ACEH TRANSit|

PERGOLAKAN di daratan Eropa pada abad ke- 14 yang menyebabkan pergeseran penguasaan “pasar rempah-rempah” telah memotivasi petualangan mengejar tanah penghasilnya. Mengikuti jejak petualang sebelumnya, kapal-kapal dari negeri “kincir angin” dengan penguasaan keilmuan saat itu memulai penjelajahan untuk berdagang mencari “pulau rempah” yang berada di garis khatulistiwa. Tentu, dengan modal pemahaman navigasi dan kemampuan membaca peta yang telah mereka “curi” dari petualang sebelumnya.

Ekspedisi terus berkembang untuk mengisi mesin-mesin produksi yang akan didistribusikan dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya. Semisal lada yang pada musim dingin menjadi “emas” agar mereka mampu bertahan dalam dingin yang menembus tulang. Demi kebutuhan dan martabat, maka keputusan untuk menguasai dan mengangkut hasil rempah-rempah dari “negeri jajahan” menjadi target utama. Kebutuhan logistik negara harus dapat diproduksi dan didistribusi secara stabil. Naluri konsep logistik mulai dikembangkan pada pertimbangan untung rugi, hari ini kita memberi nama perencanaan strategis, teknologi informasi, permintaan kebutuhan (pemasaran) dan keuangan. Maka terbentuklah manajemen rantai pasok (Supply Chain Management). Demi “rantai pasok” ini, suatu bangsa yang katanya beradab menjadi “garang” untuk menaklukkan bangsa lain.

Memulai pada hasrat pengakuan atas menguasai bangsa yang ditaklukkan, Belanda telah mengambil “ancang-ancang” dengan menargetkan pelabuhan sebagai lokasi strategis untuk menguasai seluruh daratan. Hasrat yang kian besar akan keakuan bangsa lain atas negerinya telah membalikkan nalar untuk menggunakan “jalan kekerasan” hingga keluar dari tatanan hukum.

Tingkat pengakuan yang ingin dibuktikan pada bangsa biru membuat taring mereka semakin tajam di negeri yang telah ditaklukan. Catatan perlawanan tertuang jelas dalam Buku Aceh Sepanjang Abad karya H. Mohammad Said bahwa segalanya telah jelas di mata dunia, pernyataan perang Tahun 1873 bukan karena ada campur tangan asing tapi hanyalah “nafsu” memperluas penaklukan wilayah Hindia Belanda -terkhusus Kerajaan Aceh-. Kegarangan yang memicu perlawanan mempertahankan martabat. George Lodewijk Kepper, menggambarkan perlawanan itu, “Pejuang (Aceh) tidak kecut sedikitpun menghadapi tembakan kilat, bahkan sebaliknya kencang mendekat, makin banyak jatuh, makin mengkilat lagi cepatnya yang lain mendekat, semua berteriak”.

Beberapa generasi terbenam dalam “debat” yang dihabiskan untuk menjaga kestabilan “rantai pasok” kolonialisme, seorang makelar kopi dalam buku “Max Havelaar” karya Multatuli, membongkar “benang merah” peran transportasi agar sistem rantai pasok tetap seimbang yaitu, “Belanda membangun pemecah gelombang dengan tujuan untuk mendatangkan perdagangan ke dalam distrik yang terhubung seluruh pusat kegiatan dengan lautan -pusat perdagangan global-sehingga kapal dapat bersandar lama di pelabuhan apabila terjadi cuaca ekstrem” (Edward Douwes Dekker; “Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij”; Belgia 1860). Jalur transportasi laut yang membutuhkan waktu dan biaya juga telah mewarnai perubahan dengan gambaran bahwa “Kapal-kapal Belanda melayari lautan luas dan membawa peradaban”.

Jauh sebelum penjelajah merintis perjalanan ke “Timur Jauh”, Bangsa Belanda telah memiliki “peradaban” dan perkembangan teknologi hingga menjadi negara yang terangkat derajat di Bangsa Biru. Sebagai simbol peradaban dari kecerdikan dan ketabahan manusia, kincir angin di Kinderdijk-Elshout menjadi “modal” untuk mampu menjajah. Simbol ini sudah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1997. Faktanya, dengan teknologi kincir angin ini mengakui Belanda telah mempersiapkan lanskap buatan manusia yang luar biasa serta memberikan kesaksian yang kuat peradaban manusia.

Konstruksi kincir angin menjadi jejak dan bukti yang masih kokoh bagi sejarah perkembangan teknologi Belanda yang dikenal oleh masyarakat dunia. Inovasi pengembangan teknik drainase Belanda disalin dan diadaptasi di banyak bagian dunia. Sistem hidroliknya yang sangat cerdik masih berfungsi sampai sekarang untuk mengolah lahan gambut yang luas serta maha karya arsitektur serta lanskap budaya yang menjadi ciri khas Belanda dan menggambarkan tahap penting dalam sejarah manusia.

Kanal-kanal yang dibangun dari energi kincir angin tersebar ke setiap sudut kota sebagai jaringan transportasi utama negara ini merupakan kepingan-kepingan ekonomi yang kian membukit untuk kesejahteraan rakyatnya. Apa “modal” yang kita miliki untuk mensejahterakan negeri kita saat ini? Di sini juga jelas apa hikmah dari penjajahan yang dilakukan oleh Belanda bagi Indonesia, sarana dan prasarana transportasi adalah kunci utama Belanda dapat menguasai daerah-daerah jajahan. Infrastruktur yang ditinggalkan Belanda pun sebagian besar masih berdiri kokoh dan belum menjadi pelajaran.

Tanah Air ini bukanlah lagi kanak-kanak, tujuh puluh lima tahun telah lewat. Hikmah yang diberikan Bangsa Belanda untuk negeri harus kita “petik” secara cermat. Teknologi kincir angin yang mereka siarkan hingga rencana induk pengembangan kawasan jajahan harus kita “curi” dan implementasikan ke negeri ini. Lanskap negeri ini telah diciptakan begitu sempurna. Berbeda dengan Belanda yang memaksa kincir angin raksasa mereka untuk memompa air di daratan rendah serta reklamasi agar layak dihuni.

Peradaban “kincir angin” yang terus menggerakkan generator di negerinya sendiri dan mempertahankan tanah penjajahan yang mereka lakukan pada bangsa lain hanya demi kesejahteraan, mereka mempersiapkan perencanaan penjajahan begitu matang, dimulai memahami pentingnya peta hingga perbekalan serta semua kebutuhan didetail secara terukur. Hebat bukan, menjajah demi sejahtera? Nah, mengapa kita tidak mempersiapkan kesejahtaraan dengan segala cara? Atau kita sedang mengatur ritme “debat” untuk menjajah negeri sendiri. (Junaidi Ali)

Selengkapnya cek di:

Tabloid ACEH TRANSit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close Search Window