Dishub

Pemanfaatan CSR untuk Keselamatan Transportasi

Keselamatan penumpang pada sektor transportasi merupakan faktor utama yang menjadi perhatian seluruh stakeholder perhubungan. Menjamin tersedianya keselamatan pada transportasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kerjasama antar mitra kerja dengan konsep saling membantu dan mendukung supaya keselamatan pengguna jasa transportasi dapat terjamin dengan baik. Jasa Raharja Cabang Aceh, sebagai salah satu mitra kerja Dinas Perhubungan Aceh di sektor transportasi, aktif terlibat dalam setiap upaya mendukung penyelenggaraan keselamatan transportasi di Aceh. Sebagai bentuk kepedulian dan wujud bakti terhadap keselamatan transportasi di Aceh, PT. Jasa Raharja Aceh menyalurkan sejumlah fasilitas keselamatan berlayar berupa life buoy dan life jacket yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR). Di samping bantuan fasilitas keselamatan, PT. Jasa Raharja Aceh juga ikut mendukung kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi petugas Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh. Dukungan tersebut meliputi pelaksanaan tes urin untuk deteksi narkoba dan rapid test antigen bagi 25 petugas pelabuhan. Kepala PT. Jasa Raharja Aceh, Mulkan, mengungkapkan bahwa bantuan ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial PT. Jasa Raharja Aceh kepada masyarakat pengguna jasa transportasi di Aceh. Ia mengharapkan, andil Jasa Raharja ini mampu berkontribusi dalam menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan transportasi.(Amsal Bunaiya) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Jejak 100 Hari Operasional KMP. Aceh Hebat

Sama halnya dengan tahun 2020, tahun 2021 pandemi masih melanda bumi. Dunia transportasi mungkin menjadi sisi “tergalau” karena pandemi. Di satu sisi pergerakan manusia dan barang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian. Namun selama pandemi pergerakan malah menjadi pendongkrak masalah yang lebih fatal. Salah satunya berimbas pada pelayaran KMP Aceh Hebat. Banyak momen yang menjadi sebab tidak optimalnya produktivitas di awal keberadaan kapal kebanggaan ini. Meningkatnya kasus Covid-19 di Provinsi Aceh membuat Pemerintah meminta pengelola kapal penyeberangan memperkecil frekuensi operasional ditambah lagi dengan jumlah penumpang dibatasi hanya 50 persen saja. Belum lagi adanya pembatasan pergerakan yang terjadi pada bulan Mei tepatnya pada tanggal 6 s/d 17 Mei 2021. Dimulai dengan rute pelayaran Calang – Sinabang (pp) yang dilayari KMP. Aceh Hebat 1 (KMP. AH 1). Dari awal berlayar, kendala besar terjadi pada pertengahan dan akhir bulan Maret 2021. Pada tanggal 17 dan 18 Maret, KMP. AH 1 sempat mengalami penundaan keberangkatan diakibatkan benturan dan gesekan yang disebabkan arus kuat hingga menyebabkan panel pengait pada rampdoor kapal mengalami kerusakan. Berdasarkan data dari BMKG yang dirillis tanggal 17 Maret 2021 tinggi gelombang di Barat – Selatan Aceh dapat mencapai 2,5 meter dengan potensi hujan dan angin kencang kategori empat yang berbahaya untuk transportasi. Rampdoor kapal Aceh Hebat 1 mengalami kerusakan pada saat merapat ke dermaga di Pelabuhan Calang. Setelah maintenance yang dilakukan oleh pihak PT. ASDP Indonesia Ferry selaku operator kapal, pada tanggal 19 Maret kapal kembali berlayar. Kendala berikutnya terjadi pada tanggal 31 Maret 2021. Tinggi gelombang di perairan Barat – Selatan mencapai ±6 meter yang menyebabkan pihak operator PT. ASDP kembali menunda pelayaran beberapa hari berikutnya. Karakter pelabuhan pantai barat Aceh memang sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi cuaca. Ada penurunan namun ada pula peningkatan. Hingga pada tanggal 2 April pelayaran dilakukan kembali. Namun lonjakan baru terjadi pada saat kondisi cuaca benar-benar stabil dan kondusif, tepatnya tanggal 5 April 2021. Dengan rincian jumlah penumpang melonjak mencapai 134 orang dan mengangkut 63 unit kendaraan. Lonjakan produksi AH 1 berikutnya terjadi menjelang dan setelah pembatasan pergerakan mudik 1442 H. Pembatasan terjadi tanggal 6 s/d 17 Mei 2021. Masyarakat mulai melakukan antisipasi dengan melakukan pelayaran sebelumnya. Tepatnya ada tanggal 30 April, kapal mengangkut 355 orang penumpang dan 102 unit kendaraan, dan pada tanggal 3 Mei dengan membawa 442 orang penumpang dan 198 unit kendaraan. Kemudian masa setelah pembatasan pergerakan juga terjadi lonjakan. Dapat diasumsikan bahwa masyarakat kembali beraktivitas normal. Lonjakan tepatnya terjadi tanggal 30 Mei 2021 menjadi  sebanyak 474 penumpang dan 153 unit kendaraan. Sementara untuk KMP. Aceh Hebat 2 (KMP. AH 2) dengan lintasan Ulee Lheue-Balohan (PP). Lonjakan produksi terjadi pada bulan Mei 2021. Dengan total penumpang mencapai 22.710 orang dan 7.933 unit kendaraan. Dibandingkan dengan produktivitas bulan Januari s/d April yang berada pada angka maksimal 20 ribu penumpang dan 6 ribu unit kendaraan setiap bulannya. Sedangkan penurunan produksi AH 2, dengan jumlah produksi 15 ribu penumpang terjadi di bulan April. Hal tersebut diakibatkan pada awal April kondisi cuaca wilayah Aceh diguyur hujan beserta angin kencang, bahkan tinggi gelombang mencapai ±4 meter. Hal ini pastinya menjadi faktor pertimbangan pelayaran serta pertimbangan penumpang akan keselamatannya. Berbeda lagi yang terjadi pada KMP. Aceh Hebat 3 (KMP. AH 3) dengan rute pelayaran Singkil-Pulau Banyak pulang pergi (PP). Di awal berlayarnya lonjakan terjadi pada tanggal 21 Maret 2021, mencapai 129 orang penumpang. Hal ini sudah memperlihatkan adanya antusias masyarakat Aceh terhadap keberadaan kapal baru ini. Seperti halnya KMP. AH 1, KMP. AH 3 juga mengalami lonjakan setelah Idul Fitri. Tepatnya pada tanggal 19 Mei dengan jumlah penumpang mencapai 164 orang. Sedangkan lonjakan kendaraan yang diangkut terjadi pada tanggal 25 Mei sebanyak 45 unit kendaraan. Para penumpang yang sebagian besar bekerja di sektor  non-formal seperti pedagang sungguh amat bergantung pada transportasi laut ini demi memasok kebutuhan logistik di kepulauan. Berkaitan dengan produktivitas KMP. Aceh Hebat 3, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah memberikan tanggapan di sela kunjungan kerjanya ke Kabupaten Aceh Singkil, 5 Juli 2021. Nova menyampaikan bahwa “Saat ini operasional KMP. Aceh Hebat 3 cukup bagus dalam melayani perjalanan ke Pulau Banyak. Lambat laun dengan kehadiran KMP. Aceh Hebat 3 dan promosi yang dilakukan, Insya Allah okupansi kapal terus meningkat”. Gubernur Aceh juga menambahkan, KMP. Aceh Hebat 3 akan mendukung kegiatan investasi di Pulau Banyak, baik mengangkut wisatawan, tenaga kerja, atau masyarakat Singkil sendiri. Data produksi 100 hari awal keberadaan KMP. Aceh Hebat 3 berkembang secara fluktuatif (tidak stabil), dari bulan Maret sampai dengan Juni 2021. Berdasarkan informasi dari nahkoda dan kru kapal, jumlah penumpang di akhir pekan mendekati 100 persen dari kapasitas kapal. Meskipun pada hari biasa masih berkisar 30 hingga 35 persen. Namun demikian kedepannya sangat kita yakini produktivitas kapal semakin melonjak. Mengingat keindahan Pulau Banyak yang mampu menarik Uni Emirat Arab (UEA) untuk berinvestasi dan ikut mendukung pariwisata Pulau Banyak. Dan pada akhirnya diharapkan mampu berpengaruh pada meningkatnya perekonomian dan taraf hidup masyarakat kepulauan. (Rahmi Caesaria Nazir) Download 

