ruang penumpang kelas 3. Pada setiap ruangan istirahat ini, juga tersedia lemari life jacket, layar TV LED, dan tempat pengecasan hp. Semua fasilitas disediakan untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang. (AM)

Gubernur Aceh Ikut Uji Sandar KMP Aceh Hebat 1 dari Calang ke Sinabang

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Kadishub Aceh, Junaidi dan rombongan mengikuti pelayaran KMP Aceh Hebat 1 dari Pelabuhan Calang, Aceh Jaya menuju Pelabuhan Penyeberangan Sinabang pada Senin sore, 1 Februari 2021. Pada pelayaran kali ini, akan dilakukan sejumlah persiapan dan pengujian yang wajib dilalui oleh sebuah kapal sebelum beroperasi secara reguler. Di antaranya, uji sandar pada dermaga pelabuhan Sinabang, uji alur pelayaran pada perairan Simeulue, dan familiarisasi kapal dari nahkoda yang melakukan pengiriman kapal (delivery) ke calon nahkoda kapal dari PT. ASDP Indonesia Ferry. Seluruh tahapan tersebut wajib dilalui guna menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Dalam pelayaran ini, kapal melaju dengan kecepatan rata-rata 12 knot, dan direncanakan akan tiba di Sinabang pada Selasa pukul 07.00 WIB pagi. (AM)

Sejarah Willem’s Toren, Monumen Navigasi yang Memberi Arti Keselamatan Pelayaran

ACEH yang berada di pertemuan dua laut, Selat Malaka dan Samudera Hindia, menyimpan beragam destinasi wisata alami yang begitu menenangkan. Hamparan pantai membentang indah nan memukau, matahari terbit dan tenggelam kerap menyuguhkan pemandangan menakjubkan, memacarkan cahaya di atas hamparan pasir putih yang berkilau. Tak hanya wisata alami, Aceh juga tak kalah dari segi sejarahnya. Banyak bangunan di masa para penjajah dahulu yang masih berdiri kokoh di Bumi Serambi Mekkah. Salah satunya terdapat di Pulo Aceh, kecamatan kepulauan di Aceh Besar. Berbicara tentang bangunan bersejarah mungkin hal yang pertama terbayangkan bagi sebagian orang yaitu kesan usang, tua, dan membosankan. Kawasan yang sepi dengan suasana yang menoton yang pasti kurang menarik untuk dijelajahi. Segala anggapan tersebut akan sirna ketika Anda melihat sebuah bangunan bersejarah yang telah dibangun lebih dari satu abad yang lalu. Bangunan tinggi menjulang ini dikelilingi oleh hamparan keindahan alam berjuta pesona. Dari keindahan pesona alam yang membuai mata, berdirilah sebuah mercusuar yang hadir dengan tegaknya diantara panorama alam yang begitu memanjakan. Seolah-olah ia memperlihatkan ketinggian dan kekokohannya di antara kelembutan yang ditawari oleh alam sekitar. Gemulainya tiupan angin pada pepohonan, gemuruhnya ombak di pasir putih, pemandangan pegunungan yang membentang luas, hadirlah ia sebagai penyeimbang keindahan alam. Perpaduan maha karya ciptaan tuhan dan karya arsitektur buatan tangan manusia di masa lampau menjadi sebuah kombinasi yang saling melengkapi satu sama lain. Bangunan bersejarah nan kokoh ini bernama Mercusuar Willem’s Toren III. Letaknya di hutan Kampung Meulingge, Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Usianya yang sudah melebihi satu abad. Namun kekokohan dan kekuatannya tetap paripurna. Gaya arsitektur Belanda yang melekat kuat pada bangunan berbentuk silinder ini memperlihatkan bahwa Mercusuar Willem’s Toren berdiri saat Belanda menjajahi Bumi Serambi Mekkah, tepatnya pada tahun 1875. Ia memiliki tinggi 85 meter dengan ketebalan dindingnya mencapai 1 meter. Yang tak kalah menariknya proses pembangunan Mercusuar Willem disinggung dalam Onze Vestiging in Atjeh, sebuah buku tentang perang Aceh yang ditulis Mayor Jenderal G.F.W Borel. Ratusan orang diangkut dari Ambon untuk membangun menara suar ini. Juga ratusan warga lokal yang dipaksa ikut terlibat dalam pembangunannya. Mengacu situs berita Antaranews, Mercusuar mengadopsi nama sang raja yang menguasai Luksemburg (1817-1890), yakni Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Menara ini terletak di dalam sebuah komplek seluas 20 hektare. Dahulu pemukiman ini diisi oleh perwira-perwira Belanda. Kala memerintah, Willem banyak berperan membangun ekonomi dan infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, termasuk Pulo Aceh. Willem membangun mercusuar ini sebagai usaha menyiapkan Sabang sebagai salah satu Pelabuhan transit di Selat Malaka. Kala itu Belanda bercita-cita membuat Pelabuhan transit Sabang yang diharapkan seperti Singapura yang dapat dilihat di masa sekarang. Faktanya Mercusuar Willem’s Toren III merupakan salah satu dari tiga mercusuar yang menjadi warisan Belanda di dunia. Satu mercusuar lainnya berada di Belanda, dan kini sudah dijadikan museum. Sementara satunya lagi berada di kepulauan Karibia. Sekiranya dapat kita sadari, bahwa sejarah tidak dapat direkonstruksi. Bahkan mereka yang dikaruniai ingatan tajam sekalipun. Namun demikian, ada hal yang dapat dilakukan generasi sekarang untuk mengenang. Salah satunya dengan melakukan destinasi wisata kawasan bersejarah. Melihat kembali puing-puing kejayaan di masa lampau, menelaah dan pada akhirnya menjadi media pembelajaran untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. (Rahmi) Selengkapnya sila baca di sini:  

