Berita, Informasi|

Salah satu yang menjadi agenda nawacita dari Presiden Joko Widodo, yaitu pembangunan Indonesia dilakukan dari pinggiran dengan menguatkan sisi sosial, ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal baik yang ada di kepulauan terluar dan daratan. Daerah tertinggal, kawasan perbatasan negara dan pulau-pulau kecil terluar pada dasarnya memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, namun masih banyak penduduknya yang belum menikmati manfaat pembangunan akibat keterisolasian dan terbatasnya akses terhadap layanan publik dan peluang ekonomi.

Sesuai mandat Peraturan Presiden RI No.28 Tahun 2008 mengenai Kebijakan Industri Nasional, LAPAN bersama dengan PTDI, mengembangkan pesawat N219 yang merupakan pesawat turboprop berkapasitas 19 penumpang yang ditujukan untuk melayani penerbangan jarak pendek, khususnya pada wilayah- wilayah perintis. Setelah melalui proses pengembangan sejak tahun 2014, pesawat N219 telah berhasil mendapatkan Type Certificate dari DGCA pada Desember 2020.

Kendala yang dihadapi dalam pembangunan daerah perbatasan, kepulauan terluar dan daerah tertinggal adalah rendahnya akses ke pelayanan dasar, rendahnya kapasitas sumber daya manusia, terbatasnya akses ke lembaga keuangan, pasar dan aktivitas ekonomi, rendahnya aksesibilitas dan konektivitas wilayah ke pusat-pusat pertumbuhan. Hal ini dibahas dalam webinar N219 oleh PT. Dirgantara Indonesia yang dilakukan secara daring, Selasa, 07 September 2021.

Percepatan pembangunan daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) melalui angkutan udara perintis seperti daerah Puncak Papua yang mengharuskan intervensi pemerintah daerah untuk mengambil langkah sigap, “Pemda mengambil Langkah dengan pengadaan Pesawat jenis Caribou DHC 4A dan Grand Caravan yang dioperasikan melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan manfaat yang dirasakan masyarakat begitu besar, salah satunya harga pokok turun rata-rata mencapai 35 persen sampai 40 persen. Layanan mobilitas masyarakat juga terlayani seperti evakuasi pasien rujukan, aktivitas sosial, budaya, agama dan lainnya dengan ongkos yang jauh lebih murah. Mulai Tahun 2019, operasional pesawat ini menjadi sumber sendapatan asli daerah (PAD),” papar Willem Wandik.

Pesawat ini memiliki ukurannya yang ringkas, tidak membutuhkan landasan panjang, sungguh sesuai dengan sarana yang tersedia di bandara-bandara perintis kami, di sebagian besar daerah yang sulit dijangkau, sehingga dapat mendukung para pelaku ekonomi yang membutuhkan layanan angkutan cepat dan dapat diandalkan yang pada kaitannya akan mampu mendorong sektor perkonomian untuk bertumbuh di wilayah 3T.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyampaikan optimismenya terhadap pembangunan N219 dalam menjawab permasalahan mobilitas dan pemenuhan transportasi masyarakat hingga ke wilayah terpencil dan terisolir, “kami juga optimis bahwa kebutuhan pelayanan angkutan darurat medis, seperti evakuasi pasien serta distribusi obat-obatan ke daerah ke pedalaman akan dapat lebih mudah dipenuhi. Masyarakat juga akan memiliki pilihan akses pada sarana perhubungan, dan angkutan logistik yang layak hingga ke wilayah terpencil dan terisolir,” Ucap Nova. (MS)

Comments are closed.

Close Search Window