Pasien Rujukan Pulau Banyak Kini Lebih Mudah

Pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang mesti ada dalam lini kehidupan sehari-hari. Kesehatan merupakan harta yang sangat penting untuk menunjang kehidupan yang produktif, karena jika seorang yang mengalami gangguan kesehatan akan menurunkan tingkat produktivitas seseorang. Begitu pun transportasi pelayanan kesehatan merupakan salah satu aspek yang harus terintegrasi dengan pusat layanan yang terpadu. Apalagi, pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan yang sangat butuh tranportasi penyeberangan yang terhubung dengan pusat kabupaten dalam kegiatan koordinasi, distribusi kebutuhan kesehatan, keadaan gawat darurat serta aktivitas lainnya yang harus merujuk ke wilayah daratan dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Seperti halnya Pulau Banyak yang akan kita ceritakan dalam tulisan ini. Wilayah Pulau Banyak merupakan salah satu kecamatan di Aceh Singkil. Kebiasaannya, fasilitas kesehatan di sana masih sangatlah minim, untuk pemeriksaan lanjutan harus dirujuk ke rumah sakit di pusat kabupaten, yang berada di wilayah daratan, yaitu Singkil. Menyeberang dari Pulau Banyak ke Singkil, pastinya memerlukan kapal penyeberangan yang nyaman dan aman bagi kegiatan pelayanan kesehatan. Seperti pengalaman yang dibagikan oleh seorang dokter yang bertugas sebagai Kepala Puskesmas di Pulau Banyak. Beliaulah dr. Indah Puspita Putri. “Di puskesmas ini kita terdiri dari enam puluh staf, diantaranya dua dokter termasuk dokter gigi. Di sini kita melayani rawat jalan, rawat inap dan pasien rujukan. Kalau pelayanan darurat yang harus rujuk ke kabupaten, kita pakai boat masyarakat, kalau datang cuaca yang nggak bersahabat terpaksa kita harus menunggu. Kasihan memang, namanya kita sakit sebenarnya nggak bisa nunggu, tapi mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa mengusahakan seoptimal mungkin,” ujarnya penuh harap. Menurutnya, selama operasional KMP. Aceh Hebat 3 sangat terbantu. Animo masyarakat untuk KMP. Aceh Hebat 3 ini pun terus meningkat. Apalagi jadwal operasionalnya sekarang rutin setiap hari, jika ada pasien rujukan dapat diberangkat segera. Karena, jika naik boat itu kurang aman, fasilitas keselamatannya juga tidak ada. Beda halnya dengan KMP. Aceh Hebat 3, meskipun cuaca musim penghujan dan angin, kapalnya tetap stabil menyeberang. Masyarakat yang menyeberang pun masih nyaman di dalam kapal. Akan tetapi, jika cuaca sangat ekstrem, kapal terpaksa berhenti berlayar, karena ini urusan keselamatan, tidak dapat dipaksakan. Kita sebagai masyarakat pun memaklumi dan menunggu hingga kapal kembali beroperasi. “Cuaca memang menjadi kendala besar untuk pelayaran, apalagi bulan November menjadi puncak cuaca ekstrem. Kita berharap di bulan penghujan, jika bisa, kapal ini jangan naik docking, karena musim yang berubah seperti ini, penyakit sering menyerang masyarakat. Kebutuhan akan pelayanan kesehatan semakin tinggi,” tukasnya. Biasanya, musim penghujan seperti ini, keadaan darurat sering terjadi di malam hari. Jika ada kapal, pasien langsung dirujuk paginya ke Singkil. Jika harus naik boat masyarakat, risiko keselamatan akan menjadi sangat tinggi. Kalau di dalam KMP. Aceh Hebat 3, pasien masih bisa tidur dengan nyaman. “Kita sebagai orang kesehatan, KMP. Aceh Hebat 3 juga menyediakan kamar khusus pasien, yang penting ada tempat tidurnya. Kita dikasih ruang di bawah itu sudah paling bersyukur, karena sayang pasien jika tempatnya kurang nyaman, apalagi waktu menyeberang kurang lebih empat jam. Itu waktu yang melelahkan bagi pasien,” pungkasnya penuh harap. (Misqul Syakirah) Download  Nonton Video KMP Aceh Hebat: Kini Kita Lebih Dekat https://www.youtube.com/watch?v=Lvgzxeva-7M&t=12s