Pelayaran Perdana, KMP. Aceh Hebat 2 Bawa 280 Penumpang

Proses panjang persiapan KMP Aceh Hebat 2 supaya dapat segera beroperasi telah usai. Ditandai dengan penandatanganan kontrak perjanjian sewa antara Pemerintah Aceh dengan PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Jumat kemarin (29/1). Hari ini, mimpi akan pelayanan transportasi penyeberangan Aceh menjadi sungguh berwujud nyata di hadapan Rakyat, Rakyat dapat berlayar bersamanya. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, MT., melepas pelayaran perdana KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh, Sabtu, 30 Januari 2021. Catatan sejarah KMP Aceh Hebat 2 milik Pemerintah Aceh yang melayani penyeberangan Ulee Lheue – Balohan mulai tergores hari ini. Mendukung konektivitas distribusi logistik dan industri pariwisata di Kota Sabang tentulah tujuan utamanya. Nova, pada saat launching pelayaran perdana ini, bersyukur KMP Aceh Hebat 2 telah beroperasi dan melayani penyeberangan masyarakat. “Alhamdulillah, atas izin Allah, KMP Aceh Hebat 2 sesaat lagi akan melakukan pelayaran perdana, dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Aceh,” ungkapnya. Nova menambahkan, KMP Aceh Hebat 2 menjadi tambahan armada penyeberangan yang akan beroperasi pada lintasan Ulee Lheue – Balohan. Sehingga, adanya proses docking salah satu kapal tidak akan mempengaruhi pelayanan. “Kapal ini akan menjadi tulang punggung pelayaran Ulee Lheue – Balohan karena kapasitasnya juga lebih besar, 1.186 GT,” ujar Nova. Sebagai informasi, pada pelayaran perdana ini, KMP Aceh Hebat 2 mengangkut 280 penumpang, 80 unit kendaraan roda dua, 27 unit kendaraan roda empat, dan 1 unit kendaraan roda enam. Kapal yang dinahkodai oleh Kapten Rubay ini diawaki oleh 15 ABK. 14 di antaranya merupakan ABK yang berasal dari Aceh. (AM)

