Berita, Informasi|

Banda Aceh – Mulai beroperasi sejak 2017, Trans Koetaradja telah melayani enam koridor utama pada wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Peningkatan load factor juga menanjak signifikan mencapai rata-rata 47,52 persen untuk keseluruhan koridor sebelum corona datang bertandang. Awal masa pandemi, layanan Trans Koetaradja berhenti sementara hingga Bus Biru ini kembali beroperasi dengan beradaptasi pada kebiasaan baru dengan penerapan protokol kesehatan.

Setelan vakum beberapa bulan, Trans Koetaradja kembali melayani setelah dikeluarkan edaran pengoperasiannya. Selama ini, jangkauan layanan Trans Koetaradja belum optimal untuk mencapai titik asal maupun tujuan perjalanan yang lebih spesifik. Faktanya, masih ada daerah bangkitan dan tarikan yang potensial dengan kebutuhan perjalanan yang tinggi, namun belum dilintasi oleh koridor utama. Semisal, masyarakat yang tinggal di daerah Mibo agak jauh jika berjalan kaki menuju halte di koridor utama (3B) jurusan Pusat Kota – Lhong Raya – Mata Ie.  Oleh karena itu, dibutuhkan bus feeder untuk menjangkau kawasan yang lebih padat penduduk atau hingga ke pelosok areal operasi.

Feeder yang dimaksud adalah angkutan pengumpan atau bus kecil yang menjangkau pemukiman atau perumahan warga yang terhubung dengan koridor utama Trans Koetaradja agar layanan angkutan ini merata hingga ke lokasi yang lebih spesifik.

Sempat mati suri akibat pandemi, Trans Koetaradja terus berbenah diri dan bertransformasi untuk menjadi transportasi yang ramah lingkungan mengingat kualitas udara di perkotaan semakin memburuk serta tingkat emisi kian meningkat, salah satu investor utamanya adalah aktivitas transportasi seperti asap. Perlahan tapi pasti, Bus biru ini menjadi leading project sebagai transportasi hijau (Green Transportation). Dengan demikian, Dinas Perhubungan Aceh menilai sudah saatnya menggalakkan pemanfaatan kendaraan ramah lingkungan di Banda Aceh. Pemanfaatan kendaraan berdaya listrik ini guna mendukung salah satu program Aceh Hebat Pemerintah Aceh yaitu Aceh Green. Sebagai langkah awal, Dinas Perhubungan Aceh telah melakukan kajian terhadap penggunaan bus listrik berukuran medium yang mampu beroperasi pada ruas jalan Banda Aceh.

Melihat kesamaan konsep, Dinas Perhubungan Aceh melakukan diskusi bersama perwakilan PT. Bakrie Autoparts terkait pemanfaatan bus listrik di Banda Aceh. PT. Bakrie Autoparts kemudian mengundang Dinas Perhubungan Aceh untuk menghadiri workshop bus listrik produksi mereka di Bekasi pada 15 Oktober 2020 yang lalu. Selanjutnya, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan uji coba bus listrik di Banda Aceh. Aceh merupakan daerah ketiga yang melakukan uji coba bus listrik ini setelah DKI Jakarta dan Bali pada tahun 2020 yang lalu.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah saat meninjau uji coba bus listrik di Depo Trans Koetaradja, Selasa (12/1/2021) menyampaikan Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan telah memulai inovasi elektrifikasi Trans Koetaradja sejak tahun lalu. “Rencana tahun ini kita realisasikan sesuai kemampuan anggaran kitra sebanyak 6 unit,” ujarnya.

Nova menambahkan, pengujian ini perlu dilakukan segera mungkin supaya komponen pendukung lainnya seperti awak bus dan stasiun pengisian daya dapat disiapkan sebelum 6 unit bus tiba di Aceh pada tahun 2021. “Dari uji coba hari ini tidak ada masalah, saya sudah mencoba men-drive sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, uji coba ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik setiap feeder sehingga rencana operasional nantinya dapat diimplementasikan secara tepat dan cermat. Evaluasi yang terus dilakukan saat uji coba berjalan ini juga menjadi dasar untuk penentuan detail teknis seperti headway antar feeder, kebutuhan titik-titik pemberhentian bus serta teknis maupun non teknis lainnya yang perlu terus disempurnakan perencanaannya.

Di samping itu, uji coba ini juga untuk melihat seberapa lama daya listrik bus ini mampu menggerakkan bus saat beroperasi serta waktu pengisian daya dan ketahanan bus terhadap geografis dan kondisi alam di Aceh. Seluruh rangkaian uji coba ini untuk kesempurnaan kematangan perencanaan feeder Trans Koetaradja.

Di akhir wawancara, Nova berharap masyarakat dapat segera menikmati bus listrik yang nyaman, dan ramah lingkungan. “Seterusnya kita berharap semua armada Trans Koetaradja selambat-lambatnya tahun 2024 dapat terlayani dengan bus listrik,” tutup Nova.

Sementara itu, GM. PLN Unit Induk Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi yang turut hadir dalam kegiatan ini menyampaikan pihaknya siap mendukung operasional bus listrik di Aceh.

“PLN Aceh siap mendukung kehadiran untuk bus listrik di Aceh, seperti penyediaan charger station yaitu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di tiap-tiap titik di Aceh,” ungkapnya. (AM/MS)

Comments are closed.

Close Search Window