Bersyukur Menjadi Bagian KMP. Aceh Hebat

Kapal penyeberangan Aceh Hebat 1 sudah mulai beroperasi menghubungkan pelabuhan Calang, Aceh Jaya dan pelabuhan Sinabang, kabupaten Simeulue sejak  9 maret 2021 lalu. Menariknya Kapal penyeberangan bernama  Aceh Hebat I ini berisikan sembilan orang kru Anak Buah Kapal (ABK) merupakan putra Aceh Asli. Salah satunya adalah Abdul Rahmad pria lajang berusia 21 tahun asal Kota Sabang, Aceh, yang menjabat sebagai Juru Mudi kapal berbobot 2441 GT ini. Usai menyelesaikan sekolah Politeknik Pelayaran Malahayati, Rahmad  diterima sebuah perusahaan kapal kargo di Pulau Jawa. Setelah beberapa lama bekerja, ia mencoba peruntungan melamar menjadi awak kapal di  bawah naungan BUMN PT ASDP Indonesia Ferry dan diterima menjadi juru mudi pada awal tahun 2021 ini yang ditugaskan di Aceh. Saat Rahmad masih remaja selain bermain bola, pecinta klub Barcelona ini mengisi  hari dengan bekerja menjadi mengantar  air isi ulang ke kapal kapal yang bersandar dipelabuhan Balohan Sabang. Dari sini lah awal ketertarikan Rahmad dengan kapal dan berkeinginan menjadi awak kapal  dan diwujudkan impian dengan masuk sekolah pelayaran di Krueng Raya, Aceh Besar. Padahal dalam keluarganya tidak ada yang berprofesi sebagai awak kapal. Rahmad tentu bukan satu-satunya putra Aceh yang dipercayakan untuk mengawaki tiga Kapal Aceh Hebat mengarungi lautan provinsi terujung Indonesia ini. Karena hampir 60 persen ketiga kapal milik masyarakat Aceh diawaki putra daerah Aceh asli. Dengan komposisi, KMP. Aceh Hebat 1 berjumlah 22 kru ABK, 9 diantaranya putra aceh. KMP Aceh Hebat 2 berjumlah 15 orang ABK, 14 orang ABK merupakan putra Aceh. Selanjutnya kru Aceh Hebat 3 berjumlah 19 orang ABK dan 9 diantaranya putra Aceh. Tentunya dengan diawaki putra daerah, ketiga kapal ini telah  menyerap tenaga kerja lokal. Sehingga diharapkan dapat melayani perjalanan penumpang menuju tempat tujuan dengan baik. Guna meningkatkan pelayanan penumpang di sisi pariwisata Aceh yang tersebar di beberapa pulau dan meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat setempat. Rahmad merasa bangga dan bersyukur bisa bekerja di salah satu kapal milik masyarakat Aceh. Ia memiliki harapan, semoga ke depan semakin banyak putera-putera Aceh yang memiliki kesempatan bekerja di sektor transportasi Aceh. Adapun rute dan jadwal ketiga KMP tersebut adalah sebagai berikut: KMP ACEH HEBAT 1  melayani penyeberangan dari Pelabuhan Calang menuju Pelabuhan Sinabang 2 kali seminggu PP. Satu hari tidak beroperasi untuk perawatan kapal. KMP ACEH HEBAT 2 melayani penyeberangan Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh – Pelabuhan Balohan Sabang setiap hari, 3 trip perhari. Dan KMP. ACEH HEBAT 3 melayani penyeberangan Pelabuhan Singkil – Pulau Banyak, 5 kali dalam seminggu, 1 trip per hari (PP). Dalam seminggu kapal ini harus berlayar satu kali ke Simeulue untuk melakukan pengisian bahan bakar.(Rizal Syahisa) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Angkutan Udara di Aceh