Tandatangani Kontrak Sewa, KMP. Aceh Hebat 2 Siap Beroperasi

Sejak KMP Aceh Hebat 2 tiba di Banda Aceh pada Desember lalu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh mengupayakan kapal tersebut dapat segera beroperasi mendukung kelancaran distribusi logistik dan kunjungan pariwisata ke Pulau Weh, Sabang. Selain itu juga dilatarbelakangi tingginya minat masyarakat yang ingin merasakan pelayanan KMP Aceh Hebat 2 yang dibangun menggunakan anggaran APBA. Dishub Aceh bersama PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh melakukan sejumlah persiapan operasional kapal secara bertahap, seperti uji sandar pada dermaga pelabuhan, dan pengujian berlayar pada perairan Sabang sekitar awal Januari lalu. Persiapan ini penting guna menjamin keamanan dan keselamatan pelayaran nantinya saat beroperasi. Hari ini, Jumat, 29 Januari 2021, Sekretaris Daerah Aceh, dr. Taqwallah. M.Kes., tandatangani kontrak perjanjian sewa KMP Aceh Hebat 2 bersama General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Syamsuddin di Ruang Potensi Daerah, Setda Aceh. Penandatanganan kontrak ini merupakan tahap terakhir, dari sejumlah tahapan yang telah dilakukan, sebelum KMP Aceh Hebat 2 beroperasi secara reguler di lintasan Ulee Lheue – Balohan. Ditemui Tim Aceh TRANSit setelah acara penandatanganan ini, Kadishub Aceh, Junaidi menyampaikan, Dishub Aceh telah memulai persiapan agar KMP Aceh Hebat 2 dapat segera beroperasi sejak kapal tersebut tiba di Aceh. “Ada proses yang panjang untuk inventarisasi, kemudian familiarisasi kapal. Alhamdulillah tahapan-tahapannya sudah kita lalui. Dengan penandatanganan kontrak ini, insyaallah, besok akan dilakukan pelayaran perdana dari Ulee Lheue ke Balohan,” ungkap Junaidi. Turut hadir dalam acara ini, Asisten II Setda Aceh, Kepala Biro Hukum Setda Aceh, Kepala Banda Pengelolaan Keuangan Aceh, Kepala Balai Pengelolaan Transportasi Darat Wilayah I Aceh, Kadishub Aceh, Kadishub Kota Banda Aceh, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Malahayati. (AM)

