ACEH TRANSit|

Nek Nenok bersama suami dan cucunya saat diwawancarai tim Aceh TRANSit

PAGI itu kami disambut oleh beberapa warga Desa Terutung Payung, Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara tempat di mana sang pengemudi ban bekas di sungai Alas yang menjadi buah bibir di beberapa media di Aceh. Dialah Nek Nenok. Kami bukan orang yang pertama sampai di kampung sang nenek setelah pemberitaan, melainkan sudah yang kesekian kali. Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa warga dan tuan rumah yang kami tuju. Berperawakan kecil pada umumnya orang Aceh, sepasang kakek nenek ini d i t e m a n i s e p a s a n g c u c u n y a y a n g sedang l i b u r sekolah dan belum sampai usia sekolah.

Wajah dibalik masker itu tidak begitu terlihat jelas namun dari pelipis mata terlihat keriput sang nenek ini masih terlihat tidak terlalu tua. Sementara sang kakek memiliki wajah yang lebih tua entah karena akibat sakitnya atau memang sesuai dengan usianya. Anak kecil abang adik juga menyambut kami dengan ramah dan sesekali sang abang mencandai sang adik sebagaimana tingkah umum anak kecil lainnya.

Sambil menikmati suasana Kutacane yang pagi itu ramai karena termasuk daerah padat penduduk. Sang nenek dengan suaranya yang pelan bercerita tentang dirinya. Ia telah melakukan p e r j a l a n a n m e ny e b e r a n g i sungai Alas tak kurang dari puluhan tahun lamanya. Dulu b e r s a m a suaminya ia menyeberangi sungai Alas. Namun, kini suaminya dalam keadaan tidak sehat.

Nek Nenok yang berusia 70 tahun ini menyeberangi sungai Alas setiap hari jika air sungai tidak meluap karena hujan maupun air bah. Hal ini ia lakukan agar dapurnya tetap mengepul. Ladang jagung miliknya terletak di seberang sungai kampung sebelah. Jika tidak bisa menyeberangi sungai, sang nenek menjadi buruh harian di ladang warga yang berada tak jauh dari rumahnya. Menyeberangi sungai dengan ban bekas bukan pemandangan yang aneh bagi sebagian warga. Karena beberapa warga yang melakukan hal serupa berprofesi sebagai buruh harian.

Untuk sampai ke kebunnya, Nek Nenok membutuhkan waktu 60 menit lamanya. Dia harus sangat berhati-hati karena resiko selalu mengintai perjalanannya menyeberangi sungai Alas yang lebarnya hingga 40 meter. Namun, untuk sampai ke tujuan ia harus berjalan kaki lagi selama 45 menit lamanya.

Sungai Alas

Tak ada sedikitpun tersirat di wajah sang nenek rasa susah dan seolah menerima keadaan ini dengan lapang dada. Namun, tetap dengan sedikit harapan mengingat usianya yang terus senja. Harapan sang nenek menjadi harapan warga sekitar tempat nenek tinggal. Yakni adanya pembangunan jembatan penyeberangan tambahan. Jembatan yang akan menghubungi dua desa dan menjadi jembatan harapan banyak warga, sehingga memudahkan mereka menyeberangi sungai untuk mencari nafkah.

Selama ini, ‘jembatan harapan’ pernah ada. Namun, lokasinya jauh dan untuk menyeberangi melalui jembatan itu membutuhkan waktu yang lebih lama dikarenakan jaraknya yang jauh. Sementara menyeberang dengan ban jauh lebih hemat dari waktu yang dibutuhkan.

Di sini di tanah Alas, cerita ini ditemukan dengan keadaan kekayaan alam yang melimpah. Luasnya hutan dan panjangnya sungai menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin berwisata arung jeram. Begitu pula gunung Leuser yang menjadi paru paru dunia. Kisah Nek Nenok hanya satu kisah dari beberapa kisah yang terjadi di pedalaman perairan Aceh Tenggara. Mengingat Nek Nenok, kita jadi teringat kisah di salah satu sungai di Aceh Timur. Adalah Aman Timpo seorang operator getek di sungai Simpang Jernih dan barangkali hal serupa di bantaran sungai di wilayah Aceh lainnya. (Fajar Muttaqin)

Selengkapnya cek di laman:

Tabloid ACEH TRANSit

Comments are closed.

Close Search Window