Berita, Informasi|

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
QS. Al Isra’ : 1

Selama melakukan perjalanan, pernahkan kamu membandingkan perjalanan tercepat dan ternyaman yang dilakukan oleh umat manusia? Atau bermimpi menjadi seperti seekor burung yang bisa mengepakkan sayap dan bermigrasi sesuka hatinya? Atau bahkan menjadi seorang astronot agar dapat bertamasya ke bulan?

Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Palestina (Photo by Pixabay)

Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Palestina

Sungguh, kecanggihan teknologi memang tak tersangkalkan lagi. Kecepatan terbang pesawat jet mendekati 4.000 km/jam atau 2.450 mph dapat memangkas waktu dan jarak yang panjang sehingga terasa semakin dekat. Dulunya, ini juga sebuah mimpi anak kecil yang ditertawakan banyak orang.

Tentunya, teknologi takkan berhenti sampai di situ saja, pengembangan terus dilakukan hingga menembus batas pikir manusia. Para ilmuwan juga terus berusaha mengembangkan teknologi transportasi yang dapat menteleportasi dimensi jarak dan waktu. Penelitian demi penelitian terus dilakukan. Dunia kini tengah bermimpi agar dapat berpindah antar dimensi dengan teleportasi seperti mesin waktu doraemon yang dapat membawa ke zaman awal peradaban atau masa depan yang dipenuhi robot yang super canggih. Tidak ada yang salah dengan bermimpi, bukan?

Namun, jauh sebelum teknologi transportasi berkembang secanggih ini, dimana masih mengandalkan unta dan kuda untuk menjelajah atau sekedar bepergian dari satu desa ke desa sebelahnya. Suatu perjalanan telah terjadi pada malam hari, dimana manusia lelap dengan mimpinya. Perjalanan ini sungguh familiar di kalangan kita, ia disebut “Isra Mikraj”.

Tersebut dalam Al-Qur’an, ini sebuah perjalanan Rasulullah Saw. yang panjang ke langit ke tujuh yang ditempuh dalam waktu hanya satu malam, Sungguh Maha Besar Allah. Perjalanan ini dilakukan dengan transportasi darat dan udara sekaligus. Transportasi yang digunakan pada saat itu terkisah dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa “Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat para Nabi biasa menambatkan tunggangan mereka”.

Perjalanan ini merupakan perjalanan Nabi SAW ke langit ke tujuh di mana pada setiap lapisannya beliau bertemu dengan para penghuninya. Sungguh, tanpa kita sadari inilah sejarah transportasi yang terus diingat dan diperingati setiap tahun oleh umat islam, bertepatan pada 27 Ra’jab. Kejadian ini menjadi perjalanan terpanjang dan tercepat yang dilakukan oleh umat manusia.
Semoga Isra Mikraj memberi hikmah dalam perjalanan kehidupan kita semua dan diberikan Lindungan oleh Allah Swt. di tengah badai corona yang menghadang umat manusia. Sungguh dengan apa yang terjadi kini, akan membawa hikmah dan pembelajaran bagi kita.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”
QS. Al Isra’ : 7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close Search Window