Bercermin pada Kisah Penyeberangan Pulau Weh

SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 2.300 pulau berpenghuni, transportasi penyeberangan antar pulau-pulau di Indonesia menjadi sangat krusial untuk menopang kehidupan masyarakat. Pengangkutan orang menggunakan kapal penyeberangan telah ada sejak dahulu tak terkecuali di Aceh. Kami pun menyambangi kediaman salah satu saksi sejarah penyeberangan di Aceh. Beliau adalah Imam Habinajud, seorang pensiunan PT. ASDP Indonesia Ferry yang telah mengabdi hampir 40 tahun. Menurutnya, salah satu rute penyeberangan paling diminati adalah lintasan Banda Aceh – Sabang. Berawal sekitar awal 1980an. Pemerintah bersama dengan KP4BS (Komando Pelaksana Pembangunan Proyek Pelabuhan Bebas Sabang) membuat sebuah gagasan bernama Proyek ASDP. Awal Proyek ASDP, KP4BS hingga Masa Peralihan Awal mula Proyek ASDP ditandai dengan dibukanya rute penyeberangan perintis yang melayani lintasan Ulee Lheue menuju Sabang yang oleh KMP Tongkol. Berselang setahun, tepatnya tahun 1982 rute Ulee Lheue – Sabang diganti menjadi Malahayati – Sabang. Perubahan lintasan tersebut diiringi dengan penggantian KMP Tongkol yang dialihkan ke lintasan lain dan digantikan KMP Jambal. KMP Jambal ini berlayar sekitar 3 tahun melayani masyarakat. Memasuki tahun 1985 menjadi tahun penting bagi dunia penyeberangan Aceh, KP4BS yang telah berdiri hampir 20 tahun dihentikan operasionalnya oleh pemerintah. Organisasi ini pun dibubarkan dan kemudian mulai berganti pelayanan menjadi komersil melalui PT. ASDP. Proses peralihan pegawai ini membuat vakumnya operasional penyeberangan selama 2 bulan. Era baru penyeberangan Sabang ditandai dengan datangnya 2 kapal baru yaitu KMP Gajah Mada dan KMP Kuala Batee 1. Keberadaan kedua kapal ini tidak berlangsung lama, KMP Gajah Mada yang merupakan kapal jenis Katamaran (kapal dengan 2 lambung) menjadikannya kurang cocok untuk lintasan ini karena tingginya gelombang laut. Di akhir tahun 1988, kedua kapal ini harus dialihkan ke lintasan lain. KMP Gurita dan Memori Kelamnya PT ASDP kemudian mendapat jatah 1 kapal baru di akhir 1988 yaitu KMP Gurita yang dibarengi dengan pemindahan lintasan dari Pelabuhan Sabang beralih ke Balohan. Keberadaan KMP Gurita ini cukup lama sekitar 8 tahun lamanya kapal ini mengarungi samudera. Perlahan penumpangnya terus mengalami peningkatan bahkan beberapa kali kewalahan khususnya pada hari besar tertentu. Puncaknya pada saat “meugang” Ramadan awal 1996, tepat pada Jumat 19 Januari 1996 terjadilah sebuah tragedi kelam yang meninggalkan kesedihan mendalam bagi masyarakat. KMP Gurita tenggelam dalam pelayaranya dari Malahayati menuju Balohan tepatnya di perairan Ujoeng Seuke. Peristiwa kelam ini menimpa 378 penumpang KMP Gurita, hanya sekitar 40 orang yang dapat diselamatkan, sedangkan 54 orang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dan 284 lainnya ikut tenggelam ke dasar lautan bersama bangkai kapal kelam ini. Hasil investigasi menyebutkan bahwa kapal ini kelebihan muatan dari kapasitas seharusnya hanya 210 penumpang dan adanya muatan beton bertulang yang berlebihan. Kembali Merajut Asa Peristiwa tenggelamnya kapal sempat membuat pelayanan berhenti selama 1 bulan. Operasional pun kembali dilanjutkan ditandai dengan dikembalikanya lintasan ke Ulee Lheue serta datangnya kapal baru yaitu KMP Tandemand yang kemudian digantikan oleh KMP Cengkeh Apu dan KMP Pulau Rubiah. Hingga pada awal 2002, operasional penyeberangan digantikan oleh KMP Tanjung Burang yang sebelumnya melayani lintasan Maluku. Kemudian paska Tsunami, Pemerintah melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh melakukan pengadaan KMP BRR untuk mendampingi operasional KMP Tanjung Burang. Kedua kapal inilah yang hingga kini terus melayani penyeberangan masyarakat dari dan menuju Sabang. Iman menyampaikan setiap kapal penyeberangan yang ada menurutnya memiliki ceritanya sendiri. “Di tiap kapal itu ada rasa sakit, pedih dan perjuanganya sendiri. Jadikan apa yang ada sebagai pelajaran, semoga apa yang terjadi di masa lampau tidak terulang lagi di kemudian hari” ujarnya. Ia menambahkan harapan agar ke depan lintasan lain yang ada di Aceh segera dapat berkembang dan lebih baik dalam melayani masyarakat. (Reza)

Pengembangan Sistem Digitalisasi Pelabuhan untuk Menata Ekosistem Logistik Nasional

Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan perlu terus dilakukan pengembangan sistem digitaliasi pelabuhan baik perizinan maupun layanan kepelabuhanan untuk menata ekosistem logistik nasional. Hal ini dikemukakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat membuka Webinar “Strategi Pelabuhan dan Pelayaran dalam Era Ekosistem Logistik” secara virtual di Jakarta, Rabu (20/1). Dengan telah ditetapkannya Instruksi Presiden RI Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional, Kementerian/Lembaga terkait harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas dan fungsi secara terkoordinasi dan terintegrasi untuk melaksanakan penataan tersebut. Penataan yang dilakukan yaitu melalui kolaborasi K/L terkait melalui National Logistic Ecosystem (NLE) yang didukung oleh platform yang menghubungkan proses logistik end-to-end yang memungkinkan proses logistik nasional yang efisien. NLE akan berkolaborasi dengan sistem logistik yang telah ada dan berintegrasi dengan fase logistik yang belum didukung sistem logistik. Melalui penataan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja logistik nasional, memperbaiki iklim investasi, dan meningkatkan daya saing perkenomian nasional. “Digitalisasi logistik telah menjadi keharusan di dalam era industri 4.0. Penataan ekosistem logistik nasional ini identik dengan digitaliasi,” jelas Menhub. Adapun beberapa capaian program NLE di sektor perhubungan laut pada tahun 2020 antara lain uji coba Soft System Methodology (SSM) pengangkutan, penerapan Ship to Ship – Floating Storage Unit (STS-FSU) dan SSM Perizinan Tahap I, penebusan DO dan pengeluaran SP2 melalui platform pemerintah dan shipping, uji coba kolaborasi pergudangan, identifikasi awal proses bisnis depo kontainer di Jakarta dan Surabaya, serta penerapan perizinan STS dan Floating Storage Unit (FSU). Sementara target program penataan Ekosistem Logistik Nasional selama tahun 2021-2024 di sektor perhubungan laut antara lain meliputi : perluasan SSM Perizinan secara nasional dan pengembangan tahap 2, pengiriman semua DO yang diterbitkan oleh shipping dan semua SP2 yang diterbitkan oleh terminal petikemas ke NLE, penerapan kolaborasi platform pergudangan, penataan area Pelabuhan Tanjung Priok, penataan area Batu Ampar dan Kabil, penerapan SSM pengangkut dan pengembangan penerapan warehousing. “Implementasi era ekosistem logistik memiliki banyak manfaat, antara lain dapat menurunkan biaya logistik, sharing kapasitas logistik, menumbuhkan ekonomi digital, meningkatkan transparansi layanan, sistem antar K/L terhubung, mengurangi mata rantai logistik, tidak adanya duplikasi dan repetisi, serta menghilangkan proses manual,” ujar Menhub. Kemenhub terus melakukan pengembangan digitalisasi perizinan dan layanan kepelabuhanan seperti : Aplikasi Simlala (digitalisasi perizinan), Inaportnet (digitalisasi pelayanan pelabuhan), aplikasi Sitolaut (tracking distribusi barang dan ternak di area 3TP), dan dashboard monitoring (transparansi dan efisiensi layanan kepelabuhanan). Optimasi teknologi informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepelabuhanan menjadi lebih transparan, efisien, dan akuntabel. Webinar Nasional yang diselenggarakan ini membahas Implementasi Penataan Ekosistem Nasional yang sangat diperlukan untuk memenuhi tuntutan konektivitas yang tinggi dalam menjaga kualitas interaksi antar pemangku kepentingan ekonomi dengan karakteristik geografis Indonesia yang memiliki letak geografis yang strategis, di mana 90% perdagangan internasional melalui jalur laut, dan 40% nya melewati wilayah perairan Indonesia. Indonesia sebagai negara maritim terbesar, dihadapkan pada berbagai tantangan seperti adanya ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi di kawasan barat dan timur Indonesia, termasuk dalam hal distribusi logistik, masih adanya ketidakseimbangan kargo, infrastruktur kurang memadai dan tingginya biaya logistik di wilayah Indonesia. Menhub menekankan komitmen pemerintah untuk selalu mendukung tumbuh kembang industri kepelabuhanan dan pelayaran di Indonesia, menyederhanakan proses perizinan agar lebih cepat, melakukan perbaikan sistem layanan dan kinerja di pelabuhan. Menhub Budi juga memberikan apresiasi dan menyambut terselenggaranya Webinar Nasional ini untuk menghasilkan strategi di pelabuhan dan industri pelayaran di era ekosistem logistik yang identik dengan digitalisasi. “Untuk itu, saya ingin mengajak kepada seluruh pihak dan stakeholder terkait untuk meningkatkan sinergi bersama-sama dalam membangun dan memajukan pelabuhan di Indonesia,” pungkasnya. Turut hadir sebagai narasumber dalam webinar ini : Direktur Utama PT. Pelindo I (Persero) Dani Rusli Utama; Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT. Pelindo II (Persero) Ogi Rulino; Direktur Upata PT. Pelindo III U. Saefudin Noer; Diektur Utama PT. Pelindo IV Prasetyadi; Direktur Utama PT. Samudera Indonesia Bani Maulana; General Manager MSC Indonesia Dhany Novianto; Presiden Direktur Gurita Lintas Samudera Soenarto; Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto; Ketua Umum DPP ALFI/ILFA Yukki Nugrahawan. Webinar dimoderatori oleh Pasoroan Herman Harianja selaku Presiden INAMPA. (Sumber: Kemenhub RI)