Kondisi geografis yang beragam serta kerawanan bencana yang tinggi menjadi tantangan dalam mitigasi bencana, dan pemerataan pembangunan serta pertumbuhan ekonomi yang masih terpusat di wilayah ibu kota Provinsi dan Kabupaten/Kota yang berada di wilayah pantai timur Aceh. Angkutan udara menjadi sebuah alternatif yang tidak terelakkan, ditambah lagi Aceh memiliki potensi besar dibidang kedirgantaraan, dimana terdapat 11 Bandara yang tersebar di Kabupaten/kota di Aceh, namun pemanfaatannya belum optimal. Berkaca pada kondisi tersebut, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh Menyusun dua kajian yaitu kajian kebutuhan transportasi udara dan kajian teknis angkutan udara Aceh. Dari hasil kedua kajian ini didapatkan bahwa Aceh membutuhkan 4 (empat) unit pesawat yang dapat melalui wilayah tebing dan berbukit, dan juga memiliki kemampuan short take off – landing sehingga tidak membutuhkan landasan yang panjang mudah dioperasikan di daerah terpencil sesuai dengan karakteristik beberapa bandara di Aceh untuk kemudian dioperasikan sebagai ambulans udara, angkutan barang/kargo, dan angkutan perintis. Dengan gempa dan tsunami seperti tahun 2004 yang selalu mengancam wilayah pantai barat Aceh dibutuhkan angkutan udara jenis ambulans udara untuk kebutuhan medis dan evakuasi dalam melaksanakan penanggulangan bencana. Pesawat ambulans udara menggunakan konfigurasi khusus dengan kapasitas 9 stretcher, 2 double + 1 single troops seat. Dari hasil kedua kajian tersebut didapatkan bahwa dua unit pesawat dapat mengevakuasi sebanyak 144 orang/hari dengan asumsi loading/unloading time ≈ 1 jam dan kecepatan pesawat 180 Knots. Disamping kesiapsiagaan bencana, kebutuhan akan pengiriman hasil alam juga sama pentingnya. Kinerja ekspor perikanan Provinsi Aceh terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan, hanya saja pergerakan kargo menggunankan transportasi darat dan laut membutuhkan waktu yang lebih lama. Simulasi pergerakan kargo menggunakan pesawat yang dilakukan dengan asumsi pesawat memiliki maksimum payload sebesar 2,3 ton/keberangkatan dengan kecepatan 180 knots, didapatkan bahwa 6,90 Ton potensi hasil perikanan Aceh dapat terangkut dalam waktu kurang lebih 4 jam dari tiga wilayah yang berbeda. Hal ini tentu dapat meningkatkan nilai jual dari hasil sektor perikanan Aceh. Dalam penyelenggaraan aktivitas pemerintahan, mobilitas tinggi dari kabupaten/kota menuju ibukota Provinsi Aceh sangat tinggi. Kedua kajian yang dilakukan mencoba mensimulasikan beberapa rute penerbangan perintis dari beberapa wilayah di Aceh untuk menekan waktu tempuh ke Banda Aceh hingga kurang dari 6 jam perjalanan dengan estimasi utilisasi angkutan udara sebesar 1,106 jam/tahun. Selain itu, beberapa rute penerbangan perintis juga beririsan dan saling melengkapi dengan rute pariwisata potensial dalam wilayah Aceh serta mendukung potensi rute  Internasional yaitu: Sabang – Phuket dan Sabang – Langkawi sebagai penguatan Kerjasama Indonesia – Malaysia – Thailand Golden Triangle (IMT-GT) dibidang pariwisata. Kedua kajian tentang angkutan udara ini dilakukan untuk dapat memberikan gambaran kebutuhan dan potensi angkutan udara dalam mengembangkan wilayah Aceh dengan seluruh potensinya, baik potensi wisata, perikanan, perkebunan, dan lainnya demi peningkatan sosial perekonomian masyarakat Aceh. (Arrad Iskandar) Selengkapanya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi VII Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id) Simak Video Bandara Patiambang Gayo Lues

