ACEH TRANSit|

*”Tertinggal di Masa Lalu, Harapan bagi Masa Depan”

Oleh Muhajir, S.T., & Imam Prasetyo, S.Si (ASN Dinas Perhubungan Aceh)

PEMANFAATAN mobil listrik akhir-akhir ini menjadi pilihan otomotif di beberapa negara dan para profesional. Di kalangan public figure, Bill Gates, membeli mobil listrik pertamanya awal 2020, pendiri Microsoft ini memilih sedan Porsche Taycan seharga USD 185.000.

Mobil listrik yang digadang-gadang sebagai moda transportasi ramah lingkungan sebenarnya bukanlah suatu penemuan baru, kendaraan berenergi baterai ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1832 oleh Robert Anderson. Berselang tiga tahun, Thomas Davenport juga memperkenalkan konsep mobil listrik pertama di Amerika Serikat yang dilengkapi dua elektromagnet dan poros. Namun energi penggerak kedua mobil listrik tersebut masih berupa baterai sekali pakai (non-rechargeable).

Transformasi moda transportasi darat dimulai seiring terjadinya revolusi industri di Eropa, ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1776. Inovasi terus berkembang, seperti penemuan mobil tenaga uap pada tahun 1801 yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis bernama Cugnot.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan-temuan ilmiah terus menstimulasi transformasi moda transportasi, seperti penemuan baterai oleh Alessandro Volta pada tahun 1800. Dua puluh tahun kemudian, Hans Christian Oersted menemukan pembangkit medan magnetik dari arus listrik, berlanjut dengan penemuan elektromagnet oleh William Sturgeon. Penemuan-penemuan di atas mendasari penemuan mobil listrik oleh Robert Anderson dan Thomas Davenport.

Harapan besar terhadap mobil listrik pada masa lalu dimulai akhir abad ke-19, yaitu saat Gaston Plante seorang fisikawan Perancis, menemukan rechargeable lead-acid battery yang memungkinkan pengisian ulang baterai. Pamor mobil listrik saat itu terekam dari penampilannya pada ajang-ajang international bergengsi. Tahun 1881, insinyur Perancis Gustave Trouve berhasil menampilkan mobil listrik tiga roda miliknya pada International Exposition of Electricity di Paris. Chicago World’s Fair tahun 1890 juga memamerkan mobil listrik William Morrison.

Tren positif ini juga ditandai dengan kehadirannya sebagai taksi listrik di kota New York, yang diproduksi oleh perusahaan mobil listrik pertama yaitu Morris & Salom Electric Carriage and Wagon Company. Selanjutnya, mobil listrik turut diproduksi beberapa produsen lainnya, seperti Woods Motor Vehicle Company of Chicago, Elwell-Parker asal Inggris, serta Jeantaud dari Perancis.

Mobil listrik pada era tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1912, dimana lebih 30.000 unit beroperasi di Amerika Serikat dan 4.000 unit di Eropa. Namun Tim Swhwanen, Seorang Profesor Transportasi di Universitas Oxford menyebutkan periode 1880-1912 merupakan era keemasan mobil listrik dan sekaligus sebagai awal mula kompetisi dengan mobil konvensional berbahan bakar minyak.

Mobil konvensional berkembang pesat sejak awal kemunculannya pada tahun 1886. Meski tertinggal lebih dari 50 tahun, mobil konvensional mampu mengalahkan penjualan mobil listrik sejak awal abad ke-20, hal ini didukung oleh kemudahan sumber energi dan perkembangan teknologi mesin pembakaran dalam (internal combustion engine). Kebalikannya terjadi pada teknologi mobil listrik, sehingga perlahan mobil listrik mulai ditinggalkan.

Faktor kalah saingnya mobil listrik sebenarnya terletak pada disparitas harga produk, dimana mobil konvensional dijual dua kali lebih murah. Di lain sisi, perkembangan mobil konvensional didukung juga eksplorasi besar-besaran minyak bumi serta meningkatnya kebutuhan jangkauan transportasi.

Infrastruktur jalan yang lebih baik dan penemuan beberapa kilang minyak baru seperti Kilang Minyak Texas mengakibatkan pasar mobil konvensional semakin diminati, sehingga memantik produsen otomotif melakukan produksi massal. Produksi massal pertama dilakukan Oldsmobil dan Ford Motor Company pada tahun 1902.

Pada akhirnya, mobil listrik yang sempat berjaya sampai awal abad ke-20 perlahan menghilang sejak tahun 1920 dan berhenti berproduksi sepenuhnya pada tahun 1935. Lebih dari 30 tahun setelahnya mobil listrik benar-benar ditinggalkan, bahkan seakan hanya akan diingat sebagai sejarah saja.

