ACEH TRANSit|

Siang itu cuaca cukup cerah di Pelabuhan Singkil, Aceh Singkil. Terlihat KMP. Aceh Hebat 3 sedang bersandar. Ada sejumlah anak buah kapal yang sedang sibuk mengecek kelengkapan kapal dan administrasi kapal untuk berlayar ke Pulau Banyak. Pelabuhan Singkil menjadi satu-satunya pintu masuk ke Pulau Banyak, pulau yang telah diakui keasrian pantainya dan merupakan kawasan konservasi.

Tampak pula masyarakat dan para wisatawan yang datang secara berkelompok. Ada yang mengajak anggota keluarganya, ada pula yang datang bersama teman-temannya. Mereka mendekati kapal-kapal tersebut, lalu sesekali mengambil foto bersama dengan latar belakang laut dan jejeran pepohonan yang hijau sepanjang garis pantai.

Di depan sebuah kapal, ada seorang pria sedang mengawasi suasana pelabuhan beserta para pengunjung yang lalu lalang di hadapannya pada siang itu. Pria itu Capt. Laode Mat Salim. Usianya kini 51 tahun. Dialah nakhoda kapal KMP. Aceh Hebat 3. Sebelumnya, beliau merupakan kapten kapal KMP. Teluk Singkil yang melayani rute Singkil ke Pulau Banyak lalu ke Nias.

Simak Video KMP. Aceh Hebat 3 Hadir untuk Wiswata Pulau Banyak

Baik di laut, darat, dan udara, peran kapten moda transportasi memang vital. Dalam sebuah perjalanan, mereka adalah pemegang kendali agar perjalanan nyaman dan tertib. Peran itu tak main-main, bahkan di banyak negara termasuk Indonesia, didukung dalam konstitusi. Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, nakhoda kapal adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pemimpin tertinggi di kapal dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undang.

“Ada sembilan belas orang (yang bekerja) termasuk saya di kapal ini,” ujar  Capt. Laode saat diwawancarai Aceh TRANSit, Rabu (19/5/2021).

Anak buah kapal menghabiskan waktunya bekerja di kapal dan mengarungi lautan berhari-hari. Tidak jarang bahaya mengancamnya, misalnya saat angin kencang datang pada malam hari ketika berada di tengah laut. Bagaimanapun juga,  Capt. Laode menganggap itu sudah menjadi risiko pekerjaannya. Konsekuensi yang harus dia jalani sebagai seorang pelaut. Belum lagi, kita harus meninggalkan keluarga.

“Sejauh ini nggak ada keluhan dari keluarga, karena dari awal sudah dibicarakan juga kebijakan dari perusahaan. Perusahaan juga memberikan cuti,” jawabnya.

Selama pelayaran dengan KMP. Aceh Hebat 3 berjalan lancar, namun Pelabuhan Singkil ini kebetulan terbuka. Artinya, kalau pasang surut ada benturan antara kapal dan dermaga, karena arus yang terus beralun. Sudah pernah dipasang ban kecil biasa dari pihak pelabuhan, tapi sering terjadi hentakan, tali ban fender-nya putus. Kondisi ini terjadi berulang, karena memang besar hentakannya, meski kapal dalam posisi sandar di dermaga. Hal ini berdampak pada hancurnya lambung kapal.

“Jika keluhan dari masyarakat minta jadwal operasionalnya rutin, dengan adanya KMP. Aceh Hebat 3 sekarang jadwal operasional sudah dilakukan tiap hari dengan dua trip. Masyarakat sangat bersyukur. Jumlah penumpang di akhir pekan sangat banyak hampir mendekati 100 persen dari kapasitas kapal. Meskipun pada hari biasa jumlah okupansi masih berkisar 30 hingga 35 persen,” tuturnya lagi.

Pengangkutan bahan pokok ke kepulauan juga lancar. Dengan tarif kapal perintis ini sangat membantu masyarakat. Sehingga, harga jual di kepulauan masih berimbang dengan di daratan. Jika dari segi pariwisata agak terkendala mengingat lagi kondisi pandemi.

“Jika untuk kebutuhan masyarakat sangat menguntungkan, karena kapan pun mereka butuh jasa transportasi untuk mengangkut barang, sudah bisa langsung karena beroperasi tiap hari. Perputaran ekonominya juga berjalan lancar. Masyarakat pun menanti-nanti kehadiran kapal ini,” pungkasnya. (Misqul Syakirah)

Download Majalah Aceh TRANSit Edisi Khusus KMP. Aceh Hebat

Comments are closed.

Close Search Window