Optimisme Kebangkitan Pariwisata Aceh

Pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan besar bagi pergerakan ekonomi Indonesia dan dunia. Dengan mendorong sektor pariwisata untuk kembali bergeliat, maka beberapa sektor lain pun akan turut kembali bernafas seperti misalnya sektor kuliner, seni dan budaya, transportasi, migas, energi, dan tentunya sektor UMKM. Aceh salah satu provinsi di Indonesia yang juga memiliki  cukup banyak potensi destinasi wisata kepulauan dengan panorama yang begitu indah, cukup  mengundang minat wisatawan untuk menikmatinya,  juga terdapat hasil alam dan hasil laut  daerah yang cukup berpotensi meningkatkan devisa daerah tersebut, sudah sewajarnya Aceh butuh alat transpotasi kapal baru guna mewujudkan transportasi berkeadilan yang setara dengan wilayah daratan. Untuk itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan pada tahun 2019 lalu telah melakukan membangun kapal baru. Pada akhir 2020 ketiga kapal baru tersebut pun telah didatangkan dari galangannya dan diberi nama KMP. Aceh Hebat 1, 2 dan 3. (KMP. AH-1, AH-2 dan AH-3). Guna mempercepat proses mengurangi kesenjangan konektivitas antar pulau maka pada awal 2021 ketiga kapal tersebut resmi diluncurkan oleh Pemerintah Aceh dalam hal ini Nova Iriansyah didampingi Kadishub Aceh Junaidi. beserta unsur instansi terkait dan General Manager PT. ASDP Cabang Banda Aceh meresmikan pelayaran perdana KMP. AH-2 yang melayani penyeberangan Ulee Lheue-Balohan Sabang pada tanggal 30 Januari 2021 lalu. Selanjutnya pada tanggal 9 Maret 2021 secara bersamaan diresmikan pelayaran perdana KMP. AH-1 di Calang dan KMP. AH-3 di Singkil. Kini ketiga KMP. Aceh Hebat sudah rutin mengarungi lautan Aceh di ketiga rute tersebut. KMP. AH-1 melayani penyeberangan Calang- Sinabang. Penyeberangan pantai barat yang cukup jauh dan padat aktivitas lintas orang dan logistik. Yang tadinya hanya dilayani oleh 1 kapal yakni KMP. Teluk Sinabang. Berarti, kini dengan adanya KMP. AH-1 diharapkan semakin meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Pulau Simeulue serta arus kunjungan wisata. Sedangkan KMP. AH-3 melayani penyeberangan Singkil – Pulau Banyak. Wilayah pelayaran ini cukup menarik, karena Kabupaten Singkil memiliki destinasi wisata kepulauan yang menawan dan mulai dikenal masyarakat luas yakni kepulauan Pulau Banyak. Untuk meningkatkan jumlah wisatawan dan perekonomian masarakat setempat maka Pemerintah Aceh merasa layak wilayah ini mendapatkan satu kapal baru. Potensi Destinasi wisata Pulau Banyak Singkil Pulau Banyak merupakan wilayah tujuan wisata gugusan puluhan pulau-pulau indah yang memiliki kekhasan panorama berbeda yang sudah mulai dikenal masyarakat luas, berpotensi jadi destinasi wisata pantai yang menguntungkan Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Singkil. Dengan adanya KMP. Aceh Hebat 3. Harapan pelaku wisata setempat untuk maju, besar kemungkinan akan tercapai dalam waktu secepatnya. Diakui oleh Kadisbudpar Singkil Edi Hartono, saat ini dengan adanya KMP. Aceh Hebat 3 mulai terlihat ada kenaikan wisatawan, apalagi ke depan saat ini sudah ada investor dari negara Uni Emirat Arab (UEA) yang ingin membangun fasilitas wisata dibeberapa pulau yang sudah mereka survei Tadinya sarana penyeberangan yang ada menuju Pulau Banyak cuma satu kapal feri yang berlayar seminggu hanya dua kali. Sehingga banyak pelaku ekonomi dan wisatawan menggunakan perahu nelayan setempat yang tentunya sangat beresiko apalagi di saat cuaca tidak bersahabat. “Untuk memenuhi peningkatan minat kunjungan wisatawan ke Pulau Banyak, kalau bisa jadwal kapal feri juga harusnya ada penambahan”, ujar Edi. Semoga harapan ini bisa terwujud dalam waktu dekat. Agar manfaat adanya KMP. AH-3 ini semakin cepat dirasakan oleh pelaku wisata dan masyarakat Kabupaten Singkil dan sekitarnya. Simak Video KMP. Aceh Hebat: Kini Kita Lebih Dekat Senada dengan harapan Edi Hartono, Kadisbudpar Simeulue Asmanuddin juga sangat antusias berharap dengan kehadiran KMP. Aceh Hebat 1 akan menjadi urat nadi peningkatan pariwisata Simeulue. Rivaldi, wisatawan asal Sumatera Utara yang sudah beberapa kali berkunjung ke Pulau Banyak, merasa senang karena baru tahu kalau sudah ada kapal KMP. Aceh Hebat 3 yang berlayar setiap hari pulang pergi (PP) ke Pulau Banyak, sehingga tidak harus berlayar dengan boat nelayan jika kondisi cuaca kurang baik. Rajabuddin, pelaku wisata Sabang yang kesehariannya menyewakan peralatan menyelam di Iboih sangat merasakan dampak positif dengan keberadaan Kapal Aceh Hebat, apalagi ditengah pandemi yang sempat membuat sepi pengunjung di Pulau Weh. Pak Itam, pengusaha wisata di Pulau Banyak, tentu akan merekomendasikan naik Kapal Aceh Hebat kepada calon wisatawan yang ingin menuju Pulau Banyak, karena pasti lebih nyaman. Kegembiraan ini juga disampaikan oleh Wandi, tour guide wisatawan Pulau Banyak, karena sudah ada jadwal penyeberangan yang rutin, wisatawan tidak lagi ragu jika ingin berlibur ke Pulau Banyak. Hampir semua penumpang, baik pelaku ekonomi dan wisata merasa sangat terbantu dengan adanya tiga KMP Aceh Hebat ini.  Mereka berharap semakin bisa meningkatkan perekonomian dan wisata daerah setempat.(Dewi Suswati) Download 

