ACEH TRANSit|

ACEH yang berada di pertemuan dua laut, Selat Malaka dan Samudera Hindia, menyimpan beragam destinasi wisata alami yang begitu menenangkan. Hamparan pantai membentang indah nan memukau, matahari terbit dan tenggelam kerap menyuguhkan pemandangan menakjubkan, memacarkan cahaya di atas hamparan pasir putih yang berkilau.

Tak hanya wisata alami, Aceh juga tak kalah dari segi sejarahnya. Banyak bangunan di masa para penjajah dahulu yang masih berdiri kokoh di Bumi Serambi Mekkah. Salah satunya terdapat di Pulo Aceh, kecamatan kepulauan di Aceh Besar.

Berbicara tentang bangunan bersejarah mungkin hal yang pertama terbayangkan bagi sebagian orang yaitu kesan usang, tua, dan membosankan. Kawasan yang sepi dengan suasana yang menoton yang pasti kurang menarik untuk dijelajahi.

Segala anggapan tersebut akan sirna ketika Anda melihat sebuah bangunan bersejarah yang telah dibangun lebih dari satu abad yang lalu. Bangunan tinggi menjulang ini dikelilingi oleh hamparan keindahan alam berjuta pesona.

Dari keindahan pesona alam yang membuai mata, berdirilah sebuah mercusuar yang hadir dengan tegaknya diantara panorama alam yang begitu memanjakan. Seolah-olah ia memperlihatkan ketinggian dan kekokohannya di antara kelembutan yang ditawari oleh alam sekitar.

Gemulainya tiupan angin pada pepohonan, gemuruhnya ombak di pasir putih, pemandangan pegunungan yang membentang luas, hadirlah ia sebagai penyeimbang keindahan alam. Perpaduan maha karya ciptaan tuhan dan karya arsitektur buatan tangan manusia di masa lampau menjadi sebuah kombinasi yang saling melengkapi satu sama lain.

Bangunan bersejarah nan kokoh ini bernama Mercusuar Willem’s Toren III. Letaknya di hutan Kampung Meulingge, Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Usianya yang sudah melebihi satu abad. Namun kekokohan dan kekuatannya tetap paripurna.

Gaya arsitektur Belanda yang melekat kuat pada bangunan berbentuk silinder ini memperlihatkan bahwa Mercusuar Willem’s Toren berdiri saat Belanda menjajahi Bumi Serambi Mekkah, tepatnya pada tahun 1875. Ia memiliki tinggi 85 meter dengan ketebalan dindingnya mencapai 1 meter.

Yang tak kalah menariknya proses pembangunan Mercusuar Willem disinggung dalam Onze Vestiging in Atjeh, sebuah buku tentang perang Aceh yang ditulis Mayor Jenderal G.F.W Borel. Ratusan orang diangkut dari Ambon untuk membangun menara suar ini. Juga ratusan warga lokal yang dipaksa ikut terlibat dalam pembangunannya.

Mengacu situs berita Antaranews, Mercusuar mengadopsi nama sang raja yang menguasai Luksemburg (1817-1890), yakni Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Menara ini terletak di dalam sebuah komplek seluas 20 hektare. Dahulu pemukiman ini diisi oleh perwira-perwira Belanda.

Kala memerintah, Willem banyak berperan membangun ekonomi dan infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, termasuk Pulo Aceh. Willem membangun mercusuar ini sebagai usaha menyiapkan Sabang sebagai salah satu Pelabuhan transit di Selat Malaka. Kala itu Belanda bercita-cita membuat Pelabuhan transit Sabang yang diharapkan seperti Singapura yang dapat dilihat di masa sekarang.

Faktanya Mercusuar Willem’s Toren III merupakan salah satu dari tiga mercusuar yang menjadi warisan Belanda di dunia. Satu mercusuar lainnya berada di Belanda, dan kini sudah dijadikan museum. Sementara satunya lagi berada di kepulauan Karibia.

Sekiranya dapat kita sadari, bahwa sejarah tidak dapat direkonstruksi. Bahkan mereka yang dikaruniai ingatan tajam sekalipun. Namun demikian, ada hal yang dapat dilakukan generasi sekarang untuk mengenang. Salah satunya dengan melakukan destinasi wisata kawasan bersejarah.

Melihat kembali puing-puing kejayaan di masa lampau, menelaah dan pada akhirnya menjadi media pembelajaran untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. (Rahmi)

Selengkapnya sila baca di sini:

Tabloid ACEH TRANSit

 

Comments are closed.

Close Search Window