ACEH TRANSit|

Pelabuhan Laut Malahayati Aceh Besar

Pelabuhan Laut Malahayati Aceh Besar

Aceh merupakan kawasan di Asia yang mempunyai latar belakang sejarah yang panjang mengenai perdagangan maritim dan kepelabuhanan. Pelabuhan-pelabuhan di Aceh merupakan pelabuhan tertua di jalur Selat Melaka. Namun kegemilangan dan kejayaan Aceh di bidang perdagangan maritim dan kepelabuhan ini tidak berkembang dan berlanjutan sehingga ke hari ini.

Pelabuhan Malahayati salah satunya yang sejak dulu disinggahi oleh pedagang dari Cina yang kemudian dikenal dengan sebutan Lamwuli. Lamwuli yang dimaksud yaitu Kerajaan Lamuri yang letaknya tidak jauh dari posisi Pelabuhan Malahayati saat ini. Pelabuhan ini merupakan sebuah pelabuhan yang sudah ada dan dibangun sejak zaman Sultan Iskandar Muda.

Oleh masyarakat Aceh, kata Lamuri kemudian berubah menjadi Lamreh. Pelabuhan tua ini kemudian diambil alih oleh PT Pelindo pada tahun 1970. Pelabuhan ini pernah menjadi salah satu pelabuhan transit ke Pulau Sabang di era 80- an. Kemudian pelabuhan tersebut beralih fungsi menjadi tempat persinggahan kapal. Pelabuhan Malahayati ini sebelumnya dikenal sebagai pelabuhan penyeberangan kapal-kapal besar.

Pelabuhan Malahayati pada era 90an merupakan salah satu akses penyeberangan ke Sabang dan ke Belawan. Kapal yang mengangkut penumpang ke Belawan juga relatif banyak. Namun seiring berkembangnya dunia transportasi, maka perlahan-lahan para pengguna moda laut yang menuju ke Medan pun banyak beralih ke moda transportasi darat. Akhirnya rute ke Belawan pun akhirnya tak ada lagi.

Saat tsunami, lokasi pelabuhan ini pun ikut terkena imbas gelombang pasang air laut. Beberapa saat pelabuhan ini tidak bisa disinggahi kapal. Namun pasca tsunami sekitar satu minggu pelabuhan Malahayati menjadi salah satu pengiriman logistik melalui jalur laut, begitu juga banyak relawan yang menggunakan moda laut melalui pelabuhan Malahayati.

Pasca bencana menghancurkan sebagian dermaga Malahayati, Pemerintah Belanda membantu rehabilitasi Pelabuhan Malahayati yang rusak akibat tsunami, di posisi Kade 3. Bantuan yang berasal dari multi donor dan masyarakat Belanda tersebut mengalokasikan dananya sebesar US$ 8,2 juta. Selain merehabilitasi dermaga, beberapa fasilitas baru pelabuhan juga dibangun. Dengan pelabuhan itu, berbagai bahan baku rekontruksi bisa dipasok lebih cepat. Berkat pembangunan dan perbaikan kembali, akhirnya pada tahun 2007, pelabuhan ini dapat digunakan dan beroperasi lagi.

Sekarang, melalui PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I fokus untuk mengembangkan fasilitas pelabuhan Malahayati, Krueng Raya Aceh Besar berupa perluasan tempat penampungan box (kontainer) hasil bongkar muat. Selain itu juga melakukan renovasi dermaga atau jembatan pelabuhan. Seperti diketahui, Pelindo 1 Malahayati kini telah dilengkapi dengan fasilitas Peti Kemas. Pelabuhan Malahayati resmimenjadi pelabuhan peti kemas pada tanggal 05 Agustus 2016.

Seperti yang diungkapkan oleh General Manager Pelindo I Cabang Malahayati Sam Arifin Wiwi “peti kemas selama ini meningkat dari tahun ke tahun berkisar 10.000 box atau dengan rata-rata per bulan sekitar 1000 box kontainer”. Menurutnya selama ini terus terjadi peningkatan volume pembongkaran di pelabuhan Malahayati, karena selain lebih aman, moda transportasi laut lebih murah dan cepat. Arus peti kemas (throughput) melalui Pelabuhan Malahayati terus meningkat.

Pelabuhan Malahayati secara geografis lebih dekat dangan kawasan Eropa dan Timur Tengah, selain sangat memungkinkan untuk direct call (angkutan langsung), sehingga produk ekspor asal Aceh bisa diangkut langsung dari Malahayati tanpa lewat Belawan atau Tanjung Priok lagi.

Pelabuhan Malahayati diharapkan menjadi terminal peti kemas ketiga yang dikelola Pelindo I, setelah Belawan (Medan) dan Perawang (Riau). (Dewi)

Versi cetak digital dapat diakses dilaman :

Tabloid ACEH TRANSit

Simak video nya dibawah ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close Search Window