Membenahi Rute, Langkah Awal Tingkatkan Peran AKDP

Kelancaran transportasi di wilayah daratan mengacu pada keteraturan sebuah lintasan/rute yang akan dilayani oleh angkutan umum. Layanan angkutan umum antar daerah memegang peranan penting untuk mewadahi kebutuhan mobilitas masyarakat. Penggunaan angkutan umum juga lebih baik bila dibandingkan dengan penggunaan kendaraan pribadi, karena dapat mengurangi kemacetan dan mendukung keberpihakan pada lingkungan dengan penurunan tingkat emisi. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah Angkutan Umum Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Istilah AKDP dapat dipahami sebagai angkutan umum berupa otobus atau minibus yang melayani rute antar kota dalam satu provinsi dan penyelenggarannya menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Provinsi Aceh dengan luas 58,377 km2 dengan kondisi tata guna lahan yang sebagian besar berupa pemukiman, perkantoran, perdagangan, perindustrian, serta pendidikan, membutuhkan sarana untuk melakukan mobilitas sehingga dalam mencapai tujuan dapat ditempuh dengan waktu yang relatif singkat. Hadirnya pelayanan AKDP bergantung pada konsep “supply and demand”, dimana terdapat potensi pergerakan masyarakat yang tinggi pada suatu daerah, maka biasanya di situlah akan muncul kebutuhan akan angkutan umum. Per tahun 2020, jaringan rute yang ada pada saat ini melayani dengan kondisi eksisting di Provinsi Aceh sebanyak 333. Namun, persebarannya belum merata. Trayek yang melayani angkutan di Lintas Timur sebanyak 64% lebih banyak jumlahnya dibandingkan pada Lintas Barat dan Lintas Tengah yaitu masing-masing sebesar 16 persen dan 20 persen. Selain itu, ada kendaraan yang melebihi permintaan di beberapa trayek, sementara pada trayek lainnya belum ada kendaraan padahal ada permintaan (demand) layanan angkutan umum. Hal ini sering disebut juga dengan “trayek gemuk” dan “trayek kurus”. Umumnya, kondisi demikian terjadi karena di beberapa daerah banyak trayek yang melalui lintasan yang sama sehingga terjadi tumpang tindih. Upaya penertiban perlu dilakukan untuk menghindari turunnya load factor (tingkat keterisian) penumpang dan menghindari persaingan yang tidak sehat antar operator angkutan. Salah satu indikator untuk mengukur kinerja trayek juga dapat dilihat dari ketercapaian load factor penumpang yang dapat mencapai 70 persen. Angkutan Umum Wajib Punya Izin Trayek Idealnya, sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku, setiap angkutan umum yang beroperasi wajib mengantongi izin trayek. Izin trayek dapat diterbitkan apabila perusahaan angkutan yang mengajukan izin telah memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, seperti kendaraan yang laik jalan, telah melengkapi dokumen administrasi, dan mengajukan izin pada trayek yang sesuai. Izin trayek berlaku selama lima tahun. Setelah lima tahun, perusahaan dapat melakukan pengajuan kembali. Keabsahan operasional suatu angkutan umum pada trayek tertentu juga dibuktikan dengan Kartu Pengawasan atau KPS yang berlaku selama setahun. Kendaraan yang beroperasi dan telah mengurus KPS sampai dengan tahun 2020 adalah 1889 kendaraan. Meski demikian, pada kenyataannya, masih juga ditemukan angkutan yang beroperasi tanpa izin resmi, bukan pada rute yang seharusnya, atau mengangkut penumpang yang bukan haknya. Hal ini tentu berbahaya bagi keamanan penumpang jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan selama perjalanan karena angkutan umum yang beroperasi secara ilegal tentu tidak memiliki jaminan hukum. Memang, membenahi trayek angkutan umum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu dan proses yang panjang dan dukungan dari berbagai pihak. Pembenahan trayek hanyalah salah satu dimensi dari banyak hal yang harus ikut diperbaiki. Contohnya adalah perbaikan prasarana penunjang berupa penyelenggaraan terminal tipe B pada titik-titik awal keberangkatan, persinggahan, dan tujuan akhir. Selain itu, ketersediaan moda transportasi perkotaan untuk memudahkan penumpang angkutan umum menjangkau terminal terdekat atau simpul transportasi lainnya yakni pelabuhan, bandar udara, ataupun stasiun kereta api juga masih minim. Terakhir, sinergi yang baik dari semua pihak dan pemantauan secara kontinyu di lapangan merupakan kunci untuk mewujudkan pelayanan angkutan umum yang aman, tepat, nyaman, dan aksesibel. (Melita Nadya) Selengkapnya cek di Tabloid Aceh TRANSit Edisi 7 Tabloid ACEH TRANSit | Dinas Perhubungan Aceh (acehprov.go.id)

Pelabuhan Balohan Sebagai Pintu Gerbang Pariwisata

Keberadaan pelabuhan penyeberangan yang representatif menjadi syarat utama untuk memajukan wilayah kepulauan. Pelabuhan merupakan prasarana utama untuk mendukung perputaran roda perekonomian pada tiap kawasan di Aceh yang terpisah oleh laut. Jika dilihat dari potensi, Sabang memiliki banyak hal yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan. Di antaranya adalah fasilitas yang dapat mengoptimalkan potensi sekaligus mendatangkan penghasilan dan keuntungan bagi kawasan. Revitalitasi Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang dilakukan mengingat kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi. Kondisi pelabuhan semrawut dan sangat sempit, dengan infrastruktur dan areal parkir yang terbatas. Infrastruktur Pelabuhan Penyeberangan Balohan yang telah diredesain menjadi public area, yang dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh pengguna jasa pelabuhan, juga seluruh masyarakat Sabang. Proyek ini meliputi pembangunan Gedung Kapal Lambat, Pembangunan Gedung Kapal Cepat, Pembangunan Gedung Souvenir dan Kafetaria, Jembatan Moveable Bridge (MB) untuk kapal lambat, pemancangan sheet pile, jembatan tipe A dan jembatan tipe B, jembatan tipe C, serta reklamasi dan pemagaran pada areal pelabuhan seluas 4,5 hektare. Pembangunan pelabuhan ini menggunakan anggaran APBN melalui Multiyers Contract Tiga Tahun sejak tahun 2017 sampai tahun 2019. Revitalisasi ini seharusnya telah rampung pada tahun 2019 bila pengerjaan dimulai dari tahun 2017. Namun, dikarenakan pengerjaan dimulai pada pertengahan tahun 2018, maka waktu pengerjaannya ditambah hingga tahun 2020. Upaya ini sejatinya memiliki tiga tujuan. Yaitu, sebagai upaya meningkatkan standar keamanan dan kenyamanan Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang, memberikan image positif untuk Kota Sabang sebagai kawasan wisata dengan bangunan publik yang memiliki standar pelayanan yang baik. Terakhir, untuk memberikan alternatif pilihan yang lebih banyak bagi para penumpang atau pengunjung Pelabuhan Penyeberangan Balohan. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Sabang melakukan rapat bersama Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan Aceh serta Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) terkait pengelolaan Pelabuhan Balohan. Pemkot Sabang menyatakan kesiapannya dalam mengelola Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang sebagai upaya meningkatkan pelayanan publik. Transportasi ke Sabang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI telah menetapkan Kota Sabang sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pada tahun 2011. Oleh karena itu, hal utama yang perlu dibenahi adalah transportasi penyeberangan pada lintasan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Balohan (Sabang), begitu juga sebaliknya. Transportasi penyeberangan pada lintasan ini dilayani oleh dua jenis angkutan penyeberangan, yaitu Kapal Motor Express dan Kapal Ferry. Kapal Motor Express atau lebih familiar dengan sebutan “kapal cepat” dioperasikan oleh dua perusahaan swasta dengan armada KM Express Bahari dan MV Putri Anggreni, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kedua operator transportasi penyeberangan tersebut hanya melayani penumpang saja. Sedangkan Kapal Ferry, lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan “kapal lambat”, dioperasikan oleh PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Banda Aceh. Perusahaan milik Negara ini mengoperasikan 2 armada penyeberangan, yaitu KMP BRR dan KMP Aceh Hebat 2, yang melayani angkutan penumpang dan kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. KMP Aceh Hebat 2 yang berkapasitas 1186 GT tersebut baru hadir pada akhir Tahun 2020. Kapal ini lebih besar dari KMP BRR yang sedang beroperasi saat ini, sekaligus menjadi penyemangat sektor pariwisata Sabang. Kedua kapal ferry tersebut diproyeksikan untuk memperlancar transportasi penyeberangan Ulee Lheue – Balohan yang sebelumnya kerap terkendala karena keterbatasan kapasitas kapal pada musim liburan. Menparekraf Dukung Pariwisata Sabang Pada Sabtu, 1 Mei 2021, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sandiaga Uno, melakukan kunjungan kerja ke Aceh. Sandiaga melakukan pertemuan dengan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah di Meuligoe Gubernur. Pada pertemuan tersebut, Sandiaga berharap agar pariwisata di Aceh pada masa pandemi Covid-19 tetap menerapkan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability). Agar sektor pariwisata dapat tetap menggeliat di tengah gempuran Covid-19. Saat mengunjungi destinasi wisata Pantai Teupin Layeu Sabang (2/5/2021), Sandiaga menyampaikan untuk mengambil langkah konkrit dan bergerak cepat berkoordinasi dengan beberapa investor yang potensial terutama yang berkaitan dengan penyediaan amenitas, fasilitas dan juga penyelenggaraan event. “Kita harapkan dapat mempercepat kebangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan ini, membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya,” harap pria penyuka triathlon ini. (Dewi Suswati)