Harapan bagi mobil listrik hadir kembali pada tahun 1970, saat diberlakukannya embargo minyak oleh negara-negara teluk yang berakibat melambungnya harga minyak dunia. Seiring krisis energi fosil tersebut, persoalan lingkungan sebagai dampak penggunaan bahan bakar fosil juga mulai dibicarakan pada forum-forum lingkungan hidup, salah satunya Konferensi Stockholm tahun 1972 di Swedia.

General Motors, perusahaan multinasional yang bermarkas di Detroit, Amerika Serikat melirik peluang tersebut dengan mengembangkan prototipe mobil listrik dan dipamerkan pada even Low Pollution Power Systems Development Symposium. Disusul produsen mobil Sebring-Vanguard yang memproduksi 2.300 unit mobil listrik bernama Citicars, hal ini membuat mobil listrik kembali populer di Amerika Serikat.

Ilustrasi Mobil Listrik

Ilustrasi Mobil Listrik by Pixabay

Di Era Modern, General Motors memproduksi mobil listrik pertamanya yang diberi nama EV1 pada tahun 1996, namun mobil berjenis sedan yang diproduksi sebanyak 1.117 unit ini hanya bertahan selama 6 tahun. Produksi EV1 dihentikan oleh General Motor tanpa informasi yang jelas, kisah EV1 ini kemudian diabadikan dalam sebuah film dokumenter berjudul “Who Killed the Electric Car?” yang dibintangi oleh Tom Hanks dan Mel Gibson.

Ekspektasi akan lompatan teknologi mobil listrik kembali hadir pada tahun 2006, saat sebuah start-up Amerika Serikat bernama Tesla Motors memproduksi mobil listrik mewah bernama Tesla Roadster yang mampu menempuh jarak 200 mil atau 320 Km dalam sekali pengisian. Produsen mobil lainnya seperti Porsche, Chevrolet, Jaguar, dan Volkswagen kemudian mengikuti jejak Tesla Motors.

Tumbuhnya minat terhadap mobil listrik tergambar melalui tren peningkatan produksi sejak tahun 2011. EV Sales Database menyebutkan penjualan mobil listik tahun 2019 mencapai 2.264.400 unit atau meningkat tiga kali lipat dari tahun 2015. Peluang mobil listrik saat ini juga didukung oleh besarnya animo global untuk menghadirkan kendaraan berenergi alternatif yang ramah lingkungan sebagai upaya mitigasi dari penggunaan energi fosil yang kian mengkhawatirkan.

Dampak lingkungan berupa emisi karbon atau yang kemudian dikenal sebagai emisi Gas Rumah Kaca (GRK) khususnya dari sektor transportasi darat sangat dirasakan dalam dua dekade terakhir, terutama di kota-kota besar dunia seperti Kota Guangzhou, Seoul, dan New York.

Peningkatan suhu rata-rata global di bumi sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar secara dominan diakibatkan oleh aktivitas transportasi dan industri yang menghasilkan emisi gas di udara seperti unsur CO2 (Karbon Dioksida), N2O (Dinitrogen Oksida), dan CH4 (Metana).

Merespon kekhawatiran global tersebut, tahun 2016 konferensi PBB tentang Perubahan Iklim diadakan di Paris yang kemudian dikenal sebagai The Paris Agreement. Konferensi ini menghasilkan beberapa kesepakatan seperti komitmen menekan kenaikan suhu sampai dibawah 1,5o-2o celcius, melakukan pembatasan emisi karbon dengan melakukan aksi-aksi nyata, serta tujuan jangka panjang untuk mencapai zero emission.

Pada tahun 2007, forum serupa juga diselenggarakan di Bali, yang menghasilkan komitmen berbagai negara dalam menurunkan emisi GRK, menghentikan perdagangan karbon yang semakin kuat, serta komitmen untuk mengupayakan alternatif energi ramah lingkungan.

Pemerintah Indonesia secara konsisten mengambil peran strategis dalam komitmen terhadap perlindungan lingkungan dari dampak emisi GRK, antara lain melalui Perpres No. 61 Tahun 2011 Tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), kemudian diperkuat dengan UU No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Komitmen tersebut bersinergi dengan RPJMN 2020-2024, dimana Perubahan Iklim menjadi Prioritas Nasional ke-6.

Beberapa pemerintah daerah juga mendukung prioritas nasional tersebut. Pemerintah Aceh sebagai salah satu pemerintah daerah yang concern terhadap pengurangan emisi GRK berupaya melalui rencana aksi penggunaan bus listrik sebagai angkutan feeder Trans Koetaraja. Upaya-upaya untuk menghadirkan kendaraan rendah emisi termasuk mobil listrik sepertinya akan terus berkembang pada satu atau dua dekade mendatang. (*)

Simak edisi cetak digital di laman:

Tabloid ACEH TRANSit

Comments are closed.

Close Search Window