Akses Mudah, Menstimulus Pertumbuhan Ekonomi

Sebuah adagium latin berbunyi “Si Vis Pacem, Para Iustitiam” yang berarti “Jika kamu mendambakan kedamaian, tegakkanlah keadilan”, menggambarkan bahwa keadilan itu merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan. Keadilan dalam membangun perekonomian, pendidikan, infrastruktur maupun trasnportasi mempunyai peran penting dalam memperkecil jurang kesenjangan dalam masyarakat terutama pada masyarakat kepulauan. KMP Aceh Hebat sebagai perwujudan keadilan transportasi bagi masyarakat kepulauan, dalam konteks pengembangan wilayah kepulauan, memainkan peran sebagai unsur penunjang (servicing), yaitu penyediaan layanan transportasi bagi masyarakat, dan memberikan kepastian layanan transportasi logistik baik pada jadwal rutin maupun hari besar keagamaan yang menjaga harga agar tetap stabil serta membantu pengendalian inflasi di wilayah kepulauan. Selain itu, KMP Aceh Hebat juga berperan sebagai unsur pendorong (promoting), yaitu sebagai penghubung wilayah kepulauan dengan pusat kegiatan wilayah di daratan yang diharapkan mampu mampu menstimulus pertumbuhan dan pengembangan potensi ekonomi wilayah kepulauan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, produksi perikanan tangkap pada Kota Sabang, Kabupaten Simeulue dan Aceh Singkil adalah 20,7 Ton dengan nilai sebesar Rp. 660,1 juta. Pada tahun yang sama, jumlah kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara pada ketiga wilayah kepulauan tersebut sebesar 760 ribu-an orang, dengan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 54 persen dari rata-rata 3 tahun terakhir.  Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa potensi ketiga wilayah kepulauan pada sektor-sektor basis perekonomian seperti perikanan dan pariwisata sangatlah besar. Selain kedua sektor tersebut, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga berpotensi menjadi basis perekonomian masyarakat kepulauan, namun ada kebutuhan dari para pelaku UMKM untuk dapat mendistribusikan produk atau hasil usaha mereka ke luar wilayah kepulauan serta dapat membeli bahan baku dengan biaya dan jadwal pengiriman yang murah dan reliabel yang harus dipenuhi. KMP Aceh Hebat memberikan kemudahan aksesibilitas serta mengakomodasi mobilitas orang/barang sebagai resultan interaksi ekonomi antar wilayah untuk mendukung sektor perikanan, pariwisata maupun UMKM dimana hal ini secara luas akan memberikan sumbangan positif pada peningkatan kinerja dan pertumbuhan ekonomi.  Kehadiran KMP Aceh Hebat diharapkan tidak hanya untuk melayani pertumbuhan ekonorni yang telah ada (ship follow the trade) namun juga dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi atau potensi ekonomi (ship promote the trade) pada wilayah kepulauan. (Arrad Iskandar) Download 

Alas Kaki

Pasangan terbaik itu seperti sepatu. Bentuknya tak persis sama, namun serasi. Meski berada di posisi paling bawah dan selalu diinjaki, namun dialah yang membawa banyak orang berkeliling dunia. Bayangkan, sepasang sepatu tentara yang terus disempurnakan untuk “beradaptasi” dengan tugas dan alam yang dihadapi, barangkali warna hitam dengan ikatan tali hingga pangkal betis untuk dapat melakukan “perjalanan” dengan semangat pantang mundur serta sebagai wujud kewibawaan dan kegagahan. Apakah kita menyadari kebenaran Forrest Gump? Karya Winston Groom yang diangkat dalam sebuah film terbaik garapan Robert Zemeckis dengan penghargaan Academy Awards Tahun 1994.  Berkisah tentang seorang anak yang ber-IQ di bawah rata-rata dengan kelainan “perjalanan” hidup yang harus dibantu dengan sepatu terapi, sehingga dia diolok-olok oleh temannya. Dia menyadari “Mama selalu bilang, kau bisa mengetahui pribadi orang dari sepatu yang dipakainya. Kemana mereka pergi, darimana mereka. Aku merusak banyak sepatu.” Sepatu atau sebuah alas kaki mengisahkan banyak cerita, karena “semakin jauh berjalan, akan semakin banyak yang dilihat” serta banyak pula kisah yang ada di setiap “perjalanan”. Namun pada realitas kehidupan, berjalan tanpa henti akan membawa pada kelelahan. Ada kala, langkah perlu berbalik untuk beristirahat sementara, meski terkadang hasrat terus saja bergerak, istirahat sebaiknya dimanfaatkan untuk merenung peran yang dapat kita berikan diantara peran-peran orang lain. Memang, kita terbiasa membiarkan hasrat maju jauh di depan, alih-alih mempertimbangkan kebutuhan yang akan memberikan “manfaat” pada orang lain, malah bersitegang untuk mempertahankan “prinsip” yang hanya terlintas sekilas dalam benak demi sebuah “fatamorgana” keuntungan. Tak ayal, argumen yang diperdebatkan demi sebuah kehormatan yang dianggap bermartabat padahal telah mencoreng “harga diri” dan dengan sukarela melupakan kepentingan bersama yang telah disepakati. Bertahan pada keinginan semata tentu akan menjerat diri, pada akhirnya hasrat ini menjadi sebuah wujud ketamakan dan keangkuhan yang menganggap rendah pada kepentingan lainnya. Hal ini sama persis dengan transformasi makna “ruang publik” yang awalnya disandingkan dengan tiga elemen, yaitu responsif, demokratis dan bermakna sesuai pemanfaatan ruang. Ruang publik telah dialihkan fungsi untuk meraup keuntungan “keakuan”. Sebuah ruang yang telah ditetapkan untuk dimanfaatkan bersama, kini telah diberi sekat-sekat “kewenangan” hingga mengekang gerak massa yang berujung konflik tiada henti. Kewenangan ini menjadi “embel-embel” sangat sering didengungkan untuk dasar membangun sebuah kepentingan, pribadi atau kebersamaan. Pertahanan sebuah kewenangan akan dikalahkan ketika akan terjadi permasalahan secara teknis, semua akan saling “lempar handuk”. Sehingga penyelesaian berujung terhambatnya pelayanan bagi masyarakat. Pada akhirnya, permasalahan tersebut jadi menguap. Tidak ada solusi konkret, ego sektoral menjadi pemenang sesaat. Kewenangan inilah, biang kerok yang membuat pihak yang merasa diri lebih “diakui” dan enggan untuk mendengar keluh-kesah. Mereka akan menutup kuping rapat-rapat jika perihal tersebut tidak membawa manfaat bagi kepentingannya. Lagi-lagi, sebidang tanah hanya menjadi wahana ilalang, tidak akan berubah menjadi ladang sayur yang penuh manfaat. Perilaku “keakuan” bagaikan benteng kokoh yang menghadang setiap upaya untuk bersinergi meraih tujuan dan kemajuan. Akibatnya bukan hanya mereduksi efisiensi operasional secara keseluruhan juga akan menggerus moral kebersamaan sehingga tidak mau berkontribusi dan sangat sulit untuk mencapai sinergi. Satu sektor memandang sektor lain tidak lebih penting dari sektornya sendiri, demikian pula sebaliknya. Mentalitas sempit yang lebih mementingkan sektornya masing-masing ini bisa terus menguat manakala perekat antar sektor melemah atau tidak ada. Bahkan, keakuan ini membuat perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya menjadi tidak sehat, tidak adil, dan tidak efisien dari sudut pandang kepentingan kawasan. Dengan meminimalisir tubrukan peran, kewenangan eksekusi sepenuhnya dipegang kembali oleh masing-masing sektor yang mementingkan kepentingan masyarakat diatas segala-galanya. Tentunya, solusi mengurangi ego sektoral tidak terbatas, tidak hanya pada satu sudut pandang saja. Kesamaan cara pandang dan tujuan serta orkestrasi yang dimainkan menjadi aspek terpenting dalam mengeliminasi keakuan yang muncul. “Perjalanan” menuju pada pangkal untuk mencari solusi ego sektoral sama seperti alas kaki, antara sepasang kiri dan kanan sepatu tidak pernah memiliki bentuk yang sama. Walaupun begitu, sepatu akan terus bersama ke manapun perginya demi kenyamanan dan bisa memberi manfaat kepada yang membutuhkannya. Bayangkan ketika salah satunya hilang, maka manfaatnya akan hilang. Sepasang sepatu saat berjalan memang tidak pernah kompak, tetapi tujuannya sama, tidak perlu harus ganti posisi, namun saling melengkapi. Keajaiban datang bagi mereka yang tidak pernah menyerah untuk melengkapi, Forrest merusak banyak sepatu dalam “perjalanannya” mengitari setengah daratan Amerika selama bertahun-tahun, kemampuan yang dimulai saat dia dikejar teman yang meragukan dirinya. Dengan kemampuan berlari ini, Forrest menjadi seorang yang sangat berjasa dalam peletonnya saat peperangan serta menjadi penyelamat banyak tentara yang terluka dan menolong siapa pun yang meragukannya, sehingga dia menerima kehormatan atas kepahlawanannya. Begitulah perumpamaan manusia, masing-masing dari kita memiliki sudut pandang dan pola pikir yang berbeda, tapi alangkah baiknya jika kita menghargai pendapat dan tujuan orang lain tanpa perlu mengedepankan “keakuan” kita. Karena justru dengan saling melengkapi dan mengapresiasi perbedaan itulah, kita bisa mencapai tujuan secara optimal sesuai dengan yang kita inginkan. (Junaidi Ali) Selengkapnya baca di https://dishub.acehprov.go.id/publikasi-data/aceh-transit/tabloid-transit/